X ZERO “Where I Became Zero In This Strange World"

X ZERO “Where I Became Zero In This Strange World"
Dunia Kesepian


__ADS_3

"hm... Jadi begitu ya" ucap ku setelah mendengar penjelasan Hana.


"Apa kau sudah puas sekarang" balas nya sambil memegangi pipi.


Jadi saat ini diriku sedang dalam masa proses sebelum aku menerima hukuman. Apakah aku bersikap baik selama hidup, atau malah berbuat jahat itu akan ditentukan disini. Walau dibilang begitu, entah kenapa malah terasa seperti aku yang menjadi pengadil dan Hana menjadi tersangka.


Demi memuluskan tugas Hana diriku langsung duduk dan mengatakan kepadanya untuk memulai proses itu. Setelah Hana melakukan proses yang cukup memakan waktu akhirnya aku memiliki keputusan.


"Sendirian sejak umur 3 tahun, tidak percaya kepada orang lain, dikhianati oleh teman sendiri, dan di telantar kan..." Ucap Hana sambil melihat-lihat ingatan ku.


Walau aku tahu itu ingatan ku, tapi entah kenapa aku mulai merasa kesal mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Hana.


"Hei Hana, apakah sudah selesai?, Sekarang aku sedang mencoba menahan amukan ku nih" ucap ku sambil menahan ke kesalan.


"Semua proses siap, menyiapkan bagian akhir, menerima akhir dan inilah hasilnya" balas Hana mulai menunjukkan sebuah hologram yang cukup aneh.


Aku yang saat itu tidak tahu apa apa malah memilih asal-asalan tanpa mendengar penjelasan Hana.


"Eh Zi apa kau yakin?" Ucap Hana ragu.


"Emangnya kenapa?!, Udh cepat hukuman apapun mari kesini lawan ane Zi, orang jones seumur hidup."


Mendengar ucapan ku yang sangat mengkhawatirkan, Hana pun memegang pipi ku dan berkata, "Zi memang benar kau adalah yang terbodoh."


"Eh?" Ucap ku terkejut melihat Hana yang mulai mendekat.


Karena itu jangan sampai pernah kemari lagi Zi. Seketika itu aku merasakan aroma dan rasa yang begitu halus dan juga lembut. Entah kenapa perasaan ini sangat menenangkan ku, hingga pada saat kami selesai Hana pun memberikan ku sebuah kalung.


"Ha...ham...m..."


"Puaf....Zi semoga kau selamat disana."


Hana pun membuka portal dan mendorong ku ke tempat itu. Seketika itu aku mulai berpikir apakah pilihan yang aku buat tadi. Apakah itu sebuah hukuman atau misi penyelamatan, aku tidak tahu yang mana yang pasti. Oleh karena itu aku bertanya sekali lagi kepada Hana.

__ADS_1


"Hana sebenarnya yang aku pilih tadi tentang apa?!" Teriak ku yang mulai jatuh.


"Itu sebuah hukuman kok tenang saja!, Tapi ingat jangan sampai menjadi gepeng ya!" Teriak Hana sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Hana tadi aku sontak berpikir bahwa diriku yang sedang terjatuh ini berada di angkasa. Jika misalkan aku berada di angkasa maka secara automatis diriku akan menjadi gepengan orang saat mendarat.


"Eh, eh....... HANA!!" Ucap ku jatuh dengan kecepatan tinggi.


"Babay."


Aku yang sedang berada di udara mencoba untuk mencari cara agar tidak menjadi gepengan di daratan. Hingga akhirnya aku mendapat kan sebuah rencana yang sangat bagus dan dijamin bisa membuat ku hidup. Rencana yang aku buat adalah untuk teriak minta tolong mulai sekarang.


"TOLONG!!, BAPAK IBUK TOLONG!!", Teriak ku sekeras keras mungkin.


Aku berteriak begitu dan begitu terus hingga pada saat diriku mulai melihat daratan, aku panik dan berusaha lebih kuat untuk meminta tolong.


"Tolong!, Aku mati tolong!, Bapak lorong!, IBUK lontong!, Tolong !!", Ucap ku mulai ketakutan melihat daratan.


Saat sudah hampir mencapai daratan diriku akhirnya pasrah dan berkata "akhirnya ini hukuman ku, dasar pengadil sialan awas aja kau."


"Eh itu bukannya orang ya, eh.. eh... Ehhhhh!!!."


"Bruk!" Suara benda yang bertabrakan.


"Aduh sakit, dasar siapa kau!" Ucap seseorang yang tertimpa oleh badanku.


"Eh aku masih hidup, hore aku masih... Aduh!" Ucap ku sakit.


"Hei dasar anak sialan, aku tanya kau siapa?" Ucap orang itu marah.


"Eh siapa?" Ucap ku tidak melihat seseorang.


Karena ucapan ku tadi orang itu marah dan memukuli ku lalu mengejang telinga ku kebawah.

__ADS_1


"Aku yang memanggil mu, dasar anak sialan!."


"Iya, iya aku tahu" ucap ku habis kena pukul.


Melihat orang itu aku bukannya takut malah tertawa. Karena orang yang memarahi ku adalah anak anak kecil yang berusia 7 tahunan.


"Dek kau masih kecil kok berani memukul sih" ucap ku mengelus kepalanya.


"Dasar anak bodoh, umurku sudah 74 tahun."


Mendengar ucapan Adek itu aku semakin tertawa dan bertingkah konyol. Hingga pada saat ia menunjukkan pengenal dirinya.


"Nih pengenal ku dasar anak aneh!."


"Hahahaha... Mana.. biar aku lihat."


Saat aku melihat tanda pengenal itu diriku langsung terkejut hilang kepalang.


"Eh.... Buset udah kakek kakek tapi kok masih kecil!!" Ucap ku terkejut tidak menerima kenyataan.


Saat diriku menghabiskan waktu meneladani kakek itu tidak terasa waktu berlalu. Kakek itu pun menyuruh ku untuk pergi ke laboratorium nya. Dari kisah yang aku ceritakan kakek itu percaya bahwa ada nya dunia lain dan juga time travel.


Karena pada saat ini diriku berada pada tahun 2022. Padahal zaman ku masih 2019. Tidak ku sangka Hana membuat ku melompati waktu dan datang pada zaman ini.


Setelah sampai ditempat kakek, kakek itu bercerita tentang masalah yang terjadi pada dunia ini hingga aku mengerti masalah itu. Masalah itu sangat berbeda dengan zaman ku, dimana yang namanya teknologi tidak ada dan diganti dengan sihir.


Kakek itu menunjukkan semua teknologi yang ada, namun entah kenapa ada perasaan yang tidak enak melanda negara itu. Oleh karena nya aku bertanya kepada kakek itu untuk memastikan apakah ini benar atau tidak.


"Kek teknologi yang ada di dunia ini sangatlah bagus namun entah kenapa aku merasa kesepian."


Mendengar ucapan itu sang kakek langsung memegang tangan ku sambil berkata, "ternyata kita sehati wahai anak muda."


"Eh?."

__ADS_1


__ADS_2