Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 04


__ADS_3

Pagi pun tiba, Novita mencuci sorban ustadz Fikri di sungai, kebetulan penginapan mereka dekat dengan sungai. Isma pun mendekati Novita....


“Hm, sorban penuh kasih sayang tuh,” ucap Isma meledek Novita.


“Apa an sih kamu,” ucap Novita.


“Terus bakal kamu kembalikan?” Tanya Isma.


“Ya iya lah nanti kalo ustadzah Rifda tau mati aku,” ucap Novita.


Isma pun hanya nyengir, disisi lain Limah menemui ustadzah Rifda dan menceritakan kejelekan Novita....


“Maaf ya ustadzah Rifda, Novita itu caper tau gak sama calon nya ustadz Fikri,” ucap Limah.


“Caper gimana maksud kamu?” Tanya ustadzah Rifda.


“Sebenarnya kemarin itu kaki nya tuh gak luka, tapi sengaja di lukai pakek kayu ustadzah,” ucap Limah.


“Lah supaya kenapa?” Tanya ustadzah Rifda.


“Supaya di gendong sama ustadz Fikri,” ucap Limah.


“Astagfirullah,” ucap ustadzah Rifda langsung pergi.


“Yes, berhasil siap-siap kamu Novita bakal di benci sama ustadzah Rifda,” ucap Limah dengan wajah gembira.


Ustadzah Rifda pun menemui ustadz Fikri, yang sedang duduk di bawah pohon, Karen pada saat Limah berbicara, ustadzah Rifda memang sedang kesal, jadi ustadzah Rifda terpancing emosi...


“Aku mau ngomong,” ucap ustadzah Rifda nada sedikit marah.


“Kamu apa-apa an sih, marah-marah gitu,” ucap ustadz Fikri mengajak ustadzah Rifda menjauh dari lokasi penginapan.


“Kamu yang apa-apa an, kamu ngapain gendong-gendong santri putri Novita?” Tanya ustadzah Rifda.


“Loh kamu gak lihat kaki dia terluka gitu?” Ucap ustadz Fikri.


“Dia itu pura-pura tau gak, dia sengaja lukai kaki nya supaya kamu gendong!” Bentak ustadzah Rifda.


“Astagfirullah, kamu kenapa sih? Kamu cemburu?” Tanya ustadz Fikri.


“Iya aku cemburu, cewek mana sih gak cemburu,” ucap ustadzah Rifda sambil nangis.


“Aku minta maaf ya, maaf kalo aku bikin kamu cemburu, aku bermaksud,” ucap ustadz Fikri.


Ustadz Fikri memang tidak bisa melihat wanita yang ia sayang menangis, dan ustadz Fikri juga tidak bisa membentak seorang perempuan, ternyata dari tadi Novita memperhatikan ustadzah Rifda dan juga ustadz Fikri, disana Novita berpikir, bahwa ustadz Fikri tidak akan pernah bisa meninggal ustadzah Rifda. Saat itu pun mood Novita yang awal nya bahagia menjadi sedih, Novita pun pergi dari lokasi itu.


Setelah semua sarapan ustadz Fikri dan juga panitia yang lain nya memberi arahan, mereka akan pergi ke mana hari ini....


“Baiklah kita hari ini akan mendaki gunung, perjalanan dari penginapan ini sekitar 2 sampai 3 jam, jadi kita pakai bus, kalo sudah masuk di gerbang pendakian baru kita jalan kaki,” ucap ustadz Fikri.


“Jadi kalian harus membawa tenda, karena kita akan menginap 1 sampai 2 hari di atas gunung sana,” sambung ustadz Azka.


Semua para santri pun mempersiapkan peralatan dan juga tenda untuk di bawa, Novita dengan mood yang kacau dia mempersiapkan peralatan tidak semangat....


“Novita apa kah kaki kamu sudah agak mendingan?” Tanya ustadz Fikri.


“Orang Cuma ekting aja ustadz di percaya,” sambung Limah.


“Mau kamu apa sih! Kamu tuh fitnah aja terus!” Ucap Novita nada marah.


“Sudah-sudah, kenapa pada berantem sih?” Ucap ustadz Fikri.


Novita tanpa berbicara ia pergi masuk ke dalam kamar penginapan...


“Isma tolong kejar Novita ya,” ucap ustadz Fikri pergi.


Isma pun pergi ke kamar penginapan untuk menemui Novita...


“Nov ayok keluar bentar lagi udah mau berangkat,” ucap Isma.


