
Seorang pria berkacamata dan berparas biasa-biasa saja, tapi selalu merasa luar biasa, tengah fokus menatap layar laptop. Sudah lama Beni tidak memantau CCTV yang diam-diam dia sematkan di setiap sudut rumah Jay Wijaya sejak tahun lalu.
Beni pikir, sejak Jay mati, dia tidak perlu lagi mengamati area rumah itu. Namun, akhir-akhir ini Melinda sedikit berubah. Wanita gatal yang suka menggoda di setiap ada kesempatan itu mendadak tidak suka disentuh. Sudah dua hari juga Melinda tidak datang ke apartemennya.
"Pasti ada sesuatu!"
Beni memutar semua rekaman dari kamera pengawas selama berjam-jam. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Sampai dia mulai menyalakan rekaman video hari kemarin.
Seorang pria yang tidak dikenalnya membuntuti Melinda dari belakang. Kedua tangan pria itu bergerak *******-***** udara di depan bongkahan bawah Melinda.
Melihat kelakuan pria itu saja sangat membuat Beni kegerahan. Dia melonggarkan dasi dengan kasar, lalu meraup udara sebanyak-banyaknya. Baru juga mengembuskan napas panjang, sesuatu kembali membuat Beni menegang. Paru-parunya terasa panas ketika dia berhenti bernapas.
"Kurang ajar!!"
Beni menggebrak meja kerjanya. Beberapa sampah menggelinding jatuh ke bawah. Ruangan kerja di apartemen yang tampak kotor itu menjadi lebih awut-awutan tatkala dia melemparkan semua barang yang dapat diraih tangannya ke segala arah.
Dengan tangan bergetar, Beni meraih ponsel di atas nakas. Dibukanya aplikasi pelacak lokasi yang menunjukkan keberadaan Melinda saat ini.
Dia menggertakkan gigi saat tahu kekasih hatinya sedang berada di pinggiran kota. Tepatnya, di sebuah gedung besar yang tidak bertetangga.
"Apa yang dia lakukan di sana?" Beni berpikir sejenak. "Jangan-jangan dia ..."
Merasa tidak perlu lagi melanjutkan ucapannya, Beni bergegas meraih kunci mobil, kemudian melesat pergi mencari Melinda. Beni berulang kali menghubungi Melinda selama perjalanan. Tetapi, tidak ada sahutan.
Awalnya, Beni marah akan kelakuan Melinda. Namun, perasaan itu berubah secepatnya menjadi kekhawatiran yang begitu hebat.
'Siapa pria itu? Apa dia sengaja membawa Melinda ke tempat sepi supaya bisa membunuhnya? Dia pasti akan mengambil semua harta Melinda setelahnya! Brengsek! Aku harus cepat!'
Semenjak berhasil membunuh Jay Wijaya, Beni selalu mencurigai orang-orang di sekitarnya. Beni jadi mudah ketakutan dengan orang yang bersikap baik padanya.
Bahkan, Beni memindahkan semua tabungan ke salah satu bank di luar negeri yang terjamin keamanannya. Meskipun isi dalam rekeningnya hanya beberapa ribu dolar. Karena dia dan Melinda belum berhasil menguras harta Jay Wijaya.
Nomor yang Anda tuju tidak dapat-
Beni membanting ponsel ke kursi penumpang. Dia menginjak pedal gas semakin dalam. Mobilnya melaju sangat kencang seraya menyalip semua kendaraan yang ada di depannya.
Tidak berselang lama, Beni telah sampai di luar pagar tinggi gedung baru itu. Dia sengaja memarkirkan mobil agak jauh dan di tempat yang tidak dapat terlihat CCTV. Tidak lupa, dibawanya pisau lipat untuk membela diri.
Dia berjingkit-jingkit mencari arah suara-suara dua orang yang sedang asik bicara. Langkahnya terhenti ketika semua lampu tiba-tiba mati. Saat lampu kembali menyala, tubuh dan otaknya malah membeku di tempat.
***
[Kecup singkat bibir target sekarang juga! Waktu penyelesaian misi 00:00:10.]
__ADS_1
'Kau gila? Aku tidak mau!!!'
[Waktu dimulai dari sekarang!]
'Aku tidak sudi!'
[10 ...]
"Win," panggil Melinda.
[9 ...]
Melinda masih memeluk lengan Jay meskipun lampu sudah menyala. Melinda justru semakin menempelkan dirinya sendiri dan berharap Jay mengerti kode yang dia lemparkan.
[8 ...]
Jay melirik singkat wajah Melinda yang ... dia jelas tahu apa yang sedang diinginkan Melinda saat ini. Bibirnya berkedut-kedut ketika dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Melinda.
[7 ...]
