Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 13


__ADS_3

Isma pun masuk kamar dan melihat Novita duduk sambil membaca buku materi besok, Isma pun memberanikan diri duduk di samping Novita.....


“Nov,” ucap Isma duduk di samping Novita.


“Iya Is kenapa?” Tanya Novita.


“Kamu kenapa tadi siang nangis?” Tanya Isma.


Novita pun menghembuskan nafas, dan mengambil foto tadi dan menunjukkan nya kepada Isma, Isma yang melihatnya pun kaget.....


“Kamu nemuin ini dimana?” Tanya Isma.


“Di dalam Al Qur’an nya dia lah,” ucap Novita tersenyum terpaksa.


“Astagfirullah, kok dia masih nyimpan sih?” Ucap Isma.


“Ya kan dia masih suka,” ucap Novita.


“Heh, jangan mikir kaya gitu, kenapa gak tanya dulu, sapa tau ada alasan nya,” ucap Isma.


“Nanti kalo hati aku udah tenang,” ucap Novita.


Di sisi lain, Fikri melamun di kamar, karena melihat sifat Novita yang benar-benar berubah. Azka yang melihat Fikri pun heran....


“Fik? Kenapa kamu?” Tanya Azka.


“Gpp,” ucap Fikri membuka Al Qur’an nya, dan Fikri heran mana foto ia dan Rifda.


“Eh, Ka kamu lihat gak foto di dalam Al Qur’an ini,” ucap Fikri.


“Enggak lah, buka Al Qur’an mu aja enggak,” ucap Azka.


Lalu Fikri pun mengingat terakhir kali menyimpan Al Qur’an nya.....


“Apa mungkin tadi itu masa iya mukena nya Novita? Kalo iya, ahh dia pasti marah gara-gara nemuin foto itu di dalam Al Qur’an ku,” ucap batin Fikri.


“Kenapa Hin?” Tanya Azka heran.


“Gpp kok,” ucap Fikri.


“Oh,” ucap Azka.


Pagi pun, saat Novita berjalan menuju perpustakaan karena ada yang harus ia cari, Fikri langsung muncul di hadapan Novita dan menghalangi jalan Novita....


“Nov,” ucap Fikri.


Novita tidak menjawab hanya melihat ke arah Fikri...


“Aku tau kamu marah karena kamu nemuin foto aku sama Rifda kan di dalam Al Qur’an aku,” ucap Fikri.


“Nih, kamu mau minta fotonya lagi,” ucap Novita melempar foto itu.


“Nov, kamu dengerin dulu penjelasan aku,” ucap Fikri.


“Gak perlu,” ucap Novita ingin pergi namun tangan Novita di tarik oleh Fikri.


“Lepas! Fik kalo kamu masih cinta sama ustadzah Rifda, jangan jadiin aku pelampiasan, itu enggak enak loh, aku gak marah sama kamu, aku Cuma kecewa, untuk apa kamu simpan foto kebersamaan kalian, di dalam Al Qur’an kamu? Artinya saat kamu membaca Al Qur’an kamu melihat foto itu dulu,” ucap Novita menahan air mata.


“Gak gitu Nov, aku gak jadiin kamu pelampiasan, foto itu udah lama di dalam Al Qur’an dan aku lupa,” ucap Fikri.


Novita tersenyum, lalu pergi....


“Ahhh kenapa jadi gini sih,” ucap Fikri penuh amarah.


Novita pun pergi mengajar, di kelas santri putri, hari ini Novita hanya memberikan tugas, dan saat Novita berjalan-jalan Novita melihat Al Qur’an Fikri di pegang oleh salah satu santri putri....


“Maaf, ini Al Qur’an kamu?” Tanya Novita.


“Iya ustadzah, tadi kasih sama ustadz Fikri” ucap santri itu.


“Loh kenapa dia ngasih kan Al Qur’an itu,” ucap batin Novita.


Jam pun menujukan pukul 11:30 waktu mengajar Novita pun habis, Novita berniat mencari Fikri, dan Novita menemukan Fikri yang sedang duduk di taman belakang ponpes....


“Assalamualaikum,” ucap Novita.


