Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 03


__ADS_3

Novita yang perasaan nya sedang bahagia pun menemui Isma dengan wajah senyum-senyum, Isma yang melihat nya pun bingung, sudah basah kuyup wajah nya senyum-senyum enggak jelas, emang sungguh aneh...


“Woyy!” Ucap Isma memukul pundak Novita.


“Apa an sih, ganggu orang lagi bahagia,” ucap Novita seketika wajah tersenyum menjadi kesal.


“Ya kamu kenapa basah kuyup gitu, orang Cuma suruh ambil air, enggak di suruh nyebut di kali, kenapa basah kuyup gitu?” Ucap Isma.


“Aku tadi main hujan-hujanan sama pangeran aku,” ucap Novita tersenyum.


“Mbak bangun mbak, halu nya di kontrol,” ucap Isma.


“Dah ah mau ganti baju dulu,” ucap Novita pergi.


Isma pun masih heran, kerasukan hantu apa sahabat nya itu, apa iya tempat wudhu itu ada setan nya? Entah lah, Isma pun melanjutkan mengepel.


Setelah mengepel Isma menyusul Novita di kamar, saat masuk kamar Isma masih heran wajah bahagia Novita belum juga hilang....


“Nov kamu kenapa sih?” Tanya Isma menatap Novita.


“Eh kamu di bilangin aku habis mandi sama pangeran gak perayaan Banget,” ucap Novita.


“Woyy bukan muhrim,” ucap Isma nada sedikit teriak.


Novita pun menceritakan semua, Isma yang mendengarkan nya sedikit tidak percaya, tetapi tidak mungkin juga sahabat nya berbohong kepada Isma....


Novita menceritakan dengan wajah yang tersenyum-senyum, Isma yang mendengarkan hanya mengangguk saja...


“Oh gitu cerita nya,” ucap Isma.


“Iya, kamu iri ya, karena enggak bisa kaya aku,” ucap Novita meledek Isma.


“Dih siapa yang iri,” ucap Isma dengan wajah yang sinis.


“Hm pengen lagi kek tadi,” ucap Novita sambil memegang kedua pipi nya.


“Udah jangan di bayangin terus, ingat zina hati dan juga pikirin,” ucap Isma.


“Iya, dah yuk keluar ke kantin gitu, atau gak di bawah pohon,” ucap Novita.


“Ayok,” ucap Isma.


Isma dan Novita pun pergi ke bawah pohon, disana Isma curhat kepada Novita....


“Nov, kek nya halu aku terlalu tinggi ya,” ucap Isma dengan raut wajah sedih.


“Maksudnya Gimana?” Tanya Novita.


“Iya aku berkhayal, bakal sukses, jadi penulis buku, jadi model Muslimah, jadi istri ustadz Azka, tinggi banget gitu,” ucap Isma tersenyum terpaksa.


“Kita tuh enggak halu, Cuma kita punya impian yang harus di tuju,” ucap Novita.


“Iya impian itu terlalu tinggi,” ucap Isma.


“Ingat Is, kesuksesan bukan dari keturunan, tapi dari kemauan, kalo kamu dengan sungguh-sungguh pasti tercapai, ayok donk semangat, mengejar cita-cita kamu,” ucap Novita.


“Iya, tapi kalo ustadz Azka aku mundur,” ucap Isma.


“Ngapain mundur, janur kuning di depan rumah ustadz Azka belum melengkung, ngapain mundur, ingat manusia Cuma bisa berencana tetapi Allah yang menentukan,” ucap Novita.


“Wihh pinter ya sahabat aku sekarang, moga terus begini ya, buang sifat lucnat nya,” ucap Isma tersenyum.


“Belajar lah dari masa lalu, kalo masa lalu suram, masa depan jangan donk,” ucap Novita tertawa kecil.


Saat mereka asik berbicara, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa semua santri harus berkumpul di tengah lapangan, semua para santri berbondong-bondong menuju lapangan begitu juga dengan 2 sahabat sejati ini, yaitu Isma dan Novita.


Saat sudah sampai di lapangan ustadz Fikri memberi pengumuman....


“Assalamualaikum semua,” ucap ustadz Fikri.


“Waalaikumsalam,” ucap all.


