
Jay menatap pantulan dirinya di cermin. Dia telah berpakaian rapi dan siap kembali ke JW Corporation untuk melamar pekerjaan lagi. Kali ini, dia tidak memakai jas dan hanya mengenakan kemeja biasa.
"Seharusnya, kau merawat diri waktu masih hidup, Win. Kau lumayan tampan. Yah, meskipun aku yang asli tetap lebih tampan seratus kali lipat darimu."
[Sisa waktu penyelesaian misi 52:30:00.]
"Kau mulai mengganggu lagi! Apa yang terjadi jika aku tidak menyelesaikan misi darimu, Sis?"
[Anda akan didiskualifikasi. Semua hadiah yang Anda dapatkan akan ditarik kembali.]
"Ouch, kau jahat sekali, Sis. Bagaimana kalau semua uang di rekeningku sudah habis?"
[Saldo tabungan di rekening Anda akan otomatis terpotong ketika telah terisi kembali.]
"Kalau begitu, aku akan menabung pakai celengan. Kau tidak akan bisa menarik uangku lagi. Hahahaha!"
[...]
"Santai saja, aku ini Jay Wijaya. Aku akan mendapatkan pekerjaan di perusahaanku sendiri dengan mudah. Apalagi, cuma jadi office boy." Jay berdecak-decak. "Membayangkan jadi office boy membuatku mual."
Sepanjang perjalanan, Jay hanya bisa menggerutu dalam hati. Dia sangat menyayangkan otak supernya tidak bisa digunakan untuk bekerja. Sampai tidak terasa, taksi yang membawanya telah sampai di depan gedung JW Corp.
Satu hal lain yang membuat Jay cukup betah berada di dalam tubuh orang lain, dia bisa mengekspresikan dirinya sendiri tanpa harus menjaga gengsi. Cara berjalan dan bicaranya pun jadi lebih santai.
Beberapa karyawati melirik kepadanya. Jay mengedipkan sebelah mata sambil tersenyum menggoda. Suasana hati Jay semakin naik ketika melihat sahabat Winardi datang membawa sesuatu untuknya.
"Ini untukmu, Win." Derry menyerahkan bungkusan nasi padang.
Jay mengendus-endus isi dalam kantong pastik. "Uh, baunya menyengat. Aku lebih suka dibelikan burger atau pizza. Tapi, ini juga lumayan. Terima kasih, Bung!"
Derry menggeleng-gelengkan kepala. Dia sungguh tidak percaya, Winardi yang biasanya selalu tidak enak hati menerima bantuan itu kini menjadi sosok baru yang sedikit ... gila.
"Gara-gara kesalahan kemarin, kau akan diwawancarai oleh orang lain. Tesnya agak berat. Aku harap kau berhasil." Derry menepuk-nepuk bahu Jay.
"Apa susahnya jadi office boy? Aku hanya butuh ini." Jay memamerkan lekukan otot lengan di balik kemeja panjangnya.
"Tidak semudah itu. Presiden direktur kami agak menyebalkan. Semua karyawan yang bekerja untuknya harus sempurna."
"Itu hal yang wajar, Der. Karena Jay Wijaya memang pria sempurna. Semua orang di perusahaan harus mencontohnya." Jay membusungkan dada.
"Ya, ya, terserah kau saja. Aku pergi dulu."
__ADS_1
"See ya!"
'Dasar gila,' gumam Derry dalam hati.
***
"Selamat, Anda berhasil melewati tahap wawancara," ucap Faiz, salah satu pewawancara.
"Bagus. Lalu, kapan saya bisa mulai bekerja?" tanya Jay tidak sabar. Dia sudah lama menunggu dan ingin segera bersantai-santai di kost.
"Anda baru lolos seleksi wawancara. Setelah ini, Pak Adi akan mengantar Anda ke ruang tes selanjutnya." Faiz menunjuk Adi dengan dua tangan secara sopan.
"Mari, ikut saya," tutur Adi lembut, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang besar dan kekar.
Jay dibawa ke ruang kebugaran milik perusahaan. Beberapa pelamar yang dia jumpai tadi terlihat pucat dan kelelahan. Ada pula yang menyerah dan tidak ingin melanjutkan tes selanjutnya.
"Apa yang harus saya lakukan di sini?" tanya Jay keheranan.
"Anda lihat, ada satu penguji untuk setiap alat kebugaran di sini. Tiga penguji di ujung itu akan mengetes kemampuan lain. Anda perlu lulus tes dari mereka semua untuk dapat bergabung di perusahaan kami."