“Wassalamu’alaikum, Nov,” ucap Fikri.


“Aku Cuma mau nanya, kenapa kamu kasih Al Qur’an itu ke santri putri?” Tanya Novita.


“Untuk apa aku nyimpan? Itu kan dari Rifda,”. Ucap Fikri.


“Nov, aku beneran minta maaf sama kamu, ok aku akui aku salah masih nyimpan foto kebersamaan aku sama Rifda, aku minta maaf, dan aku gak jadiin kamu pelampiasan, aku serius sama kamu, Plisss ya maafin aku beri aku satu kesempatan lagi,” sambung Fikri memohon.


“Aku maafin kamu, maaf tadi aku kebawa emosi,” ucap Novita tunduk.


“Sekarang kita baikan ya,” ucap Fikri tersenyum.


“Iya,” ucap Novita tersenyum.


Suara adzan pun berkumandang, hari ini hari Jum’at jadi kiyai Khalid kultum sebelum para jamaah bubar. Santri putri juga wajib mendengar kan kultum dari kiyai Khalid, hanya saja santri putri berada di belakang santri putra. Kultum kiyai Khalid hari ini bertema tentang derajat seorang wanita lebih tinggi daripada laki-laki dan peran seorang ibu....

__ADS_1


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap kiyai Khalid.


“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap all.


“Hari ini kiyai akan memberitahu, bahwa derajat seorang wanita lebih tinggi dari seorang laki-laki. Wanita adalah makhluk yang paling mulia dimata Allah SWT, karena seorang wanita sangat diistimewakan, diberkahi kecantikan, kesabaran yang luar biasa dan diberi kelebihan daripada pria. Islam memuliakan derajat wanita dengan jalan menjadikan mereka sebagai pendidik generasi mendatang dan menggantungkan baik atau buruknya umat kepadanya,” ucap kiyai Khalid.


“Mengapa begitu kiyai? Karena Wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Wanita juga yang menjadi madrasah pertama dalam pembangunan masyarakat yang shahih takala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Nabi,” ucap kiyai Khalid tersenyum.


“Wanita memiliki peran yang sangat penting dalam hidupnya, bahkan beban yang semestinya ditanggung pria, wanita pun bisa menanggungnya. Karena seorang wanita dapat mengandung, melahirkan, menyusui dan mengurus rumah tangga. Itu semua wanita yang melaksanakan tugasnya, maka dari itu kita wajib untuk berterima kasih kepada Ibu, berbakti kepadanya, sopan santun dalam bersikap dan lain-lain,” ucap kiyai Khalid.


Semua jamaah pun mendengarkan kultum kiyai Khalid dengan sungguh-sungguh...


“yaitu dalam sebuah hadits Rasulullah As yang artinya: Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali? “Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’. Nabi SAW menjawab ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’. Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu.” (H.R. Bukhori no.5971 dan Muslim no. 2548),” ucap kiyai Khalid dengan tegas.


Novita dan Isma pun menjadi ingat kepada orang tua nya di rumah, mereka berdua sangat rindu kepada orang tua, gimana tidak hampir 3 tahun mereka tidak pulang, tapi ini wujud bakti mereka kepada orang tua mereka.....


“Namun kita juga harus tetap mencintai, menyayangi, menghormati dan berbakti kepada Ayah juga, karena bagaimana pun Ayah kita telah berperan penting akan kelangsungan hidup kita. Maka dari itu kita harus berbakti dan menghormati kepada kedua orang tua kita. Kita selaku umat Islam senantiasa berbakti kepada kedua orang tua terutama kepada Ibu yang sangat berjasa dalam hidup kita. Ibu yang tidak pernah lelah membimbing, menasehati, menyayangi dan memberi perhatian lebih kepada anaknya. Bahkan disaat anaknya sedang sakit Ibu selalu mendampingi, merawat tiada henti. Jangan pernah sekali-kali membuat Ibu menangis, menyakiti dan membentak. Karena surga itu di telapak kaki Ibu,” ucap kiyai Khalid tersenyum.


Kultum pun selesai, semua santri kembali ke kamar masing, dan menjalankan tugas masing-masing. Di tengah jalan Isma, Novita dan Aisyah pergi ke kamar Aisyah bertanya kepada Novita....


