
Setelah makan siang, Novita dan Isma duduk di bawah pohon seperti biasa, saat itu tiba-tiba Novita melihat pemandangan yang bikin hati Novita terluka, ia melihat Fikri bercanda gurau dengan Rifda.....
“Sabar Nov,” ucap Isma.
Novita pun langsung pergi meninggalkan Isma, karena Novita kesal melihat itu semua, jujur menurut Novita melupakan Fikri adalah hal yang sangat sulit. Novita pergi ke taman belakang, tidak lama Reyhan mendekati Novita dengan membawa sebuah bunga....
“Assalamualaikum,” ucap Reyhan tersenyum.
“Wassalamu’alaikum,” ucap Novita.
“Nih aku punya sesuatu buat kamu,” ucap Reyhan memberikan sebuah bunga.
“Hah? Ini kan bunga yang ada di lapangan,” ucap Novita tertawa kecil.
“Yah ketahuan ya,” ucap Reyhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Novita pun tersenyum, melihat tingkah Reyhan....
“Nah gitu donk tersenyum, jangan sedih terus,” ucap Reyhan.
“Apaan sih, emang kamu tau aku lagi sedih atau enggak?” Tanya Novita.
“Tau lah, aku tuh cowok yang gak suka lihat cewek sedih, apa lagi cewek itu nangis Cuma gara-gara cowok,” ucap Reyhan.
“Masa? Dimana-mana cowok tuh yang selalu bikin cewek nangis,” ucap Novita.
“Tapi tidak semua cowok sama, cowok yang selalu bikin cewek menangis artinya dia cowok yang selalu menyakiti hati seorang ibu,” ucap Reyhan.
“Masa?” Ucap Novita.
“Iya lah, Menurut pengalaman aku,” ucap Reyhan.
“Oh iya, kok kamu bisa di ponpes ini sih?” Tanya Novita.
“Kan aku udah bilang aku ngajar bagian pelajaran olahraga,” ucap Reyhan.
“Gitu?” Ucap Novita.
“Iya lah,” ucap Reyhan.
“Kalo boleh tau kamu kok kelihatan nya selalu murung sih?” Tanya Reyhan.
Novita terdiam dan tunduk....
“Sory-sory aku gak bermaksud bikin kamu sedih lagi, tapi kalo kamu butuh teman curhat aku siap, insyaallah aku orang nya tidak pernah menyebarkan curhatan teman aku,” ucap Reyhan.
“Aku percaya kok, tapi menurut aku ini gak perlu di ceritain,” ucap Novita.
“It’s ok,” ucap Reyhan.
Menurut Novita Reyhan orang nya lucu, dan asik, tapi Novita tidak mau terlalu percaya pada cowok, karena ia takut Reyhan akan menyakiti perasaan nya sama seperti apa yang Fikri lakukan....
Malam pun tiba, saat di kamar Novita melamun, dan mengingat kejadian saat bersama-sama dengan Fikri, saat sedang di danau, di rumah sakit, dan saat Fikri berbicara dengan kiyai Khalid bahwa Fikri akan menikahi Novita, dan ucapan ia saat Novita sedang ulang tahun. Semua itu muncul lagi di dalam pikiran Novita yang membuat Novita menangis lagi. Fikri berjanji untuk datang ke rumah menemui orang tua Novita dan melamar Novita, tetapi janji Fikri semua nya bohong, Novita duduk di ujung tempat tidur nya, sambil memeluk kedua lututnya, Isma melihat Novita menangis langsung memeluk Novita....
“Nov, udah jangan nangis lagi,” ucap Isma menenangkan Novita.
“Is, banyak loh janji Fikri sama aku,” ucap Novita menangis.
“Tapi satu pun janji nya gak ada yang di tepati, semua nya ucapan dia muncul di pikiran aku,” ucap Novita menangis.
“Iya tau, tapi kamu jangan gini terus, itu bahaya buat kesehatan kamu,” ucap Isma.
