
Jam pun menunjukkan pukul 13:00, hari ini ustadzah Fatimah akan mengumpulkan semua ustadzah, untuk di tanyakan seberapa luas wawasan ustadzah itu. Termaksud Fikri dan Azka....
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap ustadzah Fatimah.
“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap all.
“Di siang hari ini ustadzah ingin tes seberapa luas wawasan kalian selama memberikan materi terhadap santri-santri,” ucap ustadzah Fatimah.
“Baik lah ustadzah akan mulai ya, ustadzah akan menjelaskan tentang perbedaan ta’aruf dengan pacaran dalam Islam, setelah selesai ustadzah menjelaskan ustadzah akan bertanya kepada kalian,” ucap ustadzah Fatimah.
“Na’am ustadzah,” ucap all.
“Dalam Q.S Al-Hujurat Allah SWT berfirman yang artinya “Hai manusia sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (li-ta’aruf) (QS Al-Hujurat:13),” ucap ustadzah Fatimah.
“Proses ta’aruf pada masa sekarang bisa dikatakan sebagai tahap awal perkenalan. Akan tetapi kegiatan ta’aruf ini jarang dilakukan di masa sekarang. Banyak pemuda yang mencari jodoh dengan cara pacaran. Terus apa perbedaan antara ta’aruf dan pacaran padahal keduanya sama-sama untuk mengenal calon pasangan,” ucap ustadzah Fatimah tersenyum.
Novita dan Fikri memperhatikan dengan sungguh-sungguh...
“Dalam hal tujuan
Ta’aruf bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain menuju ikatan yang suci dalam pernikahan. Sedangkan pacaran bertujuan hanya untuk bersenang-senang tanpa ada ikatan. Kedua sejoli hanya berdua-duaan tanpa ada ikatan resmi. Inilah yang dilarang dalam agama. Pacaran tidak salah, yang salah adalah tujuan kita, cara kita melakukan nya, itu yang salah dan di larang dalam agama Islam,” ucap ustadzah Fatimah.
“Nah, bagaimana dengan pacaran? Bukankah itu juga sebenarnya sebuah proses berkenalan juga? Betul, pacaran merupakan proses untuk mengenali calon pasangan. Malah pacaran itu terkadang bukan saja sekedar mengenali, tapi bisa sampai pada tahap memahami. Bedanya adalah, ta’aruf itu proses berkenalan yang dibatasi dengan kaidah-kaidah syariat Islam. Bahkan jauh lebih rijit dibandingkan proses pacaran. Ta’aruf jauh lebih simpel, tak perlu datang ngapel setiap malam minggu selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Cukup sebulan proses ta’aruf, umumnya lanjut proses khitbah (lamaran) ke calon mertua. Jika diterima, sudah bisa ajak keluarga untuk melamar secara resmi dan menentukan tanggal akad nikah.” Jelas ustadzah Fatimah dengan wajah tersenyum melihat ke arah Novita dan Fikri.
“Ustadzah apa hukum nya berpacaran?” Tanya Aisyah yang membuat Novita dan Isma melihat ke arahnya.
“pada dasarnya pacaran sebagai sebuah bentuk sosialisasi dibolehkan selama tidak menjurus pada tindakan yang jelas-jelas dilarang oleh syara’. Yaitu pacaran yang dapat mendekatkan para pelakunya pada perzinaan,” ucap ustadzah Fatimah.
“Jadi dalam agama Islam tidak boleh berpacaran ya ustadzah?” Tanya Aisyah.
“Fikri coba baca surah yang menyatakan pacaran itu haram,” ucap ustadzah Fatimah.
“surat Al Isra ayat 32 berbunyi:
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keju. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32),” ucap Fikri tunduk.
“Jangan dekati zina, setau ustadzah disini yang punya hubungan Fikri dan Novita, jadi gini, pacaran itu tidak salah, selagi kita tidak mendekati zina, apa sih zina ustadzah? Zina itu seperti kita berdua-duaan, saling tatapan mata, selalu memikirkan satu sama lain, itu adalah zina dalam pacaran, mangka nya lebih baik ta’aruf daripada pacaran,” ucap ustadzah Fatimah.
