Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 08


__ADS_3

Malam pun tiba, semua santri duduk melingkar mengelilingi apa unggun nya, malam yang sangat indah, sambil mengelilingi apa unggun ustadz Fikri sambil berbicara supaya tidak terlalu sunyi. Novita yang memperhatikan ustadz Fikri dengan sungguh-sungguh....


“Nov,” ucap Isma menepuk pundak Novita.


“Ah, apa sih Isma,” ucap Novita kesal.


“Biasa aja memperhatikan nya, gak usah terlalu gitu, zina mata tau, gak enak tuh di lihatin sama semua santri,” ucap Isma.


“Hm, iya-iya,” ucap Novita.


Malam pun semakin larut, semua santri masuk tenda untuk tidur. Semua santri tidur dengan sangat pulas, tetapi tidak dengan Aisyah, Aisyah tidak bisa tidur, jadi Aisyah memutuskan untuk keluar tenda, mungkin karena di dalam tenda panas. Saat Aisyah keluar tenda dan duduk di depan api unggun, ustadz Fikri mendekati Aisyah....


“Eh, ustadz,” ucap Aisyah kaget.


“Ngapain duduk disini? Kenapa enggak tidur sudah larut malam, besok kan ada perjalanan yang akan kita tuju,” ucap ustadz Fikri.


“Enggak bisa tidur ustadz,” ucap Aisyah tunduk.


“Pasti bisa, mungkin kamu terlalu banyak pikiran,” ucap ustadz Fikri.


“Ya udah kalo gitu aku masuk tenda duluan ya ustadz,” ucap Aisyah berdiri.


Saat Aisyah ingin berjalan menuju tenda, tiba-tiba kaki Aisyah tersandung, hingga Aisyah hampir saja terjatuh, tetapi ustadz Fikri menangkap Aisyah, saat ini posisi ustadz Fikri menatap wajah Aisyah dan begitu juga Aisyah. Saat kejadian itu ternyata Novita melihatnya, hati Novita benar-benar sakit, lalu Novita memejamkan mata nya, walaupun ia ingin menangis.....


“Maaf ustadz,” ucap Aisyah melepas pelukan nya.


“Maaf aku juga enggak sengaja,” ucap ustadz Fikri pergi.


Seiring nya waktu, sudah 1 Minggu mereka berkemah, kini mereka sudah pulang ponpes Al-Hikmah. Novita berusaha melupakan kejadian 1 Minggu yang lalu. Di pagi yang cerah ini semua santri bersih-bersih di wilayah pesantren, begitu juga dengan Isma dan Novita, walaupun mereka menjadi ustadzah tetapi kewajiban mereka juga untuk membersihkan wilayah pesantren. Isma, Novita dan Aisyah membersihkan wilayah di perpustakaan.....


“Nov, ambil lap sana,” ucap Isma.


“Dimana? Aku kan gak tau,” ucap Novita.


“Itu di gudang, gak jauh kok dari sini, kamu jalan kan terus nanti ada tulisan gudang,” ucap Aisyah.


“Gitu? Ya udah deh,” ucap Novita pergi.


Novita pun sampai di gudang, mencari-cari lap, dan Novita menemukan lap itu di atas lemari yang sangat tinggi. Novita pun mengambil kursi supaya bisa mengambil lap itu, tetapi saat menaiki kursi itu kaki Novita terpeleset dan jatuh, tiba-tiba ustadz Fikri datang dan langsung menangkap Novita, Novita yang masih memejamkan mata nya pun, membuka mata nya karena ia merasa ada yang menangkap nya, saat melihat bahwa yang menangkap nya ustadz Fikri pun jantung Novita berdetak tak beraturan. Lalu ustadz Solihin menurunkan Novita....


“Lain kali jangan naik-naik kursi gini bahaya tau,” ucap ustadz Fikri.


Novita yang terdiam mengingat kejadian tadi...


“Tidak sampai ustadz mau ngambil lap di atas sama,” ucap Novita.


