Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 02


__ADS_3

Tak terasa sudah 1 bulan Isma, Novita, dan Bibah mondok di sana, tepat pagi ini hari Minggu, Isma Novita, Bibah, dan Dila izin untuk keluar dari wilayah pesantren untuk jalan-jalan dan membeli kebutuhan mereka.


Di tengah perjalanan mereka bercanda gurau dengan sangat bahagia.....


“Huh, akhir nya bisa keluar dari wilayah pesantren,” ucap Novita.


“Bener banget, aku kangen pengen pulang ke rumah,” ucap Isma.


“Menambah ilmu dulu, baru mikirin pulang, toh kita udah 1 bulan di sini,” ucap Novita.


“Hm iya sih, eh makan es buah itu yok, kelihatan nya enak,” ucap Dila.


“Nah iya benar banget ayok,” ucap Novita, Bibah, dan Isma serentak.


Mereka pun memesan es buah dan duduk di tempat yang sudah di sediakan, saat Novita melihat ke arah kanan, Novita melihat ke seorang pemuda, orang yang sangat di sukai oleh Isma, Novita pun yang melihat nya langsung memberi tahu Isma.....


“Is, coba lihat deh itu,” ucap Novita menunjuk ke arah pemuda itu.


“Kenapa?” Ucap Isma heran, lalu melihat kearah 3 pemuda itu.


“What itu kak Azka, hah cius?” Ucap Isma kaget.


“Nah kan benar,” ucap Novita.


“Oh kalian kenal sama kak Azka?” Tanya Dila.


“Kenal lah siapa sih yang gak kenal,” ucap Novita.


“Kak Azka setiap bulan memang sering kesini,” ucap Dila.


“Serius?” Ucap Isma.


“Iya, untuk berbagi ilmu disini,” ucap Dila.


“Hm ciee Isma,” ucap Novita tertawa.


“Ah mangkin cinta deh,” ucap Isma senyum.


“Tapi kalo gak salah nih ya kak Azka sudah melamar seorang wanita,” ucap Dila.


“Hah? Serius?” Ucap Isma kaget.


“Iya,” ucap Dila.


Tiba-tiba pemuda itu berdiri dan pergi dari tempat itu.


Isma yang melihat langkah pemuda itu hingga sudah tidak terlihat....


“Sama nasib kita Is,” ucap Novita.


“Hm iya,” ucap Isma.


Setelah berjalan-jalan mereka pun kembali ke pesantren, sesampai di pesantren Novita berpisah dari teman-teman, Novita pergi menuju musholla karena Al Qur’an nya tertinggal disana, di pertengahan jalan, Novita melihat Azka dan Fikri sedang duduk di bawah pohon, tetapi Novita Bodo amat lalu Novita masuk ke dalam Musholla....


Saat Novita keluar dari musholla, ada seseorang yang memanggil nya....


“Assalamualaikum ukhty,” ucap seorang laki-laki yang tak lain adalah Fikri.


“Waalaikumsalam, ustadz ada apa?” Tanya Novita.


“Ukhty kelas 10 ya?” Ucap ustadz Fikri.


“Na’am ustadz,” ucap Novita.


“Tolong kasih tau, untuk kumpul di kelas ya,” ucap ustadz Fikri.


“Na’am ustadz, ana permisi,” ucap Novita pergi, dengan perasaan yang sangat bahagia.


Novita pun memberitahu kepada semua santri yang kelas 11, lalu semua pergi ke kelas, setelah semua sampai di kelas mereka duduk di tempat masing-masing, Novita dan Isma terpisah dengan Dila dan Bibah, tetapi itu tidak masalah asalkan Novita tidak berpisah dari Isma. Tidak lama ustadzah Rifda, ustadz Fikri, dan ustadz Azka pun masuk....


“Assalamualaikum,” ucap ustadz Fikri.


“Waalaikumsalam,” ucap all.


“Seperti biasa kita kedatangan ustadz Azka yang akan memberi kita semua motivasi,” ucap ustadz Fikri.


