Win System

Win System
Chapter 21


__ADS_3

'Kau bilang aku tidak boleh menodai tubuh Winardi! Kenapa kau memberiku misi mencium-cium perempuan gatal ini segala, hah?!'


[Misi disesuaikan pada situasi, kondisi, dan toleransi. Bukankah Anda juga menikmatinya?]


'Tidak sama sekali! Aku harus sikat gigi seratus kali habis ini!'


"Win ... Kenapa kau malah melamun?" tanya Melinda dengan nada manja.


Jay tidak tahan lagi berdekatan dengan Melinda. Bukan karena ingin melakukan 'sesuatu' seperti kemarin, melainkan risih padanya. Dia pun mendorong Melinda dengan kasar sampai terpental ke sofa di sebelahnya. Lalu berlalu pergi melihat kondisi Beni.


Beni sebenarnya sudah sadar sejak tadi. Tapi, dia tidak dapat bangun karena seluruh tubuhnya terasa nyeri. Dia hanya bisa menggeliat dan merintih memegangi perut.


Ketika menyadari langkah kaki mendekat dan mendengar suara Jay bersama Melinda, Beni pura-pura tidak sadarkan diri lagi. Walaupun Beni masih ingin terus menekan area luka yang terasa berdenyut-denyut.


Di mana setelah kena pukulan telak, Beni tidak hanya kesakitan, namun juga terkencing-kencing. Apalagi, Jay sudah ada di depannya. Semakin takutlah Beni. Untungnya, dia hanya sedikit pipis di celana dan masih mampu bertahan.


"Bangun kau!"


Jay menggoyang ringan kepala Beni dengan sepatu kotornya. Meskipun jijik, Beni tetap bergeming. Perasaan Beni sangat campur aduk sekarang, bahkan gado-gado pun kalah olehnya.


Marah, terhina, merasa dilecehkan, harga diri rendah, dan takut bercampur jadi satu. Mau bangun, dia takut dipukul lagi. Tidak bangun juga dia ingin sekali menyeret Melinda keluar dari sarang singa jantan ini. Dan menuntut penjelasan Melinda yang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa perlu aku panggilkan ambulance?"


"Tidak perlu. Nanti pabrikku jadi viral sebelum buka. Tch! Dia lelaki atau banci, sih? Kenapa kena senggol sedikit saja pingsan begitu? Tidak cocok sekali dengan gayanya tadi waktu pertama muncul."


"Jangan begitu, Win. Lihat ini, dia sampai berdarah-darah."


Melinda mulai mengkhawatirkan Beni. Biarpun Winardi yang berjiwa Jay, atau sebut saja Winjay, sangat menarik di mata Melinda, dia masih memiliki hubungan dengan Beni yang tidak mudah dipatahkan. Karena Beni lah orang yang bisa membantu Melinda mendapatkan semua harta Jay Wijaya.


Melinda berjongkok di depan wajah Beni dengan mengapit rok mininya. Dia mengelus-elus kepala Beni sambil berbisik lirih supaya Winjay tidak mendengarkan suaranya.


"Sayang, ayo pergi. Jangan malu-maluin."


"Ugh ..." Beni mengerang kesakitan.


Beni mengerjapkan mata perlahan dan mulai batuk-batuk keras. Dia melihat sekeliling seolah lupa dengan apa yang terjadi.


"Ini di mana? Nyonya, kenapa Anda ada di sini? Siapa orang itu?" tanya Beni.


"Apa kau minta dipukul lagi supaya ingat?" Jay menatap rendah Beni di bawahnya.


"Dipukul? Siapa yang dipukul dan memukul?" Beni berakting linglung.


"Wahahaha, kau benar-benar gila rupanya. Kalau kau hilang ingatan, aku akan bertanggungjawab mengembalikan ingatanmu dengan ini." Jay menyodorkan tinjunya ke udara.

__ADS_1


Baru digertak Jay sedikit saja, apa yang ditahan Beni sedari tadi sedikit tumpah lagi. Beruntung, dia memakai celana tebal.


Sosok Winardi itu sangat mirip dengan Jay ketika marah-marah. Tentu saja membuat nyali Beni menciut sekecil telur semut.


"Sudah ... sudah ... Aku akan membawanya pulang saja. Tapi, kenapa bau pesing di sini?" tanya Melinda.


"Benar ... Mungkin dia mengompol."


'Tidak mungkin! Beni ini lelaki gagah,' sangkal Melinda dalam hati.


Melinda lantas membantu Beni berdiri. Ditariknya lengan Beni sampai merangkul pundaknya agar tidak tumbang. Mereka berdua berjalan terseok-seok keluar gedung. Melihat kedua orang itu kesusahan, berhasil mengetuk hati Jay ... untuk tertawa dalam hati sepuasnya.


