Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 06


__ADS_3

Tepat pukul 3:30 Isma terbangun, ia melihat teman-teman nya masih tertidur sangat pulas, Isma ingin pergi ke toilet tetapi Isma takut jika harus pergi sendiri, akhir nya Isma membangunkan Novita...


“Nov, Novita,” ucap Isma menggoyangkan badan Novita.


“Ah, apa sih,” ucap Novita nada ngantuk.


“Antar aku ke toilet yuk, aku takut nih,” ucap Isma.


“Udah gak ada apa-apa kok pergi aja,” ucap Novita.


“Ayok lah Nov,” ucap Isma menarik tangan Novita.


Dengan terpaksa Novita pun bangun, dan mengantar Isma pergi ke toilet, saat di tengah perjalanan pergi ke toilet, Isma dan Novita mendengar seseorang sedang mengaji, suara nya sangat lah merdu. Novita dan Isma Karena penasaran pun mengintip di pintu musholla. Saat sedang mengintip tiba-tiba Isma terjatuh, yang membuat orang mengaji itu berhenti mengaji, dan mendekati mereka berdua, yang tak lain adalah ustadz Fikri dan ustadz Azka....


“Kalian? Ngapain disini?” Tanya ustadz Fikri.


Novita dan Isma pun kaget, Isma yang sedang duduk di lantai pun langsung berdiri....


“Ta...di mau ke toilet ustadz,” ucap Isma gugup.


“Terus? Toilet santriwati kan disana? Kenapa berdiri disini?” Tanya ustadz Azka.


“Tadi dengar ada yang mengaji ustadz mangka nya kami pengen tau ustadz,” ucap Novita nunduk.


“Yaudah kalian kembali ke kamar sana, tapi ingat, jangan tidur,” ucap ustadz Fikri.


“Baik ustadz,” ucap Isma dan Novita serentak.


Isma dan Novita pun pergi ke kamar, saat Isma dan Novita kembali ke kamar 2 teman nya sudah terbangun...


“Kalian kenapa muka nya pucat gitu,” ucap Dila.


Novita pun menceritakan semua nya, Dila dan Bibah memandang satu sama lain....


“Gara-gara Isma nih pakek acara jatuh segala,” ucap Novita.


“Yang nama nya jatuh emang bisa tebak,” ucap Isma.


“Jatuh di mana?” Tanya Dila.


“Jatuh di depan musholla pas lagi dengerin ustadz Fikri dan ustadz Azka mengaji, kan malu,” ucap Novita.


“Ya kamu sih aku kan ngajak anterin ke toilet, kenapa pas dengar ada yang ngaji malah pengen ngintip,” ucap Isma.


“Tetap aja salah kamu, coba kamu gak jatuh kan gak ketahuan dan gak malu,” ucap Novita.


Mereka berdua pun terus saja berdebat, Dila dan Bibah hanya menyaksikan Isma dan Novita yang sedang berdebat. Hingga pagi pun tiba, Isma dan Novita tidak saling menyapa, bahkan pergi ke kelas untuk belajar pun tidak duduk bersama, Dila dan Bibah bingung dengan sifat mereka berdua.


Sampai jam belajar pun habis, mereka berempat biasa nya duduk di bawah pohon, kini Novita memilih untuk pergi ke kamar tanpa berbicara apa pun, begitu juga dengan Isma, Isma memilih pergi ke kantin sendirian. Di dalam kamar Novita kesal, mengapa Isma tidak mengajak ia berbicara....


“Ih, Isma kenapa sih gak mau ngomong, bujukin kek aku kan lagi ngambek,” ucap Novita melemparkan buku sekolah nya.


Tiba-tiba Dila masuk kamar...


“Nov,” ucap Dila duduk di samping Novita.


“Apa,” ucap Novita.


“Kamu marahan sama Isma?” Tanya Dila.


“Enggak,” ucap Novita.


“Bohong, kelihatan dari wajah kamu dan Isma, biasa nya kalian bersama hari ini tidak,” ucap Dila.


“Lagi malas,” ucap Novita.