“Baik lah silahkan di mulai,” ucap ustadz Fikri.


“Na’am ustadz Solihin,” ucap Azka tersenyum.


Ustadz Fikri pun memulai ceramah, setelah beberapa menit pun ceramah itu selesai, 4 orang santri Wati yaitu, Isma, Novita, Bibah dan Dila pergi ke kamar, tepat pukul 10 malam Novita tidak bisa tidur, ia duduk di pojok kasur....


“Kenapa aku gak bisa tidur ya? Padahal nih mata ngantuk banget,” ucap Novita.


Novita pun membangunkan Isma...


“Is, Isma bangun,” ucap Novita menggoyangkan tubuh nya.


“Apa?” Ucap Isma nada ngantuk.


“Aku gak bisa tidur nih,” ucap Novita.


Isma pun bangun dari tidur nya dan duduk di sebelah Novita...


“Kenapa?” Tanya Isma.


“Gak tau, kepala aku rada pusing,” ucap Novita.


“Kamu sakit?” Tanya Isma.


“Enggak kok, Cuma emang entah lah kepala aku rada sakit,” ucap Novita.


“Kita lapor ya sama ustadzah, biar kamu pulang dulu,” ucap Isma.


“Enggak ah malas,” ucap Novita.


“Besok lihat ustadz Fikri juga sembuh,” ucap Novita tersenyum.


“Sempat-sempatnya ngebucin,” ucap Isma.


“Hehe, eh bdw kalo kita keluar kamar di marahin gak ya?” Ucap Novita.


“Ya di marahin lah, apa lagi Ketahun sama petugas, apa lagi ketahuan ustadzah bisa di hukum kita,” ucap Isma.


“Udah gpp kita cari angin aja,” ucap Novita.


“Enggak ah nanti kalo di hukum malu-maluin,” ucap Isma.


“Ah kamu mah gitu aja takut, sesekali bikin kasus kan gpp,” ucap Novita.


“Enggak ah malas,” ucap Isma.


“Ayo lah sapa tau habis jalan-jalan keliling pesantren aku bisa tidur,” ucap Novita.


“Ya udah ayok,” ucap Isma.


Isma dan Novita pun keluar kamar dan keliling pesantren, Isma melihat kanan kiri takut ada petugas ataupun ustadzah, sedangkan Novita menikmati udara malam...


“Is, udah lah gak usah takut gpp, buktinya gak ada petugas tuh,” ucap Novita.

__ADS_1


“Kamu kalo ngomong jangan keras-keras,” ucap Isma.


“Ya ya ya ya ok,” ucap Novita.


Mereka terus berjalan, tiba-tiba mereka berhenti di bawah pohon, dan duduk disana, sampai jam 00:00....


“Is kamu merasa nyesel gak sih mondok?” Tanya Novita.


“Enggak,” ucap Isma.


Tiba-tiba ada yang memanggil mereka....


“Sedang apa ukhty-ukhty disini?” Ucap seorang ustadz yang tak lain adalah ustadz Fikri.


Novita dan Isma sangat kaget....


“Ini kan sudah malam, kok ukhty-ukhty belum tidur?” Ucap ustadz Fikri..


Isma dan Novita tidak menjawab, mereka berdua hanya saling senggol menyenggol....


“Jawab!!” Ucap ustadz Fikri sedikit membentak.


“Tadi mau ambil air wudhu ustadz untuk shalat tahajud,” ucap Novita dengan jantung berdebar kencang.


“ukhty Isma apa benar?” Ucap ustadz Fikri.


“Enggak eh iya,” ucap Isma latah, Isma memang latah saat sedang ketakutan ataupun berbohong. Novita yang melihat tingkah Isma seperti itu pun langsung melotot.


“Setelah shalat subuh nanti, ukhty-ukhty pergi ke ruangan ana,” ucap ustadz Fikri pergi.


Setelah ustadz Fikri pergi, Novita langsung menginjak kaki Isma....


“Isma!! Kenapa kamu tadi bilang gitu sih,” ucap Novita kesal.


