Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 22 (TAMAT)


__ADS_3

Mereka berdua pun terus berjalan tiba-tiba ada mobil yang lewat dan berhenti....


“Maaf mbak sama mas mau kemana ya?” Tanya seorang pemuda.


“Kami tadinya mau cari bengkel tapi gak ketemu, dan kami kena musibah, tadi ada dua orang preman,” ucap Novita.


“Oh kebetulan saya ngerti mesin, mobil kalian dimana?” Tanya pemuda ini.


“Di sana,” ucap Fikri.


“Ya sudah mari masuk ke mobil,” ucap seorang pemuda.


Fikri dan Novita pun masuk ke dalam mobil, kurang lebih setengah jam mereka pun sampai di tempat bus yang mogok tadi, pemuda ini pun langsung mengecek bus nya, dan Alhamdulillah bus nya pun bisa nyala lagi, Rifda yang melihat perut Fikri pun langsung menyenggol Novita yang sedang berdiri di samping Fikri.


“Fik perut kamu kenapa?” Ucap Rifda panik.


“Gpp,” ucap Fikri langsung meninggalkan Rifda dan mengucapkan terimakasih kepada pemuda itu.


Setelah itu pun mereka melanjutkan perjalanan, tepat jam 14:00 mereka sampai di ponpes, karena tadi tidak sempat shalat Dzuhur, Akhirnya semua santri pun melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah shalat Dzuhur semua pergi ke kantin untuk makan siang....


“Mbak aku es rasa blueberry ya satu,” ucap Isma memesan minuman.


“Aku es rasa coklat,” ucap Novita.


“Eh Is, kamu tau gak,” ucap Novita tersenyum melihat Isma.


“Ya enggak lah kan kamu belum cerita,” ucap Isma.


“Jadi tadi kan aku lagi.....,” Ucap Novita terpotong karena ada seorang santri yang memanggil Novita.


“Maaf ustadzah, ustadzah Novita di panggil oleh Kiyai Umar,” ucap santri itu.


“Oh, yaudah nanti ustadzah langsung ke sana,” ucap Novita.


“Permisi ustadzah,” ucap santri itu pergi.


“Aku duluan ya Is dadah,” ucap Novita pergi.


“Ah lumayan es dapet dua, eh tapi kan Novita belum bayar, astagfirullah aku di suruh bayar donk,” ucap Isma kesal.


Novita berjalan menuju rumah kiyai Umar, tidak lama Novita pun sampai....


“Assalamualaikum kita,” ucap Novita.


“Wassalamu’alaikum, duduk nak Novita,” ucap kiyai Umar.

__ADS_1


Novita pun duduk....


“Nak, Fikri sudah cerita semua nya, ternyata Rifda hanya berbohong, dan kiyai mau meminta maaf sama kamu,” ucap kiyai Umar.


“Tidak papa kiyai, Novita sudah memaafkan dan Novita sudah melupakan semuanya,” ucap Novita tersenyum.


Tiba-tiba ayah dan ibu Novita datang....


“Ayah ibu,” ucap Novita lalu memeluk ibu nya.


Ibu Novita pun mencium kening Novita....


“Ayok duduk dulu,” ucap kiyai Umar.


Mereka pun duduk....


“Jadi gini, kiyai Umar tadi menghubungi ayah dan ibu kamu untuk kesini,” ucap kiyai Umar.


“Hin ayok bicara apa yang ingin kamu sampaikan,” ucap kiyai Umar.


“Jadi gini, Tante om, Fikri mau melamar Novita untuk jadi istri Fikri,” ucap Solihin tersenyum.


“Kami sebagai orang tua nya ikut saja, kan nanti yang melakukan Novita bukan kami,” ucap ibu.


“Iya benar, tapi satu pesan om, jangan sakiti Novita,” ucap ayah Novita.


“Aku mau menjadi istri mu,” ucap Novita tersenyum.


“Alhamdulillah,” ucap all.


“Alhamdulillah,” ucap Fikri tersenyum.


“Jadi daripada timbul fitnah, bagaimana jika secepatnya di langsung kan pernikahan,” ucap kiyai Umar.


“Iya setuju, lebih cepat lebih baik,” ucap ayah Novita.


“Hm, gimana kalo Minggu depan aja,” usul ibu Novita.


