
Biasanya Winardi tidak tahu apa-apa dan juga tidak peduli urusan orang tuanya. Surti pun paham betul bagaimana kebiasaan dan sifat semua anggota keluarga Winarno yang mudah ditipu.
Sudah bertahun-tahun lamanya Surti membeli ternak dan hasil panen keluarga Winarno dengan harga yang berkali-kali lipat lebih rendah dari pasaran. Bukan hanya dirinya yang melakukannya. Dan bukan hanya keluarga Winardi saja yang telah ditipu olehnya.
Semua perbuatan Surti pun didukung oleh pak kepala desa. Mereka terang-terangan membeli semua panen dan ternak warga dengan harga miring dan dijual kembali ke pasar besar.
Surti tidak khawatir sama sekali seandainya Winardi yang bodoh itu mulai menaruh curiga padanya. Pak kepala desa pasti akan membantu meyakinkan Winarno dan semua orang.
Namun, Surti merasa resah ketika melihat sorot mata Winardi. Pria di depannya itu seperti seseorang yang berbeda dengan Winardi yang dikenalnya. Ekspresi dingin dan mengintimidasi Winardi seolah ingin merobek wajahnya.
Surti tidak salah sama sekali. Jay memang sangat ingin merobek kulit Surti yang dipikirnya menggunakan topeng nenek belaka. Tetapi, Jay juga tahu itu tidak mungkin terjadi.
"Ini dari siapa?" tanya Jay.
Jay memelototi Surti seraya melambai-lambaikan brosur harga ternak tepat di wajah Surti. Kemarahan Jay meletup-letup karena sikap pura-pura polos nenek penipu di depannya.
"Aku dapat dari pasar di kota, Win."
"Mamak selama ini jualan kambing dengan harga segini?"
"Iya, Win, memangnya kenapa? Ini sudah naik loh harganya! Bu Surti juga sudah membayar lunas semua kambing yang dibelinya hari ini."
Magdalena tidak bisa menyembunyikan raut wajah berseri-seri. Jay sampai tidak habis pikir dengan kekonyolan ini. Entah dia harus marah atau menertawakan kebodohan orang tua Winardi yang mau saja percaya ucapan orang begitu saja.
"Uangnya mana sekarang, Mak?"
"Ada di dalam, Win. Kenapa? Kau mau minta uang jajan?"
"Kalian kalau mau bicara nanti saja. Aku juga buru-buru mau pergi. Biar aku pilih sendiri sepuluh kambingnya," sela Surti.
"Tidak, Bu. Abaikan saja Winardi. Dia juga biasanya tidak mau ikut campur masalah jual beli ternak."
Surti menghela napas lega. Akan tetapi, tidak dengan Jay yang mulai kehilangan kesabaran.
"Ambilkan uangnya sekarang, Mak!" Jay meninggikan suara.
"Kau kenapa, sih?"
Jay menatap Magdalena sangat dalam dan mengancam. Baru kali ini Magdalena sampai takut dengan anaknya sendiri. Dia lantas masuk ke dalam rumah mengambil dompet lalu kembali ke kandang.
"Ini lima juta dari Bu Surti untuk pembelian sepuluh kambing. Yang dua juta dari lima kambing sebelumnya."
Jay semakin tercengang oleh pengakuan Magdalena. Meskipun Jay tidak pernah membeli kambing, tapi dia tahu berapa kisaran harganya.
"Ini semua kami ambil untuk pembayaran lima kambing sebelumnya." Jay mengibaskan dompet.
__ADS_1
"Uang itu pembayaran sepuluh ..."
Jay memotong ucapan Magdalena dengan isyarat tangan.
"Sekarang kau pergi dari rumah ini dan jangan pernah menunjukkan batang hidungmu di depan papah dan mamakku lagi!" hardik Jay sambil mengerucutkan telunjuk ke arah luar.
"Win! Jangan kurang ajar!" Magdalena balas membentak.
"Tidak apa-apa. Mungkin Winardi pikir aku sedang menipu kalian," tutur Surti dengan wajah sedih.
Mata Surti berembun tatkala mulai beranjak pergi meninggalkan halaman belakang rumah Winarno. Mau tidak mau dia mengeluarkan teknik mengiba untuk membuat orang merasa kasihan padanya.
Cukup dengan berlagak lemah sambil menangis. Tidak lupa sengaja memperlihatkan pakaian yang ditambal di sana-sini dengan pura-pura menyentuhnya. Cara berjalannya pun dibuat berat. Tanpa alas kaki pula.
Kalau Surti melakukan itu di depan warga Sukasuka atau di jalan kota, dalam sehari dia bisa mendapat sumbangan jutaan rupiah. Dia sangat yakin jika Magdalena juga akan mencegah kepergiannya.
'Enak saja mereka mau mengambil semua uangku begitu saja! Aku harus lapor pak kepala desa supaya menghukum Winardi sialan itu! Biar diusir orang se-desa sekalian!' batin Surti.
Sayang sekali, sandiwara Surti tidak berhasil menangkap rasa simpati Jay. Dalam hati, Jay berterima kasih kepada Wijaya karena membuatnya susah mempercayai orang lain. Baik itu orang tua maupun anak kecil, kaya ataupun miskin. Dia sama sekali tidak peduli dengan penampilan memelas Surti.
"Bu Surti," panggil Magdalena.
Magdalena sudah bersiap menyusul Surti sebelum Jay memegangi lengannya. Jay menyeret pelan Magdalena masuk ke dalam rumah. Kalau sebelumnya Magdalena akan marah dengan sikap kurang ajar Winardi, kali ini dia hanya bungkam. Aura yang dimiliki putranya begitu tegas dan tidak bisa dibantah.