“Is, aku udah bilang sama ayah, sama ibu, terus kalo aku pulang aku mau ngomong apa sama ibu dan ayah,” ucap Novita.
Isma langsung terdiam, jujur ia bingung apa yang harus ia lakukan....
“Udah ya sekarang kamu tidur, besok kamu kan harus ngajar,” ucap Isma.
Isma menggandeng Novita untuk tidur di tempat tidur, jujur Isma kasihan melihat kondisi Novita seperti ini....
Pagi pun tiba, pagi ini Novita mencoba tersenyum, ia berjalan menuju ke kelas satu, saat di tengah jalan Novita bertemu dengan Reyhan...
“Assalamualaikum Ustadzah,” ucap Reyhan.
“Wassalamu’alaikum,” ucap Novita.
“Mau ngajar ya?” Tanya Reyhan.
“Iya lah,” ucap Novita.
“Ngajar tema apa hari ini?” Tanya Reyhan.
“Tentang Istiqomah,” ucap Novita.
“Oh gitu, yaudah aku permisi ya assalamualaikum,” ucap Reyhan pergi.
“Wassalamu’alaikum,” ucap Novita.
Tiba-tiba Novita bertemu dengan Fikri, tetapi Fikri langsung tunduk, Novita pun langsung melanjutkan perjalanan nya....
“Nov, andai aku bisa jelasin semua nya, aku cinta sama kamu, tapi aku gak bisa nolak ini semua, maafin aku Nov aku tidak bisa memenuhi janji kamu,” ucap batin Fikri.
“Kenapa kamu gak ada nyapa aku sih Fik, aku berharap kamu mengajak ngobrol, atau senyum gitu,” ucap batin Novita.
__ADS_1
Tidak lama Novita pun sampai di kelas, keadaan kelas saat ini tidak terlalu ribut dan para santri nya sudah mau mendengarkan Novita, hanya Siti dan Rahma saja yang belum mau mendengarkan perkataan Novita....
“Assalamualaikum semua,” ucap Novita.
“Wassalamu’alaikum,” ucap all.
“Hari ini tema kita tentang Istiqomah, mungkin disini belum banyak yang tau apa itu Istiqomah,” ucap Novita.
“Istiqomah menurut Ali Bin Abi Thalib adalah sebagai tindakan melakukan suatu kewajiban. ... An-Nawani memaknai istiqomah sebagai tetap di dalam ketaatan. Sehingga istiqomah sendiri memiliki pengertian bahwa seseorang senantiasa ada di dalam ketaatan dan di atas jalan lurus di dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT,” ucap Novita.
“Sedangkan Ibnu Abbas memaknai istiqomah dengan tiga arti, pertama adalah istiqomah dengan lisan dengan sikap bertahan dengan membaca syahadat. Kemudian yang kedua adalah istiqomah dengan hati yakni dengan melakukan segala dengan disertai niat yang jujur. Dan terakhir adalah istiqomah dengan jiwa di mana seseorang senantiasa menjalankan ibadah serta ketaatan kepada Allah secara terus menerus,” ucap Novita tersenyum.
Alhamdulillah semua santri di kelas memperhatikan Novita, kecuali Rahma dan Siti, tapi itu tidak masalah untuk Novita, ternyata diam-diam Fikri memperhatikan Novita yang sedang mengajar...
Tetapi Novita tidak sadar bahwa dirinya sedang di perhatian oleh seseorang, akhirnya Novita melanjutkan pelajaran nya kembali....
“Istiqomah adalah kata dalam Bahasa Arab yang merupakan bentuk kata kerja dari kata istaqâma yang berarti “tegak lurus.” Bentuk lain dari kata istaqâma adalah mustaqîm yang sering diartikan lurus, misalnya dalam kata “ash-shirâtul mustaqîm” yang diartikan dengan “jalan yang lurus.” Dalam KBBI kata istiqamah diartikan dengan sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen,” ucap Novita tersenyum.