Isma tau mood Novita sedang kacau jadi Isma berbicara dengan nada lembut karena takut jika ia berbicara bercanda seperti biasa nya akan menambah Novita marah....


“Is, kalo aku gak ikut mendaki gimana?” Ucap Novita.


“Harus ikut lah, kan disini kita sambil cari pengalaman,” ucap Isma.


“Hm, ya udah ayak,” ucap Novita.


Semua para santri pun masuk ke dalam bus untuk menuju gerbang pendakian, kurang lebih 2 jam mereka pun sampai, disana suasana nya benar-benar asri, tidak ada sampah. Pemandangan nya pun benar-benar sangat bagus. Setelah itu mereka pun mulai mendaki di sepanjang mendaki Novita melihat ustadz Fikri membantu ustadzah Rifda memakai kayu, kalo bersentuhan langsung kan bukan muhrim jadi ustadz Fikri membantu ustadzah Rifda memaki kayu, saat itu Novita ingin marah, tetapi ia sadar ia bukan siapa-siapa nya ustadz Fikri.


Jam pun menujukan pukul 15:30 semua santri istirahat dan melaksanakan shalat asar, walaupun sedang di hutan kita wajib melaksanakan shalat asar. Setelah melaksanakan shalat asar semua istirahat memakan bekal yang mereka bawa masing-masing, semua saling bertukaran makanan dengan kelompoknya, tetapi tidak dengan Limah....


“Lim mau nyobain kue aku enggak?” Ucap Isma.


“Enggak makasih,” ucap Limah.


“Ngapain sih Is, tawaran sama Mak lampir,” ucap Novita.


“Ya kan kita harus berbagi,” ucap Isma.


“Tapi gak usah sama Mak lampir juga,” ucap Novita.


“Iya,” ucap Isma.

__ADS_1


“Baiklah semua, ini sudah jam 16:00 ya jadi kita langsung saja melanjutkan perjalanan, takutnya kemalaman,” ucap ustadz Fikri.


Semua para santri pun melanjutkan perjalanan, di sepanjang perjalanan Isma mencoba menghibur Novita dengan cara berfoto, akhirnya Novita bisa tersenyum. Sepanjang perjalanan Isma dan Novita terus bercanda gurau, semua para santri putri pun melihat nya iri dengan persahabatan mereka berdua.


Tak terasa mereka pun sampai di puncak gunung, tepat pukul 17:40, semua para santri pun mendirikan tenda, dan sebagian santri mencari kayu bakar, Isma dan Novita mendirikan tenda, karena dalam 1 tenda harus 2 orang. Setelah selesai mendirikan tenda semua menyalakan api unggun, sambil menikmati pemandangan senja...


Malam pun tiba, Novita sangat sulit untuk tidur, akhir nya Novita memutuskan untuk keluar tenda mencari angin. Novita melihat teman-teman nya sudah tertidur dengan pulas, Novita bingung kenapa diri nya tidak bisa tidur.


Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang keluar dari tenda nya yang tak lain adalah ustadz Fikri, betapa terkejutnya Novita melihat ustadz Fikri, Karena Novita takut di hukum seperti kejadian 1 tahun yang lalu...


“Novita,” ucap ustadz Fikri.


“Kok kamu belum tidur?” Tanya ustadz Fikri.


“Tidak bisa tidur ustadz,” ucap Novita.


“Oh iya ustadz,” ucap Novita mengambil tas nya.


“Ini sorban ustadz Novita kembalikan ya, makasih juga ya udah relakan sorban ustadz kena darah,” ucap Novita.


“Iya sama-sama, makasih juga loh sudah di cuci kan,” ucap ustadz Fikri senyum.


Novita yang melihat senyum ustadz Fikri pun ikut tersenyum. Akhir nya mereka berdua masuk ke tenda masing-masing.


Jam pun sudah menunjukkan pukul 4:30 semua para santri terbangun dan bersiap untuk shalat subuh, ingat dimana pun kita berada shalat jangan pernah di tinggal kan. Setelah selesai shalat subuh santri putri memasak mie instan untuk sarapan...


“Eh gunting mana gunting,” ucap Novita.


“Ini ada dua,” ucap Tika.


“Kan gunting ada 3, satu nya mana?” Tanya Novita.


“Tadi di pinjam ustadz Fikri,” sambung Isma.


“Oh,” ucap Novita.


“Minta sana Vi,” ucap Veni.


