
Mereka berdua pun pergi ke kantin, saat dari kejauhan Novita melihat Aisyah sedang menulis sesuatu di buku, saat Novita dan Isma mendekati tiba-tiba Aisyah menutupi buku tadi, tetapi Isma dan Novita diam saja....
“Udah pesan Syah?” Tanya Isma.
“Udah,” ucap Aisyah gugup.
“Banyak materi ya Syah?” Tanya Novita.
“Hehe iya nih,” ucap Aisyah.
“Oh gitu,” ucap Novita.
“Kalian mau pesan apa biar aku pesankan?” Ucap Aisyah.
“Aku mau es coklat deh,” ucap Novita.
“Aku es blueberry ya,” ucap Isma.
“Ok,” ucap Aisyah pergi.
Karena Novita penasaran apa yang sedang ia tulis, Novita mengambil kertas itu lalu melipatnya dan langsung memasukkan ke dalam kantong...
“Nih,” ucap Aisyah.
“Em, aku ada urusan, jadi ini buat kamu aja ya Syah, aku pergi dulu ya,” ucap Novita pergi.
“Kok aneh banget sih,” ucap Isma
“Entah lah,” ucap Aisyah.
Novita berjalan menuju ke kamar, saat sampai di kamar Novita membuka isi kertas itu....
From Aisyah: “Ustadz Fikri, aku jatuh cinta sama kamu, sejak kamu datang ke ponpes Al-Hikmah, tetapi aku sadar aku bukan lah siapa-siapa jadi lebih baik aku memendam ini sendiri. Semoga kau cepat sadar bahwa aku mencintaimu,” _Aisyah_
“Hah? Astagfirullah,” ucap Novita menenangkan pikiran nya.
“Maklum Nov, ini lah resiko punya cowok ganteng di sukai sana sini,” ucap Novita.
Novita pun kembali lagi ke kantin, dan ternyata Isma dan Aisyah sudah tidak ada di kantin....
“Di tempat biasa kali ya,” ucap Novita pergi.
Saat Novita berjalan menuju ke tempat biasa, di tengah perjalanan Novita bertemu dengan Azka...
“Loh kamu gak ikut Isma sama Aisyah?” Tanya Azka.
“Emang mereka ke mana?” Tanya Novita.
“Mereka kan pergi ke jalan-jalan keluar wilayah ponpes,” ucap Azka.
“Ih, kok aku di tinggal, ok makasih ya aku duluan,” ucap Novita pergi.
Novita terus berjalan, entah lah ke mana yang akan ia tuju, dan Novita bertemu dengan pangeran nya....
“Novita? Kamu gak ikut jalan-jalan sama Isma dan Aisyah?” Tanya Fikri.
“Aku di tinggalin,” ucap Novita
“Ya udah mau bareng aku?” Tanya Fikri.
“Mau, tapi kan kamu bareng sama kiyai Khalid dan ustadzah Fatimah kan?” Ucap Novita.
“Iya tapi gpp, dari pada gak ada teman?” Ucap Fikri.
“Ok, ayok,” ucap Novita.
Novita duduk di belakang bersama ustadzah Fatimah istri kiyai Khalid, sedangkan Fikri yang menyetir, dan kiyai Khalid duduk di samping Solihin...
“Kalian cocok loh,” ucap kiyai Khalid.
Novita tersenyum....
“Iya, Fik kenapa gak di kenalin ke orang tua,” ucap ustadzah Fatimah.
“Nanti ustadzah kalo sudah selesai tes nya,” ucap Fikri tersenyum, yang membuat Novita salah tingkah.
“Wah berarti kalian, punya hubungan donk,” ucap ustadzah Fatimah.
“Iya ustadzah, tapi tenang aja kami tidak akan berbuat yang macam-macam,” ucap Fikri.
“Iya ustadzah percaya kok,” ucap ustadzah Fatimah.
Mereka berhenti di sebuah mall di Surabaya, semua pun turun dari mobil....