“Alhamdulillah sampai detik ini kita masih di beri kesehatan, semoga kita selalu di lindungi oleh Allah ya aamiin,” ucap ustadz Fikri.


“Aamiin,” ucap all.


“Di siang hari ini ana mau memberikan sebuah pengumuman, jadi kami para ustadz ustadzah sudah berunding, bahwa kita akan liburan, seakan sama seperti sekolah pada umum nya,” ucap ustadz Fikri.


“Horreeeeee,” ucap all dengan wajah yang Sangat bahagia.


“Ustadz kita akan berlibur ke mana ya?” Tanya salah satu santri putra.


“Kita akan pergi ke sebuah desa, disana kami para ustadz ustadzah sudah memesan penginapan untuk kita semua, jadi kita tidak perlu lagi membuat tenda, karena menurut kami itu sedikit berbahaya,” ucap ustadz Fikri.


“Dan kita akan membagi kelompok ya, 1 kelompok minimal ada 5 orang ya, ustadz Azka Silahkan di baca kan pembagian kelompok nya,” ucap ustadz Fikri.


“Baik lah jadi kelompok 1 untuk santriwati yaitu, Novita, Isma, Tika, Limah, dan Veni,” ucap ustadz Azka.


“Yey kita satu kamar, dan satu kamar sama kakak kelas donk,” ucap Novita.


“Iya bener banget,” ucap Isma.

__ADS_1


Semua pun sudah ustadz Azka baca kan, dan semua berdiskusi dengan kelompok nya...


“Hai salam kenal ya,” ucap Tika tersenyum.


“Iya,” ucap Isma dan Novita serentak.


“Kita tetap harus bawa tenda ya, takut nya ada apa-apa,” ucap Veni.


“Iya, kita harus waspada,” ucap Tika.


“Gimana Lim?” Tanya Veni.


“Udah lah aku terima bersihnya aja,” ucap Limah nada judes.


“Ih nyolot banget sih,” ucap batin Novita kesal.


Malam pun tiba, Novita dan Isma menyiapkan baju-baju untuk besok, Novita pun masih kesal dengan teman satu kelompok nya yang bernama Limah....


“Sumpah ya kesel aku sama yang nama nya Limah, nyolot kali,” ucap Novita kesal.


“Wajar lah dia kan lebih lama di sini,” ucap Isma.


“Iya tapi gak usah nyolot bisa gak sih,” ucap Novita kesal.


“Sabar yang lebih lama kan gitu semena-mena,” ucap Isma.


“Hm iya juga sih,” ucap Isma.


Pagi pun, semua santri sudah berkumpul di depan gerbang, semua santri memasukkan barang-barang nya ke dalam mobil, setelah itu para santri masuk ke dalam mobil, Isma dan Novita seperti biasa tidak bisa di pisahkan, kurang lebih 1 setengah jam, mereka sampai di desa ujung baru, dan semua para santri mengeluarkan barang-barang nya dari dalam mobil, desa itu masih seperti hutan, Karena penduduk yang masih jarang.


Novita dan kelompok nya pergi ke kamar nya yang sudah di tunjukan oleh ustadzah Nurul, sampai di dalam kamar Novita langsung membaringkan badan nya....


“Awas! Gw yang tidur disini, Lo cari kasur lain sana!,” Ucap Limah nada judes.


Dengan perasaan kesal pun Novita pindah....


“Ingat ya aku mau satu kasur sendirian, kalian berdua-dua aja,” ucap Limah.


“Wee! Ketua kelompok nya kamu? Kok ngatur-ngatur,” ucap Novita nada marah.


“Berani banget ya Lo sama gw, ingat ya walaupun gw bukan ketua kelompok tapi gw yang ngatur,” ucap Limah menatap tajam Novita.


“Sok bijak,” ucap Novita sambil memutar dua bola mata nya.


“Udah-udah jangan berantem, mending keluar yuk,” ucap Tika


Mereka pun keluar kamar, dan berkumpul di luar sambil mendengarkan pengarahan dari ustadz Fikri....


“Hari ini kita akan jalan melihat pemandangan sawah ya, ini jam 9:00, minal jam 5:00 sudah pulang,” ucap ustadz Fikri.


