Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin

Yang Tak Mungkin, Menjadi Mungkin
PART 18


__ADS_3

Setelah shalat Dzuhur semua santri baru berbondong-bondong pergi ke kantin, untuk makan siang karena kalo besok jadwal makan siang mereka jam 13:30 begitu juga Novita dan Isma, Novita dan Isma memesan makanan, saat penjual kantin ingin memberikan pesanan Novita yaitu mie ayam, tiba-tiba santri baru yang bernama Rahma langsung mengambil makanan pesanan Novita....


“Loh nak ngantri dulu, ini pesanan ustadzah Novita,” ucap penjual kantin.


“Udah lah mbak buat saya aja, biarin aja ustadzah ini, bikinin duluan,” ucap Rahma.


“Kok kamu gak punya etika sih? Ini pesanan Novita, ustadzah kamu,” ucap Isma.


“Dih siapa Lo?” Ucap Rahma dengan wajah sinis.


“Udah Is, udah ambil aja,” ucap Novita.


“Kenapa tadi gak masuk kelas, baru kelihatan ih, jangan mentang-mentang temanan sama ustadzah seenak nya,” ucap Rahma pergi.


“What? Wah cari ribut tuh anak,” ucap Isma kesal.


“Kesel kan kamu, sama itu juga anak yang bikin darah naik,” ucap Novita.


“Gila, gak punya etika sama sekali yaAllah,” ucap Isma.


“Akhlak nya lebih kotor daripada kita,” ucap Novita.


“Maaf ustadzah biar mbak bikinin lagi ga,” ucap penjual kantin.


“Iya mbak,” ucap Novita tersenyum.


Saat pesanan Novita datang lagi, tiba-tiba Rahma menyenggol, penjualan kantin hingga makanan Novita tumpah dan mengenai baju Novita....


“Upss, Sory gak sengaja,” ucap Rahma dengan nada tanpa rasa bersalah.


“Auuw panas,” ucap Novita mengelap baju nya dengan tisu.


“Heh? Mau kamu apa sih?’ ucap Isma.


“Lo itu siapa?” Ucap Rahma.


Isma pun menujukan kartu, bahwa dia adalah ustadzah di pondok ini, Rahma yang melihat nya pun kaget....


“Kaget? Hah? Kalian sekarang ikut sama aku!” Ucap tegas Isma.


“Mati kita Ma,” ucap Siti.


“Udah sih ya gak peduli,” ucap Rahma.


Rahma, Novita, Siti, dan Isma pergi ke ruangan ustadz Fikri dan Azka...


“Assalamualaikum,” ucap Isma.


“Wassalamu’alaikum, ada apa ini?” Tanya Solihin.


“Aku mau Rahma ini di hukum,” ucap Isma penuh emosi.


“Iya, tenang dulu jelasin dulu,” ucap Solihin.


“Dia gak ada etika loh, dia berani sama Novita sampai numpahin pesanan Novita sampai kena baju nya!” Ucap Isma.


“Lah ustadz saya gak terima kalo saya harus di hukum, saya kan gak sengaja, andaikan ustadzah Novita tidak sengaja menumpahkan pesanan saya dan mengenai saya, berarti ustadzah Novita harus di hukum seperti saya,” ucap Rahma.


“Tapi kamu. Ih!” Ucap Isma greget.


“Udah ya Is, ini masalah sepele, bener kata Rahma, ini enggak sengaja,” ucap Fikri.


“Hah? Tapi..,” ucap Novita terpotong.


“Udah ya, gak usah di perpanjang lagi,” ucap Fikri.


“Semoga kamu bisa lihat kelakuan orang yang kamu bela,” ucap Isma kesal lalu pergi.


Novita melihat Fikri lalu pergi, Rahma dan Siti pun pergi. Saat jauh dari ruangan Fikri dan Azka, Rahma merasa puas, karena ia berhasil menyelamatkan diri nya supaya tidak di hukum. Sedangkan Isma dan Novita masuk kamar dengan rasa kesal, Novita pun mengganti baju yang terkena kuah mie ayam tadi....


Setelah mengganti baju, Novita pun duduk di samping Isma....


“Gak habis pikir aku sama si Fikri, bisa-bisa nya dia gak menghukum Rahma,” ucap Isma.


“Iya sama kesel banget aku,” ucap Novita.


“Kek nya Rahma itu orang nya licik deh, dia akan membela diri nya, saat dia melakukan kesalahan,” ucap Isma


“Iya dan parah nya Fikri percaya itu donk,” ucap Novita.


“Nah itu dia, sekarang harus hati-hati sama tuh anak,” ucap Isma.


Disisi lain, Azka mendekati Fikri....


“Fik, kok kamu gak hukum di Rahma itu sih?” Tanya Azka.


