Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 05


__ADS_3

Terus berjalannya waktu tak terasa Isma Novita, dan juga Bibah, sudah 2 tahun di ponpes Al-Amin, kurang 1 tahun lagi Novita, Isma, Bibah, dan juga Dila akan lulus. Karena tahun ini Isma dan Novita tidak pulang, saat Novita dan juga Isma sedang duduk di depan musholla, ustadzah Nurul mendekati Novita dan Isma....


“Novita, Isma, kalian ke kantor ya, ada yang ingin bertemu dengan kalian,” ucap ustadzah Nurul tersenyum.


Novita dan Isma saling menatap, siapa yang ingin bertemu dengan mereka? Akhirnya mereka pergi ke kantor. Saat sampai di kantor Novita dan Isma kaget karena melihat orang tua nya berada disana, Novita dan Isma langsung memeluk orang tua nya...


“Ibu,” ucap Novita memeluk ibu nya.


“Mamah,” ucap Isma memeluk mamah nya.


Akhirnya rasa rindu mereka terobati, orang tua mereka membawakan makanan kesukaan anak nya. Karena Novita dan Isma masih rindu, mereka tidak peduli dengan makanan yang mereka bawakan, tetapi Novita dan Isma tidak mau melepaskan pelukannya itu. Ternyata ustadz Fikri dan juga ustadz Azka melihat Novita dan Isma tersenyum saat memeluk orang tua nya.


Kurang lebih setengah jam Novita dan Isma memeluk orang tuanya, kini orang tua nya harus pulang. Dengan berat hati Novita dan Isma melepas pelukannya. Setelah orang tua nya pergi, Novita dan Isma pergi ke kamar untuk berbagi oleh-oleh dari orang tua nya untuk teman-teman nya di kamar.


“Wah makanan nih,” ucap Dila.


“Iya nih makan,” ucap Novita nada lemas.


“Wihh, ada brownis coklat nih,” ucap Dila.


“Iya ada kue bolu juga lagi,” ucap Bibah.


“Kalian kenapa sih, kan habis ketemu orang tua kok sedih gitu,” ucap Bibah sambil memakan kue bolu.


“Masih kangen,” ucap Novita dan Isma serentak.


Dila dan Bibah pun saling melihat satu sama lain, sambil memakan oleh-oleh dari orang tua Novita dan Isma.


“Udah jangan sedih gini, nanti orang tua kalian di rumah ikut sedih,” ucap Dila.


“Iya tuh bener banget,” ucap Bibah.


Novita dan Isma yang sadar kue dari orang tua nya tinggal sedikit pun langsung mengambil nya, Karena Novita dan Isma belum memakan nya sedikit pun....


“Sini,” ucap Novita menarik makanan nya.


“Iya ini juga,” ucap Isma menarik tempat makanan nya.


“Ya elah mau satu lagi nah Nov,” ucap Dila.


“Aku juga Isma mau satu lagi,” ucap Bibah.


“Kalian udah banyak, aku belum makan satu pun ini kan kue kesukaan aku,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.


“Iya nih, ini kan juga kue kesukaan aku,” ucap Isma.


“Satu lagi pliss,” ucap Dila dan Bibah serentak.


Karena kue nya yang tinggal sedikit Novita dan Isma lari keluar kamar, Dila dan Bibah pun mengejar Isma dan Novita. Terjadilah kejar-kejaran, saat Novita terus berlari tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Novita hingga kue kesukaan nya jatuh...


“Aduh, ahh kue aku,” teriak Novita melihat kue nya yang terjatuh.


“Maaf, maaf sekali,” ucap ustadz itu yang tak lain adalah ustadz Fikri.


Rasa ingin marah dan juga nangis bercampur aduk, tetapi Novita tidak mungkin memarahi ustadz Fikri, Novita pun hanya terdiam dengan wajah sedih....


“Novita, maaf ya ustadz tidak sengaja,” ucap ustadz Fikri.


“Iya gpp ustadz,” ucap Novita.


Ustadz Fikri pun pergi karena ia buru-buru, teman-teman Novita mendekati Novita....


“Yah kue nya jatuh, kamu sih pelit sama aku,” ucap Dila.


“Ah, aku belum tau rasa nya,” ucap Novita menangis.


“Kenapa tadi kamu gak marah-marah sama ustadz Fikri, minta ganti kue nya,” ucap Isma.