3 hari pun berlalu, Isma dan Novita masih tidak saling menyapa. Akhirnya Dila dan Bibah pun mengajak mereka berdua mengumpul di tempat biasa yaitu di bawah pohon....


“Kalian kenapa sih? Udah 3 hari masih aja gak saling nyapa, masa iya Cuma gara-gara kejadian 3 hari yang lalu kalian gini,” ucap Dila.


“Dari Abî Ayûb al-Anshâriy, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam”.(HR. Muslim. 2560),” ucap Bibah.


“Iya benar banget tuh, kalian udah 3 hari gak saling menyapa, itu gak baik loh, sama dengan nya kalian memutus tali silaturahmi, itu enggak baik loh,” ucap Dila.


“Iya kalian kan sahabat dari dulu, masa iya gara-gara masalah sepele kalian marahan,” ucap Bibah.


“Hm, yaudah aku minta maaf ya Vi,” ucap Isma.


“Iya, aku juga minta maaf Is,” ucap Novita tersenyum.


“Nah gitu donk, sekarang berpelukan donk,” ucap Dila.


Novita dan Isma pun saling berpelukan, Bibah dan Dila pun senang melihat mereka sudah akur kembali....


Jam pun menunjukkan pukul 14:23, Bibah, Novita, Isma sedang duduk di bawah pohon, ustadzah Nurul memanggil Novita....


“Assalamualaikum, Novita bisa kamu ke kantor sebentar saja,” ucap ustadzah Nurul.


“Waalaikumsalam,” ucap all.


“Ada apa ya ustadzah Nurul?” Tanya Novita.


“Tidak ada apa-apa bisa kah kamu ke kantor dulu,” ucap ustadzah Nurul.


“Bisa ustadzah,” ucap Novita pergi bersama ustadzah Nurul.


“Eh ada apa ya? Novita perasaan enggak bikin salah apa-apa,” ucap Isma.


“Hm gak tau juga sih, mungkin ada yang mau di sampaikan kali,” ucap Dila.


“Iya kita jangan souzon dulu,” ucap Bibah.


Novita pun sampai di depan kantor, lalu Novita menemui kiyai Umar, kiyai Umar adalah ayah ustadz Fikri, pemilik ponpes Al-Amin.....


“Assalamualaikum kiyai,” ucap Novita tunduk.


“Waalaikumsalam, silahkan duduk,” ucap kiyai Umar.


“Ada apa ya kiyai,” ucap Novita.


Jujur Novita sedikit takut, Novita berpikir ia memiliki kesalahan apa, mengapa ia di panggil kiyai Umar....


“Kamu sudah 2 tahun kan disini?” Tanya kiyai Umar.


“Na’am kiyai,” ucap Novita.


“Apa kah kamu siapa, kalo kiyai angkat kamu menjadi seorang ustadzah?” Tanya kiyai.


Dengan rasa tidak percaya, Novita bertanya lagi kepada kiyai...


“Kiyai serius?” Tanya Novita dengan mata yang berbinar-binar.


“Serius, karena menurut kiyai hafalan kamu cukup bagus, terus selama kamu disini kamu baik, karena para ustadzah yang dulu kan sudah lulus, otomatis ustadzah disini hanya tinggal ustadzah Rifda saja, karena ustadzah Nurul besok pulang,” ucap kiyai.


“Alhamdulillah yaAllah, Insyaallah Novita bersedia kiyai,” ucap Novita tersenyum.


“Tapi, kamu harus mengikuti tes, yaitu kamu harus mengejar di sebuah ponpes,” ucap kiyai.


“Ponpes dimana kiyai?” Tanya Novita.


“Nama ponpes nya Al-Hikmah, yang terletak di kota Surabaya,” ucap kiyai.


“Tapi kiyai, jarak antara Samarinda dengan Surabaya sangat jauh kiyai,” ucap Novita tunduk.

__ADS_1


“Iya kiyai tau, tentang biaya penerbangan kamu ke sana sudah di tanggung oleh ponpes, jadi kamu tidak perlu risau,” ucap kiyai.