“Lah gimana mau hukum, perkataan Rahma bener gitu,” ucap Fikri.


“Iya tapi kamu lihat gak Isma sama Novita kecewa sama keputusan kamu tadi,” ucap Azka.


“Iya tau, tapi mereka itu masalah sepele aja harus di hukum,” ucap Fikri.


“Ya kan kita gak tau kenyataan nya, siapa tau kenyataan nya itu yang bikin Isma sama Novita pengen ngehukum Rahma,” ucap Azka.


“Kok kamu jadi belaian Isma sih?” Ucap Fikri.


“Gak ada yang ngebela, tapi kita itu gak tau kenyataan nya, buktinya mereka sampai kecewa gara-gara kamu gak hukum si Rahma,” ucap Azka.


“Udah lah gak usah di bahas,” ucap Fikri.


Disisi lain, Rahma dan Siti sedang duduk di bawah pohon sambil tertawa karena ia berhasil membuat diri nya tidak di hukum....


“Rahma mau di lawan,” ucap Rahma tertawa.


“Nah iya tuh, mana bisa,” ucap Siti tertawa.


“Eh gimana kalo besok udah mulai belajar kita kerjain tuh ustadzah, pas di kelas,” ucap Rahma.


“Eh iya tuh bener banget,” ucap Siti.


“Ok besok beraksi ya,” ucap Rahma.


“Siap,” ucap Siti.


Malam pun tiba, malam ini Novita dan Isma duduk di depan kamar nya, Isma dan Novita merasa kesepian karena tidak mempunyai teman lain....


“Ah bosan gini, gak ada teman lagi,” ucap Novita.


“Iya, Cuma kita berdua doang,” ucap Isma


“Kenapa ya, Bibah sama Dila enggak ikut tes kemarin,” ucap Novita.


“Ya kan enggak ke pilih,” ucap Isma.


“Eh iya juga ya,” ucap Novita tertawa kecil.

__ADS_1


“Oh iya Nov, kok si Solihin jadi cuek ya sama kamu,” ucap Isma.


“Entah lah, cowok kan gitu kalo mangkin lama, mangkin bosan,” ucap Novita.


“Nah iya tuh bener banget,” ucap Isma.


Ternyata kamar Isma dan Novita berdampingan dengan kamar santri putri yang bernama Rahma dan juga Siti....


“Eh, kamar kita sampingan ya,” ucap Rahma.


“Astagfirullah, ngagetin aja kamu,” ucap Novita.


“Punya penyakit jantung ya mangka nya kagetan Mulu,” ucap ragam tertawa.


“Kita itu senior kamu loh bukan kawan nya kamu, kok kamu gak ada sopan-sopan nya sih?” Ucap Isma.


“Iri bilang,” ucap Siti tertawa.


“Udah Is masuk aja yok,” ucap Novita menarik Isma masuk ke kamar.


Jam pun menujukan pukul 03:30, Novita terbangun....


“Is, Isma,” ucap Novita membangun kan Isma.


“Hm,” jawab Isma.


“Bangun shalat tahajud,” ucap Novita.


Isma pun bangun...


“Hm iya ayok,” ucap Isma.


Novita dan Isma pun berjalan menuju musholla, saat di depan musholla, Novita bertemu dengan Fikri, Isma pergi ke tempat wudhu terlebih dahulu....


“Hai,” ucap Novita.


Fikri hanya membalas dengan senyuman, lalu pergi....


“Hah? Gitu doang?” Ucap Novita heran dan langsung mengambil air wudhu.


Setelah shalat tahajud, mereka wirid bersama, setelah wirid bersama, semua mengobrol di musholla sambil menunggu waktu subuh. Tiba-tiba Novita melihat Rahma mendekati Fikri yang sedang duduk di depan musholla....


“Pagi ustadz,” ucap Rahma.


“Iya,” ucap singkat Fikri.


“Ustadz mau tanya kenapa bukan ustadz yang ngajar di kelas 1?” Tanya Rahma sambil tersenyum.


“Ya karena memang tugas nya ustadzah Novita,” ucap Fikri.


Karena Novita kesal melihat Rahma selalu duduk mendekati Fikri, Novita pun mendekati Fikri....


“Ini musholla tempat ibadah, ngapain berduan,” ucap sinis Novita.


“Maaf ustadzah,” ucap Rahma.


“Pasti drama nih,” ucap batin Novita.


“Udah masuk sana!” Ucap Novita.


Rahma pun pergi masuk kedalam musholla...


“Cemburu?” Tanya Fikri.


“Enggak,” ucap Novita.


“Aneh,” ucap Novita pergi masuk ke dalam musholla.


“Cewek gitu ya,” ucap batin Fikri sambil menggelengkan kepala nya.


