
Hampir setengah jam berlalu, Jay memutar badan ke kanan dan ke kiri di depan pantulan kaca hitam penyekat ruangan. Mau bagaimanapun memperbaiki seragamnya, tetap saja dia merasa ada yang tidak pas dengan dirinya.
"Kau karyawan baru?" tanya seorang karyawan yang pertama masuk ke ruangan. Jangan ditanya, Jay tidak akan mengenal pria tidak penting itu.
"Benar, kenapa?" tanya Jay dengan gaya congkak.
Beruntung, karyawan itu tidak begitu peduli dengan polah tingkah Jay. "Sekarang hampir jam delapan, tapi semua meja masih kotor, sampah masih menumpuk, dan ..." Dia menghela napas. "... lihat lantai di bawahmu."
"Oh, ini baru saja muncul." Alas sepatu pantofel mengilat yang dipakai Jay mengusap sedikit noda di bawahnya.
"Kau sudah diberi tahu tugasmu, bukan?"
"Ya."
Karyawan itu berdiri mematung dan masih menatap Jay. Merasa ada yang aneh, Jay pun bertanya, "Kenapa? Apa kau tidak mulai kerja?"
"Justru aku yang tanya begitu. Apa kau tidak akan membersihkan meja kursiku dulu?"
Jay berdecih, tetapi tetap melakukan tugasnya. Diambilnya sapu dan kemoceng merah muda. Gerakannya cepat dan penuh keterpaksaan.
Dia mengutuk semua orang dalam hati, mantan istri, sekretaris, bahkan para tetangga. Menjadi pesuruh seperti ini membuat harga dirinya ternoda.
"Terima kasih," kata karyawan itu.
Jay melirik tanda identitasnya. 'Mahesa Kurniawan. Aku catat, kau rajin dan tahu diri.'
Karyawan lain mulai berdatangan. Lantai yang baru saja dipel Jay kotor lagi dalam sekejap mata. Ingin sekali rasanya dia mengumpat dan memaki mereka semua, tapi dia hanya bisa bungkam.
"Ih, jijik, kenapa masih basah lantainya, Mas?" tanya karyawati yang datang paling akhir.
"Namanya juga dipel. Kalau mau cepat kering, tiup pakai mulutmu sendiri," gumam Jay lirih.
"Mas, tolong fotokopi ini semua." Seorang karyawan muda melambaikan setumpuk dokumen kepada Jay.
Jay menurut dan mengambil dokumen itu. Sebelum sampai pintu, seseorang memanggilnya lagi.
"Mas, sekalian antarkan map ini ke meja presiden direktur, ya," ucap seorang gadis manis.
'Namanya Shinta.' Jay memelototi identitas karyawan gadis itu yang diselipkan di saku dada.
"Lihat apa, Mas?" Shinta menutupi bagian depannya dengan kertas.
"A-apa? T-tidak ada. Mau dibantu apa lagi, Nona?" tanya Jay cepat-cepat agar Shinta tidak curiga dengan kekhilafan matanya.
"Itu saja dulu. Terima kasih."
***
'Tidak buruk juga disuruh fotokopi, aku jadi bisa duduk santai seperti ini.'
Jay duduk di dekat mesin fotokopi yang masih beroperasi. Dari tempat itu, dia bisa mengamati para karyawan satu persatu.
__ADS_1
Rasa bangga membuncah dalam dada. Para karyawan yang dia didik dengan tegas, namun penuh kasih sayang itu belum ada yang mengecewakannya.
Dia mengangguk-angguk puas sambil melipat tangan di depan dada. Yang tentu saja, tingkahnya itu membuat karyawan lain geleng-geleng kepala.
"Lama sekali, sih! Fotokopinya di kutub utara, ya?"
"Salahkan mesin fotokopinya yang lama mencetak," ucap Jay sambil lalu.
"Loh, berkasnya belum diantar ke ruangan presiden direktur, Mas?"
Benar, Jay lupa!
Setelah mengedipkan sebelah mata, dia bergegas naik menuju ruangan kerja favoritnya yang terletak di lantai paling atas. Karena Jay Wijaya yang terhebat, satu lantai teratas dia gunakan seorang diri.
Jay menerobos masuk ruangan presiden direktur tanpa permisi. Kemudian, memejamkan mata sambil menghirup aroma familiar yang dirindukannya. Mulutnya tersenyum di wajah yang penuh kedamaian.
"Ehem!" Suara seorang pria menginterupsi.
Jay membuka mata dan terperanjat sampai menubruk pintu. "Pap ... Pap ... Pap ..."
"Kau minta 'pap' padaku? Jangan kurang ajar!" bentak Wijaya tanpa Jay, ayah Jay Wijaya.
"B-bukan, a-apa yang Anda lakukan di sini?"