“Novita pergi ke sana sendirian kiyai?” Tanya Novita.


“Tidak, kamu ajak santri yang bernama Isma,” ucap kiyai.


“Nanti kalian berdua akan di lihat, bagaimana cara kalian mengajar para santri disana, jika kalian berdua mengajar sangat bagus, kalian berdua yang akan menjadi ustadzah,” ucap kiyai tersenyum.


“Baik kiyai,” ucap Novita.


“Kalian berangkat besok ya, jadi siapkan apa saja yang ingin kalian bawa, beritahu Isma juga ya,” ucap kiyai.


“Na’am kiyai, kalo begitu Novita permisi kiyai, assalamualaikum,” ucap Novita pergi.


“Waalaikumsalam, emang cocok jadi istri Fikri,” ucap kita tersenyum.


Novita pun menemui teman-teman nya dengan raut wajah yang sangat bahagia, 3 sahabat Novita pun berpikir, bahwa Novita baru saja bertemu dengan pangeran....


“Novita! Woyy sadar, kamu pasti habis ketemu sama pangeran mu ya,” ucap Isma.


“Apa sih, ini lebih bahagia daripada itu,” ucap Novita.


“Yaudah cerita nah Novita, kamu bikin kita semua penasaran kalo kamu gak cerita,” ucap Bibah.


“Hm,” ucap Novita.


“Cepetan!!!” Ucap Bibah, Isma, dan Dila serentak.


Novita pun menceritakan semua nya, 3 sahabat nya pun ikut bahagia, apa lagi Isma ia tidak percaya bahwa akan mengikuti tes menjadi seorang ustadzah. Dila dan Bibah ikut bahagia sekali.....


“Udah yuk Is, kita ke kamar siap-siap,” ucap Novita.


“Cieee calon ustadzah nih,” ucap Dila.


“Aamiin,” ucap Isma dan Novita


Malam pun tiba, semua barang-barang yang akan di bawa ke Bandung pun sudah siap, kini Novita berpikir bahwa ia akan berpisah dengan pangeran nya.....


“Eh, nanti kalo kita di Bandung gak ketemu sama pangeran donk Is,” ucap Novita.


“Ya sepertinya begitu, tapi kan gpp lah kejar dulu ini nanti kalo udah jadi ustadzah kan enak deketin dia,” ucap Isma.


“Tenang kan ada aku, aku yang jagain pangeran kalian,” ucap Bibah tertawa kecil.


“Hm,” ucap Novita wajah sedih.


“Udah fokus aja sama tes itu,” ucap Dila.


“Iya,” ucap Novita.


Pagi pun tiba, barang-barang Isma dan Novita pun sudah di masukan ke dalam mobil, betapa kaget nya Novita melihat ustadz Fikri, dan ustadz Azka juga membawa tas dan memasukkan nya ke dalam mobil...


“Is, kok ustadz Fikri masukin tas nya ke dalam mobil sih,” ucap Novita berbisik pada Isma.


“Enggak tau,” ucap Isma.


“Nak Novita, nak Isma, kalian di Bandung juga bersama ustadz Fikri dan ustadz Azka,” ucap kiyai Umar.


“Oh gitu Na’am kiyai,” ucap Isma dan Novita serentak.


“Hm gak jadi galau nih,” ucap Dila meledek Novita.


“Apa an sih,” ucap Novita tersenyum.


Mereka pun masuk ke dalam mobil menuju ke bandara, tidak lama mereka pun sampai di bandara, ustadz Fikri dan ustadz Azka mengambil tiket pesawat nya. Kurang lebih setengah jam mereka menunggu, pesawat yang akan mereka naikin pun terbang.


Terus berjalannya waktu akhirnya mereka sampai di bandara Surabaya, jam menujukan pukul 14:00, mereka terus melanjutkan perjalanan menuju ponpes Al-Hikmah. Dengan perjalanan 1 setengah jam mereka pun sampai. Mereka sampai di sambut oleh kiyai Khalid, dan istrinya yang bernama ustadzah Fatimah....