Saat Novita masuk ke dalam musholla wajah Novita sangat kesal saat melihat Rahma....


“Nov, kenapa sih?” Tanya Isma.


“Gpp,” ucap Novita.


Dengan seiring nya waktu, pagi pun tiba, sekarang saat nya semua santri untuk kesekolah, Rahma dan Siti sudah mempersiapkan jebakan untuk Novita. Saat Novita masuk ke dalam kelas, dan Novita membuka pintu, tiba-tiba air yang sudah Rahma dan Siti siap kan tumpah mengenai Novita, Novita pun basah kuyup, dan satu kelas menertawakan Novita....


“Diam!!!” Teriak Novita.


“Siapa yang naroh itu?” Ucap tegas Novita.


“Hati kalo ustadzah,” ucap salah satu santri tertawa.


“Emang kelas nya gak mau di masukin sama Lo,” ucap Rahma tertawa.


“Rahma! Ini pasti ulah kamu kan?” Ucap Novita penuh amarah.


“Hm kalo iya kenapa?” Ucap Rahma tertawa.


Rasa nya tangan Novita ingin menampar Rahma tapi ia harus sabar, Novita pun dengan rasa kesal keluar kelas dan menuju ke kamar untuk ganti baju, di tengah perjalanan Novita menangis....


“Nov, kamu kenapa?” Tanya Fikri.


“Walaupun aku bilang kamu gak akan percaya kan! Ngapain tanya-tanya,” ucap Novita.


“Maksudnya apa sih? Kamu juga kenapa basah kuyup gini,” ucap Fikri.


Tanpa berbicara Novita pun pergi.....


“Kenapa sih?” Ucap Fikri heran.


Setelah ganti baju, Novita kembali lagi ke kelas untuk mengajar, walaupun rasa nya malas, tapi Novita harus melakukan kewajiban nya....


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Novita nada malas.


“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap all.


“Baik lah, hari ini ustadzah akan memberitahu adap-adap di pondok, dan harus punya etika sama yang lebih dewasa,” ucap Novita menyindir Rahma.


Rahma yang mendengar ucapan Novita pun Bodo amat...


“Seorang santri yang berada di pondok pesantren harus mengikuti etika yang ada di pesantren, bukan hanya di pondok pesantren saja yang mempunyai etika, sekolah umum pun pasti mempunyai etika untuk anak didik nya. Berbeda dengan etika untuk santri di pesantren, apa saja itu etika untuk santri?” ucap Novita.


“1. Berperilaku sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW


Maksudnya adalah kita meneladani dan mengamalkan apa-apa saja yang telah Allah ajaran kepada kita sesuai dengan syariat islam, dari bagaimana sikap dan perilaku kita terhadap guru dan orang tua. Seperti istrinya nabi muhammad saw yang bernama khadijah beliau terkenal akan sosok wanita yang mempunyai akhlak dan sifat terpujinya,” ucap Novita menatap Rahma yang dari tadi tidak memperhatikan ucapan Novita.


Novita pun mendekati Rahma...


“Rahma, bisa enggak, gak usah mainan pulpen? Ini jam belajar,” ucap Novita.


“Ya suka-suka aku donk, jangan mentang-mentang kamu ustadzah ya, inget kita itu masih seumuran,” ucap Rahma.


“Iya tau, tapi ini jam pelajaran? Kamu harus hormati donk orang yang lagi berbicara di depan,” ucap Novita.

__ADS_1


“Cantik kamu? Mau banget di perhatiin,” ucap Rahma nada sinis.


“Jangan perhatiin aku tapi perhatiin pelajaran nya,” ucap Novita.


“Udah kek sana jelasin! Kasihan tuh yang lain,” ucap Rahma.


Dengan rasa kesal, Novita keluar dari kelas tanpa mengucapkan salam, dan semua santri pun bahagia karena tidak belajar, tiba-tiba Fikri datang....


“Assalamualaikum, kok tidak ada yang ngajar,” ucap Fikri.


“Waalaikumsalam,” ucap all.


“Tau tuh ustadzah nya gak konsisten ustadz,” ucap Rahma.


Fikri pun pergi untuk menemui Novita, dan ia melihat Novita sedang duduk di bawah pohon....


“Nov,” ucap Fikri.


“Apa?” Tanya Novita.


“Kenapa kamu gak ngajar?” Tanya Fikri.


“Siapa coba yang mau ngajar, kalo santri nya gak bisa ngehormatin aku? Aku tadi pagi di kerjain, salah satu santri naroh ember yang berisi air di atas pintu, pas aku buka pintu nya air nya tumpah kena aku, tadi aku ngajar aku ngasih tau adap-adap saat di pondok tapi gak ada yang merhatiin,” ucap Novita menatap Fikri.


