
'Apa? Membunuh? Apa kau menyuruhku jadi seorang pembunuh cuma demi uang? Kau gila, Sis!'
Jay yang masih tercengang oleh perintah sistem tidak dapat menghindari pukulan pria di depannya secara mendadak. Pria itu lantas menarik kerah Jay dan mendorongnya sampai jatuh berlutut di depan pria yang kemungkinan bos mereka, yaitu Rudi.
"Berani-beraninya kalian!!" Jay menggeram marah.
Kemarahan Jay memancing kaki Rudi untuk menendang wajahnya. Tetapi, Jay dengan cepat berkelit. Dia berguling ke samping lalu bangkit berdiri dengan cepat. Gerakan itu sempat membuat para pria yang mengaku teman sekolah Winardi itu terkejut.
Para pria mulai terkekeh sebentar dan langsung menyerang Jay secara bersamaan. Pukulan dan tendangan terus mendesak Jay.
Jay menangkis dan memasang kedua tangan di depan wajah sebagai tameng. Dalam hati dia memuji tubuh Winardi yang kena pukul dan tendangan berkali-kali, tapi hanya terasa seperti digigit semut.
Tentunya, Jay tidak akan dan tidak mau tinggal diam. Dia berlari menghindari mereka sampai masuk ke pojokan gang yang lebih sempit. Mereka tidak mungkin bisa menyerang Jay bersamaan karena gang itu hanya muat dilewati satu orang.
"Brengsek! Cerdik juga kau sekarang!" umpat salah satu dari mereka.
"Kau mau melawan kami satu persatu? Percaya diri sekali kau, Win," ucap Rudi dengan nada menghina.
Jay menyeringai. Jemarinya bergerak maju mundur dengan cepat sebagai isyarat tantangan.
"Kenapa? Kalian tidak berani satu lawan satu? Kalian spesialis keroyokan?" Jay berdecih. "Oh, bukan, kalian cuma berani sama perempuan! Mau aku belikan rok?"
Pria terdepan berlari kencang ke arah Jay. Dia kehilangan kesabaran karena kata-kata Jay. Bukan karena merasa dilecehkan, tapi karena ucapan Jay benar adanya. Karena dia terkadang meminjam rok ibunya di rumah untuk dipakai. Siapa yang tidak malu saat ada orang yang tahu rahasia kecilnya?
Salah satu kaki pria itu melayang tepat di depan wajah Jay. Dengan mudahnya, Jay memukul kaki itu dengan tangan kirinya. Tidak hanya diam-diam suka pakai rok, ternyata dia juga sangat lemah!
Pria itu oleng ke samping akibat pukulan Jay. Jay tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melancarkan tendangan memutar yang dipelajarinya selama bertahun-tahun.
Dalam sekejap saja, tubuh pria itu terpelanting ke dinding. Suara benturannya cukup keras sampai membuat wanita tadi memekik kencang.
"Hei, Nona. Kenapa masih di sini?"
"Aku ... aku khawatir mereka akan mengalahkanmu."
"Jangan cemas, mereka itu cuma mirip kecoa. Sekali diinjak ... mati."
Jay menginjak pria yang meringkuk di depannya. Pria itu berteriak cukup keras dan merengek kesakitan seperti anak kecil.
Pria selanjutnya cukup gesit menggunakan kedua tangan. Dia menaikan bahu depannya dan secepat kilat melayangkan tinju lurus ke wajah Jay.
Dia melakukan itu berulang kali, sebab Jay dengan mudahnya menghindar. Apalagi, gerakan menghindar Jay hanya menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Meskipun demikian, Jay juga belum bisa menyerang balik. Setiap kali pria itu berusaha meninju Jay, kedua tangannya kembali ke pose semula. Badannya pun lebih besar dari Jay.
Pertahanan yang cukup bagus bak atlet tinju dari pria itu. Tapi, hanya sekedar atlet yang baru belajar. Karena Jay lebih lama berlatih tinju dari pria itu.
"Cuma itu saja kemampuanmu? Kau belum belajar yang lain?" Jay kembali tertawa meremehkan.
"Bacot! Kau cuma beruntung bisa menghindar!"
"Bukan menghindar, tapi aku kasihan padamu. Kalau aku sungguh-sungguh melawan, gigimu bisa rontok semua. Hahaha!"
Saat Jay tertawa, pria itu kembali menyerang dengan cara yang sama. Jay yang sudah tahu pola serangannya, lantas mencekal kepalan tinjunya. Cengkeraman Jay begitu kuat sampai terdengar bunyi tulang bergeretak dari tangan pria itu."
"Lepas, brengsek!"