“Nah kalian boleh jalan-jalan keliling mall, cuci mata, di dalam juga ada Isma dan Aisyah kok, nanti kalo udah selesai berkumpul di parkiraan,” ucap ustadzah Fatimah.
“Na’am ustadzah,” ucap Novita.
Novita dan Fikri pun berjalan memasuki mall, jantung Novita rasa nya ingin copot saat berjalan bergandingan dengan Fikri. Mereka terus berjalan, tetapi Novita heran kenapa Novita tidak melihat Isma dan Aisyah ya, akhirnya Fikri mengajak berhenti di tempat orang jual cincin, gelang dan kalung....
“Nov, lihat deh bagus-bagus kan,” ucap Fikri.
“Iya bagus, kenapa?” Tanya Novita.
“Capelan yok,” ucap Fikri.
“Hm, mau gelang, cincin atau kalung?” Tanya Novita.
“Bagus gelang deh, kalo cincin nanti aja pas aku udah lamar kamu,” ucap Fikri membuat Novita tersenyum.
“Ya udah, ini bagus gelang nya,” ucap Novita
“Ok kita beli yang ini,” ucap Fikri.
Mereka pun memakai gelang itu, setelah itu mereka terus berjalan, dan tidak lama bertemu dengan Isma dan Aisyah....
“Isma,” panggil Novita.
“Eh Nov,” ucap Isma.
“Tega ya ninggalin aku,” ucap Novita.
“Sory, soal nya tadi ustadzah Fatimah bilang kalo hari ini boleh jalan-jalan, jadi aku sama Aisyah buru-buru,” ucap Isma tertawa kecil.
“Dasar,” ucap Novita.
Novita memperhatikan Aisyah, yang sejak tadi melihat ke arah Fikri....
“Kalian mau jalan kemana lagi?” Tanya Novita.
“Eh, nov aku kesana dulu, nanti langsung aja ketemu di parkiran,” ucap Fikri pergi.
“Ok,” ucap Novita.
“Aku sih dah dapat baju, jilbab, kaos kaki, dah dapat semua,” ucap Isma.
“Hm, aku beli apa ya? Ah gak aku beli apa-apa, mending beli es krim yok Is Syah,” ajak Novita.
“Ayok,” ucap Aisyah dan Isma serentak.
Mereka pun berjalan mencari orang jual es krim, dan ternyata tidak ada, akhirnya Novita, Isma dan Aisyah pun ke parkiran. Ternyata Fikri, ustadzah Fatimah dan kiyai Khalid sudah ada di parkiran.
“Nov kita duluan ya Dadah,” ucap Isma dan Aisyah pergi.
“Eh tunggu,” ucap Novita membuat langkah Isma dan Aisyah terhenti.
“Ustadzah, kiyai, Novita bareng sama teman-teman gpp kan?” Ucap Novita.
“Iya gpp,” ucap ustadzah Fatimah.
Novita pun pulang bersama rombongan Isma dan Aisyah, di dalam mobil Isma bertanya....
“Nov tadi ustadz Fikri beli apa ya?” Tanya Isma.
“Mana aku tau,” ucap Novita.
“Kali aja kamu tau,” ucap Isma.
“Enggak,” ucap Novita.
Malam pun tiba, setelah shalat isya, Novita dan Isma duduk di depan kamar, Aisyah tidak ada sedang di rumah kiyai Khalid....
“Is, coba baca deh surat ini,” ucap Novita memberikan surat yang ia ambil tadi dari Aisyah.
“Surat apa? Dari ustadz Fikri?” Ucap Isma sambil mengambil surat itu.
“Bukan, tadi kan Aisyah kaya nulis surat tuh, pas kita datang dia kaya gugup gitu, jadi pas dia pesankan minuman aku ambil,” ucap Novita.
“Oh,” ucap Isma membuka surat itu.
__ADS_1
Isma membaca dengan saksama, dan Isma kaget, lalu melihat ke arah Novita...