Karena ustadz Fikri tinggi, ustadz Fikri pun mengambil kan lap itu untuk Novita, lalu Novita pergi untuk menemui Isma dengan hati yang sangat bahagia.....


Di sepanjang jalan, Novita tersenyum dan tiba-tiba ada dua curut yang merusak mood Novita, siapa lagi kalo bukan Arif sama Aidil...


“Hai ustadzah cantik,” ucap Arif mengangkat kedua alis nya.


“Apa sih?” Ucap Novita kesal.


“Mau ke mana ustadzah?” Tanya Arif.


“Mau pergi dari ponpes ini,” ucap Novita.


“Ih kok gitu sih ustadzah,” ucap Arif.


“Mangka nya jangan gangguin aku terus,” ucap Novita.


“Gak mau di gangguin sama aku kan, gimana kalo ustadzah jadi istri aku aja,” ucap Arif.


“Hello!! Kamu lagi mimpi ya? Belajar yang bener, baru mikir sampai sana,” ucap Novita kesal lalu pergi.


Aidil pun memukul kepala Arif..


“Mangka nya jangan asal bicara,” ucap Aidil.


“Alah,” ucap Arif pergi.


Novita yang awal nya bahagia pun jadi kesal, sampai di perpustakaan Novita melempar lap mengenai wajah Isma, disana Isma marah besar hingga melempar lap itu ke Novita, tapi sayang lap itu mengenai ustadz Azka, Isma yang merasa bersalah pun mendekati ustadz Azka.


“Ustadz maaf ya enggak sengaja,” ucap Isma ketakutan.


Novita yang melihat itu pun menahan tawa...


“Iya gpp,” ucap Azka memberikan lap itu.


“Beneran ustadz enggak marah kan? Sumpah ustadz aku enggak sengaja,” ucap Isma.


“Iya gpp, lanjut lagi, tadi aku Cuma lagi meriksa aja,” ucap ustadz Azka pergi.


Novita pun tertawa terbahak-bahak, Isma yang melihat nya pun mendorong Novita...


“Gara-gara kamu nih Nov, nanti kalo aku gak lulus tes Gimana?” Ucap Isma kesal.


“Ya salah mu lah, ngapain mau ngelempar lap nya ke aku, kan jadi kena ustadz Azka,” ucap Novita.


“Kamu juga ngapain ngelempar lap tadi pas kena muka ku lagi,” ucap Isma.


“Kan aku lagi kesel, habis ketemu sama dia curut itu,” ucap Novita.


“Ngapain lampiaskan nya ke aku,” ucap Isma teriak.


“Udah-udah, lanjut kerja lagi,” ucap Aisyah.


Semua pun melanjutkan pekerjaannya, tepat jam 12 semua bergegas untuk shalat Dzuhur, setelah shalat Dzuhur, Novita, Isma dan Aisyah pergi untuk mencari es buah karena cuaca yang panas enak nih kalo minum es buah.....


Novita, Isma dan Aisyah pun memesan es buah, tiba-tiba dua curut itu datang, dan duduk di sebelah Novita....


“Hai, ustadzah cantik,” ucap Arif duduk di samping Novita.


“Astagfirullah, kenapa sih dimana-mana ada kamu?” Ucap Novita kesal.


“Ya karena kita jodoh, dimana ada kamu disana ada aku,” ucap Arif mengangkat kedua alis nya.


“Aku gak jadi minum es buah, aku mau balik aja pondok,” ucap Novita pergi.


“Ih, gara-gara kamu tuh, lagian kamu kenapa sih gak ada sopan-sopan nya, dia itu ustadzah kamu,” ucap Isma nada marah.


“Iya, sana pindah tempat duduk,” ucap Aisyah.


Mereka berdua pun pindah tempat duduk. Di sisi lain Novita sudah sampai di pondok, entah lah menurut Novita hari ini benar-benar membosankan. Saat Novita sedang melamun tiba-tiba ustadz Azka mendekati Novita.....


“Assalamualaikum, boleh aku duduk?” Ucap ustadz Azka.

__ADS_1


“Waalaikumsalam, boleh ustadz,” ucap Novita.


