Win System

Win System
Chapter 5


__ADS_3

"Tunggu sebentar, jangan ke mana-mana dulu," ujar Jay.


Jay berlari kecil menuju mesin ATM di luar kafe. Dia mengambil semua uang dalam rekening yang ternyata hanya bisa ditarik satu juta empat ratus lima puluh ribu rupiah.


"Terima dulu uang ini, Der. Masih kurang lima puluh ribu."


"Tidak usah, Win. Kau pasti butuh uang ini untuk bayar kost. Besok saja kalau kau sudah punya banyak uang. Aku tulus membantumu."


Jay berdecak jengkel. Dia pun merebut dompet Derry dari saku jas. Kemudian, dimasukkan uang itu secara paksa.


[Selamat, Anda berhasil menyelesaikan misi! Hadiah Rp 5.000.000,00 telah ditransfer ke rekening Anda.]


'Yes!!' Jay bersorak dalam hati.


"Win, kau serius mau memberiku ini?"


"Aku tidak enak merepotkanmu terus-terusan. Biar aku hutang makan ke warung depan kost dulu tidak apa-apa. Yang penting, hutangku lunas." Jay menunduk sambil memainkan sedotan dalam gelas.


"Astaga! Ini, ambil dulu! Aku tidak mau menerimanya!"


Sudut bibir Jay diam-diam sedikit tertarik ke atas. "Jangan, Der. Kasihan kau nanti kalau butuh sesuatu."


"Tidak, Win. Kau pikir aku siapamu? Kita sahabatan sejak masih ingusan. Aku tidak ingin melihat teman baikku kesusahan." Derry memasukkan uang tadi ke saku Jay.


"Sungguh, tidak apa-apa?"


"Kau tidak perlu khawatir. Gajiku di JW Corp. lumayan banyak. Aku mengajakmu makan siang di sini juga karena mau membicarakan masalah ini."


"Membicarakan apa?"


"Besok pagi, kau datang ke gedung depan." Derry menunjuk kantor JW menggunakan isyarat kepala. "Aku akan merekomendasikan dirimu pada atasanku."


'Melamar di perusahaanku sendiri? Kau bercanda?'


Setelah berlagak berpikir sesaat, Jay berkata, "Baik, aku akan datang. Kau tidak perlu merekomendasikanku. Percayalah padaku, Der. Aku bisa masuk dalam sekali kedipan mata."


"Wow, sejak kapan kau jadi percaya diri seperti ini? Benar juga, aku lihat sejak tadi juga kau bisa bertatap muka dengan perempuan. Biasanya kau selalu menunduk di depan perempuan."


"Memang aku seperti itu?" Jay memutar bola mata. "Aku ini Ja ... Winardi. Cukup dengan sekali tunjuk, semua perempuan akan datang padaku." Jay tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh tawa canggung teman di depannya.


'Agaknya, terlalu lama hidup susah bisa membuat orang jadi sedikit gila,' batin Derry.


***


[Informasi Jay Wijaya, 25 tahun, CEO JW Corporation, pengusaha muda sukses nomor satu dalam negeri.]


"Kenapa tiba-tiba muncul data diriku? Kau memang pintar memuji, Sis." Jay terkekeh-kekeh.

__ADS_1


[Mengaku menjunjung tinggi kejujuran, adil, dan bijaksana.]


"Itu memang benar."


Sistem kembali berkedip-kedip dan memunculkan kalimat terakhir dengan huruf tebal dan lebih besar. Jay mengangkat kedua alis. Dia telah memahami maksud sistem.


"Oh, ayolah, aku tidak berbuat curang. Derry sendiri yang memaksaku untuk menerima uang itu lagi." Jay mengangkat bahu. "Winardi memiliki sahabat setia yang baik hati."


[...]


"Aku ini anti curang, Sis. Mungkin, sebentar lagi aku akan diangkat jadi duta kejujuran." Jay terbahak-bahak.


"Kenapa kau tertawa sendirian, Win?" Yulia, pemilik kost, tiba-tiba muncul, lalu ikut duduk di samping Jay di teras.


"Ah, aku sedang menertawakan temanku di aplikasi obrolan." Jay menggoyang-goyangkan ponsel di tangan. "Kau sudah mengecek saldomu?"


"Sudah, baru saja. Aku baru mau bilang, uang yang kau transfer kelebihan empat ratus ribu."


"Aku sengaja memberimu lebih karena kau cantik, Yulia."


"Ih, Winardi, bisa saja!" seru Yulia seraya mencubit kecil lengan Jay. "Tumben kau memanggilku dengan nama."


"Kenapa memangnya? Kau masih terlihat seumuran denganku."


"Sejak kapan kau pandai menggoda?" Yulia tersipu malu. "Aku ini janda satu anak dan lebih tua darimu."