“Hah? Segitunya banget?” Ucap Isma kaget.
“Entah lah, ini aku harus marah atau aku diamkan aja ya,” ucap Novita.
“Biarkan aja lah, itu resiko mempunya hubungan sama ustadz apa lagi Fikri kan anak kiyai Umar sahabat kiyai Khalid paman nya Aisyah,” ucap Isma.
“Tapi sakit loh Is,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.
“Sakitan mana, kamu belum punya hubungan sama ustadz Fikri tapi Aisyah suka sama Fikri, mendingan yang sekarang, udah punya hubungan jadi kamu yakin kalo hati nya ustadz Fikri hanya milik kamu,” ucap Isma.
“Ingat dalam sebuah hubungan pasti ada lika-liku nya gak mungkin jalan mulus, jalan aspal aja ada lika-liku nya, apa lagi kehidupan, percaya sama Allah dan Fikri,” ucap Isma.
“Eleh pintar nasehatin, kaya kamu ada pacar aja,” ucap Novita tertawa.
“Ya kan sebelum punya pacar kita harus memahami kehidupan dulu,” ucap Isma.
“Iya deh iya sahabat ku,” ucap Novita.
Tiba-tiba salah satu santri putri mengantarkan sebuah kado, dan memberikan itu pada Novita.....
“Assalamualaikum,” ucap santri itu.
“Wassalamu’alaikum, ada apa?” Tanya Novita.
“Ini ada kado,” ucap santri itu memberikan kado itu.
Novita pun mengambil jadi itu....
“Dari siapa?” Tanya Novita.
“Kata nya langsung buka aja di dalam ada suratnya,” ucap santri itu.
“Oh gitu, yaudah makasih ya,” ucap Novita.
Santri itu pun pergi, Isma benar-benar penasaran apa isi kado itu, mereka pun masuk ke dalam kamar, untuk membuka kado itu....
“Cepetan Nov, buka,” ucap Isma heboh.
“Sabar to,” ucap Novita membuka kado itu.
Setelah di buka ternyata isi nya boneka unicorn berwarna pink, itu boneka kesukaan Novita, dan Novita pun membuka suratnya, sedangkan Isma memeluk boneka itu....
From Fikri: “malam calon Makmun, tadi kan udah gelang, jadi aku juga beliin kamu boneka, semoga suka ya, maaf kalo aku tidak bisa menjadi apa yang kamu inginkan, aku tau aku berbeda dari yang lain, tetapi semoga kamu bisa menerima aku apa ada nya. Boneka itu untuk temani kamu tidur ya, good night, Ana uhibbuka Fillah.” _To Novita_
“Ah,” teriak Novita sambil memeluk surat itu.
“Ih apa sih? Jangan teriak, udah malam,” ucap Isma.
“Soswit,” ucap Novita.
“Boneka nya buat aku ya,” ucap Isma.
“Dih, jangan lah,” ucap Novita merebut boneka yang Isma pegang.
“Ih kamu mah jahat loh,” ucap Isma.
“Minta sana sama ustadz Azka,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.
“Dih, ya kalo cewek yang ngejar-ngejar cowok, yang ada cowok yang ngejar cewek,” ucap Isma kesal.
“Udah ah, aku mau bobok,” ucap Novita membaringkan tubuh nya.
“Nasib jomblo gini amat ya,” ucap Isma membaringkan tubuh nya.
Seiringnya waktu, Enggak terasa dengan seiringnya waktu, mereka sudah 6 bulan di ponpes Al-Hikmah, Isma dan Novita menjalankan tes itu dengan baik. Pagi ini tepat hari Minggu semua santri seperti biasa membersihkan wilayah pesantren, Novita, Isma dan Aisyah kali ini membersihkan halaman belakang ponpes....
“Panas banget ya,” ucap Novita mengelap keringat nya.
“Iya, hari ini matahari nya bersinar banget,” ucap Isma.
