
"Sepertinya tubuhku jadi bagus karena sering naik turun gunung," gumam Jay.
"Kau tidak ingat, Win? Dulu sebelum kecanduan game, kau rutin memutari pegunungan ini. Gara-gara kejadian waktu itu kau jadi banyak berubah dan hanya mengurung diri di kamar."
"Kejadian apa?"
Elisa berkata setelah menjeda panjang, "Lupakan apa yang barusan aku bilang. Maaf karena membahas masalah itu lagi."
"Tidak ... Aku ingin membahas kejadian itu!"
"Tidak mau. Nanti kau marah lagi padaku."
"Aku tidak akan marah. Janji!"
Meskipun merengek-rengek seperti bayi besar, Elisa tetap bungkam. Selagi berdebat tentang 'kejadian itu' mereka sampai juga di sebuah desa kecil.
Benar dugaan Jay. Desa itu hanya ada beberapa rumah berjarak saling berjauhan. Lampu-lampu jalan pun beberapa mati dan sebagian berkedip-kedip. Mendadak Jay merinding.
'Jangan-jangan perempuan di sebelah ini mengajakku ke tempat aneh. Setelah bangun nanti, semua rumah menghilang dan aku berakhir di ..."
"Winardi!!" seru seorang wanita paruh baya cantik jelita.
'Siapa, Sis?'
[Magdalena, ibu pemilik tubuh, usia 54 tahun.]
"Ibuuuu," seru Jay sambil memeluk Magdalena. "Aku kangen ibu!"
"Apa kabarmu, Win?" Magdalena menitikkan air mata.
"Baik, Ibu. Ayo, masuk dulu, Bu. Jangan sampai kena angin malam. Nanti sakit."
Magdalena mengusap air mata. Dia mengerutkan kening keheranan.
"Kenapa kau memanggilku ibu?"
'Lalu aku harus panggil apa?'
"Ah, aku ..."
"Cepat masuk ke rumah dulu." Magdalena menyela dan tidak butuh jawaban. "Elisa mau mampir juga?"
"Tidak, Tante. Sudah malam. Besok saja Elisa datang ke sini."
"Diantar dulu saja, Win." Magdalena mendorong-dorong punggung Jay.
"Tidak perlu, Win. Cuma dekat juga. Mari, Tante, Win."
Kali ini Jay tidak bersandiwara. Ketika memeluk Magdalena tadi, dadanya berdebar seolah bertemu dengan ibunya sendiri.
Jay merasakan perasaan yang sudah lama tidak diingatnya. Sebab, ibu Jay Wijaya telah tiada bertahun-tahun lamanya. Karena itu, Jay terdiam seribu bahasa. Sesuatu menggelitik relung hatinya.
__ADS_1
Ketika dia menapak masuk ke dalam rumah, Jay bersiap-siap menghadapi Winarno, ayah Winardi. Mungkin karena terbiasa menghadapi Wijaya yang mendidiknya sangat keras, dia otomatis menunduk setengah takut. Biarpun Winarno bukan ayahnya sendiri.
"Win!" panggil Winarno.
Jay tertegun oleh rintikan air mata yang mulai mengalir dari pelupuk mata Winarno. Pria yang separuh rambutnya dipenuhi uban itu berjalan tertatih-tatih lalu memeluk Jay.
Dia tidak tahu harus berbuat apa. Seumur-umur, Wijaya tidak pernah bersikap seperti Winarno. Wijaya bahkan tidak suka ketika melihat anaknya sendiri menangisi kepergian ibunya.
"Win," lirih Winarno.
Winarno memijat-mijat lengan Jay. Memutar badan Jay ke kanan dan ke kiri seolah ingin memastikan tidak ada lecet sedikit pun di tubuh anaknya. Setelah puas melihat Jay baik-baik saja, Winarno menepuk bahu Jay.
"Anak papah sudah dewasa sekarang. Papah bangga padamu, Nak. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau tidak pernah terlambat makan, 'kan? Sudah sebulan lebih kau tidak menghubungi, papah pikir kau kenapa-napa."
"Maaf."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Jay. Mau bilang apa lagi Jay juga bingung. Suasana di rumah Winardi sangat tidak biasa baginya.
"Mamak siapkan makan malam dulu, ya. Kau mandi dulu, Mengobrolnya nanti saja setelah makan," ujar Magdalena.
[Selamat, misi Anda behasil diselesaikan! Hadiah Rp 50.000.000,00 telah ditambahkan ke rekening Anda.]
***
Pandangan Jay menerawang di langit-langit bercat putih pudar. Dia tengah menikmati kehangatan di dadanya sambil melamun.
Orang tua Winardi memperlakukan Jay begitu manusiawi, tidak seperti Wijaya. Meskipun usia pemilik tubuh sama dengan usianya, kedua orang tua itu tidak sungkan memperlihatkan kasih sayang dan memanjakannya.
Jay diam saja. Daripada canggung dan semakin merasa aneh, dia pura-pura tidur.
Namun, Winarno malah membuka pintu kamar. Disusul Magdalena yang memeluk dua bantal dan selimut tebal. Mereka berdua lalu tidur mengimpit Jay di tempat tidur yang lumayan besar.