“Enggak ah malu,” ucap Novita.


“Alah emang kamu punya rasa malu? Kamu kan malu-maluin,” ucap Isma tertawa.


“Yee kalo sama ustadz Fikri malu lah,” ucap Novita.


“Cewek centil kata kamu punya rasa malu,” ucap Limah.


“Apa an sih kamu,” ucap Novita.


“Kamu kan centil sama cowok orang, kek enggak laku aja,” ucap Limah dengan wajah sinis.


“Heh! Dengerin ya, kamu ini senior tapi kenapa gak bisa jadi contoh yang baik buat Adek-adek di bawah kamu!” Ucap Novita nada marah.


Semua para santri pun memandang Novita dan Limah yang sedang adu mulut. Tidak lama ustadz Azka pun datang untuk memisahkan mereka berdua...


“Nov sudah kamu ke sana ya,” ucap ustadz Azka.


“Enggak! Dia tuh ustadz kalo di biarin mangkin ngelunjak tau gak! Kenapa sih aku harus satu kelompok sama orang yang gak punya adab kek dia,” ucap Novita benar-benar emosi.


Tiba-tiba ustadzah Rifda datang dan menampar pipi nya Novita...


“Heh! Jaga ya ucapan kamu, Limah itu masih sepupu sama aku! Kamu kalo punya mulut bisa di jaga gak? Kamu udah senior? Limah itu senior kamu!!” Ucap ustadzah Rifda.


Novita yang memegang pipi nya yang memar sambil menahan tangis, ustadz Fikri pun mendekati Rifda...


“Sudah!! Kenapa pada ribut gini sih? Ini di hutan loh, kamu juga Rif ngapain nampar? Lihat tuh para santri yang lain,” ucap ustadz Fikri.


“Dia udah kelewatan,” ucap ustadzah Rifda.


“Aku turun sekarang!” Ucap Novita pergi ke tenda dan pergi untuk turun dari puncak gunung ini.


Sebelum Novita pergi jauh, ustadz Fikri mengejar Novita...


“Nov,” ucap ustadz Fikri menarik tangan Novita.


Novita yang merasa tangan nya di sentuh pun langsung menghempaskan tangan ustadz Fikri....


“Nov bahaya kalo kamu pulang,” ucap ustadz Fikri.


“Lebih bahaya kalo aku masih disini, aku terus di fitnah,” ucap Novita.


“Itu lah cobaan dari perjalanan kita saat ini, ingat ini kan liburan, liburan sekalian cari pengalaman, jadi ini lah pengalaman kamu, kalo kamu turun sendirian itu lebih bahaya dari kamu berada Disini,” ucap ustadz Fikri.


“Nanti siang kita turun bareng-bareng,” ucap ustadz Fikri.


Akhirnya Novita pun pergi ke tenda lagi, tetapi Novita tidak mau kumpul bersama teman-teman nya, akhirnya Isma dan Tika pun mendekati Novita....


“Nov,” ucap Isma.


“Apa,” ucap Novita.


“Sarapan dulu yok, biar nanti pas turun tenaga kamu kuat,” ucap Isma.


“Kamu makan sendiri ya, aku masih kenyang,” ucap Novita tersenyum.

__ADS_1


“Nov jangan gitu lah, kamu harus makan juga, nanti kalo di tengah perjalanan kamu kenapa-kenapa gimana?” Ucap Tika.


“Aku gpp beneran, nanti aku makan roti yang udah aku bawa aja,” ucap Novita.


Akhirnya Isma dan Tika pun pergi meninggalkan Novita. Saat itu Novita berpikir, kenapa semua nya jadi seperti ini? Apa iya ini salah dia yang mencintai orang yang sudah memiliki pasangan?.


Setelah semua sarapan semua santri pun turun, Novita yang dari tadi diam saja, Isma juga bingung dia harus berbuat apa. Karena Novita dan Isma berjalan di belakang Isma berbicara....


“Nov, kamu kenapa sih? Ini kan liburan harus nya kamu bahagia,” ucap Isma.


“Aku bahagia, Cuma aku trauma sama kejadian tadi pagi,” ucap Novita.


“Nov, itu kan Cuma fitnah, toh nanti dia dapat karma sendiri,” ucap Isma.


“Is, kamu ada gak sih berpikir, karena aku jatuh cinta sama orang yang sudah mempunyai pasangan hidup aku jadi seperti ini,” ucap Novita.