“Ya maaf,” ucap Isma wajah melas.


“Kan aku malu Isma, itu ustadz Fikri, pasti langsung ilfil dia,” ucap Novita wajah sedih.


“Ya sory kan kamu tau aku paling gak bisa bohong,” ucap Isma.


“Aduh malu-maluin kalo di hukum,” ucap Novita.


“Ya udah lah balik ke kamar aja yuk,” ucap Isma pergi.


“Belum Deket udah bikin dia ilfil,” ucap Novita mengomel di sepanjang jalan.


Subuh pun tiba, setelah melakukan shalat subuh, Isma dan Novita pergi ke ruangan ustadz Fikri, sesampai disana sudah ada ustadzah Rifda, dan ustadzah Nurul, Novita, dan Isma hanya menunduk.....


“Tau tidak kenapa kalian disini,” ucap ustadzah Rifda.


Novita, dan Isma hanya terdiam...


“Ini pesantren bukan di rumah kalian, disini ada peraturan nya, jadi jangan semena-mena,” ucap ustadzah Rifda nada marah.


“Kenapa kalian tadi malam keluyuran?” Sambung ustadzah Rifda.


“Jelaskan!!” Bentak ustadzah Nurul.


Novita dan Isma masih saja terdiam...


“Baiklah kalo tidak mau menjelaskan ana akan menghukum kalian berdua,” ucap ustadzah Rifda.


“Berdiri di tengah lapangan, dan memegang ini,” ucap ustadzah Rifda mengambil kardus yang bertulisan “ANA BERSALAH”.


Ustadzah Rifda pun memberikan itu, lalu Isma dan Novita pergi ke tengah lapangan. Jam pun sudah menujukan pukul 9:30, kebetulan cuaca saat itu benar-benar sangat panas, keringat mereka sudah bercucuran, tetapi jam hukuman mereka masih sekitar 1 jam setengah, Bibah dan Dila hanya melihat dari kejauhan....


“Ya salah mereka juga ngapain malam-malam keluyuran,” ucap Bibah dengan wajah sinis.


“Iya sih, mereka tuh emang sahabat sejati ya, sampai melakukan kesalahan pun bersama,” ucap Dila.


“Iya,” ucap Bibah.


Tiba-tiba saja Novita terjatuh pingsan, Isma yang melihat nya pun kaget, disana Isma benar-benar panik, kebetulan saat itu ustadz Fikri lewat jadi Isma memanggil ustadz Fikri....


“Ustadz Novita pingsan,” panggil Isma.


Ustadz Fikri yang melihat nya pun langsung berlari ke tengah lapangan, saat sampai di tengah lapangan Fikri langsung menggendong Novita, dan membawa Novita menuju UKS, saat ustadz Fikri menggendong Novita, semua santri Wati kaget, tetapi Fikri tidak menghiraukan itu, ustadz Fikri akan menjelaskan semua nya nanti.


Saat sampai di UKS pun Isma mengambil minyak kayu putih, ustadz Fikri langsung pergi saat itu, Bibah dan Dila pun menemui Isma dan Novita di UKS....


“Novi ayok bangun donk,” ucap Isma panik.


Tiba-tiba mata Novita terbuka perlahan, semua mengucapkan Alhamdulillah.....


“Alhamdulillah akhir nya kamu sadar,” ucap Dila.


“Kok disini sih, Is kita kan lagi di hukum,” ucap Novita duduk.


“Kamu pingsan mangka nya kamu disini,” ucap Isma.


“Kamu kuat gendong aku?” Ucap Novita.


“Dih sapa yang gendong kamu?” Ucap Isma.


Tiba-tiba ustadzah Nurul masuk....


“Alhamdulillah sudah sadar, ini teh hangat kamu minum ya,” ucap ustadzah memberikan minuman itu.


“Makasih ustadzah,” ucap Novita.


“Lain kali jangan buat kesalahan ya, biar enggak di hukum seperti ini,” ucap ustadzah Nurul.