Selesai pengarahan dari ustadz Fikri, mereka pun berjalan, kelompok Novita berjalan paling belakang karena Limah yang sangat lambat jalan nya, saat terus berjalan mereka melihat jalan yang berpisah, ada belok kiri dan belok kanan....


“Gara-gara kamu lambat banget jadi ketinggalan kan, ini belok mana coba!” Nada bentak Novita.


“Udah Lo gak usah bingung gitu, kita belok kanan,” ucap Limah berjalan belok kanan.


“Sok tau banget,” ucap Novita kesal.


“Udah kita ikutin aja yuk,” ucap Isma.


Mereka pun mengikuti Limah belok kanan, setelah setengah jam perjalanan, mereka heran kenapa mereka tidak melihat sawah sama sekali, yang mereka lihat hanya lah hutan, karena mereka lelah mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar....


“Udah setengah jam kita jalan gak ada tuh aku lihat sawah,” ucap Novita.


“Iya bener banget, kek nya kita nyasar deh,” ucap Isma.


“Mangka nya jangan sok di depan jadi nya kan gini,” ucap Novita nada marah.


“Apa sih Lo kerjaan nya nyalahin orang,” ucap Limah nada judes.


“Ya kan Lo yang sok banget,” ucap Novita.


“Udah-udah jangan berantem mending kita putar balik aja,” ucap Veni.


“Iya bener banget, yaudah yok,” ucap Isma.


Disisi lain, para santri sudah sampai di persawahan yang sangat indah, ustadz Azka yang melihat-lihat para santri merasa ada kurang, lalu ustadz Azka Laporan kepada ustadz Fikri....


“Ustadz, kelompok satu tidak ada,” ucap ustadz Azka.


“Masa iya,” ucap ustadz Fikri, lalu pergi melihat nya, dan ternyata benar kelompok 1 tidak ada.


“Ini kelompok 1 putri mana?” Ucap ustadz Fikri panik.


“Tidak tau ustadz,” ucap all.


“Astagfirullah, ini bagaimana,” ucap ustadz Fikri panik.


“Gini aja bagaimana kalo ustadz Fikri dan ustadz Azka pergi putar balik, sebelum kita belok kiri kan ada juga belok kanan, siapa tau mereka salah arah,” usul ustadzah Nurul.


“Iya biar kami yang menjaga mereka,” ucap ustadzah Rifda.

__ADS_1


“Ya sudah jangan ke mana-mana sebelum kami berdua kembali, kami permisi,” ucap ustadz Fikri pergi.


Hari semangkin gelap, Novita dan teman-teman nya yang putar balik pun belum ketemu jalan keluar nya, akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat....


“Gimana donk ini,” ucap Novita berjalan-jalan tiba-tiba kaki Novita terkena kayu dan mengeluarkan darah.


“Au sakit,” ucap Novita melihat kaki nya yang penuh dengan darah.


“yaAllah Nov, ada yang bawah p3k gak?” Tanya Isma.


“Gw sih bawa, tapi ogah ah,” ucap Limah membuang muka.


“Kok gitu sih, kamu nih gak ada kerja sama nya tau gak, ini teman kelompok kamu lagi kesusahan, kamu kan yang udah bikin kita kesini, harus tanggung jawab donk,” ucap Isma nada marah.


“Emang sengaja aku bikin kalian tersesat,” ucap Limah.


“Kurang ajar ya kamu,” ucap Isma ingin menampar Limah tetapi di halangi oleh Tika.


“Udah-udah, mending kaki Novita di bungkus memakai hijab aku nih, aku bawa 2 hijab,” ucap Tika.


“Makasih ya,” ucap Isma.


Isma pun mengikatkan hijab itu pada luka nya Novita, sekarang Novita berjalan pincang...


“Eh Nov bisa gak sih jalan lebih cepat,” ucap Limah.


“Bacot kamu,” ucap Novita yang sudah benar-benar kesal.


“Santri kok bicara nya gitu,” ucap Limah.


“Santri kok gak ada akhlak,” ucap Novita.