“Berarti yang pacaran harus putus ya ustadzah,” sindir Aisyah.
“Tidak, kalo kalian memang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius tidak papa, tapi jangan di nama kan pacaran, anggap aja kalian sedang menjaga komitmen,” ucap ustadzah Fatimah.
Aisyah pun kesal mendengar apa yang di ucapkan ustadzah Fatimah, bahwa mereka tidak perlu putus, tetapi saling mengikat komitmen....
“Ustadzah, komitmen itu apa ya?” Tanya Isma.
“Komitmen adalah, Ikatan batin yang perlahan muncul dari sebuah hubungan yang awalnya tanpa arah banyak terjadi. Tapi, bagi sebagian orang, komitmen jadi hal penting yang wajib dibahas di awal hubungan mereka. Jadi, lebih baik mana, berkomitmen sejak awal hubungan atau membiarkannya tumbuh sendiri seiring berjalannya waktu?” Ucap ustadzah Fatimah.
Novita saat itu diam seribu bahasa, ia merasa bersalah karena mengikat hubungan dengan Fikri dengan cara berpacaran. Pantas saja banyak cobaan yang datang....
“Ada yang mau di tanyakan lagi?” Tanya ustadzah Fatimah.
“Ya udah kalo udah paham sekarang ustadzah akan membagikan kelompok dalam 1 kelompok terdapat 2 orang, untuk presentasi atau pun kultum saat di akhir tes, itu yang akan menentukan kalian lulus atau tidak, kultum nya seterah ya mau bertema apa yang jelas itu yang sangat bermanfaat,” ucap ustadzah Fatimah.
“Fikri dan Azka kan mengawasi ya, jadi Fikri membatu Novita ya, sedangkan Azka membantu Isma,” ucap ustadzah Fatimah.
“Na’am ustadzah,” ucap all.
“Baik ustadzah akhiri ya assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap ustadzah Fatimah pergi.
Mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Malam pun tiba, malam ini banyak bintang-bintang, Novita dan Isma seperti biasa, duduk di tempat biasa mereka berkumpul tapi tidak dengan Aisyah....
“Si Aisyah tumben ya gak kesini,” ucap Novita.
“Mungkin dia kesel, ustadzah Fatimah pasangan kamu sama Fikri,” ucap Isma.
“Iya kali, tapi harus nya dia gak gini tau, masa iya Cuma gara-gara itu dia musuhin aku,” ucap Novita.
“Ya gimana?” Ucap Isma.
“Minta maaf yok, sumpah aku gak enak loh kalo gini,” ucap Novita.
“Ya udah ayok,” ucap Isma.
Isma dan Novita pun pergi mencari Aisyah, Isma dan Novita bertemu dengan Aisyah di depan musholla ia sedang duduk bersama dengan Cantika....
“Syah,” panggil Isma.
“Eh Is, ada apa?” Tanya Aisyah.
“Syah jangan gini donk, masa iya kamu marah sama aku Cuma gara-gara....,” Ucap Novita terpotong.
“Gimana gak marah, kamu tau kan aku suka,” ucap Aisyah.
“Aku lebih lama suka sama dia daripada kamu,” ucap Novita.
“Kamu jangan egois donk, Cuma gara-gara cowok kamu giniin aku,” ucap Novita.
“Kamu yang egois, dari pertama kali kamu masuk, aku baik sama kamu, tapi ini balasan dari kamu,” ucap Aisyah.
“Udah-udah, jangan berantem depan musholla donk,” ucap Isma.
“Ok, aku minta maaf,” ucap Novita.
“Putusin hubungan kamu sama dia baru aku bisa maafin kamu,” ucap Aisyah pergi.
“Lah dia yang egois donk,” ucap Novita kesal.
“Iya,” ucap Isma.