“Waalaikumsalam,” ucap kiyai Khalid dan ustadzah Fatimah.


“Ini calon ustadzah ya,” ucap ustadzah Fatimah tersenyum.


“Na’am ustadzah,” ucap Isma dan Novita.


“Ya udah kalian ke kamar bersama dengan ustadzah Aisyah ya,” ucap ustadzah Fatimah.


“Na’am ustadzah,” ucap Isma dan Novita.


Novita dan Isma pun pergi ke kamar di antar oleh ustadzah Aisyah, di sepanjang perjalanan semua santriwan melihat ke arah Isma dan Novita. Hingga di tengah perjalanan salah satu santri pun menghalangi jalan mereka....


“Ustadzah cantik,” ucap salah satu santri putra yang bernama Arif.


Novita yang melihat nya pun ingin muntah...


“Hm,” ucap ustadzah Aisyah yang membuat ia pergi.


Tidak lama mereka pun sampai di kamar...


“Ini kamar kalian berdua, disini kalo ustadzah 1 kamar 2 orang, kamar aku ada di sebelah sini, jadi kalo kalian butuh apa-apa panggil aku aja ya,” ucap Aisyah tersenyum.


“Baik ustadzah,” ucap Isma dan Novita.


“Panggil Aisyah aja ya,” ucap Aisyah.


“Iya,” ucap Novita.


“Ya udah kalian istirahat nanti saat nya shalat asar kalian harus ke kelas ya, nanti biar aku tunjukan,” ucap Aisyah.


“Iya,” ucap Isma.


Isma dan Novita pun masuk kamar...


“Wihh kamar nya lebih besar ya, berasa rumah kita sendiri,” ucap Novita.


“Iya,” ucap Isma.


Jam pun menunjukkan pukul 15:30 Isma, Aisyah dan Novita pergi ke musholla, setelah melaksanakan shalat asar, Isma di antar ke kelas nya untuk mengajar, begitu juga dengan Novita, dan ternyata Novita mengajar santriwan, dan Novita melihat santri putra yang mengganggu nya tadi, yang membuat mood Novita berubah menjadi malas....


“Assalamualaikum,” ucap Novita.


“Waalaikumsalam,” ucap all.


“Perkenalkan nama saya Novita,” ucap Novita tersenyum.


“Nama nya cantik ya, pantas orang nya cantik juga,” ucap salah satu santri yang bernama Arif.


“Aamiin makasih loh atas pujian nya,” ucap Novita tersenyum.


Novita pun memulai pelajaran, hari ini Novita memulai pelajar bahasa Arab, karena kelas ini adalah santri baru....


“Hari ini kita belajar bahasa Arab ya,” ucap Novita.


Novita menulis di papan tulis:


-Halo/Hai (مرحبا) marhaba


- Selamat pagi (صباح الخير) sabāha l-hair


- Selamat siang (يوم سعيد) yawmun sa ʾīd


- Selamat sore/malam (مساء الخير) basāʾa l-ḫair


- Selamat malam ليلة سعيدة lailah saʿīdah

__ADS_1


- Dah/Mari مع السلامة maʿa s-salamah


-Sampai jumpa! إلى اللقاء ilā l-lāʾ إلى اللقاء


-Saya أنا ana


-kamu أنت ant


- Ya نعم naʿam


-tidak لا lā


-mungkin/bisa jadi ربما rubbamā


-OK حسناḥasanan


-Terima kasih شكرا sukran


-Kembali! عفوا ʿafwan


-Maaf أنا آسف ʾana āsif


- Biaya رسوم rusūm


-Nama saya إسمي ʾismī


-Saya berasal dari أنا من ʾanā min


“Ok apa bisa di pahami?” Tanya Novita.


“Insyaallah bisa ustadzah,” ucap all.


“Alhamdulillah,” ucap Novita.


“Baiklah ini di tulis ya selesai di tulis kalian boleh istirahat, kalo begitu ustadzah permisi ya, assalamualaikum,” ucap Novita pergi.


“Waalaikumsalam,” ucap all.


“Demi apa ustadzah nya cantik banget,” ucap Arif.