"Kau tidak tahu siapa aku?" Suara Wijaya penuh penekanan.
Bahkan, seorang Jay Wijaya menciut tiap kali bertemu dengan Wijaya. Jay yang merasa dirinya terhebat selalu mundur satu langkah dan turun satu lantai dari ayahnya.
"Aku di sini menggantikan posisinya selama anakku absen. Apa yang kau bawa itu?"
Jay menyerahkan map dengan sopan dan sedikit gemetaran.
"Keluar," perintah Wijaya.
Jay setengah berlari menjauh dari satu-satunya orang yang ditakutinya itu. Meskipun demikian, dia lega karena ayahnya mengambil alih perusahaan. Beni tidak akan bisa macam-macam dengan dokumen miliknya selama Wijaya di sini.
***
"Win, mulai besok kau yang mengurusi tempat presiden direktur," kata Rudi, kepala office boy.
"Kenapa harus aku?" Jay memprotes keras harus bertemu ayahnya setiap hari.
"Pak Wijaya sendiri yang menyuruh. Kalau tidak mau langsung bilang padanya."
"Kalau Hanifa masih ada, tidak mungkin dia menyuruh yang lain," gerutu karyawan lain.
"Hanifa?" tanya Jay.
"Dia office girl yang biasa disuruh pak Jay. Tapi, belum lama ini, dia dipecat cuma gara-gara tidak sengaja menumpahkan kopi," terang Rudi.
Karyawan lain menambahkan, "Sopir yang kerja bertahun-tahun saja dipecat, apalagi Hanifa yang terbilang masih baru."
__ADS_1
"Pak Jay memang begitu. Dia cuma kelihatan baik di depan layar, aslinya iblis berwujud tampan."
Jay hanya bisa mencengkeram erat sapu di tangan. Kalau bisa bicara, mungkin sapu itu sudah memakinya. Kuku-kuku Jay mulai menusuk kuat sebagai pelampiasan emosi.
Tidak mau semakin marah dan jadi lupa diri, Jay memilih pergi ke kamar mandi. Dia mencuci muka dengan gerakan kasar. Omongan orang-orang itu sukses merusak suasana hatinya.
'Semua orang yang pernah aku hukum memiliki kesalahan masing-masing. Apalagi, kalau sampai dipecat, mereka pasti telah berbuat kesalahan fatal!'
[Misi baru.]
'Kenapa baru muncul, Sis? Seharusnya, kau lebih sering muncul dan membantuku mendapat banyak uang. Jadi, aku tidak perlu bekerja di sini lagi!'
[...]
'Kenapa sistem malas-malasan seperti ini? Kau bisa dipecat atasanmu, Sis!'
[...]
'Katakan apa misinya! Dan berikan hadiah setidaknya seratus juta tiap misi!'
[Daftar karyawan yang dipecat secara tidak adil oleh Jay Wijaya bulan ini :
Hanifa Fitria, 23 tahun, office girl.
Fahmi Fauzan, 45 tahun, sopir pribadi.
Annisa Iswari, 25 tahun, manajer pemasaran.
Ian Bagaskara, 28 tahun, staff keuangan.
Irene Jamila, 23 tahun, staff umum.]
'Apa maksudmu tidak adil? Semua yang aku lakukan sudah benar! Mereka yang bikin kesalahan!'
[Bersihkan nama baik para karyawan di dalam daftar dan kembalikan pekerjaan mereka. Untuk mendapat hadiah penyelesaian misi, dibutuhkan paling tidak tiga keberhasilan.]
Jay membaca berulang-ulang karena dia pikir salah membacanya. Namun, ternyata benar adanya. Dia tidak sudi menyuruh orang yang sudah dipecat kembali ke perusahaan.
'Jangan mempermainkanku, Sis!' Saking kesalnya, Jay memukul-mukul layar hologram yang tidak bisa disentuh itu.
[Batas waktu penyelesaian misi lima hari. Hadiah Rp 5.000.000,00.]
'Kau memintaku untuk menelan ludahku sendiri dan hanya membayarku lima juta?" Jay menampar udara di sekitar layar hologram. "Lupakan, aku tidak mau menjual kata-kataku senilai lima juta. Saatnya kita berpisah, Sis.'
[Anda akan didiskualifikasi jika tidak menyelesaikan misi!]
"Aku akan menganggap kau tidak pernah ada dan mengabaikanmu mulai sekarang. Atau kau bisa pergi mencari mangsa baru."
[Hadiah yang pernah Anda terima akan ditarik lagi!]
"Terserah ... selamat tinggal!"
__ADS_1
Jay berjalan menembus layar hologram yang sepertinya sedang ... tercengang. Karena biasanya layar hologram itu mengikuti arah pandang Jay. Tapi, sekarang hanya diam di tempat.