Pagi pun tiba, seperti biasa Isma dan Novita melakukan aktivitas seperti biasanya, setelah melakukan aktivitas seperti biasanya, Novita panik, ia melihat gelang capelan nya dengan Fikri tidak ada. Novita pun menemui Isma di perpustakaan.....
__ADS_1
“Isma, gawat ini,” ucap Novita panik.
“Gawat kenapa?” Tanya Isma.
“Gelang aku hilang,” ucap Novita.
“Loh kok bisa,” ucap Isma kaget.
“Ya mana aku tau, tadi habis aku ngajar, aku kan lihat tangan aku, nah di situ aku sadar kalau gelang nya hilang,” ucap Novita.
“Astagfirullah kenapa kamu ceroboh banget loh, kalo Fikri tau gimana?” Ucap Isma.
“Jangan bikin panik donk, hari ini kan aku mau bahas tentang kultum kelulusan nanti,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.
“Ya terus gimana?” Ucap Isma.
“Ya aku gak tau, bantuin nyari ya, Plisss,” ucap Novita memohon.
“Bantuin cari dimana?” Tanya Isma.
“Di tempat aku ngajar tadi, di kelas nya si curut,” ucap Novita.
“Ya udah nanti aku cariin,” ucap Isma.
“Ya udah aku mau nemuin Fikri dulu ya, Dadah,” ucap Novita pergi.
Novita dan Fikri sudah janjian di taman belakang ponpes untuk membahas kultum ke lulusan....
“Assalamualaikum, maaf ya telat,” ucap Novita duduk di samping Fikri dengan jaga jarak.
“Wassalamu’alaikum, iya gpp kok,” ucap Fikri.
Entah kenapa Novita merasa gugup, ia takut jika Fikri bertanya tentang gelang nya....
“Kamu mau kultum nanti bertema apa?” Tanya Fikri.
“Tentang pergaulan bebas gimana?” Ucap Novita.
“Bagus, ok deh, oh iya aku kata nya ada deh buku tentang pergaulan bebas,” ucap Fikri membuka tasnya.
“Nah ini,” ucap Fikri memberikannya kepada Novita.
Saat Novita mengambil buku itu, Fikri melihat tangan Novita yang tidak memakai gelang capelan nya.....
“Hm, Nov gelang kamu ke mana?” Tanya Fikri.
Novita pun kaget saat Fikri bertanya tentang itu....
“Maaf ya, maaf banget, gelang nya hilang,” ucap Novita tunduk.
“Kok bisa?” Ucap Fikri kaget.
“Maaf banget,” ucap Novita.
“Serius kamu gak marah?” Tanya Novita.
“Enggak lah, ngapain marah coba, itu kan Cuma gelang, nanti kalo ada waktu tinggal beli lagi,” ucap Fikri tersenyum.
“Makasih ya udah ngertiiin,” ucap Novita tersenyum.
“Iya,” ucap Fikri.
Setelah semua materi yang akan Novita bahas nanti saat kultum ke lulusan, Novita pun berjalan menuju kamar, tiba-tiba di tengah perjalanan Novita melihat Arif sedang memegang gelang nya. Tanpa berpikir panjang Novita langsung menemui Arif...
“Arif,” panggil Novita.
“Eh ustadzah,” ucap Arif tersenyum.
“Itu gelang dapat dimana?” Tanya Novita.
“Dari kelas,” ucap Arif.
“Balikin donk, itu gelang aku,” ucap Novita.
“Oh gelang nya ustadzah, boleh sih, aku balikin tapi ada syaratnya,” ucap Arif.
“Apa?” Tanya Novita.
“Makan siang bareng ya hari ini,” ucap Arif.
“Hah?” Ucap Novita kaget.
“Kalo gak mau gpp sih, tapi gelang nya jadi milik aku,” ucap Arif.
“Ya udah iya, ayok,” ucap Novita.
Novita pun terpaksa makan siang dengan Arif, kalo bukan karena gelang itu, mungkin Novita menolak ajakan Arif. Saat Arif memandangi Novita, tiba-tiba Fikri datang, wajah nya seperti orang marah. Novita yang melihat Fikri pun kaget, Arif pun langsung pergi, gelang yang di pegang Arif pun sudah di berikan kepada Novita...