“Maklum lah nama nya santri baru, pasti pada nakal dan bandel, kamu sebagai ustadzah harus merubah sifat mereka,” ucap Fikri.


“Gak ada kamu niatan mau menghukum orang yang sudah ngerjain aku?” Ucap Novita.


“Untuk apa?” Ucap Fikri.


“Kamu selaku anak dari pemilik ponpes ini, harus nya kamu bisa hukum santri yang tidak mempunyai etika, tapi malah kamu biarin, kalo di biarin dia itu mangkin ngelunjak tau gak, mereka akan semena-mena,” ucap Novita.


“Udah deh ngajar sana, kasihan mereka gak dapat pelajaran,” ucap Fikri.


“Aneh tau gak,” ucap Novita kesal lalu pergi.


Novita pun rasa nya ingin menangis melihat sifat Fikri yang berubah drastis, dengan berat hati Novita kembali ke kelas....


“Di marahin ya Ustadzah sama ustadz Fikri,” ucap salah satu santri.


“Udah kenapa sih kalian, kenapa sih dari tadi kalian gak ngehargain ustadzah nya,” ucap salah satu santri.


Tanpa berbicara Novita menulis di papan tulis, ia malas jika harus berbicara panjang lebar jika tidak di dengarkan. Jam pun menunjukkan pukul 12:00 saat nya shalat Dzuhur, semua santri berbondong-bondong menuju ke musholla, sedangkan Novita dan Isma masih di kamar karena harus mengambil peralatan shalat...


“Nov, kok kamu lemes gitu sih,” ucap Isma.


“Entah lah aku capek Is, ngadepin santri yang nakal nya nauzubillah,” ucap Novita.


“Masih berulah si Rahma?” Tanya Isma.


“Iya,” ucap Novita.


“Kenapa gak bilang sama si Fikri,” ucap Isma.


“Percuma gak di dengerin juga, bagaikan lagi ngomong sama tembok,” ucap Novita.


“Ih, sumpah ya si Fikri tuh kenapa sih,” ucap Isma kesal.


“Gak tau, udah yok ke musholla,” ucap Novita.


Setelah melakukan shalat pun, semua santri pergi menuju kelas karena masih ada 1 pelajaran lagi. Karena Isma sudah tidak mengajar lagi di kelas dua jadi Isma menemani Novita yang sedang mengajar di kelas satu.....


“Assalamualaikum,” ucap Novita nada malas.


“Wassalamu’alaikum,” ucap all.


“Sekarang ustadzah akan tes satu-satu untuk baca surah Al Kahfi ayat 1-10 beserta artinya,” ucap Novita.


“Di mulai dari Rahma,” ucap Novita.


“Aduh, gue Cuma hafal sampai 5, gak sampai 10,” ucap Rahma.


“Rahma cara bicara kamu bisa lebih sopan tidak?” Ucap Isma.


“Ih kenapa ada ustadzah nenek lampir sih,” ucap batin Rahma.


“Iya-iya,” ucap Rahma maju.


“5 aja ya,” ucap Rahma.


“Beserta artinya,” ucap Novita.


Rahma pun memulai membaca....


“اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ


Artinya:Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok


قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًاۙ


Artinya:sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.


مَّاكِثِيْنَ فِيْهِ اَبَدًاۙ


Artinya:mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.


Tiba-tiba Rahma lupa ayat selanjutnya....


“Aku lupa ustadzah,” ucap Rahma.


“Berdiri disini jangan duduk,” ucap Novita.


“Lah nama nya juga santri baru pasti lupa donk,” ucap Rahma.


“Gak usah ngebantah,” ucap Isma.


Mau tidak mau Rahma pun berdiri di depan, sampai jam pelajaran selesai. Jam pun menujukan pukul 13:30, semua santri berlari menuju kantin untuk makan siang sambil istirahat, Isma dan Novita duduk di bawah pohon....


“Is, kek nya si Rahma tuh takut deh sama kamu,” ucap Novita.


“Iya kali,” ucap Isma.


“Ya udah gimana kalo kamu nemenin aku terus,” ucap Novita.


“Ya enggak bisa lah, aku kan juga punya kewajiban,” ucap Isma.


“Hm iya juga sih,” ucap Novita.


“Nov, kok kamu akhir-akhir ini jarang sih bareng sama si Fikri,” ucap Isma.


“Gak tau tuh, orang aku lagi marah aja dia gak mau tuh bujukin,” ucap Novita memanyunkan bibirnya.


“Ya udah lah yang sabar aja,” ucap iya.


“Selalu sabar,” ucap Novita.

__ADS_1


“Sip,” ucap Isma.


__ADS_2