X ZERO “Where I Became Zero In This Strange World"

X ZERO “Where I Became Zero In This Strange World"
Akhir Hayatku


__ADS_3

"Zi tidak!!", Ucap Yui berlari mengejar diriku yang mulai terjatuh.


"Ok, sekarang sihir teleportasi di aktifkan", ucap Afdal membaca sihir


Hingga pada saat itu diriku yang sudah terkena oleh peluru sihir dari seseorang yang masih belum di ketahui terjatuh pingsan meninggalkan semua yang terjadi.


"Sial, kenapa aku harus begini lagi?."


Yui yang berusaha mendekati ku dan Afdal yang mencoba untuk membuat jalan keluar bagi kami, itulah pemandangan terakhir yang aku lihat sebelum menutup mata.


Sementara itu, di dimensi King Ziya yang menyamar menjadi diriku mencoba untuk mendapatkan petunjuk dari seseorang. Tapi itu semua tidak mudah, saat ia mencari seseorang yang ia temukan adalah orang yang telah membuat 4 orang yang terpanggil menghilang. Orang itu adalah Haikal.


"Jadi Haikal apakah ada cara supaya dirimu bisa bekerja sama denganku" bujuk Ziya.


"He.... Aku kira tidak tahu ya, bahwa kau sebenarnya bukan lah Zi yang asli" ucap Haikal dengan menatap tajam.


"Apa?, Kamu jangan bercanda Haikal. Aku ini adalah Zi yang asli" ucap Ziya mencoba menyakinkan dirinya.


"Kalau begitu coba kau beritahukan Masa lalu yang hanya Zi yang tahu" balas Haikal mendekati Ziya.


Karena sudah beberapa bulan Ziya tinggal di dalam tubuhku, banyak informasi yang ia dapatkan. Baik dari keluarga, masa lalu, dan juga ingatanku.


Setelah lama berbicara panjang lebar, akhirnya Haikal percaya bahwa Ziya adalah diriku. Namun setelah mendengar penjelasan yang begitu panjang dia malah dengan santai nya tidur dan berkata,


"Zi aku lapar, buatin makanan dong."


Mendengar kata itu Ziya pun langsung marah, "hoh!, Baik aku bikinin tapi syaratnya kau juga ikut bantu!."


"Padahal aku belum pernah buatin makanan untuk Zi" ucap Ziya dalam hati.


"Hei Zi ini mau diapain?" Tanya Haikal membawa ikan hasil tangkapan.


"Eh buset, letakkan di tusukan sana. Kenapa malah bawa ke aku."


Kami pun mulai membuat makanan untuk mengisi perut yang sudah kelelahan. Setelah selesai makan entah kenapa Haikal tiba-tiba mulai berbicara tentang masa lalu nya.


"Hei Zi, jika aku boleh bercerita sebenarnya aku bukanlah orang yang beruntung."


Mendengar Haikal berbicara Ziya pun mulai heran dan berkata, "memang kenapa Haikal?."

__ADS_1


Ia pun mulai bercerita panjang lebar.


"Aku sebenarnya sangat tidak ingin berada disini, dahulu aku hanyalah seorang laki laki biasa. Kehidupan yang aku jalani juga sederhana dan tidak ada yang istimewa. Namun di dunia ku aku memiliki seseorang yang sangat aku sukai. Walaupun hanya bisa menolong dari balik bayangan sih. Tapi Zi, ada suatu saat usaha yang aku lakukan selama itu ternyata hanyalah suatu kebohongan belaka."


"Eh maksudnya?"


***


"Kenapa tidak, setelah lama aku menolong dirinya, membantu diri nya melewati masalah namun semua itu hanyalah sebuah kesempatan untuk sahabat ku. Aku berpesan kepada dirinya agar ia bisa menolong ku, tapi kenapa ia malah menipu dan juga menghianati ku."


Mendengar kisah nya itu Ziya langsung mengeluarkan air mata. Namun itu bukan lah air matanya melainkan air mata ku, kenapa tidak Ziya meminjam tubuhku dan secara otomatis sihir ku juga ikut ada kepadanya. Jadi, walaupun aku sedang sekarat dan juga sedang jauh aku masih dapat merasakan suasana dan juga lingkungan di sekitar Ziya.


"Eh Zi kok kamu menangis?" Tanya Haikal memberhentikan cerita.


"Eh tidak, ini bukanlah air mata. Aku cuma....cuma... Oh iya, aku tadi cuma kelilipan doang kok, Ehehe..." Balas ziya dengan seribu satu alasan.


Setelah itu Haikal pun melanjutkan ceritanya lagi. Hingga saat setelah cerita nya selesai Ziya mulai memproses dan mendapatkan inti dari cerita Haikal.


"Jadi Haikal kau di dimensi itu suka sama salah satu wanita, namun karena ia tidak suka dengan mu kau meminta tolong kepada sahabat mu satu satunya. Segala usaha kau coba untuk membuat dirinya aman namun pada akhirnya yang mendapatkan imbalan adalah sahabat mu sendiri" ucap Ziya sambil melihat ke atas


"Iya."


"Hei Haikal, kau terlalu naif. Coba kau tenang kan pikiran dan rasakan semua hal yang berada di sekitar mu."


"Sekarang kau kosongkan pikiran dan rileks. Lalu lihatlah langit itu yang dipenuhi oleh bintang bintang" ucap Ziya mulai tiduran


Setelah mendengar itu Haikal mencoba untuk rileks, mengosongkan pikiran dan berbaring di dekat Ziya.