“Gimana Nov udah baikkan sama Fikri?” Tanya Aisyah.


“Alhamdulillah udah,” ucap Novita.


“Salah paham kan?” Ucap Isma.


“Enggak sih, dia aja sengaja nyimpan,” ucap Novita.


“Dih, gitu amat, eh jangan terlalu cemburu nanti ilfil lagi si Fikri nya,” ucap Isma tertawa kecil.


“Doa mu loh Is jelek banget,” ucap Novita memukul Isma memakai sajadah yang ia bawa.


“Bukan doain tapi nasehatin,” ucap Isma.


“Nasehatin yang bener,” ucap Novita.


Karena jam tugas mengajar mereka sudah selesai, jadi mereka memutuskan untuk makan bakso di luar wilayah ponpes, mereka pergi izin sama ustadzah Fatimah setelah itu mereka izin sama satpam, setelah itu mereka berangkat ke warung bakso menaiki angkot. Kurang lebih 20 menit mereka sampai di warung bakso, mereka pun memesan, dan tidak lama pesanan sampai....


“Hm demi apa baksonya enak banget donk,” ucap Novita.


“Alah kamu makan apa aja juga enak,” ucap Isma.


“Iya tapi heran kenapa kamu gak gemuk-gemuk,” ucap Aisyah tertawa.


“Ya emang porsi badan aku segini, mau makan satu truk juga, paling perut aku yang gemuk habis itu kempes lagi,” ucap Novita tertawa.


“Nah loh sadar diri,” ucap Isma tertawa terbahak-bahak.


“Eh kalian makan disini juga,” ucap Fikri.


“Iya,” ucap mereka bertiga.


“Boleh gabung?” Tanya Azka.


“Boleh tapi jaga jarak ya,” ucap Aisyah.


“Iya,” ucap Azka dan Fikri duduk.


Pesanan Azka dan Fikri pun Sampai, mereka makan bersama-sama, Fikri dan Novita saling melirik....


“Hm, kalo mau ngeliat lihat aja, jangan lirik-lirik kan gitu,” ucap Isma tertawa kecil.


“Apa an sih,” ucap Novita mendorong Isma.


“Habis ini kalian mau ke mana?” Tanya Azka.


“Mau ke butik,” ucap Isma.


“Oh,” ucap Azka.


“Kalian mau ke mana?” Tanya Isma.


“Gak tau sih, bingung,” ucap Azka.


“Gimana kalo kalian ikut ke butik juga, di butik yang mau kita datangi itu butik nya jual perlengkapan cowok juga,” ucap Aisyah.


“Hm boleh,” ucap Fikri.


“Sip,” ucap Isma.


Setelah makan pun mereka pergi menaiki angkot, dan pergi ke butik, butik ini sangat murah dan kualitas nya bagus-bagus jadi cocok deh kalo buat santri, karena uang jajan nya enggak akan terkuras banyak......


Karena butik nya lumayan besar, mereka pun berpisah, Novita berjalan bersama Fikri, dan Azka dengan Isma, sedangkan Aisyah sendiri....


“Ini bagus buat kamu,” ucap Fikri melihat sebuah gamis berwarna pink.


“Eh iya, warna kesukaan aku lagi,” ucap Novita tersenyum.


“Ya udah beli,” ucap fikry.


Saat Novita mengambil baju gamis itu, mengambil yang berukuran S saat Novita mengambil nya, Novita melihat yang berukuran L lalu Novita ingat dengan Isma dan mengambil baju itu.....

__ADS_1


“Kok dua?” Tanya Fikri.


“Iya buat capelan sama Isma,” ucap Novita.


“Oh,” ucap Fikri.


“Eh ini juga baju jubah buat kamu bagus, warna hitam lagi,” ucap Novita.


“Hm iya sih, bener bagus?” Tanya Fikri.


“Iya ustadz Fikri,” ucap Novita.


“Ok aku ambil yang ini,” ucap Fikri mengambil baju itu.


Disisi lain, Isma dan Azka hanya berputar-putar saja tidak membeli apa pun, Isma kesal melihat Azka yang tidak berbicara sedikit pun....