Jay pun melepas sesuai permintaan. Tapi, tangan satunya yang terkepal mengarah ke perut pria itu sangat cepat. Sampai-sampai dia dan teman-teman di belakangnya tidak bisa melihat gerakan Jay.
"Ohok!!"
Pria itu terbatuk-batuk sampai memuntahkan cairan dari mulutnya. Dipegang dan dielus-elus perutnya yang seperti dihantam benda keras dan berat.
"Itu namanya low blow. Belajarlah dulu sebelum pamer." Jay terkekeh.
"Oke!" balas Jay.
Tanpa basa-basi, Jay mulai bergerak dengan lincah dengan beberapa teknik systema yang dipelajarinya dari Rusia langsung! Dalam sekejap mata, kedua pria lainnya tumbang.
Jay juga mendapat tepuk tangan dari si wanita karena tampang dan posenya sekarang sangat keren. Jay tahu dan sadar. Dia menyibak rambutnya ke belakang layaknya model pria.
"K-kau," gagap Rudi.
Rudi pelan-pelan melangkah mundur. Dia melihat semua temannya terkapar. Bahkan, salah satu dari mereka tidak sadarkan diri dengan buih yang keluar dari mulutnya.
"Kau bilang mau memukulku? Siapa kau berani menyentuhku? Dasar, orang rendahan!"
Rudi memasang kuda-kuda pertahanan diri. Sayangnya, semua yang dia lakukan tidak berarti. Meskipun dia bisa tinju dan taekwondo, dia tidak berkutik melawan Jay.
Lawan di depannya jelas sekali bukan Winardi yang dulu selalu dirundung komplotannya. Melainkan Jay Wijaya yang fasih sepuluh macam beladiri sekaligus!
"Mas, sudah!!" teriak si wanita.
Tatapan liar Jay kembali fokus setelah mendengar suara wanita itu. Senyuman jahat di wajahnya menghilang. Dan kesenangannya berakhir dengan wajah Rudi yang lebam-lebam dan berdarah di beberapa tempat.
__ADS_1
[Anda berhasil menyelesaikan misi! Anda mendapatkan Rp 100.000.000,00]
'Bagus, Sis!'
[Misi spesial. Patahkan kaki target dan buat dia tidak bisa berjalan lagi, hadiah Rp 500.000.000,00. Bunuh target, hadiah Rp 1.000.000.000,00.]
'Tidak! Aku tidak mau membunuh.'
[Anda bisa mematahkan kakinya dan mendapat setengah miliar. Bukankah Anda ingin membuka usaha sendiri dan tidak mau diperintah orang?]
"Aku akan memanggil polisi. Ada tempat lain untuk menghukum orang-orang seperti mereka."
"Tidak usah, Mas. Aku sudah memanggil polisi."
Tidak lama kemudian, para preman diseret pergi ke kantor polisi. Jay dan wanita yang bernama Rara itu juga ikut dibawa mobil polisi lainnya untuk dimintai keterangan.
Beruntung, ada CCTV yang memperlihatkan Jay hanya membela diri sebelum masuk gang sempit. Ditambah lagi, keterangan dari Rara yang sangat membantu. Rara juga sempat merekam ucapan para pria itu tadi kalau-kalau terjadi sesuatu padanya.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan, mereka berdua akhirnya bisa keluar dari kantor polisi. Sampai di depan, Rara mengucap terima kasih lagi pada Jay.
"Kau baik-baik saja?" Jay mencuri-curi kesempatan memijat pelan tangan Rara.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak." Rara menunduk sopan. "Aku duluan, ya."
"Tunggu! Aku akan mengantarmu. Bahaya jalan sendirian."
"Boleh, kalau tidak merepotkan."
Jay merasa kasihan karena wajah Rara tampak masih ketakutan. Dia tidak pernah bisa melihat wanita kesusahan di depan matanya. Walaupun itu sebagian hanya alasan Jay karena dia tertarik dengan kecantikan Rara yang begitu alami.
"Tidak. Kebetulan aku sedang senggang."
Jay tidak tahu saja di ponsel pintarnya ada puluhan panggilan tak terjawab dan belasan pesan dari atasan. Saat ponselnya kembali berdering, Jay justru mematikannya.
"Mau naik taksi saja?"
"Tidak usah, Mas. Rumahku dekat sini, kok. Paling cuma lima menitan jalan kaki."
"Winardi!!!!"
Baru juga melangkah keluar dari halaman kantor polisi, seseorang meneriakkan nama si pemilik tubuh dengan kencang. Orang itu tampak sangat marah dan seperti ingin memakan Jay hidup-hidup.
__ADS_1