"Hah? Apa hubungannya menjadi office boy dengan semua ini?" Jay sungguh tidak mengerti. Dia tidak pernah tahu ada tes kebugaran di perusahaannya.
"Pak presiden direktur kami adalah pria hebat yang menjunjung tinggi kesempurnaan."
Jay mengangguk-angguk setuju. 'Kau jujur sekali, Adi. Aku akan menaikkan gajimu kelak kalau punya kesempatan kembali menjadi Jay Wijaya barang sehari.'
"Beberapa tahun lalu, ada office boy yang dipecat karena tidak kuat melakukan pekerjaan remeh yang diberikan beliau secara pribadi. Sejak saat itu, beliau meminta semua office boy di perusahaan kami memiliki fisik yang bugar."
'Sungguh? Aku tidak ingat ..."
Tiba-tiba benaknya terbayang masa lalu. "Kita punya pusat kebugaran di perusahaan. Gunakan itu untuk menguji para pelamar. Mencari karyawan saja tidak becus!" bentak Jay pada mantan manajer HRD kala itu.
Andai saja bukan Jay sendiri yang membuat aturan, dia pasti sudah memprotes. Tetapi, dia langsung melakukan tes dengan senang hati. Karena semua keputusan Jay Wijaya sejak dulu selalu benar.
Jay akhirnya berhasil melalui enam macam alat kebugaran selama masing-masing sepuluh menit. Kemejanya basah oleh keringat. Kakinya sakit sekali karena dia mengenakan sepatu pantofel.
"Bolehkah membuka kemeja saya? Ini tidak nyaman sekali."
"Anda bekerja dengan kemeja, bukan telanjang dada," kata salah satu pelatih.
Jay menggertakkan gigi. Dia tidak ingin mengumpati dirinya yang asli. Apalagi, sampai mengakui bahwa dia yang dulu sedikit keterlaluan, bukan, sangat keterlaluan.
__ADS_1
"Cepat, lakukan sit up seratus kali!"
"Seratus? Apa tidak berlebihan?"
"Ini belum seberapa. Pak presiden direktur pernah menyuruh saya sit up dua ratus kali karena saya tidak sengaja menjatuhkan tumpukan dokumen! Padahal, tangan saya sedang sakit waktu itu."
'Itu salahmu sendiri, sialan!'
Kaki Jay mulai gemetaran pada hitungan tujuh puluh. Dia mengutuk tubuh atletis Winardi yang tidak punya stamina tinggi seperti tubuh aslinya. Sampai berakhir hitungan yang keseratus, Jay merebahkan diri ke lantai.
Napas Jay tersengal-sengal. Seluruh badannya lemas tidak bertenaga. Matanya pun sudah berkunang-kunang.
"Apa Anda tidak mau bekerja di sini?" tanya penguji.
"Saya sudah selesai, bukan?"
Penguji itu menyeringai. "Silakan ke tempat terakhir." Dia menunjuk mesin treadmill.
"Langsung naik saja. Saya yang akan mengatur kecepatan selama 10 menit," ucap penguji lain yang telah menanti.
Jay melakukan perintah tanpa berkata apa-apa. Masih meyakini bahwa semua ujian ditujukan demi kebaikan para karyawan.
"Pak Jay Wijaya selalu menyuruh karyawan yang terlambat datang untuk mengelilingi gedung perusahaan yang sangat besar ini, dan harus selesai dalam batas waktu yang ditentukan."
"Itu ... supaya ... disiplin," kata Jay dengan napas berat.
"Betul. Pak Jay menginginkan karyawan yang cekatan dan cepat datang saat dipanggil. Anda harus terbiasa mulai sekarang karena Anda diterima kerja di sini."
"Terima kasih," jawab Jay datar.
"Istirahat dulu sebentar, lalu minta seragam kerja. Anda bisa masuk kerja mulai besok pagi."
[Selamat, Anda berhasil menyelesaikan misi! Hadiah Rp 5.000.000,00 telah ditransfer ke rekening Anda.]
"Ya."
Jay terlentang sembarangan di sudut ruang kebugaran. Tatapannya kosong ke arah langit-langit. Suara para penguji yang berteriak dan pelamar yang mengeluh semakin samar.
Semua penguji memang seolah memuji sosok Jay Wijaya. Namun, sebagian besar ucapan mereka mengandung rasa kesal yang mendalam. Jay dapat merasakannya.
Apa Jay akan menyesali ucapan dan perbuatannya dulu karena banyak membebani para karyawan? Akankah Jay berubah setelah ini?
__ADS_1