“Iya dan dia akan jadi milik ku,” ucap Aidil teman nya Arif.


“Jangan halu kamu, dia akan jadi milik ku,” ucap Arif.


“Kita lihat nanti,” ucap Aidil kesal.


Novita pun berjalan menuju ke kamar nya, saat di tengah perjalanan Novita bertemu dengan ustadz Fikri...


“Assalamualaikum,” ucap ustadz Fikri.


“Waalaikumsalam, ustadz,” ucap Novita.


“Gimana enak gak jadi ustadzah?” Tanya ustadz Fikri.


“Hm, gak tau ustadz kan baru satu hari,” ucap Novita.


“Iya,” ucap ustadz Fikri tersenyum.


“yaAllah mimpi apa aku tadi malam di senyumin sama ustadz Fikri,” ucap batin Novita.


“Ya udah aku duluan ya,” ucap ustadz Fikri pergi.


“Tahan Nov jangan baper,” ucap Novita mengelus-elus dadanya.


Tiba-tiba santri yang bernama Arif dan Aidil pun mendekati Novita....


“Ustadzah cantik,” ucap Arif.


“Astagfirullah,” ucap Novita kaget.


“Kita anterin ya ustadzah,” ucap Aidil


“Hah? Ngapain?” Ucap Novita kaget.


“Ya biar ustadzah selamat sampai kamar,” ucap Arif.


“Gini ya, aku udah besar aku bisa jaga diri sendiri,” ucap Novita.


“Udah gak ada penolakan,” ucap Arif ingin menyentuh tangan Novita tetapi Novita menghindar


“Heh! Mau ngapain tangan kamu?” Ucap Novita kesal.


“Mau gandeng lah biar selamat,” ucap Arif nyengir.


“Hello dia itu gak mau di gandeng kamu,” ucap Aidil.


Mereka berdua pun terus berdebat, Novita pun lari, tanpa mereka sadari. Novita terus berlari tiba-tiba Novita menabrak ustadzah senior....


“Aduh, maaf ya maaf banget,” ucap Novita.


“Lo siapa sih?” Ucap ustadzah senior yang bernama Cantika.


“Oh Lo pasti ustadzah baru ya,” ucap Cantika.


“Iya,” ucap Novita.


“Lo ya ustadzah baru aja belagu pakek lari-lari,” ucap Cantika nada sinis.


“Kamu gak tau aku di kejar sama santri putra tuh,” ucap Novita.


“Alah sok kecantikan aja kamu di kejar-kejar,” ucap Cantika memutar kedua bola mata nya.


“Hah? Yaudah sih kalo gak percaya,” ucap Novita nada kesal.


“Dasar ustadzah kampungan Lo,” ucap Cantika menyenggol pundak Novita lalu pergi.


“Gila ya tuh ustadzah,” ucap Novita kesal hingga mengentak hentakan kaki nya ke tanah.


Dengan perasaan kesal Novita pun pergi ke kamar, di kamar Isma sedang belajar untuk memberikan materi besok, karena Isma melihat wajah Novita yang kesal, Isma pun mendekati Novita....


“Nov,” ucap Isma duduk sebelah Novita.


“Kamu kenapa sih?” Tanya Isma.


“Kesel, udah aku di gangguin sama santri gila itu, terus ketemu ustadzah senior yang super duper ngeselin banget,” ucap Novita kesal.


“Santri gila? Emang ada ya santri gila?” Tanya Isma.


“Itu loh yang gangguin kita pas di jalan tuh,” ucap Novita.


“Oh yang muka nya pas-pasan,” ucap Isma.


“Iya itu,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.


“Terus ustadzah yang ngeselin itu sapa?” Tanya Isma.


“Gak tau sapa tuh nama nya gak kenal aku,” ucap Novita.


“Udah lah sabar aja, ingat kita disini tuh ikut tes untuk menjadi ustadzah,” ucap Isma.


“Iya,” ucap Novita.


*jangan lupa like, komen, dan follow ya kalo kalian suka sama cerita ini🤗*

__ADS_1


__ADS_2