Tak terasa jam pun menujukan pukul 18:30, dan kelompok Novita belum juga menemukan jalan keluar nya, begitu juga dengan ustadz Fikri dan ustadz Azka belum juga menemukan kelompok Novita, mungkin selisih jalan...


“Hari udah semangkin gelap, dan kita belum juga menemukan mereka,” ucap ustadz Azka.


“Iya nih, mana mereka perempuan semua lagi,” ucap ustadz Fikri panik.


Kelompok Novita beristirahat lagi karena Novita mengeluh kaki nya yang semangkin sakit, darah di kaki Novita pun masih terus keluar....


“Udah lah aku nyerah, mending kalian aja yang terus jalan sambil cari jalan keluarnya, nanti terus kalian cari bantuan, baru deh kalian temuin aku lagi,” ucap Novita pasrah.


“Iya sih bener banget, kalo kita terus nungguin Novita kita gak akan nemuin jalan keluar nya,” ucap Tika.


“Tapi kalo gw sih gak mau bilang kalo Lo ada disini, biarin aja Lo mati emang gw pikirin,” ucap Limah nada sinis.


“Ya udah kalian pergi aja biar aku yang nemenin Novita disini,” ucap Isma.


“Lo nemenin dia disini, kalo gw sih ogah,” ucap Limah.


“Itu lah guna nya punya sahabat, suka dan duka selalu bersama, bukan hadir saat bahagia saja,” ucap Veni.


“Udah kita mau debat atau cari pertolongan, kasihan Novita,” ucap Tika nada tegas.


“Yaudah kita pergi dulu ya, ini air minum aku, dan ini senter ya, biar aku satu senter aja sama Tika,” ucap Veni.


“Makasih ya,” ucap Novita.


Mereka bertiga pun pergi, kini hanya tinggal Isma dan Novita di dalam hutan itu, Isma mengumpul kan kayu bakar untuk membuat api unggun, saat hari semangkin malam, angin pun semangkin kencang, mereka berdoa semoga teman-teman nya cepat kembali, disana Novita sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Isma....


“Makasih ya Is, udah mau nemenin aku, aturan tadi kamu pergi aja aku gpp kok,” ucap Novita.


“Ya kalo aku tinggalin kamu, kita susah senang harus bersama-sama,” ucap Isma.


“Iya,” ucap Novita.


Disisi lain, Tika, Veni, dan Limah terus berlari supaya cepat bisa minta pertolongan, dan saat mereka terus berjalan Alhamdulillah mereka bertemu dengan ustadz Azka dan ustadz Fikri....


“Alhamdulillah, kok kalian Cuma bertiga Novita dan Isma mana?” Tanya ustadz Fikri.


“Di makan binatang buas kali ustadz,” ucap Limah nada judes.


“Limah, jaga bicara kamu,” ucap ustadz Azka.


“Ada ustadz masih di dalam sama, kami keluar untuk meminta pertolongan, karena kaki Novita terluka ustadz,” ucap Tika.


“Astagfirullah,” ucap ustadz Fikri panik.


“Kalian bisa tunjukan dimana mereka?,” Ucap ustadz Fikri.


“Mari ustadz,” ucap Tika.


Novita sangat lemas, karena darah di kaki yang luka terus mengeluarkan darah, wajah Novita pun pucat, Isma yang mondar-mandir menunggu Tika.....


“yaAllah, ini kok lama banget ya,” ucap Isma panik.


“Is, kamu istirahat aja nanti kalo ada mereka aku bangunin,” ucap Novita nada lemas.


“Enggak usah, kamu aja ya yang tidur,” ucap Isma tersenyum.


Novita hanya tersenyum, tidak lama mereka pun sampai, ustadz Fikri yang melihat Novita lemas, dan melihat kaki nya yang luka, ustadz Fikri langsung mengikat luka nya dengan sorban nya, dan langsung menggendong Novita.

__ADS_1


Alhamdulillah mereka selamat, ustadz Fikri membawa Novita ke penginapan dan ustadz Azka menjemput yang lain nya, semua pun sudah sampai di penginapan. Isma pun langsung mengobati luka di kaki Novita...


“Kalian semua istirahat ya, besok kita bicarakan lagi kita akan kemana,” ucap ustadz Fikri kepada semua para santri.


__ADS_2