Mata melinda telah terpejam. Jarak antara bibir keduanya sudah sangat dekat. Namun, Jay tidak ingin melanjutkan. Perutnya sungguh terasa mual karena membayangkan berapa banyak bibir pria yang telah menyentuh Melinda.
[6 ...]
Akhirnya, Jay mengecup bibir Melinda! Jay langsung menarik kepalanya ke belakang setelah misi berhasil. Tapi, Melinda lebih cepat menangkup wajahnya lalu dengan cepat menautkan bibir mereka.
[Kecupan singkat! Bukan ciuman panas, Bodoh!]
Jay memejamkan mata dan menyambut aksi Melinda tanpa membaca pesan sistem. Ya, Jay memang merasa jijik pada Melinda. Tetapi, Jay juga sadar kalau tubuh Winardi sangat sehat, normal, dan siapa yang mau menolak sentuhan wanita cantik?
'Tinggal pakai pengaman supaya tidak ketularan penyakit,' batin Jay.
Sebuah tangan menarik kemeja Jay dari belakang. Dalam hitungan detik, satu pukulan mendarat di pipi kanannya. Jay tertegun sesaat. Bagaimana mungkin Melinda memiliki kekuatan sebegitu besarnya?
"Beni!" pekik Melinda.
Jay akhirnya sadar jika Beni yang telah memukulnya. Seorang pencuri kurang ajar itu berani melukai Jay Wijaya untuk kedua kalinya?
Kesabaran Jay menguap bersamaan dengan gairahnya. Dia menarik baju Beni dengan kasar lalu memukul wajahnya bertubi-tubi. Sebelum Beni bisa menghindar atau menyerang, Jay menendang pulung hati Beni.
"Uhuk ... Uhuk ...!"
Cairan putih bening dan kental keluar dari mulut Beni. Jay tidak peduli. Dia kemudian menarik rambut belakang selingkuhan istrinya itu.
__ADS_1
Pandangan Beni hanya tertuju ke langit-langit. Mata putihnya mendominasi. Kedua tangannya berusaha meraih kemeja Jay, tapi terpeleset berkali-kali.
"Win! Sudah, Win! Berhenti!" Melinda berteriak ketakutan.
Jay menarik kepalanya ke belakang. Lalu, secepat kilat membenturkan dahi mulusnya ke wajah lawannya.
'Krek!'
Terdengar bunyi patahan di tulang hidung Beni. Diikuti darah segar yang mengalir dari salah satu lubang hidungnya. Sesaat kemudian, Beni ambruk di depan kakinya.
"Astaga, bagaimana ini?!" Melinda panik bukan kepalang.
Melinda berlari ke arah Beni. Dia mengguncang-guncang badan lemas kekasihnya. Setelah mengecek Beni masih bernapas, Melinda langsung berdiri dan melompatinya.
"Winardi!"
Melinda memeluk Winardi dengan sangat erat. Jay buru-buru menjauhkan diri sebelum air mata Melinda mengotori kemejanya.
"Kau tidak apa-apa, Win?" Melinda meraba-raba wajah Jay. "Ya ampun, wajahmu jadi terluka."
Jay menepis sentuhan Melinda. Dia sendiri heran bukan main. Bukannya mencemaskan kekasihnya, Melinda dengan tidak tahu malunya malah mendatangi pria lain yang baru dikenalnya.
"Aku baik-baik saja. Siapa orang itu?" Jay pura-pura tidak tahu.
"Dia karyawan suamiku, Jay. Abaikan saja. Yang penting sekarang, kita harus merawat lukamu agar tidak meninggalkan bekas."
'Sepertinya aku tidak waras karena dulu pernah berpikir wanita gila ini bak malaikat.'
Melinda menarik lengan Jay menuju ruangan kantor, meninggalkan Beni yang pingsan sendirian. Jay hanya duduk termenung sambil menunggu Melinda yang sibuk mencari kotak P3K.
"Ini dia!"
Melinda melambaikan kotak kecil itu. Dia lantas duduk di pangkuan Jay dan mulai membersihkan luka di wajah Jay yang sebenarnya tidak terlalu kentara. Sambil sesekali menggerakkan pinggulnya.
"Kau seharusnya menolong orang itu dulu, Nyonya."
"Biarkan saja. Dia tidak mati dan sudah dewasa. Dia bisa mengurus dirinya sendiri nanti."
"Haaaa ... kenapa dia sampai memukulku? Apa dia utusan Jay Wijaya? Suamimu bisa membunuhku, Nyonya," gumam Jay.
"Tidak, Win. Dia bukan orang suruhan Mas Jay. Dari dulu dia memang mengejar-ngejarku. Walaupun aku terus menerus menolaknya, dia tetap berusaha mendapatkan aku."
Melinda kembali memeluk Jay sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Untungnya, kau ada bersamaku. Kalau dia tahu aku sendirian di pabrik ini ... huhuhu ... dia ... dia pasti ... akan ... menodaiku."