“Enggak ah, gak enak marah-marah sama ustadz,” ucap Novita.


“Udah nih makan kue aku aja,” ucap Isma.


“Tapi kue brownis coklat aku,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.


“Udah nanti kalo ada waktu keluar kita beli aja,” ucap Isma.


Akhirnya mereka pun memakan kue bolu Isma bersama-sama, setelah makan kue pun Isma pergi ke kelas karena ada setoran hafalan. Tepat pukul 13:30, mereka berempat pergi ke kelas untuk setoran hafalan, ternyata hari ini setoran hafalan ke ustadzah Rifda. Novita takut jika ustadzah Rifda tidak mau menerima setoran hafalan nya, karena kejadian 1 tahun yang lalu. Dengan rasa takut Novita maju...


“Ayok baca,” ucap ustadzah Rifda.


Novita pun menyetor hafalan nya, dengan lancar. Saat Novita ingin mundur, ustadzah Rifda memberikan surat kepada Novita, Novita pun mengambil surat itu lalu pergi ke belakang.


Setelah semua selesai setoran hafalan, mereka berempat pun pergi ke kamar, saat sampai di kamar Novita bercerita kepada Isma, Dila, dan juga Bibah, bahwa ia mendapat kan surat dari ustadzah Rifda, semua pun kaget, lalu Novita membuka surat itu.....


ISI SURAT: “Assalamualaikum, Novita maafin ustadzah ya tentang kejadian 1 tahun yang lalu, dari kejadian itu ustadzah batal menikah dengan ustadz Fikri, ustadzah tidak menyalahkan kamu. Ustadzah sadar bahwa apa yang ustadzah lakukan itu semua salah, oleh karena itu ustadzah meminta maaf sama kamu. Kalo kamu berjodoh dengan ustadz Fikri, jaga ustadz Fikri ya, jangan sakiti dia, ustadzah yakin kamu wanita yang baik, waalaikumsalam.”


Saat membaca surat itu perasaan Novita bingung, antara senang atau sedih?


“Hm banyak tuh peluang buat jadi istri ustadz Fikri,” ucap Dila.


“Eh tapi ini musibah loh buat ustadzah Rifda,” ucap Novita.


“Yang penting bukan musibah buat kamu,” ucap Isma.

__ADS_1


“Ini aku senang, tapi juga sedih,” ucap Novita dengan wajah bingung.


“Udah senang aja,” ucap Bibah.


“Tapi kan ustadz Fikri nya belum tentu suka sama aku,” ucap Novita.


“Ya berdoa,” ucap Isma.


“Kamu nikung di sepertiga malam manjur ya Vi, tapi kenapa aku belum ya,” ucap Isma nunduk.


“Belum saat nya,” ucap mereka bertiga bersama.


“Gak usah teriak-teriak bisa gak sih,” ucap Isma.


“Sory,” Novita senyum.


Malam pun tiba, selesai semua kegiatan para santri, Novita, Isma sedang berjalan-jalan menuju kamar. Tiba-tiba ada ustadz Fikri dan juga ustadz Azka memanggil Novita dan Isma, langkah Isma dan Novita pun terhenti....


“Assalamualaikum, ukhty Novita dan ukhty Isma,” ucap ustadz Fikri.


“Wassalamu’alaikum,” jawab Isma dan Novita serentak.


“Ada apa ya ustadz?” Tanya Novita.


“Ini kue brownis coklat nya ana ganti, maaf ya kejadian tadi pagi, sungguh ana tidak sengaja,” ucap ustadz Fikri.


“Eh kenapa repot-repot ustadz, ana enggak marah kok,” ucap Novita.


“Gpp rasa maaf ana,” ucap ustadz Fikri.


“Ya sudah ana terima ya ustadz kalo begitu kami berdua permisi dulu ustadz, assalamualaikum,” ucap Novita pergi bersama Isma.


“Ente suka ya sama ukhty Novita,” ucap ustadz Azka.


“Ente apa-apaan sih,” ucap ustadz Fikri tersenyum.


“Berarti memutuskan hubungan dengan ustadzah Rifda ada ganti nya tuh ukhty Novita,” ledek ustadz Azka.


“Apaan sih ente, kalo bicara hati-hati nanti kalo ada yang mendengar timbul fitnah,” ucap ustadz Fikri.


“Iya,” ucap ustadz Azka.


Novita dan Isma pun sampai di kamar, hati Novita benar-benar berbunga-bunga, Dila dan Bibah heran melihat tingkah laku nya Novita...


