X ZERO “Where I Became Zero In This Strange World"

X ZERO “Where I Became Zero In This Strange World"
Simbiosis


__ADS_3

Aku yang sedang berada dalam pusaran dimensi sedang mencari jalan untuk kembali. Walau terdengar begitu mudah, tapi di dalam portal ini arus dari setiap dimensi sangatlah kuat. Aku mencoba sekuat tenaga agar tidak terjatuh dan terbawa arus. Untungnya ada Ziya yang sudah terbangun, berkat dirinya aku bisa mengimbangi kekuatan arus dan juga gelombang yang ada. Hingga aku sampai di tempat tujuan ku, yaitu dimensi 19. Dimensi dimana seharusnya aku tinggal.


Tapi, saat aku mencoba untuk masuk ke dalam dimensi itu, ternyata tidaklah semudah yang aku bayangkan. Pintu yang ada tidak mau terbuka, berbagai cara aku coba dan berbagai sihir sudah ku keluarkan. Namun pintu itu tetap tidak mau terbuka.


"Ha..... Udah lama tidak se lelah ini" ucap ku terduduk kelelahan.


"Ayo Zi jangan menyerah, sedikit lagi dan kita bisa masuk ke dimensi" ucap ziya menyemangati ku.


"Gimana tidak nyerah Ziya, udah dari tadi aku mencoba semua hal. Baik dari sihir, magic, Ki dan sebagainya."


"Hm.. berusaha lagi mungkin."


"Hah... Ziya, Ziya. Andaikan membuka pintu ini semudah meminta izin ke rumah orang" ucap ku berandai-andai.


"Maksudnya Zi?" Tanya Ziya tidak paham.


"Iya, tinggal bilang permisi apakah aku boleh masuk."


"Terus" ucap Ziya makin penasaran.


"Ya terus kalau boleh masuk pintu dibukain" ucap ku sebal.


Saat aku menjelaskan kepada Ziya, entah mengapa ia malah menjadi aneh. Saat aku mengajak ia bicara, ia malah grogi dan perkataannya pun patah patah.


"Hei Ziya kamu kenapa?" Ucap ku penasaran dari tadi.


"E.. e... I.. itu... P... Pin.."


"E?, E?, I?, U?, O?, Bicara yang jelas dong" balas ku tidak paham dengan ucapannya.


"Itu...itu Zi... Pin... Pintu..."


Karena Ziya selalu grogi aku pun hanya mengiyakan dan tidak mempedulikan nya. Tapi pada saat aku bersikap cuek Ziya marah dan memutar kepalaku kebelakang. Entah apa alasannya yang jelas pada saat itu aku merasakan kesakitan hingga tujuh turunan.


"Aduh!!" Ucap ku kesakitan

__ADS_1


"Makanya kalau orang bicara dengarin, bukan Ngeiyain" balas ziya marah.


Saat aku melihat ke atas, pintu yang semula sangat susah untuk dibuka entah kenapa terbuka dengan sendirinya. Melihat hal itu aku terkejut dan tidak sanggup untuk berkata maupun bergerak.


Hingga pada saat pintu hampir tertutup lagi, Ziya mulai emosi dan menggerakkan tubuhku untuk masuk ke dalam pintu itu.


Pada saat itu aku melihat sesuatu yang begitu megah dan juga tidak pernah aku lihat sebelumnya. Pemandangan setelah memasuki gerbang dunia ku untuk pertama kalinya adalah sebuah istana. Istana yang begitu megah dan mewah serta penduduk yang begitu banyak dan juga beragam.


Entah mengapa aku merasa bahwa dunia yang aku masuki salah, tapi perasaan ku terbantahkan saat aku melihat Seseorang yang tidak asing bagiku. Seseorang yang sudah beranjak dewasa, dia adalah Alexa Hanabi Yui. Walaupun begitu, entah mengapa diriku tidak tumbuh dan masih tetap berumur 18 tahun. Aku pikir setelah dua tahun berlalu aku berumur 20 tahun.


