X ZERO “Where I Became Zero In This Strange World"

X ZERO “Where I Became Zero In This Strange World"
Jawaban


__ADS_3

~Terjawab sudah~


Perlahan lahan mata ku mulai terbuka dari tidur panjang ku. Silaunya matahari dan juga siulan burung burung mulai terdengar oleh diriku.


"Ah, silaunya. Sudah berapa lama kah aku tertidur disini?", Ucap ku setelah tersadar.


Diriku kemudian bangkit dari tempat tidur dan perlahan lahan berjalan keluar untuk menghirup udara segar.


"Haa..... Ini baru namanya hidup", kata ku sambil meregangkan badan ku yang lumayan kaku.


"Eh siapa itu?, Itu Yui dan sebelah nya siapa ya?. Jangan jangan pacarnya, ihihihi... Ku kerjain aja tuh anak", ucap ku seketika melihat Yui bersama seseorang di taman.


Aku pun berlari dari tempat ku menuju taman tersebut. Aku tidak tahu entah mengapa badan ku terasa ringan, mungkin karena sudah peregangan atau berkat ziya. Tapi yang pasti adalah aku tidak merasa emosi maupun cemburu ketika melihat mereka berdua di taman.


Malahan aku merasa aman dan juga tenang melihat Yui bahagia. Namun mengapa sifat jahil ku bangkit lagi, padahal dari dulu aku selalu menyembunyikan nya. Tapi mengapa sekarang aku malah dengan mudahnya mengeluarkan dan mengikuti sifat itu.


Sesampainya di taman aku tidak langsung menghampiri nya, aku bersembunyi di atas tiang dan mendengar pembicaraan mereka.


"Jadi Yui bagaimana?, Apakah kau sudah yakin bahwa Zi sudah kembali seperti dulu?"


"Aku tidak yakin, tapi aku pasti akan berusaha untuk membuatnya menjadi Zi yang dulu", ucap yui dengan penuh keyakinan.


Aku mulai berpikir, memangnya ada apa dengan diriku.


"Eh emangnya aku sudah berubah ya?, Padahal aku berusaha buat menemukan kebahagiaan nya", ucap ku sambil menggerutu.


"Kalau begitu baguslah, karena tanpa dia yang dulu kita mungkin akan menghadapi bahaya besar"

__ADS_1


"Iya juga sih kata kamu, Zi yang dulu itu sangatlah misterius, cupu dan mudah untuk perbudak...."


Mendengar pembicaraan itu diriku yang berniat menjahili mereka tiba-tiba menjadi tidak bersemangat dan langsung pergi tanpa diketahui.


"Jadi ternyata itu semua yang dia pikirkan tentang diriku"


Saat diriku pergi menjauh ternyata Yui masih menyambung perkataan nya.


"Yah walaupun begitu, Zi tetaplah Zi. Apapun yang mereka bilang aku tidak peduli, sebab aku lebih tahu siapa itu Zi dan bagaimana sifatnya. Kau juga sama kan Afdal", ucap Yui sambil melihat langit yang sedang cerah.


"Iya juga sih kamu benar Yui", ucap Afdal lalu berdiri karena melihat diriku yang tiba tiba pergi.


"Eh Afdal ada apa?", Tanya Yui


"Eh ngk ada apa apa kok", balas Afdal sambil tersenyum.


"Matilah aku, tadi itu ada Zi kan disana. Kalau begini urusannya tambah panjang dah. Zi kau jangan kabur ya"


Sementara itu diriku yang mendengar ucapan Yui tadi terus berlari menjauh dari kediamannya. Aku tidak tahu itu dimana dan aku tidak mau mereka tahu dimana keberadaan ku. Jadi ku kira ini adalah impas, karena aku saat ini sangatlah emosi dan tidak ingin di temui apa apa.


Sudah beberapa lama aku berlari hingga memasuki hutan, hujan pun turun dengan derasnya. Aku tidak mempedulikan itu, aku hanya ingin menghapus ingatanku saat Yui menyebut diriku tidak berguna.


Orang orang boleh menyebutku tidak berguna namun jangan pernah diriku mendengar dirinya menyebutku sebagai sampah. Biarlah dia menyebut ku tidak berguna di belakang ku, tapi ku mohon jangan pernah menyebut itu di depan ku.


Langkah kaki ku yang semakin cepat menyusuri balutan asap dan derasnya air hujan di hutan yang sangat lebat.


"Ha....ha...ha..."

__ADS_1


"Aku ini sudah dimana?", Ucap ku kelelahan.


"Mana mungkin ada yang menjawabnya bodoh", ujar ku seketika.


"Ada kok!", Seru seseorang.


"Eh ada, oh iya aku lupa ada kamu ziya", ucap ku melihat kalung milik ziya.


"Dasar kamu ini zi", ucap ziya marah lalu keluar dari kalung itu.


"Lihat sekarang kita berada dimana coba?"


Ziya yang baru terbangun dan keluar dari kalung memarahi ku seperti orangtua, tapi bukannya marah aku malah tertawa melihat ziya yang berperilaku seperti seorang ibu yang marah kepada anaknya.


Hujan yang deras pun sudah mulai reda dan Yui menyuruh ku untuk kembali ke perkotaan.


"Ziya sekarang aku tidak mau kesana dulu, aku sudah capek. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tolong izinkan aku untuk sementara waktu berada di tempat asing ini", ucap ku memohon kepada Ziya.


"Baiklah. Kalau begitu kamu harus hati hati Zi, jangan pernah gegabah dan jangan pernah memperkeruh keadaan", balas ziya lalu kembali masuk ke kalung.


"Mm... Pasti Ziya. Baiklah untuk sementara waktu mari kita jadi manusia purba dulu dan mencari gua untuk tidur"


***~


Aku pun melanjutkan perjalanan untuk mencari hunian. Aku tidak tahu apa yang akan menunggu di luar sana, yang jelas akan ada bencana besar yang akan datang. Oleh karena itu aku harus bertambah kuat dan mampu untuk menyelesaikan bencana itu tanpa diketahui orang lain.


Bagi ku orang lain itu hanyalah makhluk yang kebetulan sama seperti diriku, namun sifatnya berbeda beda. Oleh karena itu percaya kepada orang lain berarti mati di tangan lawan.

__ADS_1


__ADS_2