Isma pun hanya terdiam. Tepat pukul 12:30 mereka beristirahat untuk shalat, setelah melakukan shalat mereka melanjutkan lagi perjalanan nya hingga di gerbang pendakian, semua santri pun masuk mobil. Tepat jam 17:50 mereka sampai di penginapan, hari ini hari terakhir mereka ada di desa ujung baru, karena besok mereka akan kembali lagi ke ponpes Al-Amin.


Pagi pun tiba, mereka sudah sampai di ponpes, semua pun pergi ke kamar masing-masing, saat Isma dan Novita sampai di kamar, betapa terkejutnya Novita dan Isma melihat Bibah dan Dila....


“Hah? Kalian kapan sampai nya,” ucap Isma dan Novita serentak.


“Baru aja,” ucap Bibah.


“Cieee yang baru pulang dari liburan,” ucap Dila.


“Kalian lebih seru, liburan nya pulang,” ucap Novita.


“Hehe,” ucap Dila.


Semua pun saling melepas rindu.


Malam pun tiba, setelah shalat magrib Novita, Isma, Bibah dan juga Dila, pergi ke kamar, apa lagi Novita dan Isma yang lelah setelah jalan-jalan.....


“Gimana pengalaman kalian?” Tanya Dila.


“Seru banget, tapi aku kesel sama senior yang nama nya Limah itu,” ucap Novita.


“Ngeselin gimana?” Tanya Bibah.


“Orang nya kek Mak lampir marah-marah terus-terus,” ucap Novita.


“Masa iya,” ucap Dila.


“Iya, lihat di pipi aku memar gara-gara dia fitnah aku tau gak, aku di tampar sama ustadzah Rifda,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.


“Tapi kan sebelum itu di gendong sama ustadz Fikri,” sindir Isma.


“Apa an sih kamu,” ucap Novita mendorong Isma.


“Cieee,” ucap Dila dan juga Bibah meledek Novita.


Pipi Novita pun memerah...


“Au ah aku ngambek,” ucap Novita menutupi wajah nya.


“Malu nih Yee,” ucap Isma tertawa.


“Apa sih enggak tuh loh kalian tuh fitnah,” ucap Novita.


Setelah canda gurau pun Novita dan 3 sahabat nya pergi keluar kamar untuk mencari angin, saat di tengah perjalanan Novita dan 3 sahabat nya bertemu dengan Limah dengan sahabat nya....


“Tuh lihat wajah nya memar gara-gara ngerebut pasangan orang,” ucap Limah tertawa.


“Oh, jadi ini yang berharap menjadi istri nya seorang ustadz? Mengkhayal nya terlalu tinggi ya bund,” ucap Sahabat Limah yang bernama Lisa.


“Apa sih mau kamu? Kamu iri sama aku? Ingat kamu itu udah senior yang gak seharus nya ngomong gitu, apa lagi fitnah!” Ucap Novita.


“Yang fitnah itu siapa? Orang itu kenyataan nya kok,” ucap Limah.


“Kenyataan dari mana? Ada kah kamu lihat aku mengatakan perasaan aku ke ustadz Fikri? Ada kah? Enggak kan!” Ucap Novita.


“Kaya nya kamu iri deh sama aku,” sambung Novita.


“Akan aku buktikan kalo kamu punya perasaan sama ustadz Fikri,” ucap Limah pergi.


“Udah Nov sabar, ingat orang sabar di sayang Allah,” ucap Isma.


“Iya nanti juga dia kena karma nya,” ucap Dila.


“Kurang sabar apa coba aku, aku udah sabar tapi tetap aja orang kek dia gak ada otak,” ucap Novita nada kesal.


Mereka pun pergi ke bawah pohon, sambil melihat bintang-bintang di atas langit. Novita pun berfikir, apa kah dia harus melupakan ustadz Fikri, tetapi hati Novita tidak mampu. Tetapi jika perasaan ini masih ada, Novita akan kena fitnah terus.


“Nov, kenapa sih,” tanya Isma.


“Gpp, kangen sama ibu di rumah,” ucap Novita menunduk.


“Sabar ya, aku yakin tahun depan kalian berdua pasti pulang,” ucap Dila.


“Kalo enggak gimana?” Ucap Novita


“Ya mungkin ibu kamu jenguk kamu disini,” ucap Bibah.

__ADS_1


“Iya, ya kenapa ibu gak ada jenguk sih,” ucap Novita.


“Belum mungkin,” ucap Isma.


__ADS_2