Jay dan kedua orang tua Winardi duduk di ruang keluarga. Pandangannya menunduk ke arah dompet lusuh di tangannya.
"Ada apa, Mak?" bisik Winarno.
"Dengar, Mak, mulai sekarang, urusan jual beli ternak serahkan padaku."
"Tiba-tiba sekali, Win? Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu di kota?" tanya Winarno.
"Papah dan mamak tidak perlu memikirkan kerjaanku. Nanti aku belikan kalian smartphone untuk menghubungiku kalau ada pembeli. Yang jelas, mulai sekarang jangan dijual ke nenek sialan itu," tegas Jay.
"Win!! Jangan keterlaluan kau, ya!" bentak Magdalena.
"Siapa lagi yang biasanya membeli kambing?"
Dari cerita Winarno, Jay akhirnya tahu mengapa orang tua Winardi dan warga desa terlihat sangat miskin. Padahal, semua rumah memiliki sawah dan ternak sendiri-sendiri. Rupanya semua penjualan dimanipulasi pemimpin desa itu sendiri.
***
Saat ini, setiap kepala keluarga ada di halaman depan rumah Winarno. Mereka saling bertukar tanya dan keheranan. Winardi yang biasanya pendiam dan tidak berani bicara dengan orang lain itu memanggil mereka dan berdiri di tengah semua orang dengan percaya diri.
"Semua sudah datang?" tanya Jay.
__ADS_1
"Ada apa ini, Win? Apa kau mau menikah?" Para warga heboh oleh pertanyaan pria itu.
"Harap tenang!" titah Jay.
Setelah semua diam, Jay berkata, "Mulai hari ini, aku akan membeli semua ternak dan hasil panen kalian. Tidak membeli semuanya sekaligus, tapi aku akan tetap rutin memutar semua sumber daya yang ada di sini."
"Kami sudah punya langganan, Win."
"Benar. Ada pak kepala desa dan bu Surti."
Jay tersenyum sinis. Pak kepala desa dan Surti yang dielu-elukan warga itu muncul di saat yang tepat.
"Ada ribut-ribut apa ini?"
Para warga bersalaman dan menyapa hormat dengan tokoh desa itu. Mereka saling bersahutan menjelaskan apa yang baru saja Jay katakan.
"Bu Lena! Bagaimana kau mendidik Winardi?! Bu Surti sudah cerita kalau dia tidak mendapat kambing yang sudah dibeli lunas hari ini. Dan sekarang anak Anda mau menghasut warga, hah?"
Jay mendengarkan dengan baik setiap orang yang memakinya. Hingga akhirnya mereka berhenti bicara dan menuntut jawaban Jay.
"Apa di sini tidak ada yang pernah keluar desa? Kalian tidak sekolah? Kalian ini naif atau bodoh? Menjual kambing yang seharusnya dihargai satu sampai dua juta dengan harga separuhnya. Belum lagi, panen buah-buahan yang cuma dijual beberapa ribu sekarung." Jay berdecak-decak dan geleng-geleng kepala.
"Satu juta?" Magdalena sampai melotot kaget.
"Satu juta lebih, Mak. Tergantung kambingnya. Tapi tidak mungkin kalau sampai dihargai lima ratus ribu! Hahaha!"
Wajah pak kepala desa dan Surti memucat. Namun, pak kepala desa tidak sudi menyerah karena dia sudah repot-repot meyakinkan warga agar tidak perlu keluar desa. Dia tidak mau kehilangan keuntungan besar di depan mata.
"Jangan fitnah, Win! Aku akan laporkan kau ke polisi!" ancam pak kepala desa agar nyali Winardi si pengecut menciut.
"Tidak perlu repot-repot, Pak. Saya sudah memanggil polisi sejak tadi. Mereka dalam perjalanan kemari sekarang. Untungnya, Anda dan nenek lampir itu selalu minta nota kepada mamak. Jadi, jangan khawatir soal bukti-buktinya." Jay terkekeh-kekeh.
***
Jay kembali ke kota dengan perasaan senang. Semangatnya membangun usaha sangat berapi-api. Dia juga ingin menunjukkan kepada sistem jika usaha dan kerja keras dapat mengalahkan ketidakberuntungan.
Bermodal hadiah dari misi sistem, Jay membeli gedung kecil yang akan dia gunakan untuk membangun pabrik. Namun, dalam sekejap uang dalam tabungannya lenyap. Semua habis untuk renovasi tempat.
Jay baru menyadari jika dulu usahanya tidak murni dari nol. Sebab, Jay mendapat modal dari Wijaya pada awalnya. Ditambah lagi, Jay yang kuliah di luar negeri memiliki banyak relasi yang dapat diajak kerja sama.
Tidak seperti sekarang. Meskipun Jay berusaha menghubungi mitra bisnisnya, dia sekarang hanyalah Winardi dan bukan siapa-siapa. Tidak ada satu pun dari mereka yang melirik proposal Jay.
Satu-satunya harapan Jay adalah Wijaya. Dan hari ini, Jay akan membujuk Wijaya supaya mau mengucurkan dana untuk pembelian mesin produksi dan lainnya.
Jay merapikan kemeja, menepuk bahunya seolah membersihkan debu. Dia memutar kenop pintu presiden direktur JW Corp. Di saat yang tepat, seorang wanita melakukan hal yang sama dengannya.
__ADS_1
'Melinda ...'