Meskipun kasur Winardi tidak berkelas dan membuat punggungnya kesakitan, Jay senang bisa merasakan kasih sayang dari orang tua Winardi. Dia merasa jadi seperti anak kecil lagi. Hingga akhirnya, Jay terlelap dengan senyum tulus di bibirnya.
Senyuman yang tidak pernah ditunjukkan Jay Wijaya setelah kematian ibunya. Bahkan, Jay tidak setulus itu ketika tersenyum di hadapan Melinda.
***
Pagi-pagi sekali, Magdalena dan Winarno telah meninggalkan kamar Winardi. Ketika membuka mata, Jay sontak mencari sosok kedua orang tuanya. Dia langsung bangun dan berkeliling rumah. Tetapi, orang tua Winardi tidak ada di mana-mana.
Jay menemukan secarik kertas di atas meja makan yang mengatakan bahwa Magdalena sedang mengantar Winarno ke dukun desa. Magdalena telah menyiapkan sarapan lengkap untuk Jay. Dia pun menghabiskan makanan itu lalu pergi mandi.
Magdalena dan Winarno kembali ke rumah tepat saat Jay keluar kamar dengan pakaian sederhana dan norak milik Winardi. Dia melihat Winarno terpincang-pincang lebih parah dari semalam.
"Papah sakit apa, Mak?" tanya Jay.
Jay sedikit malu memanggil kedua orang yang masih asing itu dengan sapaan akrab.
"Dua hari lalu, papah jatuh di dekat sawah. Sama dukun sudah dipijat tapi belum sembuh-sembuh sampai sekarang," terang Magdalena.
"Sabar, Mak. Masa iya langsung sembuh. Semua ada prosesnya. Dinikmati saja dan jangan suka buru-buru," tutur Winarno.
__ADS_1
"Mungkin ada yang retak kakinya, Pah. Seharusnya jangan malah dipijat."
Walaupun bersikeras tidak mau memanggil dokter dan percaya dengan dukun desa, Jay tetap memanggil kenalannya di rumah sakit. Jay pura-pura jadi dirinya sendiri dan menyuruh pihak rumah sakit datang membawa peralatan lengkap dan dokter terbaik.
"Pokoknya, Papah harus diperiksa dokter! Kalau tidak mau, aku balik ke kota sekarang!" tegas Jay yang sungguh khawatir.
"Iya, iya, sekarang kau bantu mamak ke sawah dulu, ya?"
"Buat apa ke sawah?"
"Main petak umpet, Win!" kekeh Winarno.
[Misi baru. Bantu ibu pemilik tubuh bekerja di sawah. Hadiah Rp 50.000.000,00 dan akan digandakan jika target merasa puas.]
'Puasnya yang bagaimana?'
[Akan muncul layar hologram di atas target. Tingkat kepuasan dari 0 sampai 10. Anda perlu mendapat poin 10 kepuasan untuk bisa mendapat hadiah dua kali lipat.]
Seperti kata sistem, sebuah cahaya kehijauan mulai berkedip-kedip di atas kepala Magdalena. Muncul juga jarum penunjuk di bawah angka-angkanya.
"Ayo, berangkat, Win," ajak Magdalena.
Magdalena mengecup punggung telapak tangan Winarno. Mereka berdua berangkat ke sawah setelah berpamitan.
"Win! Kau lupa sesuatu." Winarno menjulurkan tangan. "Salim dulu."
'Ini berlebihan, Sis.'
Walaupun menggerutu dalam hati, Jay tetap melakukannya. Dia sedikit geli dan malu sendiri.
"Nanti kalau dokter dari kota datang, Papah jangan menolak diperiksa!" ancam Jay.
"Iya, iya, bawel sekali."
***
Sudah berapa kali Jay melompat kaget, dia sampai tidak bisa menghitungnya. Setiap kali muncul binatang tanpa tulang di bawah kakinya, Jay berteriak memanggil Magdalena.
"Hiiiyy!!! Apa ini hukuman untukku?"
Beberapa cacing menggeliat di tanah berlumpur. Saat ini, Jay tengah membenamkan kedua kaki sampai lutut di sawah milik keluarga Winardi.
"Kau kenapa sih, Win? Cepat masukin bibit padinya. Setelah selesai, kita ke kebun untuk panen buah-buahan."
Jay akhirnya memejamkan mata dan bergerak cepat agar cepat berakhir. Tapi nyatanya, semua tidak dapat selesai dengan mudah.
Jay beberapa kali terpeleset sehingga semua kain yang melekat pada tubuh atletis Winardi dipenuhi lumpur. Dia mengetatkan mulut rapat-rapat. Supaya tidak muntah karena bau tanah yang mungkin sudah dicampur pupuk kandang. Atau bisa jadi pupuk alami dari seseorang.
"Lebih cepat lagi, Win!" perintah Magdalena.
Sebelum Jay bergerak mengikuti tindakan Magdalena, mata Jay terbuka lebar. Dia berteriak sangat kencang sampai menarik perhatian semua orang.
__ADS_1
Apa yang bisa membuat seorang Jay Wijaya bisa sangat ketakutan?