“Iya, kenapa enggak hujan ya,” ucap Aisyah.
“Iya biar berhenti bersih-bersih nya,” ucap Novita tertawa.
“Kalian ini berdosa banget,” ucap Isma.
“Alah tapi kamu senang juga kan,” ucap Novita.
“Iya sih,” ucap Isma tertawa.
“Iya,” ucap Isma dan Novita.
Saat mereka asik bersih-bersih, tiba-tiba Isma melihat belalang, dan Isma punya ide untuk mengerjai Novita, karena Novita takut sama belalang....
“Nov, aku punya hadiah nih buat kamu,” ucap Isma melempar belakang itu.
“Ismaaaaaa!!!!” Ucap Novita teriak yang membuat semua santri melihat ke arah Novita, begitu juga dengan Fikri.
“Isma ah gak lucu buang gak,” ucap Novita ketakutan.
“Gak mau,” ucap Isma tertawa.
“Isma ah, buang!!!” Ucap Novita marah.
“Ngapain sih takut,” ucap Isma.
“Isma gak lucu loh,” ucap Novita sambil mondar-mandir yang membuat Fikri tertawa.
Belalang itu pun terbang...
“Isma gak lucu,” ucap Novita marah.
“Sory Cuma bercanda,” ucap Isma menyengir.
Novita pun melihat ulat kaki seribu, dan Novita berpikir akan mengerjai Isma kembali, bukan sahabat kalo tidak membalas....
“Hm, aku punya hadiah loh buat kamu,” ucap Novita melempar ulat kaki seribu itu, hingga ulat itu menempel di jilbab Isma.
Isma yang geli terhadap ulat itu pun teriak sambil lari supaya ulat itu jatuh dari jilbab, semua santri tertawa, termasuk Azka dan Fikri, Isma terus berlari hingga Isma menabrak pohon, dan Isma terjatuh....
“Auuw,” ucap Isma memegang kepala nya yang sakit.
“Isma,” ucap Novita kaget lalu mendekati Isma.
“Isma kamu gpp kan,” ucap Novita, mengambil ulat itu lalu membuang nya.
Fikri dan Azka pun mendekati Isma....
“Auuw,” ucap Isma kesakitan.
“Is, kepala kamu keluar darah loh,” ucap Azka.
“Eh iya, yaudah bantuin donk bawa ke UKS,” ucap Novita panik.
Isma pun di bawa ke ruangan UKS, sampai di UKS kepala Isma di beri obat merah, dan di beri handiplas....
“Sory ya Is,” ucap Novita penuh bersalah.
“Udah gpp santai aja,” ucap Isma tersenyum.
“Apa nya yang santai kepala kamu tuh sampai berdarah gitu,” ucap Novita.
“Gpp beneran,” ucap Isma tersenyum.
“Bisa-bisa saat orang membuat dia sakit seperti itu, dia bilang gpp,” ucap batin Azka.
“Ya udah aku sama Azka permisi dulu,” ucap Fikri pergi bersama Azka.
“Sakit ya Is?” Ucap Aisyah.
“Enggak sih kalo sekarang,” ucap Isma.
“Ya udah ke kantin yok,” ucap Novita.
“Iya,” ucap Isma.
Mereka bertiga pun sampai di kantin, Isma merasa pusing, tetapi ia tahan...
“Hari ini aku mau makan,” ucap Novita.
“Eh Is, kamu mau makan?” Tanya Novita.
“Aku ngikut aja deh,” ucap Isma.
“Ok,” ucap Novita.
Novita pun memesan makanan, dan tidak lama makanan pun Sampai....
__ADS_1
“Is, kamu pucat? Kamu sakit?” Ucap Novita panik.
“Enggak, aku mungkin ke capean aja kali,” ucap Isma.
“Hm, yaudah kamu makan habis itu kamu istirahat di kamar,” ucap Novita.
“Iya,” ucap Isma.
Selesai makan pun Novita mengantarkan Isma ke kamar....
