Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 07


__ADS_3

Malam pun tiba, Novita, Isma dan Aisyah pun setelah shalat magrib mereka jalan-jalan keliling wilayah pesantren....


“Enak ya disini,” ucap Novita.


“Iya,” ucap Aisyah.


“Oh iya dulu kamu juga santri kaya kita? Terus kamu jadi ustadzah gitu?” Tanya Novita.


“Aku ponakan nya paman Khalid,” ucap Aisyah.


“Oh jadi kamu ponakannya,” ucap Isma.


“Tapi pasti ada tahap-tahap nya, gak mungkin kamu langsung jadi ustadzah,” ucap Novita.


“Iya benar, dulu aku tidak mondok, aku mondok saat lulus kuliah di luar negeri,” ucap Aisyah.


“Oh, kamu sempat kuliah di luar negeri,” ucap Isma.


“Iya, tapi semenjak ummi dan Abi aku meninggal dunia, paman dan bibik mengajak ku untuk tinggal bersama nya, lalu paman dan bibik ku menyuruhku untuk mondok 1 tahun, setelah itu baru paman dan bibik ku menyuruhku untuk menjadi ustadzah,” ucap Aisyah tunduk.


“Sory ya kita gak tau kalo orang tua kamu sudah tidak ada,” ucap Novita.


“Tidak papa,” ucap Aisyah tersenyum.


Mereka pun duduk di sebuah taman yang sangat indah, Novita dan Isma benar-benar terpukau melihat kecantikan taman ini, karena di ponpes Al-Amin tidak ada taman seperti ini, tempat mereka berkumpul pun hanya di bawah pohon....


“Gila, bagus banget,” ucap Isma melihat sekitar.


“Kalian suka?” Tanya Aisyah.


“Suka banget donk,” ucap Novita.


“Ya udah gimana kalo ini tempat untuk kita nongkrong aja,” ucap Aisyah.


“Boleh,” ucap Isma dan Novita serentak.


“Mulai sekarang kita jadi teman ya,” ucap Aisyah tersenyum.


“Iya,” ucap Isma dan Novita membalas senyuman Aisyah.


Ternyata saat mereka sedang canda dan tawa, dari kejauhan ustadz Fikri dan juga ustadz Azka memperhatikan mereka. Karena memang tugas mereka berdua untuk terus memantau Novita dan Isma.


Tidak lama suara adzan isya pun berkumandang, Novita, Isma dan juga Aisyah pergi ke kamar untuk mengambil peralatan shalat, setelah itu mereka pergi untuk menunaikan ibadah shalat.


Setelah selesai, Isma dan Novita pergi ke kamar begitu juga dengan Aisyah tetapi Aisyah sudah pergi terlebih dahulu, di tengah perjalanan Novita dan Isma tiba-tiba, santri putra yang bernama Arif dan juga Aidil itu menghalangi jalan mereka...


“Dor,” ucap Arif.


“Astagfirullah Is, ada setan,” ucap Novita.


“Ustadzah asal bicara aja ganteng gini di bilang setan,” ucap Arif.


“Iya kamu itu ganteng, tapi dari lubang sedotan tuh,” ucap Novita yang benar-benar kesal.


“Hm ini ustadzah yang satunya juga cantik, nama nya siapa ustadzah,” ucap Aidil menatap Isma.


“Heh! Bukan muhrim,” ucap Isma mendorong Aidil menggunakan alat shalat nya.


“Kalian ini sudah malam, kenapa ke wilayah santri putri?” Ucap Isma.


“Mau lihat bidadari,” ucap Arif.


“Isma pergi yuk gila lama-lama disini,” ucap Novita ingin pergi tetapi, Arif menarik tangan Novita.


Saat itu tiba-tiba ustadz Fikri datang, dan langsung melepaskan tangan Arif dari tangan Novita, saat itu wajah Fikri sepertinya marah, hingga saat ustadz Fikri memarahi Arif tangan Novita masih saja di genggam nya....


“Tidak sopan! Ini ustadzah kamu, guru kamu yang harus kamu hormati,” ucap ustadz Fikri.


“Ini juga sudah malam, mengapa kalian masih keluyuran hingga ke wilayah santri putri,” sambung ustadz Fikri.


“Maaf ustadz,” ucap Arif dan Aidil.


“Pergi sana,” ucap ustadz Fikri.


Mereka berdua pun pergi, di sisi lain jantung Novita berdetak tak beraturan, sungguh malam yang sangat indah untuk Novita. Tetapi di sisi lain Novita melihat wajah Fikri yang seperti orang benar-benar marah, Novita takut.....


