
"Winardi!!" Wanita itu berlari kecil ke arah Jay.
"Siapa dia, Mas?" tanya Rara.
"Aku juga tidak tahu."
'Bangun, Sis! Siapa perempuan di depan itu?'
[Elisa Maharani, si bunga desa, 25 tahun. Perempuan yang sangat dicintai Winardi.]
"Win ... Kenapa kau keluar dari kantor polisi? Dan siapa perempuan ini?"
Elisa terengah-engah, tetapi masih bisa melirik Rara sangat sinis. Rara juga tidak kalah dengan menonjolkan sikap bermusuhan.
"Mas Winardi penyelamatku, Mbak. Kau siapa, ya?"
Rara melingkarkan tangan di lengan Jay. Perbuatan Rara itu membuat Elisa semakin membelalakkan mata. Ditepisnya tangan Rara oleh Elisa agar melepaskan Jay.
"Jangan pegang-pegang orang sembarangan!"
"Apa-apaan perempuan ini? Aku 'kan pegang Mas Winardi, bukan kau! Dia pacarmu, Mas?"
"Bukan. Dia tetanggaku," jawab Jay santai.
"Iya, kami cuma tetangga! Winardi dititipin ke aku sama bapak ibunya dan tidak boleh sampai dipegang perempuan asing!"
"Idih, cuma tetangga saja sok-sokan mau ikut campur. Pacar bukan, saudara juga bukan. Cih!"
Pipi Elisa memerah karena malu. Tetapi, dia tidak menyerah memisahkan Rara dari Jay. Baik Rara maupun Elisa tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya, Jay mendorong Elisa ke sisi kanan, sedangkan Rara tetap berada di sisi kirinya.
"Kalian ini umurnya berapa, sih? Jangan bikin malu! Nanti ada yang merekam terus jadi viral, tahu rasa kalian!"
"Dia aneh sekali, Mas," gerutu Rara.
"Mas mas, mastamu, Mbak," gumam Elisa.
"Tch! Sudah! Aku mau mengantar Rara sampai rumahnya dulu."
Rara menjulurkan lidah di balik punggung Jay. Elisa membalas dengan makian tanpa suara.
"Aku ikut, Win. Setelah ini kita makan malam berdua, ya? Ada yang mau aku bicarakan."
'Merepotkan! Aku tidak tahu harus bicara apa dengannya. Dia pacarnya Winardi, bukan aku!'
[Anda akan diberi hadiah spesial jika dapat menyenangkan orang terdekat pemilik tubuh.]
'Hadiah spesial apa?'
[Hadiah spesialnya adalah informasi pemilik tubuh seharga Rp 1.000.000.000,00. Namun, Anda tidak dapat menukarnya dengan uang.]
"Aku akan mentraktirmu, Elisa. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku rindu padamu." Jay tersenyum lebar.
Suara keras sepeda motor terdengar dari kejauhan. Jay menoleh ke belakang dan melihat sepeda motor itu melaju sangat kencang.
"Hati-hati, kalian berdua!"
__ADS_1
Jay memeluk pinggang kedua perempuan itu. Elisa dan Rara sontak memeluk lengan Jay ketika sepeda motor itu melewati mereka.
"Jangan mengebut, Mas!" teriak Jay.
Meskipun Jay menggerutu, tetapi dia juga berbunga-bunga karena bisa memeluk dua perempuan cantik. Dia mendadak bertanya-tanya, mengapa dulu dia bisa memutuskan untuk menikah dengan Melinda? Sampai-sampai, sok jual mahal di depan wanita cantik lainnya.
Kemudian, dia teringat sesuatu yang terasa mengganjal. Jay menikah dengan Melinda sebagian besar karena dorongan Beni. Sekretarisnya itu selalu memuji kesempurnaan Melinda yang cocok disandingkan Jay Wijaya.
'Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku akan menginjak-injak dua tikus kecil itu!'
"Ah ... Mas ..."
"Sakit Win ..."
Dua perempuan di sisinya merintih kesakitan. Jay yang teringat kenangan pahit tidak sadar mencengkeram pinggang mereka begitu erat.
'Sial! Jadi ingin punya istri dua!'
***
Cahaya temaram menyinari atap sebuah gedung. Angin sepoi-sepoi menggelitik kulit Jay. Dan menggelitik area lainnya yang tidak terlihat.
Jay salah memilih tempat! Sebelumnya, dia mencari-cari di internet lokasi makan yang bagus untuk pasangan. Rupanya, tempat itu banyak digunakan para anak muda yang tidak bermodal. Cukup beli minuman dua gelas, mereka bisa mojok berlama-lama di tempat itu.
Bayangkan saja ... apa yang mereka lakukan sampai para gadis yang mereka bawa merintih entah digigit nyamuk atau apa. Mau melihat ke arah mereka pun Jay enggan.
Elisa juga sepertinya tidak nyaman. Dia sampai menggerakkan kaki di bawah meja dengan cepat karena gelisah.
"Mau pindah? Aku juga baru pertama ke sini."