"Haah..... Ternyata kau benar Zi. Saat aku merasakan sekeliling beban pikiran ku seolah olah menghilang entah kemana."


"Haikal, kau sebenarnya masih beruntung. Kau masih bisa sekolah dan memiliki keluarga. Namun ku harap kau jangan pernah lupa, keluarga mu selalu akan menerima mu bagaimana pun kondisi mu" ucap Ziya dengan begitu bijak


"Iya Zi, aku tahu, terima kasih" seketika Haikal mengeluarkan air mata.


Suasana yang semula tegang akhirnya berubah menjadi tenang, damai, sejuk dan juga bisa membuat beban pikiran menghilang.


Semua masalah memang ada solusinya, namun jika masalah itu selalu kami pikirkan maka itu akan bertambah parah. Oleh karena itu Ziya menyuruh untuk Haikal berbaring dan melupakan masalahnya untuk sejenak.


Namun, saat mereka berdua sedang berbaring tiba-tiba badan Ziya mulai memudar entah kenapa. Hal itu masih belum di rasakan oleh Haikal, namun satu hal yang pasti Ziya pada saat itu akhirnya bisa bebas dari kecemasan nya.

__ADS_1


"Haikal mungkin sampai disini saja. Semoga suatu saat kita akan bisa bertemu lagi" bisik Ziya ke Haikal lalu menghilang dengan perlahan.


Siapa sangka pada saat itu Haikal masih belum tertidur dan melihat semua kejadian nya.


"Zi kau, kenapa kau meninggalkanku sendiri Zi" ucap Haikal berlinang air mata.


Begitu juga dengan tubuh ku yang asli, saat setelah berteleportasi kami akhirnya bisa terbebas dari cengkraman Alif. Namun tidak dengan luka fatal yang aku terima, itu tidak bisa di sembuhkan oleh apapun.


"Hei kalian, ternyata kalian masih peduli kepadaku ya" ucap diriku lemah.


"Zi kau jangan bergerak dulu" balas mereka berdua.


Mendengar itu aku merasakan adanya sebuah perhatian yang begitu lama aku tunggu. Perhatian yang takut untuk kehilangan, perhatian supaya aku tidak pergi jauh dari mereka.


"Hei kalian sudah lah, sekarang melihat kalian berdua ada disini sudah membuat ku senang kok. Jadi kalian jangan pernah pergi lagi ya" ucap ku yang tak lama kemudian mengeluarkan air mata.


"Eh Zi?, Kenapa kau menangis?" Tanya Yui lalu meletakkan kepala ku ke paha nya.


"Tidak kok, Tidak ada. Aku cuma bahagia karena kalian sudah mau menolong ku. Kalian tahu tidak sudah lebih dari beberapa tahun aku sekolah disana dan akhirnya aku bisa memiliki 2 orang teman yang peduli kepadaku. Ke sendirian yang aku lalui, ke benciaan yang aku terima dan sebagainya telah kalian ubah dan membuat diriku seolah olah diterima oleh orang lain" lanjut ucapan ku yang berlinang air mata


"Zi tidak jangan pernah kata kan itu lagi, apapun yang akan terjadi kami pasti akan selalu menunggu mu" balas mereka berdua yang ikut mengeluarkan air mata.


"Mungkin ini sudah saatnya, saatnya aku bisa hidup dengan bebas dan juga melupakan semua penderitaan ku. Terima kasih ya, terima kasih karena telah memberikan warna di kehidupan ku yang suram. Terima kasih karena telah membiarkan ku berteman dengan kalian. Terima kasih, dan kalian berdua semoga bahagia. Dan permintaan ku yang terakhir..."


Mendengar ucapan ku seketika suasana yang ada disana berubah menjadi sedih dan dipenuhi oleh air mata serta harapan.


"Tidak...tidak...tidak... Zi kau pasti bisa" ucap Yui yang tidak mau menerima kenyataan.


"Afdal tolong kau jaga Yui, jangan biarkan ia disakiti oleh siapapun. Dan untuk kalian berdua tolong jangan pernah biarkan orang orang miskin seperti diriku memiliki nasib yang sama. Oleh karena itu tolong kalian hilangkan diskriminasi" ucap ku memohon sambil menahan sakit


Mereka berdua mengangguk dan memegang tangan ku dengan begitu eratnya.


"Dan Yui, terima kasih karena telah hadir di hidupku. Karena berkat mu aku bisa kembali jadi semangat, dan.... Ah mungkin tidak banyak lagi waktunya, Yui aku menyukai mu dari dulu hingga sekarang."


Setelah diriku selesai berbicara seluruh badan ku langsung menghilang ditelan oleh sebuah sihir yang begitu kuat. Namun satu hal yang pasti saat itu juga diriku sudah berhenti bernafas. Saat perkataan itu Yui begitu terpukul dan berteriak dengan sangat kerasnya, "tidak!!, Zi maaf, maaf, maaf, karena aku kau jadi begini" hingga Afdal membuat Yui pingsan.


"Zi aku pasti akan menepati janji ku kali ini kepadamu, jadi tunggu saja. Berapa bulan pun, berapa tahun pun, pasti akan aku hilangkan diskriminasi ini."


Mereka pun akhirnya pergi dari tempat itu setelah semua badan ku menghilang dan meninggalkan cincin, Cicin yang terjatuh di ambil oleh Afdal dan dipasangkan di tangan Yui.

__ADS_1


Hingga akhir hayat ku aku hanyalah seorang diri.


"Apakah benar begitu Zi?, Kalau begitu bagaimana ronde selanjutnya!."


__ADS_2