Novita diam seribu bahasa, lalu Fikri pun mengajak Novita berbicara di bawah pohon, saat sampai di bawah pohon perasaan Novita takut, sampai Novita tidak berani melihat wajah Fikri....
“Ngapain makan siang sama dia,” ucap Fikri membelakangi Novita.
“Maaf,” ucap Novita tunduk.
“Aku tanya kenapa?” Ucap Fikri nada marah.
“Karena gelang aku ada sama dia, saat aku minta gelang nya dia ngasih persyaratan, persyaratan nya harus makan siang sama dia, aku lakuin itu semua supaya dapatin gelang ini,” ucap Novita.
“Gelang? Mana gelang nya?” Ucap Fikri mengambil gelang yang di penggang Novita, dan melepas gelang yang ia pakai, lalu melemparkan gelang itu.
“Kok di buang?” Tanya Novita.
“Gelang itu bisa di beli lagi, aku kan bilang gpp gelang nya hilang, aku gak peduli, itu Cuma lah barang, aku gak suka kamu Deket sama yang lain, ok kalo Cuma teman, tapi itu Arif tadi mandangin kamu begitu,” ucap Fikri panjang.
__ADS_1
“Ya maaf,” ucap Novita tunduk.
Fikri pun mendekati Novita..
“Nov, barang itu bisa di beli lagi, kalo itu sudah hilang biarkan aja jangan di cari lagi,” ucap Fikri.
“Iya, aku gak akan ngulangin lagi,” ucap Novita.
“Maaf ya, udah bentak kamu,” ucap Fikri.
“Iya gpp kok,” ucap Novita tersenyum.
“Ya udah balik gih ke kamar,” ucap Fikri.
“Iya, assalamualaikum,” ucap Novita pergi.
“Wassalamu’alaikum,” ucap Fikri.
Entah kenapa hari Novita sangat bahagia, mendengar ucapan Fikri, bahwa itu hanya lah barang, dan Novita juga semangkin yakin, kalo hati Fikri hanya untuk dia, karena apa? Karena Fikri bilang, bahwa ia tidak suka Novita dekat dengan laki-laki lain. Novita menemui Isma yang sedang duduk di tempat biasa, dengan raut wajah yang gembira....
“Kenapa kamu Nov?” Ucap Isma heran.
“Gak mungkin kan kalo Cuma ketemu pangeran segitunya kan udah resmi,” sambung Isma.
“Aku senang pas lihat Fikri cemburu,” ucap Novita tersenyum.
“Hah? Cemburu gara-gara apa?” Tanya Isma.
“Gara-gara aku makan siang sama si curut,” ucap Novita.
“Astagfirullah Novita!!” Ucap Isma teriak.
“Kamu selingkuh sama si curut? Level kamu rendah banget ya,” ucap Isma menatap Novita.
“Heh ngawur kamu ya,” ucap Novita menatap Isma kembali.
“Lah lagian kamu makan siang sama curut, coba sama ustadz yang lebih ganteng gitu daripada si Fikri masih mending,” ucap Isma.
“Gak ada ustadz yang lebih ganteng dari Fikri,” ucap Novita.
“Iya dah serah mu,” ucap Isma
Malam pun tiba, malam ini cuaca nya seperti mau hujan, Isma dan Novita duduk di depan kamarnya, sambil melihat ke arah langit...
“Is, gak enak deh musuhan gini,” ucap Novita.
“Kamu kira enak apa, aku tuh jadi bingung, mau makan siang sama kamu atau sama si Aisyah, kan kepala aku jadi pusing, coba gak marahan kita bisa bareng-bareng bertiga,” ucap Isma.
“Ya udah kalo gitu bantuin aku biar aku baikan sama si Aisyah,” ucap Novita.
“Nah aku punya ide nih,” ucap Isma.
“Apa,” ucap Novita.