“Is, demi apa aku minta maaf ya, gara-gara aku kamu jadi kaya gini,” ucap Novita benar-benar merasa bersalah.
“Gpp, aku ke capean aja kali, kan tadi panas banget tuh,” ucap Isma.
“Yaudah kamu istirahat ya, eh aku ada obat kaya nya,” ucap Novita mencari obat sakit kepala.
“Nah ini dia,” ucap Novita memberikan. Kepada Isma.
“Makasih ya,” ucap Isma.
“Iya sama-sama,” ucap Novita.
Setelah minum obat Isma pun tidur, Novita melihat Isma terbaring lemas, ia benar-benar menyesal telah melakukan itu. Novita pun keluar dari kamar dan menemu Aisyah...
“Gimana keadaan nya Isma?” Tanya Aisyah.
“Dia lagi tidur,” ucap Novita.
“Semoga gpp ya,” ucap Aisyah.
“Iya,” ucap Novita.
Malam pun tiba, malam ini Isma tidak melaksanakan shalat magrib dan isya tidak di mushalla, akhirnya Novita berjalan sendiri menuju kamarnya, seperti biasa 2 curut itu tiba-tiba muncul....
“Sendiri ya ustadzah,” ucap Arif mengangkat kedua alis nya.
“Apa an sih, awas gak mau lewat,” ucap Novita kesal.
“Kita antar ya ustadzah,” ucap Arif.
“Dih apa an sih, gak usah,” ucap Novita.
“Gpp,” ucap Arif.
“Aku bilang enggak ya enggak, paham gak sih!!” Ucap Novita kesal lalu pergi.
“Lagi pms kali Rif mangka nya galak banget,” ucap Aidil.
“Mungkin,” ucap Arif.
Novita pun sampai di kamar, Novita melihat Isma sedang mempelajari materi untuk besok...
“Is, kamu besok mau ngajar?” Tanya Novita.
“Iya lah, kalo gak ngajar gimana?” Ucap Isma.
“Tapi kamu kan masih sakit,” ucap Novita.
“Gpp santai aja,” ucap Isma.
“Hm yaudah deh,” ucap Novita.
Pagi pun tiba, Isma dan Novita menemui Aisyah tetapi, Novita heran, sifat Aisyah tidak seperti biasanya. Ia seperti menghindar dari Novita....
“Syah, hari ini kamu ngajar dimana?” Tanya Novita.
“Gak tau,” ucap Aisyah.
“Ya udah yok Is,” ucap Aisyah menarik tangan Isma.
“Hah? Aku ada salah apa?” Ucap Novita.
Novita pun pergi mengajar, saat di kelas Novita hanya menyuruh para santri menulis apa yang sudah ia tulis di papan tulis. Novita masih berpikir apa salah dia? Kenapa Aisyah berubah seperti itu. Jam mengajar Novita pun habis, Novita pergi ke tempat biasa mereka berkumpul, saat Novita datang Aisyah langsung pergi....
“Loh Is, kenapa sih dia dari tadi pagi loh,” ucap Novita.
“Enggak tau aku juga heran, emang kamu habis bikin kesalahan apa sih?” Tanya Isma.
“Lah mana aku tau, perasaan aku gak ada bikin salah apa-apa deh,” ucap Novita.
“Yaudah kamu tanya baik-baik kamu punya salah apa, ingat jangan pakek emosi,” ucap Isma.
“Ah malas ah, sama orang marah gak ada alasannya,” ucap Novita kesal.
“Dia itu ada alasannya Cuma kita gak tau,” ucap Isma.
“Ya coba di jelasin, di omongin baik-baik bukan nya kek gini,” ucap Novita.
“Udah ah ke kantin yok,” ucap Isma.
“Ya udah ayok,” ucap Novita.