“Kenapa melamun? Tumben juga sendirian,” ucap ustadz Azka.


“Iya, mereka pada makan es buah disana,” ucap Novita.


“Kenapa enggak ikutan?” Tanya ustadz Azka.


“Gpp kok, lagi enggak pengen es aja,” ucap Novita.


“Hm, gimana kalo kita makan eskrim, kebetulan aku tau dimana jual eskrim,” ucap ustadz Azka.


“Boleh,” ucap Novita dengan semangat.


“Ya udah yuk,” ucap ustadz Azka.


Mereka berdua pun pergi kesebuah cafe yang menjual eskrim, mereka duduk sambil menunggu pesanan eskrim nya, tidak lama pesanan mereka pun datang, Novita memesan eskrim rasa coklat, sedangkan ustadz Azka memesan eskrim rasa vanila...


“Ustadz, boleh tanya?” Ucap Novita.


“Boleh,” ucap ustadz Azka.


“Ustadz, sama ustadzah Khanza kapan nikah?” Tanya Novita.


Ustadz Azka yang mendengar pertanyaan Novita kaget....


“Kami gagal menikah,” ucap ustadz Azka.


“Hah? Serius? Kenapa ustadz?” Tanya Novita dengan wajah penasaran.


“Mungkin bukan jodoh, kami beda pendapat,” ucap ustadz Azka.


“Oh gitu, ada niat cari pengganti gak ustadz?” Tanya Novita sambil tertawa kecil.


“Pasti lah,” ucap ustadz Azka tertawa.


Baru kali ini Novita melihat ustadz Azka, yang pendiam, dingin, bisa tertawa lepas seperti ini, entah kenapa Novita merasa nyaman berada di dekat nya....


“Siapa tuh?” Ucap Novita meledek ustadz Azka.


“Nanti kalo Allah sudah mempertemukan,” ucap ustadz Azka.


“Aamiin,” ucap Novita.


Tepat jam 15:00 Aisyah dan Isma sudah sampai di pondok, Isma dan Aisyah heran, mengapa dari tadi mereka tidak melihat Novita. Saat Aisyah dan Isma melihat di sekitar ponpes, tiba-tiba Novita datang bersama ustadz Azka, Isma yang melihat kejadian itu benar-benar kaget, tetapi Isma berusaha berpikir positif.....


“Hai semua,” ucap Novita dengan wajah ceria.


“Dari mana?” Tanya Aisyah.


“Tuh dari cafe,” ucap Novita.


“Oh,” ucap Aisyah.


“Ya udah aku permisi dulu ya,” ucap ustadz Azka pergi.


“Yuk masuk ke kamar bentar lagi adzan,” ucap Novita.


“Iya,” ucap Aisyah.


“Is, kamu kenapa?” Tanya Novita.


“Gpp,” ucap Isma singkat.


“Oh aku tau, kamu cemburu ya lihat aku tadi datang barengan sama ustadz Azmi,” ucap Novita menatap Isma.


“Gak,” ucap Isma.


“Udah jujur aja, aku tau kok,” ucap Novita.


“Enggak Novita, aku Cuma capek aja, kamu kan tau kalo aku lagi capek mood aku hancur,” ucap Isma.


“Iya-iya maaf,” ucap Novita.


Malam pun tiba, Novita dan Aisyah duduk di taman tempat mereka berkumpul tetapi tidak dengan Isma, Isma diam di kamar membaca buku novel, dan mencari ide untuk ia membuat novel....


“Oh iya nov, aku mau tanya, kok kamu tadi bisa barengan sama ustadz Azka sih?” Tanya Aisyah.


Novita pun menceritakan semua nya....


“Oh gitu, tapi Isma kenapa?” Tanya Aisyah.


“Isma gpp, dia Cuma gak mood aja tadi bilang nya,” ucap Novita.


“Terus kenapa dia gak mau ngumpul disini?” Tanya Aisyah.


“Dia lagi belajar untuk membuat buku novel, kan dia pengen jadi penulis buku,” ucap Novita.