“Gimana kalo kamu bilang aja sama si Aisyah kalo kamu udah putus sama si Fikri, padahal enggak, kamu juga bilang sama si Fikri, suruh dia rahasiakan hubungan kalian, di tempat umum kalian tidak ada hubungan apa-apa tapi di kenyataan nya kalian masih ada hubungan,” ucap Isma.
“Nah, kok tumben kamu pinter,” ucap Novita mengangkat kedua alis nya.
“Isma mah selalu pintar,” ucap Isma.
“Ok jadi besok aku akan bilang sama si Fikri,” ucap Novita.
“Sip,” ucap Isma.
Pagi pun, Novita langsung pergi mencari Fikri, dan akhirnya bertemu, Novita langsung menceritakan semuanya, dan Alhamdulillah Fikri setuju dengan rencana Novita. Setelah itu Novita pergi menemui Isma, setelah itu Isma dan Novita pergi menemui Aisyah....
“Syah,” panggil Isma.
“Iya kenapa,” ucap Aisyah.
“Aku udah putus sama Fikri, kata kamu kalo aku putus kamu bakal maafin aku,” ucap Novita.
“Serius?” Ucap Aisyah kaget.
“Iya lah serius,” ucap Novita.
“Ok aku maafin, jadi aku bebas mau dekat-dekat sama si Fikri,” ucap Aisyah wajah tersenyum.
“Ada ya orang kek dia, kata nya aja ponakan kiyai tapi akhlak nauzubillah,” ucap batin Novita.
Novita pun berjalan, entah kemana yang akan Novita tuju. Kini Novita harus kuatkan hatinya melihat Aisyah mendekati Fikri, tapi ini semua demi hubungan dia dengan Aisyah baik-baik saja dan juga hubungan dengan Fikri baik-baik saja.
Saat jam makan siang, Novita dan Isma sudah sampai di kantin, sedangkan Aisyah datang bersama Fikri, Fikri melihat ke arah Novita dengan wajah yang sedih, kalo bukan karena hubungan nya Fikri tidak mau melakukan hal bodoh seperti ini...
“Tenang Nov,” ucap Isma menenangkan Novita.
“Ini udah tenang,” ucap Novita sambil menggigit makanan nya.
Dengan seiringnya waktu, 1 Minggu pun berlalu, selama 1 Minggu Novita harus merasakan rasa nya sakit, melihat kekasihnya berdekatan dengan orang lain. Di pagi ini ustadzah Fatimah menugaskan Novita dan Fikri untuk mengajar di sebuah madrasah Tsanawiyah, ustadzah Fatimah sudah tau semua nya bahwa Fikri dan Novita sedang ekting berpura-pura musuhan padahal tidak. Mangkanya ustadzah Fatimah menugaskan Novita dan Fikri mengajar di luar ponpes. Hari Novita sangat senang mendengar ucap ustadzah Fatimah, karena ia hari ini tidak akan melihat Fikri berdekatan dengan wanita lain.
Novita dan Fikri pergi ke madrasah Tsanawiyah itu menaiki motor, karena kalo menaiki mobil kan hanya berduan bukan muhrim, jadi Fikri memutuskan untuk menaiki motor. Mereka pun berangkat menuju ke madrasah itu, Fikri membawa motor dengan santai, kurang lebih setengah jam perjalanan, Fikri dan Novita berhenti di sebuah warung, mereka berhenti karena heran mengapa dari tadi tidak menemukan alamat nya.....
“Ini udah setengah jam perjalanan kenapa belum ketemu juga sih madrasah nya,” ucap Fikri.
“Iya, kek nya ini alamat palsu kali ya,” ucap Novita.
Fikri yang lama tidak memandang Novita pun, kini ia bisa memandang Novita dari dekat, Fikri tersenyum melihat Novita mengomel karena tidak menemukan alamat nya. Novita yang sadar dari tadi Fikri melihat nya pun tersipu malu...
“Apa an sih, ngelihat nya gitu banget,” ucap Novita menahan tawa.
“Hm gpp sih,” ucap Fikri tersenyum.
“Ini gimana?” Ucap Novita.
__ADS_1