Saat Novita dan Isma sampai di kantin, Novita melihat Aisyah sedang duduk berdua dengan Fikri, terlihat wajah Aisyah benar-benar sangat bahagia. Tetapi Fikri saat melihat Novita ia sedikit menjauh dari Aisyah, dan wajah Aisyah seperti kesal.....
“Gak laper aku Is, kamu makan aja ya, aku mau ke kamar aja,” ucap Novita pergi.
Fikri pun langsung mengejar Novita, dan Isma mendekati Aisyah. Saat Fikri mengejar Novita, Fikri memanggil nama Novita namun Novita terus berjalan, hingga Fikri berdiri tepat di hadapan nya yang membuat Novita berhenti melangkah.....
“Kenapa?” Tanya Novita.
“Kamu marah?” Tanya Fikri.
“Enggak Cuma aku gak lapar aja,” ucap Novita.
“Aku minta maaf, aku tadi gak sengaja ketemu sama Aisyah di kantin,” ucap Fikri.
“Ya gpp, emang nya kenapa,” ucap Novita tersenyum terpaksa.
“Nov, kalo kamu marah kamu ungkapin jangan diam aja kek gini, aku tau kamu marah,” ucap Fikri.
“Enggak, aku gak marah,” ucap Novita menahan air mata.
“Aku permisi ya, aku mau ke kamar,” ucap Novita pergi.
Jujur perasaan Novita bingung, marah, sakit semua bercampur aduk, tetapi Novita tidak bisa marah kepada Fikri, apa lagi Aisyah kan teman nya sejak pertama Novita sampai di ponpes Al-Hikmah.
Disisi lain Isma dan Aisyah sedang makan, dan Aisyah memulai obrolan....
“Is, kamu gak marah apa sama Novita,” ucap Aisyah.
“Marah kenapa?” Tanya Isma.
“Gara-gara dia kepala kamu jadi berdarah gitu, iya tau awal nya Cuma bercanda tapi kelewatan tau,” ucap Aisyah.
“Ya gpp lah, pertama nya kan salah aku,” ucap Isma.
“Harus nya kamu kasih dia pelajaran kamu diamin dia supaya sadar,” ucap Aisyah.
“Sekarang aku mau tanya kenapa kamu kaya menghindar gitu dari Novita?” Tanya Isma.
“Aku tau Novita sama Fikri ada hubungan kan? Kamu tau kan aku suka sama Fikri, dan aku yakin dia juga tau perasaan aku, tapi apa yang aku dapat dia nusuk aku dari belakang,” ucap Aisyah.
“Syah, kamu gak boleh gitu, itu nama nya kamu egois, ok kamu suka sama Fikri tapi gak seharus nya kamu marah sama Novita, sebelum kita kesini mengikuti tes ini, Novita lebih awal suka sama Fikri,” ucap Isma.
“Harus nya dia sadar diri dia itu belum jadi ustadzah tapi udah sok,” ucap Aisyah pergi.
“Astagfirullah, gara-gara cowok jadi gini?” Ucap Isma.
Sedang di kamar Novita memeluk boneka dari Fikri sambil menangis....
“Gini banget cobaan yang datang, kenapa aku harus lihat Aisyah sama Fikri lagi berduan terus? Enggak di perpus, sekarang di kantin, besok dimana lagi? Di kamar tuh lagi berduaan,” ucap Novita kesal.
Tiba-tiba Isma masuk...
“Nov,” ucap Isma duduk di samping Novita.
“Is,” ucap Novita menghapus air mata.
“Kenapa? Cemburu ya lihat kejadian tadi?” Ucap Isma.
“Enggak kok,” ucap Novita.
“Sekarang gini aja, lupain dulu masalah ini, kita cepat tuntas kan tes ini, biar cepat selesai cepat pulang,” ucap Isma.
“Iya aku juga mau nya gitu,” ucap Novita.
“Udah ya jangan mikirin yang gak penting, mungkin ini ujian buat kamu, biar kamu tambah kuat,” ucap Isma.
“Iya,” ucap Novita tersenyum.
__ADS_1