“Is, Novita kesambet setan dimana?” Tanya Dila.


“Tuh di jalan, pas di perbatasan antar wilayah santri putra dan juga santri putri,” ucap Isma tertawa.


“Eh tapi kok ada kue brownis coklat lagi?” Tanya Dila.


“Di kasih pangeran donk,” ucap Novita senyum.


Isma dan Bibah mengangkat kedua alis nya dan saling melihat satu sama lain...


“Pangeran turun dari genteng,” ucap Isma.


“Udah ah bagi kue nya,” ucap Dila.


“Jangan lah, ini kan spesial dari pangeran,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.


“Pelit kuburan nya sempit,” ucap Dila, Bibah, dan Isma serentak.


“Ih gak gitu, yaudah nih potong,” ucap Novita.


“Nah gitu donk,” ucap Isma.


Semua pun memakan kue brownis coklat itu dengan lahap, apa lagi Novita, Novita merasa bahwa kue itu penuh dengan cinta, jadi Novita makan lebih lahap lagi. Setelah makan kue brownis coklat itu hingga habis, semua pun tertidur sangat pulas.


Hingga saat suara waktunya shalat subuh, mereka berempat tidak shalat subuh. Semua bangun jam 7, itu pun karena ustadzah Nurul mengetuk pintu kamar mereka...


“Assalamualaikum, Novita, Isma, Dila, Bibah,” ucap ustadzah Nurul mengetuk pintu kamar.


Isma dengan mata yang masih sangat ngantuk pun membuka pintu, dan saat melihat bahwa itu ustadzah Nurul dan melihat matahari sudah sangat tinggi Isma terkejut....


“Bagus ya tadi tidak ikut shalat subuh,” ucap ustadzah Nurul nada marah.


Yang lain pun terbangun, dan terkejut melihat ada ustadzah Nurul....


“Selamat pagi nona-nona cantik,” ucap ustadzah Nurul senyum kesal.


“Kenapa baru bangun!!” Bentak ustadzah Nurul.


“Ma...maaf ustadzah,” ucap mereka berempat serentak.


“Ini ponpes bukan hotel! Kalian ikut ke kantor, “ ucap ustadzah Nurul pergi.


“Kok bisa kesiangan sih? Gak ada yang bangun tadi subuh?” Ucap Novita.


“Enggak lah kekenyangan aku,” ucap Dila tertawa kecil.


“Udah lah pasrah pasti kena hukum,” ucap Isma.


Mereka berempat pun pergi ke kantor, sesampai di kantor mereka sudah melihat kertas karton yang bertulis “SAYA TIDAK SHALAT SUBUH”....

__ADS_1


“Ini ambil satu-satu, terus di angkat seperti ini, lalu berdiri di perbatasan santriwati dan santriwan, menghadap ke wilayah santriwan,” ucap ustadzah Nurul...


Semua pun pergi ke perbatasan, menjalankan hukuman itu. Para santri putri maupun santri putra menertawakan mereka berempat...


“Ah gara-gara kamu nih Nov,” ucap Isma.


“Kok gara-gara aku? Salah aku dimana?” Ucap Novita.


“Coba kamu enggak di kasih kue, terus kita gak makan langsung di habisin, terus kita kekenyangan sampai gak bangun subuh, gak mungkin kita di hukum gini,” ucap Isma.


“Ya udah sih, udah terjadi juga,” ucap Novita.


Tepat jam 12:00 hukuman itu berakhir, sebelum mereka berempat pergi ke kamar untuk mengambil peralatan shalat, ustadzah Nurul memperingatkan lagi...


“Lain kali kalo shalat subuh bangun, jangan seperti tadi, Novita, Isma kalian udah dapat 2 kali hukuman kan?” Ucap ustadzah Nurul.


“Na’am ustadzah,” ucap Isma dan Novita serentak.


“Kalo sekali lagi kamu berbuat kesalahan, orang tua kalian kami panggil,” ucap ustadzah Nurul.


“Paham!” Sambung ustadzah Nurul.


“Paham ustadzah,” ucap Novita dan Isma serentak.


“Ya sudah siap-siap shalat Dzuhur sana,” ucap ustadzah.


Mereka berempat pun pergi ke kamar untuk mengambil peralatan shalat...


“Pusing kepala aku,” ucap Novita memegang kepala nya.