"Aku pamit dulu, Win."


Jay mengusir mereka dengan mengibaskan tangan. Dia tidak sanggup membuka mulut untuk sekedar menjawab. Sebab, ujung lidahnya sudah gatal ingin terbahak-bahak lepas.


[Misi baru.]


'Besok saja, Sis. Aku ingin merayakan kebahagianku malam ini.'


[Hadiah Rp 200.000.000,00.]


'Sisa modalku dari si perempuan murahan itu saja lebih banyak dari hadiah misimu.'


[Hadiah dari sistem akan ditingkatkan setelah menuntaskan banyak misi.]


[Jiwa Anda akan meninggalkan tubuh Winardi jika Anda menolak misi.]


'Tch! Lagi-lagi mengancam!'


[Apakah Anda yakin ingin meninggalkan Win System?]


'Cepat katakan! Beri batas waktu yang panjang! Jangan suka mengganggu orang seenaknya kau!'


[Baik. Anda memiliki batas waktu penyelesaian misi selama tiga hari.]


[Misi baru Anda adalah meminta maaf kepada Beni karena telah melukainya.]


"Apa?!" Jay memelototi sistem.


[Waktu Anda dimulai dari sekarang!]


'Aku tidak sudi minta maaf pada banci sepertinya!'


[71:59:50]

__ADS_1


'Kau sangat merusak suasana!!'


Jay menendang sistem dengan brutal. Dalam hati Jay berjanji, jika dia bertatap muka dengan Wina si operator sistem, dia akan membuat gadis itu tidak bisa berjalan selama seminggu.


***


Setelah pemotongan pita, pabrik Jay telah resmi dibuka. Semua berjalan sangat lancar sesuai dengan kemauannya.


Meskipun bagi Jay, pabrik itu masih terbilang kecil, tapi Jay merasa bangga karena bisa memulai segalanya dari nol tanpa bantuan Wijaya. Sementara investasi Melinda tidak dia pertimbangkan dalam ingatan sama sekali.


"Selamat, Win! Akhirnya, anak papah bisa sukses!" Winarno memeluk Jay.


Magdalena menangis haru di sebelah mereka. Jay mengusap pipi cantik ibu Winardi itu dengan penuh kasih sayang.


"Jangan menangis, Mak," ucap Jay lembut.


"Sekarang, kita bisa pergi ke tempat kakek, Win," ujar Magdalena.


"Jangan terburu-buru, Mak. Baru saja pabrik Winardi dibuka, masa kita sudah mau berkunjung ke sana? Tunggu barang sebulan." Winarno menepuk-nepuk punggung Magdalena.


"Sebulan terlalu lama! Mamak sudah tidak tahan ingin memamerkan kesuksesan kita. Biar orang tua keras kepala itu tahu rasa dan malu!"


"Hmm, Papah dan Mamak lagi bicara apa? Aku tidak mengerti sama sekali."


"Benar, kita belum pernah bicara tentang kakekmu, Win."


"Aku masih punya kakek, Pah?"


"Orang tuaku sudah tiada. Tinggal orang tua Mamak yang masih tersisa kakekmu saja. Selama ini, kita tidak pernah mengatakan padamu karena kami tidak ingin kau mencarinya," terang Winarno.


"Memangnya kenapa? Apa kalian bermusuhan?"


"Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya, kakekmu mengusir mamak setelah menikah dengan Mas Winarno. Dia tidak pernah merestui hubungan kami," terang Magdalena.


"Ya sudah, abaikan saja. Tidak perlu ke sana." Jay sama sekali tidak peduli.


"Kami juga berpikir seperti itu dulu. Kakekmu itu dari awal kami menikah selalu merendahkan papahmu. Apalagi, waktu kau beranjak dewasa dan tidak mau bekerja. Kau dibilang keturunan rendahan Winarno yang tidak punya kemampuan apa-apa," kata Magdalena menggebu-gebu.


"Kakekmu diam-diam suka mengunjungi kami saat kau tidak ada. Dia sering menghinamu dan papah. Sekarang kita harus menunjukkan padanya kalau ucapannya salah," imbuhnya.


"Ya sudah, kapan kita mau berangkat? Aku masih bawa mobil bosku."


"Besok minggu saja. Kita harus membeli perlengkapan tempur dan berlatih sebelum ke sana. Kalau perlu, kita harus bertapa tiga hari tiga malam," jawab Winarno.


"Apa kakek tentara atau dukun, Pah? Aneh-aneh saja. Tinggal datang kenapa repot sekali?" Jay terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Jangan meremehkan kakekmu, Win. Kau harus siap mental dan fisik sebelum mengenalkan diri sebagai cucunya," tegas Winarno.


__ADS_2