“Oh gitu ya,” ucap Aisyah.


“Iya,” ucap Novita.


Malam pun semangkin larut, Novita pergi ke kamar untuk tidur. Novita melihat Isma sudah tertidur, jujur baru kali ini Novita melihat sifat Isma seperti ini, Novita pun tidur.


Pagi pun tiba, saat Novita ingin pergi ke kelas, ustadz Azka menemui Novita....


“Nov,” panggil ustadz Azka.


“Ustadz ada apa?” Tanya Novita.


“Ustadz Fikri sakit, dia di bawa ke rumah sakit, namun jadwal aku padat hari ini, apa bisa kamu pergi ke rumah sakit untuk nemenin ustadz Fikri?” Tanya ustadz Azka.


“Hah? Serius? Bisa aja sih tapi,” ucap Novita terpotong.


“Udah gak usah tapi-tapian kiyai Khalid ngizinin kok,” ucap ustadz Azka.


“Yaudah aku langsung berangkat, oh iya, kalo ketemu Isma kasih tau ya,” ucap Novita pergi.


Jam pun menujukan pukul 12:00 siang, Novita sedang di rumah sakit duduk di sofa, ia memperhatikan ustadz Fikri yang terbaring lemas di atas kasur, ingin Novita duduk di samping tempat tidur ustadz Fikri, namun bukan muhrim. Tiba-tiba ustadz Fikri terbangun, Novita langsung mendekati ustadz Fikri....


“Ustadz mau apa?” Tanya Novita.


“Mau ambil air wudhu, mau shalat Dzuhur,” ucap ustadz Fikri.


“Tapi ustadz masih lemas?” Ucap Novita.


“Kalo kita masih bisa berdiri, dan mengambil air wudhu, artinya kita masih mampu melaksanakan shalat Dzuhur,” ucap ustadz Fikri duduk di tempat tidurnya.

__ADS_1


“Tapi ustadz....,” Ucap Novita terpotong saat melihat ustadz Fikri menatap nya.


“Tidak papa,” ucap ustadz Fikri pergi mengambil air wudhu.


“yaAllah, tatapan nya, astagfirullah bukan muhrim,” ucap batin Novita mengelus-elus dadanya.


Setelah selesai melaksanakan shalat Dzuhur, suster mengantarkan makan siang untuk ustadz Fikri.....


“Ini di makan ya, setelah itu minum obatnya ya mas,” ucap suster itu.


“Iya sus,” ucap ustadz Fikri.


“Mau saya suapi atau di suapi sama calon istri nya,” ucap suster yang membuat Novita kaget, campur bahagia, ustadz Fikri hanya tersenyum mendengar ucap suster.


“Makan sendiri sus,” ucap ustadz Fikri tersenyum.


“Loh, kan ada calon istri,” ucap suster.


“Masih punya orang sus, nanti yang punya marah sus,” ucap ustadz Fikri tertawa kecil, Novita pun tersenyum.


“Hehe yaudah saya tinggal ya,” ucap suster pergi.


“Ada-ada aja,” ucap ustadz Fikri.


“Ustadz beneran bisa makan sendiri?” Tanya Novita.


“Bisa, kan aku Cuma sakit bukan cidera tangan,” ucap ustadz Fikri.


“Iya tapi kan pas pasti tangan nya gemeteran,” ucap Novita.


“Enggak usah,” ucap ustadz Fikri tersenyum.


“Kamu kok gak makan?” Tanya ustadz Fikri.


“Belum lapar, ustadz makan aja gpp,” ucap Novita duduk di sofa.


“Nanti makan ya,” ucap ustadz Fikri.


“Iya,” sahut Novita.


Sedangkan Isma dan Aisyah di kantin sedang makan siang....


“Gimana ya keadaan nya ustadz Fikri,” ucap Aisyah.


“Ya gak tau, kan kita belum jenguk,” ucap Isma.


“Kita jenguk yuk,” ucap Aisyah.


“Kamu kenapa sih panik banget?” Tanya Isma.


“Ya gpp,” ucap Aisyah.