“Kamu sakit? Kalo sakit bilang, jadi ustadzah gak salah paham terus,” ucap Dila.


“Iya Nov,” ucap Isma.


“Aku lapar,” ucap Novita sambil tertawa kecil.


“Hm, semua juga lapar Novita, tapi kita harus shalat dulu baru bisa ke kantin,” ucap Isma.


“Iya,” ucap Novita.


Setelah selesai melaksanakan shalat Dzuhur, mereka berempat pergi ke kantin untuk makan siang. Saat sampai di kantin Novita melihat ustadz Fikri bersama dengan ustadzah Rifda...


“Bukan nya kata nya gak jadi nikah ya?” Ucap Dila berbisik kepada Novita.


“Iya Nov, surat yang kamu tunjukin ke kita itu real kan dari ustadzah Rifda,” ucap Isma.


“Apa an sih kalian, emang nya kalo udah gak punya hubungan gak boleh bareng-bareng lagi,” ucap Novita.


“Ya enggak itu kelihatan nya dekat banget loh, kek zaman dulu,” ucap Isma.


“Kompor aja terus kalian berdua, bersyukur Novita berpikir positif malah di kompor in,” ucap Bibah.


“Nah bener nih,” ucap Novita.


“Lagian ya walaupun gak punya hubungan emang gak boleh jadi teman? Memutus tali silaturahmi kan gak bagus,” sambung Novita.


“Iya-iya calon ustadzah,” ucap Dila dan Isma serentak.


Sebenarnya nya Novita juga punya pikiran bahwa, ustadzah Rifda hanya berbohong, tetapi ia tidak mau lagi bertengkar, oleh karena itu Novita lebih baik diam.


Setelah makan siang, mereka berempat duduk di bawah pohon seperti biasa....


“Nov, nanti kalo udah lulus kamu mau lanjut ke mana?” Tanya Dila.


“Pengen kuliah sih, tapi gak tau juga sih,” ucap Novita.


“Kalo kamu Is?” Tanya Dila.


“Enggak tau juga, aku mah nurut sama orang tua aja,” ucap Isma.


“Berarti kalian pisah donk?” Ucap Bibah.


“Ya enggak tau juga sih,” ucap Novita.


“Iya, toh kalo kita memang berpisah, mungkin Cuma beda jurusan aja,” ucap Isma.


“Nah bener tuh,” ucap Novita.


Mereka pun mengobrol dengan canda tawa, tiba-tiba Novita berpamitan untuk pergi ke toilet. Saat di tengah perjalanan Novita bertemu dengan senior yang bernama Limah...


“Eh ada Lo,” ucap Limah menatap Novita.


“Apa sih kamu lihat-lihat suka ya sama aku, iya aku tau aku cantik, tapi biasa aja kamu itu cewek,” ucap Novita dengan PD nya.


“Cantik sih Cuma gatel aja,” ucap Limah pergi sambil menyenggol pindah Novita.


“Astagfirullah, ada ya senior kek dia,” ucap Novita.


Malam pun tiba, semua sudah selesai shalat isya, semua teman satu kamar dengan Novita sudah tidur lebih awal karena mereka takut bangun subuh nya kesiangan seperti tadi. Tapi tidak dengan Novita, Novita mengambil buku diary nya, dan menulis apa yang iya rasa nya...


Note Diary: “pengalaman ku saat di ponpes Al-Amin. Aku memang sudah jatuh cinta dengan dia sebelum aku di ponpes ini, dan aku juga sudah mengetahui bahwa dia memiliki pasangan. Dengan perasaan yang amat begitu yakin, bahwa dia adalah jodoh ku, dan ternyata benar. Dia, kandas dengan kekasihnya. Rasa bahagia, dan rasa sedih menjadi satu, aku bahagia dia bukan milik siapa pun, tetapi aku juga sedih, apa kah aku dalang dari sebuah hubungan mereka? Apa kah aku penyebab hubungan mereka kandas? Memang nya jika mereka sudah kandas dia akan menjadi milik ku? Pertanyaan itu yang terus menghantui aku. Entah lah aku berserah diri pada Allah SWT. Aku yakin jalan Allah lebih ini daripada rencana ku.” _from Novita_


Setelah menulis itu Novita pun menutup diary nya, dan menaruh diary itu di tempat asal nya, karena Novita merasa sangat ngantuk Novita pun tidur.

__ADS_1


__ADS_2