“Aku nyusul Aisyah ya,” ucap Isma pergi.


“Azka, kenapa kamu gak ajak Isma bicara sih, kan jadi pergi,” ucap Azka mengacak-acak rambut nya.


Setelah semua nya dapat, mereka berkumpul di kasir untuk membayarnya, Novita sengaja tidak memberikan kan baju itu sekarang....


“Nov, kamu beli baju dua?” Tanya Isma.


“Iya kenapa?” Ucap Novita.


“Gpp sih,” ucap Isma.


Setelah semua selesai membayar, mereka pun pulang menaiki angkot, tidak lama mereka pun sampai di ponpes. Dan mereka berpisah menuju kamar masing-masing, saat Isma dan Novita sampai di kamar Novita memberika baju gamis itu....


“Nih Is buat kamu,” ucap Novita memberikan baju itu.


“Serius?” Ucap Isma.


“Iya,” ucap Novita.


“Ah makasih loh,” ucap Isma sangat bahagia.


Malam pun tiba, malam ini hari nya hujan jadi semua santri shalat di kamar masing-masing, Novita dan Isma setelah shalat membaca buku materi, tapi tidak dengan Isma, Isma sibuk membuat naskah novel agar terlihat sangat menarik....


“Is, udah malam loh,” ucap Novita.


“Iya kamu tidur aja duluan,” ucap Isma.


“Jangan malam-malam loh kamu tidurnya,” ucap Novita membaringkan tubuhnya.


“Iya,” ucap Isma.


Malam pun larut, Isma juga belum tidur, hujan pun semangkin deras. Tiba-tiba ada suar dari jendela, seperti orang mengetuk, Isma ingin membuka pintu namun takut....


“Siapa ya? Malam-malam gini,” ucap batin Isma melihat kearah pintu.


“Nov, Novita,” ucap Isma membangunkan Novita.


Tapi alhasil Novita tidak bangun, Isma penasaran namun takut, Isma pun memutuskan untuk melihat nya, dan Isma melihat seorang santri putri, lalu Isma langsung membuka pintu...


“Kalian ngapain disini hujan-hujan lagi,” ucap Isma.


“Kami malam ini tidur di kamar ustadzah ya,” ucap santri itu yang bernama Luna.


“Kenapa? Memangnya kamar kalian berdua kenapa?” Tanya Isma.


“Kamar kami genteng nya bocor ustadzah, semua kamar yang di lantai dua bocor, jadi tadi kami semua niatnya mau tidur di bawah tapi tadi semua sudah penuh, lalu kami berdua tanya sama ustadzah Fatimah lalu kata Ustadzah Fatimah di suruh ke kamar ustadzah,” ucap Luna.


“Semua nya di lantai dua bocor?” Tanya Isma.


“Iya ustadzah,” ucap Luna


“Ya udah kalian masuk,” ucap Isma.


“Di sini kan tempat tidurnya Cuma dua, jadian kalian tidur di bawah gpp kan?” Tanya Isma


“Gpp ustadzah,” ucap Luna


“Yaudah kalian tidur ya,” ucap Isma.


Pagi pun tiba, semua santri bergotong royong untuk memperbaiki genteng yang bocor, dan banyak pohon yang roboh karena hujan tadi malam, hujan tadi malam benar-benar lebat, hingga membuat pohon roboh dan genteng bocor. Semua santri putri mengeluarkan barang-barang dari kamar nya masing-masing, sedang kan Novita, Isma, dan juga Aisyah sedang di dapur memasak dan membuat minuman untuk para santri yang sedang bekerja.....


“Hm masak apa ya?” Ucap Novita.


“Udah masak soto aja, simpel,” ucap Isma.


“Nah ini nih, pinter,” ucap Novita.


“Eh Syah kamu tau gak, tadi malam Novita tidur kek kebo, masa iya aku bangunin gak bangun-bangun,” ucap Isma.


Aisyah pun hanya tertawa....


“Kamu nih ya buka aib orang,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.


Isma pun tertawa terbahak-bahak....

__ADS_1


“Bodo amat,” ledek Isma.


__ADS_2