Tapi mengapa aku malah tetap dan tidak bertumbuh sedikit pun. Sementara itu Yui yang aku lihat lebih dewasa dari dua tahun yang lalu. Ya, mungkin sekarang ini dia sudah berusia 19 tahun.


"Ziya lihat itu Yui" ucap ku menunjuk Yui yang sedang duduk di taman.


"Eh mana?" Balas ziya tidak melihat apapun.


Aku langsung berlari menuju taman itu. Diriku berharap Yui masih mengingat ku dan sudah menghilang kan sistem kasta. Namun saat aku hampir sampai ke tempat nya, ada seseorang yang datang menghampiri. Yui pun terlihat senang dan bahagia saat orang itu datang.


"Yu!!......" Teriak ku tidak jadi setelah melihat hal itu.


"Eh memang kenapa lagi Zi, apa kau diriku atau cemburu nih?."


"Ngak ada apa apa kok."


Aku yang tadi bahagia melihat dirinya kini menjadi seperti dulu lagi. Ya, mana mungkin aku diterima di dunia ini. Sejak dahulu aku memang sendiri dan akhirnya pun aku tetap akan sendiri. Sungguh dunia ini memang kejam, entah mengapa aku kepikiran untuk kembali ke dunia kakek. Karena dunia itu telah memberikan ku begitu banyak pembelajaran.


Pada saat aku yang sedang bersedih, Yui yang pada saat itu di temui oleh seseorang mendengar suara teriakan yang tidak jelas.


"Hei tunggu sebentar, apa kau dengar suara tadi" ucap Yui mengehentikan obrolannya.


"Eh suara apa?, Aku tidak mendengar nya kok."


"Tunggu.. tunggu.. itu pasti adalah suara seseorang" balas Yui melihat sekeliling.


"Ayolah Yui, dari pada itu bagaimana kalau kita bahas pertuna...."

__ADS_1


"Diam kau, aku pasti mende..." Ucapan Yui terhenti ketika ia melihat ke arah datang nya diriku.


Seketika ia yang begitu ceria saat laki laki itu datang berubah menjadi ekspresi yang dipenuhi oleh guyuran air mata.


"Tidak, tidak, ini bohong kan. Sudah dua tahun berlalu tapi mengapa kau hadir kembali" ucap nya sedih sambil terduduk di bangku taman.


"Eh ada apa Yui apakah aku perlu.." ucap laki laki itu di sela oleh Yui.


"Tidak ada apa apa dan terlebih lagi ada satu hal yang harus aku pastikan" balas Yui lalu pergi meninggalkan nya.


"Hei Zi kamu kenapa, hei, hei" ucap Ziya heran dengan tingkah ku.


"Ayolah Ziya kita akan kembali lagi ke sana, jauh dari rasa aneh ini" balas ku membuka portal.


"Tunggu!" Teriak seseorang.


"Hei Zi lihat itu ada seseorang" ucap Ziya dengan nada ngehina.


"Ziya, mana mungkin ada orang yang tahu tentang aku disini" balas ku dengan nada yang datar.


"Tunggu!, Aku tahu siapa kau."


"Eh, lihat tidak ada yang tahu kan" ucap ku lalu mulai memasuki portal.


Namun saat aku memasuki portal, orang itu langsung menarik ku keluar dan terjadilah sesuatu hal yang tidak aku duga.


"Eh..... Siapa..." Ucap ku lalu menghadap ke belakang.


Saat itu aku langsung menangis dan berlinang air mata. Orang yang menarik ku dari portal bukanlah orang sembarangan melainkan orang yang menemaniku dulu.


"Ternyata benar kau Zi" ucap Yui mulai mengeluarkan air mata.


"Eh Yu...." Belum sempat aku bicara tiba-tiba bibirku merasakan hal yang begitu berbeda.


Aroma yang begitu menyengat dan rasa yang begitu manis membuat ku menjadi ketagihan dan tidak ingin melepaskan hal itu dari ku.

__ADS_1


Pada saat itulah aku dan Yui akhirnya mengerti satu sama lain.


__ADS_2