Win System

Win System
Chapter 9


__ADS_3

Mulut Jay berdenyut-denyut. Dia seperti ingin tertawa tapi juga tercengang.


"Lebih baik kau ceritakan semua secara rinci. Tidak perlu malu padaku."


"Maaf, Mas. Aku tidak mau dan tidak suka membicarakan masa lalu. Apalagi, dengan orang asing yang tiba-tiba muncul. Dan sudah cukup aku berurusan dengan orang-orang aneh itu."


"Kalau begitu, mari bicarakan tentang masa depan!" tegas Jay seraya menghalangi langkah Hanifa yang berbalik pergi.


Entah mengapa, mereka berdua terdiam setelah Jay mengucap kalimat itu. Pandangan mereka bertemu secara intens. Keduanya ingin mengucap sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka.


'Astaga, kenapa jadi mirip sinetron begini?' batin Jay.


[Hanifa Fitria saat ini sedang menganggur. Karena karyawan yang dipecat dari JW Corp. tidak akan mudah mencari kerja di tempat lain. Target sedang membutuhkan dana untuk biaya kontrol neneknya yang sering sakit-sakitan.]


"Maksudku, masa depan karirmu, Mbak Hanifa," tutur Jay dengan sopan karena tidak mau Hanifa salah paham.


Hanifa mulai tertarik oleh bujukan Jay. Dia kemudian duduk lagi di tempat semula. Sorot matanya kini menjadi penuh harap.


"Semua karyawan yang keluar dari JW Corp. pasti kesusahan. Aku datang mau membantumu supaya kau bisa bekerja di sana lagi."


"Tapi, aku tidak mau kerja di sana, Mas. Sudah cukup aku dijadikan kambing hitam seseorang."


"Maksudnya?" Jay menaikkan sebelah alis dengan kening berkerut.


Hanifa menghela napas. "Mas Winardi janji dulu supaya tidak bilang-bilang masalah ini ke orang lain."


"Aku janji." Jay mengangguk mantap.


"Dulu, aku tidak sengaja melihat istri pak Jay Wijaya dan pak Beni sedang berciuman. Waktu itu, pak Beni melihatku. Dia mencariku lalu memberiku uang tutup mulut."


'Ckckck. Ternyata di kantor pun mereka suka berbuat mesum! Menjijikkan! Menyesal aku memberikan tubuh suciku untuk wanita murahan seperti Melinda!' umpat Jay dalam hati.


Sejak menyaksikan perselingkuhan Melinda dan Beni, rasa cinta yang pernah dirasakan Jay sirna begitu saja. Dan seorang Jay Wijaya tidak akan jatuh bangun hanya karena cinta.


Jay hanya merasa kasihan kepada tubuhnya sendiri yang pernah disentuh wanita yang menurutnya kotor itu. Seandainya dapat memutar waktu, dia akan membuang Melinda ke laut saat hari pernikahan mereka.


"Mas, dengar tidak?"


"Iya, lanjutkan saja." Jay menggertakkan gigi.


"Aku tidak mau menerima uang itu. Tapi, aku bilang padanya kalau aku tidak akan bicara apa-apa karena masalah mereka bukan urusanku."


'Jadi, waktu itu Melinda berlagak cemburu karena ini. Dasar, rubah licik!'


"Di saat yang sama, pak Jay menyuruhku menggantikan office girl sebelumnya yang bertugas bersih-bersih di ruangannya. Pak Beni pikir, aku sedang berusaha memberitahu pak Jay tentang hubungan gelap mereka."


"Sudah, cukup. Aku sudah tahu kira-kira apa yang terjadi setelahnya. Kau pasti dituduh mendekati Jay Wijaya, bukan?"


"Bagaimana Mas Winardi bisa tahu?"


"Aku memang serba tahu. Sekarang, aku akan membantumu untuk mendapatkan pekerjaanmu lagi di sana. Aku harap kau tidak menolak."

__ADS_1


"Tapi ..."


"Kalau kau tidak mau, nama baikmu akan tercoreng selamanya. Dan kau juga pasti sedang butuh pekerjaan saat ini, iya 'kan?"


Hanifa mengangguk-angguk sebagai jawaban.


"Kau tenang saja. Aku akan menghubungimu lagi kalau semua sudah beres."


***


Dari luar tadi, Jay sudah memantapkan hati untuk bicara dengan Wijaya. Namun, ketika mereka sedang berhadapan-hadapan, nyali Jay kembali menciut.


"Lima belas menit lagi aku akan keluar rapat. Bersihkan semua area ruangan ini sebelum aku kembali," perintah Wijaya dengan nada tegas.


"B-boleh saya bicara sebentar?" Mata Jay naik turun karena gugup.


'Sadar, Jay! Dia melihatmu sebagai Winardi sekarang!'


"Bicara apa?"


Jay tiba-tiba berlutut di depan Wijaya. "Pak, tolong terima lamaran teman saya sebagai office girl di sini. Dia sangat rajin dan teliti, saya jamin, Pak Wijaya tidak akan menyesal memiliki karyawan seperti teman saya."


"Harusnya, kau minta tolong kepada manajer HRD, bukan aku. Aku tidak mengurusi karyawan baru."