“Iya ustadzah,” ucap all.


Ustadzah Nurul pun pergi...


Novita pun bertanya lagi kepada Isma....


“Eh kalo bukan kamu yang bawa aku kesini, terus siapa?” Tanya Novita.


“Kepo ya,” ucap Isma tertawa.


“Dih sapa yang kepo, yaudah sih kalo gak mau ngasih tau,” ucap Novita pergi dari ruangan UKS....


“Eh ngambek dia,” ucap Dila.


“Udah yuk susul dia,” ucap Isma.


Semua pun mengikuti Novita dari belakang sepanjang perjalanan, santriwati membicarakan Novita....


“Gila ya, Padahal udah tau ustadz Fikri punya pasangan masih aja caper,” ucap salah satu santriwati.


Novita yang mendengarnya pun bingung, Novita pun terus berjalan menuju kamar nya.


Sesampai di kamar Novita bertanya lagi kepada Isma....


“Is, siapa sih yang ngangkat aku tadi,” ucap Novita menatap Isma.


“Ustadz Fikri,” ucap Isma sambil menyiapkan peralatan untuk shalat Dzuhur.

__ADS_1


“Hah?” Ucap Novita kaget.


“Udah gak usah hah? Hah? Seneng kan kamu?” Ucap Isma tertawa.


“Apa nya yang seneng sih, tapi iya sih seneng, tapi kan aku jadi bahan omongan santriwati,” ucap Novita.


“Ya biarin aja, yang penting kamu bahagia kan,” ucap Isma meledek Novita.


“Iya sih, emm tau gitu aku tadi pingsan nya yang lama biar dia nemenin aku di UKS,” ucap Novita sambil senyum.


“Dih mau mu, emang nya ustadz Fikri mau,” ucap Isma mendorong Novita.


“Ya kan berharap aja dulu,” ucap Novita.


“Udah yuk makan laper nih,” ucap Isma.


“Iya Bibah sama Dila pasti udah masak,” ucap Novita.


“Iya yok,” ucap Isma pergi keluar pintu, saat membuka pintu ternyata di depan pintu sudah ada ustadz Fikri.


“Eh ustadz,” ucap Isma kaget lalu nunduk.


“Ustadz ada apa ya,” ucap Novita.


“Gpp, kamu sudah tidak apa-apa?” Tanya ustadz Fikri.


“Alhamdulillah sudah gpp kok ustadz,” ucap Novita.


“Kamu? Biasa nya kan manggil nya ukhty? Ini kenapa kamu? Wah gak bener ini,” ucap batin Isma.


“Ya sudah kalo begitu ana permisi,” ucap ustadz Fikri pergi.


“Ah meleleh aku,” ucap Novita tersenyum.


“Meleleh di kira es lilin kali ah,” ucap Isma pergi.


“Judes banget, gara-gara gak ketemu ustadz Azka nih,” ucap Novita tertawa lalu mengejar Isma.


Karena Isma jalan nya terburu-buru di tengah perjalanan Isma menabrak seseorang, yang tak lain adalah ustadz Azka bersama seorang wanita....


“Aduh, maaf ya ustadz ana tidak sengaja,” ucap Isma tunduk.


Novita yang melihat dari kejauhan pun langsung berlari mendekati Isma....


“Iya gpp,” ucap ustadz Azka.


“Cewek ini siapa ya, cantik bener,” ucap batin Novita.


“Ustadz, kalo boleh ana bertanya ukhty cantik ini siapa ya ustadz,” tanya Novita tersenyum.


“Apa an sih, Novita nih pakek nanya gitu,” ucap batin Isma kesal.


“Oh ini calon istri ana,” ucap ustadz Azka yang membuat Isma ternganga.


“Oh, ukhty nama nya siapa?” Tanya Novita.


“Nama ana Khansa,” ucap Khansa calon istri Azka.


“Oh gitu,” ucap Novita tersenyum.


“Kami duluan ya ustadz,” ucap Isma menarik tangan Novita.