“Lain kali, kalo jalan di malam hari bersama dengan ustadzah yang sudah senior disini,” ucap ustadz Fikri.


“Baik ustadz,” ucap Isma.


“Tapi ustadz maaf, bukan muhrim tangan Novita ustadz sentuh,” ucap Isma yang membuat Novita kesal mengapa Isma beritahu, padahal Novita masih ingin berpegangan tangan dengan Fikri.


“Maaf,” ucap ustadz Fikri melepaskan tangan Novita.


“Ya sudah kalian pergi ke kamar, maaf aku tidak bisa mengantarkan,” ucap ustadz Fikri pergi.


“Is, kamu apa-apaan sih, coba biarin aja biar lebih lama,” ucap Novita.


“Bukan muhrim woyy,” ucap Isma teriak di telinga Novita.


“Ih, biasa aja kali,” ucap Novita kesal.


Mereka berdua pun pergi ke kamar, saat sampai di kamar Isma langsung tidur, tidak dengan Novita, Novita mengambil buku diary nya dan langsung menulis apa yang membuatnya bahagia....

__ADS_1


Note Diary: “malam ini, malam yang sangat indah. yaAllah hamba benar-benar bersyukur apa yang telah engkau berikan pada hamba, hamba menjadi ustadzah, hamba bisa dekat dengan laki-laki yang hamba cintai. Sungguh nikmat mu tiada Tara,” from_Novita.


Setelah menulis di buku diary Novita menyimpan buku diary nya dan langsung tidur, karena ia tidak mau jika sampai bangun terlalu siang sama seperti yang ia lakukan saat di ponpes Al-Amin.


Pagi pun tiba, pagi ini Novita ada jadwal memasuki kelas santri putri, disana Novita sangat bahagia karena ia tidak lagi masuk kelas yang penuh dengan buaya. Di pagi ini Novita akan memberikan ilmu tentang kenikmatan yang Allah berikan untuk kita semua.


“Assalamualaikum,” ucap Novita tersenyum.


“Waalaikumsalam ustadzah,” ucap all.”


“Kenalin nama ustadzah Novita, kalian enggak usah takut sama ustadzah, ustadzah tidak akan memakan kalian,” ucap Novita tersenyum.


Novita pun menjelaskan tentang kenikmatan yang Allah berikan, saat menjelaskan panjang kali lebar, semua santri memperhatikan Novita secara seksama, tidak lama Novita pun selesai menjelaskan....


“Ok apa ada yang ingin di tanyakan? Boleh bertanya apa saja yang ingin kalian tanyakan tapi menyangkut dengan pelajaran juga ya, sekarang ustadzah akan membuat kalian lebih dekat dengan Allah,” ucap Novita.


Ada satu santri yang mengangkat tangan nya, yang menandakan ada yang ingin ia tanyakan.....


“Kamu mau tanya apa?” Tanya Novita.


“Ustadzah apa sih yang di maksud dengan nikmat tiada Tara,” ucap santri itu.


“Ok, jadi apa yang di maksud dengan tiada Tara, ustadzah tulis di papan tulis ya,” ucap Novita menulis.


وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيم


“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)


“Ada yang bisa menjelaskan tentang arti dari surah An-nahl?” Ucap Novita.


Semua santri pun hanya terdiam...


“Ok karena gak ada yang bisa jawab ustadzah akan menjelaskan. Jadi maksudnya begini, Jangan pernah menghitung-hitung nikmat dari Allah, karena kamu tidak pernah bisa untuk menghitung nikmat yang telah Allah berikan, tetap lah bersyukur dengan keadaan apa pun,” ucap Novita.


“sekarang semua paham apa itu kenikmatan tiada Tara?” Tanya Novita.


“Insyaallah paham,” ucap all.


Pelajaran pun selesai, Novita langsung berjalan menuju kamar, karena jarak antara kelas dan kamar lumayan jauh, tepat hari ini cuaca nya mendung seperti ingin hujan. Saat di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun, mau tidak mau Novita harus berteduh di depan kamar santri putri. Tiba-tiba ustadz Fikri juga berteduh disana, rasa bahagia, dingin bercampur aduk, sungguh hari-hari Novita disini sangat beruntung.....


“Ustadz habis ngajar dimana?” Tanya Novita..


“Tidak, aku memantau saja tadi,” ucap Fikri.


“Kamu dingin?” Tanya Fikri.


“Tidak ustadz,” ucap Novita.