“Kamu suka ya sama ustadz Fikri?” Tanya Isma.


“Tapi jangan bilang siapa-siapa ya,” ucap Aisyah.


“Iya aku suka sama ustadz Fikri,” sambung Aisyah yang membuat Isma kaget.


“Serius?” Ucap Isma.


“Iya serius,” ucap Aisyah.


“Hm, udah lah gak usah jenguk, nanti aja kalo dah pulang,” ucap Isma.


“Ya udah iya,” ucap Aisyah.


“Gawat ini kalo Novita tau Aisyah suka sama ustadz Fikri,” ucap batin Isma.


Malam pun tiba, setelah shalat isya Novita benar-benar sangat ngantuk dan lelah tetapi ia tahan....


“Kamu ngantuk Nov?” Tanya ustadz Fikri.


“Hah? Enggak kok,” ucap Novita.


“Kalo ngantuk tidur aja, tenang aja aku gak akan ngapa-ngapain kamu kok,” ucap ustadz Fikri.


“Kalo perlu panggil suster buat nemenin juga disini?” Sambung ustadz Fikri.


“Gak perlu aku percaya kok, tapi beneran aku gak ngantuk kok,” ucap Novita.


“Udah tidur aja, nanti kamu ikutan sakit gimana? Tes kamu disini selama 1 tahun loh,” ucap ustadz Fikri.


Akhirnya Novita pun tertidur, ustadz Fikri yang melihat Novita benar-benar lelah, ia pun mendekati sofa, lalu menyelimuti tubuh Novita dengan selimut, setelah itu ustadz Fikri kembali ke tempat tidurnya.


Jam pun menujukan pukul 4:00 subuh, Novita terbangun, saat Novita terbangun Novita terkejut, kok ia memakai selimut, lalu Novita melihat ke arah ustadz Fikri yang menahan dingin, lalu Novita berjalan menuju tempat tidur ustadz Fikri, dan menyelimuti ustadz Fikri. Setelah itu Novita keluar dari ruangan ustadz Fikri, dan duduk di kursi depan ruangan ustadz Fikri.....


“Kok aku ngerasa kek pembantu ya, ngurusin orang sakit, untung aja pangeran, kalo si curut ogah aku,” ucap batin Novita.


Tiba-tiba terdengar suara gelas terjatuh dari dalam ruangan ustadz Fikri, Novita pun bergegas masuk ke dalam ruangan, Novita melihat wajah ustadz Fikri penuh dengan darah, dan ustadz Fikri berusaha mengambil tisu tetapi tangan nya menyenggol gelas hingga terjatuh.....


“Ustadz,” ucap Novita kaget.


Ustadz Fikri terus mengelap darah yang keluar dari hidung nya, Novita yang takut pada darah pun jatuh pingsan.....


“Novita!” Ucap ustadz Fikri kaget.


“Aduh ini gimana, mana darah dari hidung aku gak berhenti,” ucap ustadz Fikri bingung.


Lalu ustadz Fikri memanggil suster, lalu suster itu mengangkat Novita ke sofa, dan suster pun membantu mengelap darah yang keluar dari hidung ustadz Fikri hingga bersih, Novita masih tidak sadarkan diri. Hingga jam menujukan pukul 4:45 Novita terbangun, dan melihat suster yang duduk di samping nya....


“Suster,” ucap Novita duduk.


“Mbak takut ya sama darah,” ucap suster.


“Hah? Iya,” ucap ustadz Novita.


Novita melihat ke arah ustadz Fikri yang tersenyum....


“Tapi saat kaki kamu luka, kamu gak takut,” ucap ustadz Fikri.


“Itu kan darah aku sendiri,” ucap Novita.


“Sebenarnya mbak ini enggak takut, Cuma ia fobia pada darah orang dan ia merasa cemas, oleh sebab itu mbak Novita pingsan,” ucap suster.


“Oh gitu ya suster,” ucap Novita.


“Iya, saya permisi dulu ya,” ucap suster pergi.

__ADS_1


__ADS_2