"Tidak usah, Win. Sudah terlanjur pesan makanan juga," jawab Elisa malu-malu.
"Kau kenapa ada di kota, Lisa?"
"Huh? Tumben kau panggil aku Lisa. Biasanya 'El' meskipun aku sudah berkali-kali menyuruhmu untuk memanggilku Lisa." Elisa memicingkan mata curiga.
"Kalau dipikir-pikir, sejak tadi juga kau menatapku terus-terusan. Padahal, walaupun kita kenal sejak kecil, kau tidak pernah bisa menatap mataku," imbuhnya.
"Aku sudah berubah selama di kota. Winardi yang dulu sudah tidak ada lagi."
"Oh ...." Elisa tampak kecewa.
"Kenapa?" Jay pura-pura peduli.
"Tidak apa-apa. Semoga perasaanmu ke aku tidak berubah. Aku baru baca suratmu yang kau kubur dalam kotak di belakang rumahku."
"Ah ... yah ... bagus kalau kau sudah tahu."
Jay menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sangat susah harus pura-pura peduli dan menyukai seseorang.
"Kau belum jawab pertanyaanku. Kenapa kau datang ke kota?"
"Aku habis dari rumah tanteku. Sekalian mau mencarimu dan mengajakmu pulang ke desa. Ibumu yang menyuruhku, Win. Bapakmu lagi sakit keras sekarang."
"Sakit apa?"
__ADS_1
"Belum tahu. Kemarin baru diperiksa bu dukun."
[Misi baru. Pergilah menemui orang tua pemilik tubuh. Hadiah Rp 50.000.000,00.]
***
Jay mendapat izin kerja langsung dari Wijaya. Bahkan, Wijaya sampai menawarkan tumpangan agar Jay dapat lebih cepat bertemu orang tuanya.
"Tidak perlu, Pak. Saya naik angkutan umum saja. Lagi pula, saya bersama dengan teman saya."
"Kalau begitu, bawa salah salah satu mobilku."
Andai saja untuk hal yang lain, Jay tidak akan menolak. Tapi, saat ini, dia memang sengaja mengulur waktu supaya tidak perlu kembali ke desa.
Meskipun usahanya tidak berarti. Cepat atau lambat, Jay pasti tetap akan bertemu orang tua si pemilik tubuh.
Jay takut jati dirinya terbongkar. Dia tidak ingin disalahkan karena Winardi yang asli entah menghilang ke mana. Padahal, dirinya sendiri pun tidak tahu bagaimana jiwanya bisa masuk ke tubuh Winardi.
Orang tua Winardi, terutama ibunya, pasti sangat mengenal Winardi dan tahu perubahan sekecil apa pun. Jay bingung apa yang harus dia lakukan saat nanti ketemu orang tua Winardi. Saking gugupnya, Jay sampai tidak melihat kedatangan Elisa di sampingnya.
Sampai di dalam kereta, Jay semakin tidak tenang. Padahal, dia lelah dan sangat mengantuk.
'Bikin orang tidak bisa tidur saja!'
***
"Win ... Win ... bangun ... kita sudah sampai."
Elisa terus menggoyangkan tubuh Jay karena sebentar lagi kereta berhenti. Lima menit setelah duduk, Elisa menemukan Jay tertidur pulas.
Elisa kesal karena ucapannya ternyata tidak didengarkan Jay tadi. Tetapi, dia tidak tega membangunkan Jay hanya demi melampiaskan kemarahan sesaat.
Jay mengerjapkan mata sambil menguap lebar. Ketika sadar dia ada di tempat umum, Jay langsung membenarkan posisi duduknya.
"Kita sudah sampai, ya? Aku tidak sadar karena berpikir keras selama perjalanan."
"Kau dari tadi tidur, Win. Mendengkur keras pula! Lihat itu bawah mulutmu ada putih-putihnya." Elisa terkekeh-kekeh.
Jay buru-buru membersihkan mulut dengan kerah kaos. Melihat pantulan dirinya dari kaca hitam jendela, Jay sadar dibohongi Elisa.
"Jangan macam-macam kau, ya!" Jay mencubit gemas hidung mancung Elisa.
Pengumuman dari pengeras suara menghentikan aksi nakal Jay. Mereka akhirnya turun di stasiun Desa Sukasuka.
Jay sedikit heran kenapa area stasiun itu begitu sepi. Sampai di halaman depan pun sama saja. Tidak ada angkutan umum. Pun tidak bisa memanggil ojek online.
"Kita dijemput orang rumah?"
"Tidak lah! Kita pulang sendiri."
"Aku buta arah, Lisa. Desa kita di sebelah mana?"
Elisa menunjuk pegunungan sebagai jawaban. Karena sangat sedikit, Jay bisa menghitung berapa jumlah penerangan di sana dari tempatnya berdiri sekarang. Namun, pada jalanan menuju rumah Winardi, tidak ada satu pun lampu menyala.
"Ayo, Win. Kenapa malah bengong?"
__ADS_1
"Sekarang? Naik apa?"
"Jalan kaki lah ... masa iya mau merangkak?!"