Kebetulan saat itu ustadz Fikri sedang memakai jaket, jadi ustadz Fikri memberikan jaket nya kepada Novita. Saat itu juga Novita rasa nya ingin pingsan....


“Gpp, kamu pakai ya,” ucap Fikri.


Hujan pun semangkin deras, ustadz Fikri pun mengajak Novita hujan-hujanan untuk menuju kamar Novita....


“Gimana kalo kita hujan-hujanan saja, biar kamu bisa cepat sampai kamar,” ucap Fikri.


“Hm boleh ustadz,” ucap Novita.


Novita dan ustadz Fikri pun berlari menuju kamar Novita, saat itu juga wajah Novita benar-benar ceria, kiyai Khalid melihat tingkah laku nya ustadzah Novita dan putra kiyai Umar yang mandi hujan-hujanan tertawa kecil. Tidak lama mereka pun sampai di depan kamar Novita, Novita yang melihat ustadz Fikri kedinginan pun, Novita pergi ke kamar dan mengambil handuk dan juga payung, setelah itu ustadz Fikri pun pergi. Isma yang melihat Novita basah kuyup pun heran...


“Habis mandi hujan kamu Nov?” Tanya Isma.


“Iya sama pangeran,” ucap Novita tersenyum.


“Pangeran dari mana?” Tanya Isma menatap Novita.


“Ih kamu ini ya, dah ah aku mau ke kamar mandi dulu,” ucap Novita, kebetulan di ponpes Al-Hikmah kamar ustadzah kamar mandi nya terdapat di dalam kamar.


Malam pun tiba, Novita, Isma, dan juga Aisyah pergi ke taman tempat mereka berkumpul, mereka melihat bintang yang sangat banyak. Saat sedang kumpul Novita terus-menerus bersin-bersin, wajah Novita pun sedikit pucat.....


“Nov kamu gpp?” Tanya Aisyah.


“Gpp, aku mungkin flu doang,” ucap Novita sambil menggosok-gosok hidung nya.


“Serius Nov, muka mu pucat gitu loh,” ucap Isma.


“Iya, lebih baik kamu bilang sama bibik Fatimah,” ucap Aisyah.


“Gak usah nanti tidur, pas bangun tidur udah mendingan,” ucap Novita.


“Dasar keras kepala,” ucap Isma.


Karena cuaca semangkin dingin, mereka pun pergi ke kamar masing-masing, saat sampai di kamar Novita langsung membaringkan tubuh nya.....


“Nov nih aku ada obat flu, lebih baik kamu minum deh, biar gak mangkin parah,” ucap Isma memberikan obat flu itu kepada Novita.


“Iya, makasih ya,” ucap Novita lalu meminum nya.


“Ya udah istirahat gih,” ucap Isma.


“Iya,” ucap Novita.


Pagi pun tiba, Alhamdulillah kondisi Novita sedikit membaik. Pagi ini anak kiyai Khalid mengumpulkan semua ustadz dan ustadzah di sebuah ruang untuk meminta pendapat satu sama lain, anak kiyai Khalid bernama ustadz Ferdi....

__ADS_1


“Assalamualaikum, semua nya,” ucap ustadz Ferdi.


“Wassalamu’alaikum,” ucap all.


“Rencana ana, ana mau bikin sebuah kegiatan yaitu kemah di sebuah hutan, untuk melihat keberanian semua para santri, apa kah kalian setuju,” ucap ustadz Ferdi.


Novita yang mengingat kejadian 1 tahun yang lalu, saat mencari pengalaman di desa ujung baru, dan Novita tersesat hingga kaki nya terluka pun, ingin mengajukan pendapat bahwa ia tidak setuju. Tetapi semua berpendapat setuju...


“Ana setuju,” ucap ustadz Fikri dan ustadz Azka.


“Ana juga setuju,” ucap Isma dan Aisyah.


“Ukhty?” Tanya Ferdi pada Novita yang sedang melamun.


“Hm ana juga setuju,” ucap Novita.


“Kalo boleh ana bertanya, kita akan kemah di sebuah hutan dimana?” Tanya Fikri.


“Nama hutan nya adalah, hutan rimba, tenang saja hutan itu tidak terlalu jauh dari jalan raya,” ucap Ferdi.


“Ana dan teman-teman ana sudah melihat lokasi, dan Insyaallah aman,” ucap Ferdi.


“Kapan di mulai nya ustadz?” Tanya Cantika.


“Besok gimana?” usul Azka.


“Boleh, lebih cepat lebih baik,” ucap Ferdi.


“Ya sudah, ana akhir ya ana akan mengumumkan nya pada semua santri di lapangan,” ucap Ferdi pergi.