Yulia menanggapi dengan dorongan manja di lengan Jay. "Aku balik dulu. Terima kasih, ya, bonusnya."


***


Sore kemarin, Jay membeli beberapa setelan yang sesuai seleranya. Dia lebih percaya diri sekarang. Langkahnya begitu pasti ketika menuju ruang wawancara. Namun, di depan ruangan itu, Jay bukan satu-satunya pelamar.


Beberapa pria dan wanita telah menanti sejak beberapa jam lalu. Semangat Jay kian menyusut karena namanya berada paling akhir.


Derry menyapa Jay sebentar untuk memberikan makanan siap saji dan minuman kaleng. Jay mulai menyukai sahabat Winardi itu.


"Pakaianmu kenapa rapi sekali, Win?" Derry menatap Jay dari kepala sampai ujung kaki.


Jay mengenakan setelan jas yang lumayan mahal mirip dengan apa yang biasa dia pakai. Berbeda dengan para pelamar lain yang hanya memakai kemeja biasa.


"Ada yang salah?"


"T-tidak. Aku balik ke ruanganku dulu. Nanti aku ke sini lagi."


"Terima kasih buat makanannya," ucap Jay bersungguh-sungguh.


'Aku akan memberi Derry kenaikan gaji seandainya bisa kembali ke tubuhku lagi. Sayangnya, aku mungkin sudah mati dan entah di mana mereka menguburku. Haruskah aku mencari jasadku sendiri?'

__ADS_1


Jay bergidik oleh pemikirannya sendiri. Dia merasa tidak perlu repot-repot menemukan jasadnya. Itu akan membuat sakit hatinya terbuka lagi. Saat ini, Jay juga mulai menikmati hidup sebagai Winardi.


Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama. Ketika Jay duduk berhadap-hadapan dengan pewawancara, Jay akan segera menyesal karena telah menjadi Winardi.


"Di sini Anda melamar sebagai manajer keuangan, betul?" tanya pak Yayan, manajer HRD.


Jay tahu kalau posisi manajer keuangan sedang dibutuhkan. Sebab, pengganti Rio yang bekerja baru beberapa bulan, mendadak mengundurkan diri karena hamil. Mereka harus mencari pengganti sebelum bulan berganti.


"Betul."


'Harusnya aku melamar jadi direktur,' sesal Jay dalam hati.


"Maaf, Anda tidak diterima." Pak Yayan mengembalikan map milik Jay.


Kening Jay berkerut-kerut. "Kenapa? Anda bahkan belum bertanya nama saya."


Pak Yayan menghela napas dengan berat. "Silakan perbaiki surat lamaran dan daftar riwayat hidup Anda dulu sebelum melamar. Saya pasti sudah mengusir Anda dari tadi jika Anda bukan rekan yang direkomendasikan karyawan perusahaan ini."


'Kurang ajar! Berani sekali dia memelototiku!'


Jay ingin sekali membentak pria paruh baya di depannya, tetapi dia teringat bahwa dirinya bukan lagi seorang Jay Wijaya. Dengan kesal, Jay meninggalkan ruangan itu.


"Bagaimana, Win? Berhasil?" Derry rupanya telah menunggu di depan pintu.


"Dia mengusirku! Aku disuruh memperbaiki dokumenku."


"Ada yang salah? Coba, aku lihat."


Jay mendorong kasar map ke dada Derry. Dia beranjak pergi dengan langkah lebar. Di belakangnya, mata Derry terbelalak ketika membaca isi dalam map.


Derry menyusul Winardi sambil berkata, "Lamaranmu memang salah semua, Win. Di sini tertulis kau kuliah di luar negeri. Apa kau gila? Kuliah saja tidak pernah, mau berbohong?"


Jay menghentikan langkah. Dia baru sadar membuat kesalahan besar. Semua data diri, kecuali namanya, dia tulis sesuai dengan identitas aslinya.


"Dan apa-apaan ini? Kenapa kau melamar jadi manajer? Jelas sekali kau bakalan ditolak!"


Jay bungkam. Kata-kata Derry benar. Dia tidak tahu tentang Winardi dan asal melamar pekerjaan sesuai bidangnya sendiri.


"Aku menawarimu sebagai office boy! Masa lulusan SMA dan tidak punya pengalaman tiba-tiba mau jadi manajer?!"


"Apa? Office boy?"


'Aku tidak sudi! Lebih baik cari pekerjaan lain!'


[Misi baru.]


'Diam kau, Sis! Aku baru kesal sekarang!'

__ADS_1


[Diterima kerja sebagai karyawan JW Corporation. Hadiah misi Rp 5.000.000,00. Durasi penyelesaian misi tiga hari, dimulai dari sekarang!]


__ADS_2