“Iya bener, jadi mulai sekarang kita mempersiapkan semua nya,” ucap kiyai Umar.


Semua pun setuju, acara pun berlangsung di rumah Novita, ayah dan ibu Novita pulang untuk mempersiapkan semua nya, sedangkan Novita masih di ponpes. Malam pun tiba, Novita membereskan semua barang-barang nya karena ia harus pulang....


“Nov kamu kawin lah aku kapan,” ucap Isma dengan wajah sedih.


“Suruh tuh Azka secepatnya halalin kamu,” ucap Novita.

__ADS_1


“Kamu ngomong enak, lah kenyataan nya kagak enak,” ucap Isma memanyunkan bibirnya.


“Aku ikut pulang ya, aku nginap di rumah kamu sampai hari pernikahan kamu,” ucap Isma.


“Boleh aja sih, tapi kamu harus izin lah,” ucap Novita.


“Iya iya nanti aku izin,” ucap Isma.


Pagi pun, Isma sudah izin kepada kiyai Umar dan kiyai Umar mengizinkan, Novita dan Isma pulang ke rumah Novita. Kurang lebih 20 menit mereka sampai betapa kaget nya ternyata di depan rumah Novita sudah ada Bibah dan Dila....


“Aaaaaaa selamat ya,” ucap Dila memeluk Novita.


“Iya,” ucap Novita


Mereka semua pun masuk ke kamar Novita....


“Ah gak nyangka ya kamu secepatnya ini nikah,” ucap Bibah.


“Iya padahal kan harus nya Isma dulu,” ucap Dila.


“Ngadi-ngadi lu kalo ngomong,” ucap Isma melempar bantal ke Dila.


“Iya kan kamu yang paling tua,” ucap Bibah tertawa.


“Pernikahan itu enggak di lihat dari umur, pernikahan itu bukan main-main, nikah itu butuh kesiapan yang mapan, karena setelah menikah pasti banyak rintangan nya lagi tidak sampai disini aja, dan aku belum siap untuk itu semua,” ucap Isma panjang kali lebar.


“Iya dah iya serah lu,” ucap Dila.


Novita benar-benar bahagia, ternyata perjuangan nya selama ini tidak sia-sia karena Novita yakin bahwa jodoh itu tidak akan kemana....


“yaAllah aku berterima kepada mu, karena aku bisa menikah dengan laki-laki yang aku cintai, walaupun dulu ia yang aku kagumi dalam diam, dan dia sudah mempunyai kekasih, namun sayang Fikri adalah jodoh ku, aku percaya di dunia ini tidak ada yang tak mungkin. Mungkin dulu ia tidak akan mungkin menjadi suami ku karena kekasihnya yang lebih sempurna dari aku, tapi saat ini aku bersyukur aku bisa menjadi wanita yang lebih baik daripada yang dulu. Dulu dia di haluan ku sekarang dia menjadi kenyataan ku,” ucap batin Novita tersenyum.


1 Minggu pun berlalu, kini hari dimana Novita akan sah menjadi istri seorang ustadz. Keluarga Fikri sudah ada di rumah Novita dan Fikri pun mengucapkan hijab qobul, setelah Fikri mengucapkan hijab qobul semua yang hadir di pernikahan itu berkata “sah”. Novita yang mendengar Fikri mengucapkan hijab qobul dengan lantang pun Novita meneteskan air mata, tidak terasa kini ia sudah sah menjadi istri seorang ustadz. Novita pun keluar untuk mencium tangan suami nya, setelah mencium tangan Fikri pun, Fikri mencium kening Novita....


“Selamat ya sahabat aku, semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah cepat di kasih momongan ya,” ucap Isma tersenyum.


“Makasih Is,” ucap Novita tersenyum.


“Aaaaaaa Soswit,” ucap Dila.


“Ana uhibbuki fillah,” ucap Solihin tersenyum.


“Ana uhibbuka fillah,” ucap Novita tersenyum.


Saat itu hati dimana sangat bahagia untuk Novita dan Fikri...

__ADS_1


_Tamat_


Alhamdulillah akhirnya tamat juga🥺maaf ya semu kalo cerita nya gak seru walaupun gak ada yang like dan komen tapi gpp kok🤗 makasih buat yang udah mampir semoga cerita nya bermanfaat ya, Aamiin......


__ADS_2