Semua nya pun bubar dari ruangan itu menuju lapangan, sambil mendengarkan pengumumannya dari Ferdi.


Ferdi pun mengumumkan, setelah selesai Ferdi mengumumkan semua pun pergi ke kamar untuk menyiapkan. Peralatan yang akan mereka bawa untuk berkemah, begitu juga dengan Novita, Isma, Aisyah, dan juga Cantika. Saat di kamar Novita seperti orang yang bimbang, karena ia benar-benar trauma dengan kejadian 1 tahun yang lalu.


“Nov kamu kenapa?” Tanya Isma.


“Aku takut ia, takut nyasar lagi, kaya yang dulu,” ucap Novita tunduk.


“Udah ini enggak akan, berdoa aja ya, semua kita di lindungi sama Allah,” ucap Isma.


“Aamiin,” ucap Novita.


“Lagian kan ada 2 orang yang setia jagain kamu,” ucap Isma tertawa kecil.


“Hah? Siapa?” Ucap Novita heran.


“Itu si Arif sama si Aidil,” ucap Isma tertawa.


“Ngawur kamu ini,” ucap Novita cemberut.


Isma masih terus tertawa....


Malam pun tiba, Novita termenung di depan kamar sambil melihat ke arah bintang-bintang, lalu Isma mendekati Novita....


“Nov, kamu kenapa sih?” Tanya Isma.


“Aku pengen pulang, kangen sama ibu, udah 2 tahun kita mondok gak ada tuh aku ngerasain rasa nya pulang,” ucap Novita wajah sedih.


“Sama aku juga pengen pulang, tapi gimana cara nya coba, kita sekarang ada di Surabaya,” ucap Isma.


“Berapa tahun sih kita di tes gini?” Tanya Novita.


“Enggak tau juga,” ucap Isma.


“Hm,” ucap Novita.


Pagi pun tiba, semua santri sudah siap di depan gerbang, santri putra dan putri pun memasukan tas nya ke dalam bus. Setelah semua barang-barang nya di masukan ke dalam bus, para santri juga masuk ke dalam bus, bus santri putra dan juga santri putri berbeda. Novita, Isma, dan Aisyah duduk paling belakang untuk melihat para santri takut ada yang muntah, karena perjalanan hingga sampai di lokasi, cukup jauh butuh perjalanan selama 3 sampai 4 jam. Novita di sepanjang jalan melihat pemandangan untuk menghilangkan rasa kawatir ia yang takut tersesat lagi.


Kurang lebih 4 jam, mereka pun sampai di lokasi, ternyata hutan nya sangat indah, penuh dengan bunga, terdapat juga air terjun yang sangat indah. Rasa kawatir Novita seperti nya hilang setelah melihat pemandangan sebagus ini. Semua santri mendirikan tenda sebelum jam 12:00 siang. Dalam 1 tenda berisi 2 orang, seperti biasa Novita pasti bersama dengan Isma, Aisyah bersama dengan Cantika. Setelah selesai mendirikan tenda, semua santri melaksanakan shalat Dzuhur, setelah shalat Dzuhur semua santri istirahat sambil melihat pemandangan yang sangat indah, saat Novita, Isma dan Aisyah sedang duduk di batu dekat air terjun tiba-tiba dua curut datang, yaitu Arif dan Aidil....


“Assalamualaikum, ustadzah cantik,” ucap Arif melihat ke arah Novita.


“Apa sih kamu lihat-lihat,” ucap Novita kesal.


“Jangan galak-galak nanti cepat tua loh ustadzah,” ucap Arif mengangkat kedua alis nya.


“Dih, pergi sana ngapain sih disini,” ucap Novita.


“Ini kan bukan ponpes, jadi boleh Deket sama ustadzah,” ucap Arif.


“Dih, aku yang ogah,” ucap Novita geli.


Isma dan Aisyah yang melihat kejadian itu pun menahan tawa, melihat tingkah mereka, lumayan hiburan gratis....


“Pergi sana,” ucap Novita teriak yang membuat ustadz Fikri mendekati mereka.


“Ada apa ini?” Tanya ustadz Fikri.


“Ini ustadz, Arif nih gangguin Novita,” ucap Aisyah.


“Enggak ustadz kami Cuma mau gabung saja,” ucap Arif mengelak.


“Udah kalian berdua sana, bukan muhrim,” ucap ustadz Fikri.

__ADS_1


Mereka pun pergi, Novita pun bahagia, karena pangeran nya yang sudah menolong nya....


__ADS_2