"Tapi, Pak Wijaya adalah orang yang paling dihormati di sini. Bahkan, pak Jay Wijaya tidak ada apa-apanya dibanding Anda. Bisa dibilang, Anda punya kekuasaan mutlak di perusahaan ini, bukan, mungkin di seluruh dunia!"


'Berlutut, dipuji setinggi langit, dan dibandingkan anaknya sendiri. Satu-satunya cara membuat pria tua itu tersenyum kegirangan.'


"Tidak salah aku memintamu mengurusi lantai ini." Wijaya mengangguk-angguk bahagia. "Kau pandai menyenangkan hati orang tua. Siapa nama temanmu?"


"Kau yakin dia sebaik dirimu?"


"Dia mungkin lebih baik dari saya, Pak!"


"Tuliskan semua informasi yang kau ingat tentang temanmu di sini." Wijaya menyodorkan kertas kosong.


Jay segera menyalin semua informasi Hanifa yang diperlihatkan sistem secara detail. "Ini, Pak!"


"Lengkap sekali. Kau pasti punya ingatan bagus."


"Benar, saya sebenarnya sangat pintar waktu sekolah, tapi saya tidak punya uang untuk melanjutkan kuliah."


"Kau juga sangat percaya diri. Aku makin suka denganmu. Temanmu bisa langsung datang dan bekerja di sini besok pagi." Wijaya tersenyum puas.


Selama ini, Wijaya mendidik Jay dengan sangat keras. Sehingga Jay menjadi sosok mandiri, tegas, cerdik, dan percaya diri.


Hanya ada satu kelemahan Jay di mata Wijaya, yaitu Jay tidak akan sudi memujinya. Karena itu, Wijaya sering mempersulit permintaan Jay. Namun, pemuda di depannya yang hanya seorang office boy justru memiliki paket komplit.


'Ternyata, ada juga pemuda dengan bakat alami seperti Winardi,' pikir Wijaya.


'Cuma aku yang tahu cara membujuk orang ini. Aku tidak perlu bilang Hanifa pernah dipecat. Hahaha!!'

__ADS_1


***


"Hanifa, aku punya kabar baik untukmu."


"Mas Winardi! Ayo, masuk dulu."


"Tidak perlu, aku sedang dikejar waktu."


"Apa kabar baiknya, Mas?" Hanifa menangkup kedua telapak tangan di depan bibirnya.


"Besok kau bisa bekerja lagi di JW Corp. Syaratnya, kau tidak boleh membahas masa lalu. Saat ini, perusahaan sedang dipegang papa, kau tidak perlu khawatir. Jay Wijaya tidak akan ada di sana."


"Papa?"


"Papanya Jay Wijaya maksudku. Dia tidak mau mengungkit pemecatanmu."


"Sungguh?" Hanifa meraih kedua tangan Jay lalu menggoyang-goyangkannya. "Terima kasih sekali, Mas!"


"Ya, sudah, aku pergi dulu."


Jay cepat-cepat kabur tanpa menunggu respon Hanifa. Tidak seperti biasa, dia tidak mengelap tangannya. Dia justru memandangi telapak tangannya yang masih terasa hangat oleh genggaman Hanifa tadi.


'Perasaan apa ini? Kenapa aku jadi ikut senang?'


[Anda berhasil merekrut kembali satu target.]


Nama Hanifa pada layar hologram berubah menjadi merah. Kemudian, muncul tanda centang di belakangnya.


"Tunjukkan lokasi target kedua, Sis."


Beruntung, keberadaan Fahmi tidak jauh dari rumah Hanifa. Jay segera berjalan menuju lokasi.


[Waktu perjalanan dengan jalan kaki sekitar sepuluh menit, dengan taksi sekitar lima menit. Apakah Anda yakin ingin berjalan?]


"Aku mau menghemat uang, bukan, untuk melatih otot kaki tubuh lemah ini."


[Sistem mendeteksi kekuatan otot Winardi dua kali lebih kuat daripada tubuh Jay Wijaya.]


"Itu namanya bug. Kau perlu membenahi sistemmu. Informasimu sangat tidak akurat."


Sepanjang perjalanan, Jay bercakap-cakap dengan sistem yang kini lebih komunikatif. Meski Jay lupa bicara dalam hati dan mendapat tatapan aneh orang-orang. Ketika sadar pun dia tetap bicara keras.


Jay tidak peduli dianggap gila karena orang melihatnya sebagai Winardi. Justru dia sengaja lebih menonjolkan kegilaannya dengan tertawa keras sendiri menanggapi kalimat-kalimat kaku dari sistem. Sampai akhirnya, dia sampai pada titik merah milik target.


"Lihat, sistemmu banyak bug. Masa kau membawaku ke kuburan?! Atau mungkin ... dia sudah mati?" Jay merinding oleh perkiraannya.


[Jarak target masih dua meter.]


Jay menelan ludah susah payah. Dia bukan orang yang penakut. Sungguh! Tetapi, dadanya naik turun sangat cepat. Apalagi, hari mulai menggelap.


Mata Jay berkeliaran mencari seseorang, tetapi tidak ada siapa pun di dalam kuburan itu. Sampai akhirnya, dia mendengar isak tangis seorang pria.

__ADS_1


"Jay Wijaya!!!! Aku akan membunuhmu!"


Kaki kuat Winardi tidak sanggup lagi menopang nyali Jay yang menciut. Dia jatuh terduduk dengan napas tidak beraturan. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.


__ADS_2