Di sepanjang perjalanan menuju tempat makan Isma diam saja, sampai di tempat makan, biasa nya Isma yang memulai obrolan, kali ini tidak....


“Is, kamu gpp?” Tanya Dila.


“Gpp kok,” ucap Isma.


Setelah makan siang Isma, langsung masuk ke kamar, Novita pun menyusul Isma....


“Is, kenapa sih diam aja dari tadi?” Tanya Novita duduk sebelah Isma.


“Gpp,” ucap Isma.


“Bohong, kelihatan dari mata kamu,” ucap Novita.


“Kamu sedih gara-gara kak Azka lewat sama....,” Ucap Novita terpotong.


“Diam! Gak usah di bahas,” ucap Isma nada sedikit marah.


“Iya deh iya,” ucap Novita.


Waktu pun terus berlalu, tepat 1 tahun mereka mondok di pesantren Al-amin, rasa rindu di hati Isma dan Novita pun sudah mulai ada, Isma rindu dengan mamah nya, begitu juga dengan Novita, tetapi tahun ini Isma dan Novita tidak bisa pulang, karena yang pulang tahun ini Dila dan Bibah.


Tepat hari ini hari Minggu, semua santri bersih-bersih di area pesantren, Isma dan Novita yang sedang mengepel di musholla sambil berbicara.....


“Enak banget Bibah sama Dila pulang pas saat kita sedang bersih-bersih,” ucap Novita memanyunkan bibir nya.


“Kita enggak boleh mengeluh, mungkin sekarang kita enggak pulang, tapi kan tahun depan kita pulang,” ucap Isma memberi semangat kepada Novita.


“Iya sih, tapi aku rindu sama ibuk, sama ayah,” ucap Novita wajah sedih.


“Aku juga rindu sama mamah, tapi kita harus semangat disini, ingat orang tua kita di rumah banting tulang buat kita disini, disini kita harus semangat donk,” ucap Isma.


“Hm iya deh, bdw aku gak ada lihat ustadz ya,” ucap Novita melihat kanan kiri.


“Ustadz siapa tuh,” ledek Isma.


“Eleh kura-kura gak tau,” ucap Novita.


“Pura-pura Novita!!” Ucap Isma tertawa.


“Eh iya itu maksud nya,” ucap Novita tertawa.


“Nov ambil air sana,” ucap Isma.


“Oke,” ucap Novita pergi ambil air di tempat wudhu.


Saat sampai di tempat wudhu Novita memutar kran air nya, tetapi air nya tidak keluar-keluar, dan tiba-tiba ustadz Fikri datang....


“Kenapa Nov?” Tanya Fikri.


“Astagfirullah, eh ustadz maaf kaget, ini loh ustadz air nya gak mau keluar-keluar,” ucap Novita.


Ustadz Fikri pun mencoba memutar kran air nya, dan tetap saja tidak mau keluar air, dan tidak sengaja Novita menarik kran air nya, dan kran air nya copot lalu air nya pun keluar sangat deras hingga membuat Novita dan Fikri basah kuyup, Fikri mencoba memasang kran air nya lagi, Alhamdulillah air nya sudah tidak keluar air, Novita yang melihat ustadz Fikri pun ingin tertawa tetapi di tahan...


“Maaf ya ustadz gara-gara ana ustadz basah kuyup gitu,” ucap Novita menahan tertawa.


“Gpp kamu juga kan basah kuyup,” ucap ustadz Fikri.


“Mangka nya kalo buka kran air pakek perasaan jangan pakek otot kan kran air nya jadi ngambek lalu keluarin semua air nya deh,” ucap Fikri tersenyum.


Saat ustadz Fikri tersenyum, disana jantung Novita berdetak tak beraturan, rasa nya Novita ingin melayang...


“Ayok donk Nov kontrol jantung kamu,” ucap batin Novita.


“Ya udah kamu ganti baju, nanti masuk angin terus sakit lagi,” ucap ustadz Fikri.


“I-iya ustadz, ana permisi,” ucap Novita pergi dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2