“Dari sini bisa dipahami bahwa istiqomah adalah sikap teguh pendirian dan siap menerima resiko apa pun yang diakibatkan dari sikap tadi. Dalam artian siap menerima konsekuensi dari pilihan sikap walaupun itu kadang berat dan tidak menyenangkan,” ucap Novita.
Fikri yang melihat tingkah laku Rahma dan Siti pun langsung menegur mereka berdua...
“Rahma, Siti! Kalian perhatikan yang sedang mengajar,” ucap Fikri dengan nada tegas, Rahma dan Siti yang mendengar itu pun langsung memperhatikan Novita, Novita kaget dengan kehadiran Fikri.
“Maaf silahkan di lanjut,” ucap Fikri pergi.
Novita sempat melamun sebentar...
“Ayok ustadzah di lanjutkan,” ucap para santri.
“Ok, contoh Istiqomah dalam kehidupan sehari-hari adalah, Ketika kita tidak terbiasa bangun subuh kemudian meniatkan diri untuk berubah dan ingin selalu bangun subuh, maka istiqamah disini berarti kita harus menerima konsekuensi untuk menghilangkan rasa malas, siap menahan kantuk. Dan ini harus kita lakukan setiap hari, bukan hanya sekali saja kemudian besoknya tidak dilakukan lagi,” ucap Novita.
“Contoh lain adalah ketika ada seorang perempuan yang sebelumnya tidak berhijab atau berjilbab dan ingin berubah dengan selalu menutup aurat. Maka arti istiqomah dalam berhijab adalah menerima konsekuensi untuk diledek bahkan dibully teman karena pilihannya tersebut. Bahkan bukan hanya teman, bisa jadi ada saudara atau orang tua marah atas pilihannya tersebut. Selain itu dia harus selalu konsisten untuk berusaha berhijab, bukan kambuh-kambuhan. Sekarang pakai hijab, besok tidak,” ucap Novita Melihat kearah semua santri.
“Selain dua contoh diatas, istiqomah juga bisa dipakai untuk urusan cinta. Istiqomah dalam cinta berarti kita menerima konsekuensi cinta kita dan selalu konsisten mempertahankannya, tetapi ingat kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk mencintai kita, kita boleh Istiqomah tapi jangan memaksa,” ucap Novita.
“Karena kalo di paksa, ustadz nya milih cewek yang lebih cantik,” sambung Rahma.
Novita hanya menggeleng kan Kepala....
“Bahkan istiqomah adalah salah satu nikmat yang Allah berikan untuk kemudian kita syukuri. Sebagaimana dalam hadist Nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomah lah,” ucap Novita tersenyum.
“Keutamaan Istiqomah apa ustadzah?” Tanya salah satu santri.
Istiqomah juga sering diartikan sebagai sebuah amalan yang konsisten. Meskipun ia kecil tetapi bila dilakukan dengan konsisten maka itu lebih baik, dan yang ketiga Terhindar dari Kesedihan dan Kekhawatiran
Orang yang senantiasa istiqomah akan terhindar dari kesedihan dan kekhawatiran. Dua rasa yang sering kali mengganggu manusia sehingga tidak fokus dalam beramal,” ucap Novita.
“Ok sampai sini paham?” Tanah Novita.
“Paham ustadzah,” ucap all.
“Ok kita siap-siap ya untuk shalat Dzuhur, setelah itu kalian pergi keruangan ustadzah Isma ya untuk setoran hafalan,” ucap Novita.
“Iya ustadzah,” ucap all.
“Baik ustadzah akhiri assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Novita pergi.
“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap all.
Novita pergi berjalan menuju ke kamar untuk mengambil peralatan shalat, saat sampai di kamar, Novita mengambil mukena dan teringat lagi dengan Fikri, karena mukena itu dari Fikri, Novita benar-benar ingat saat ia memberikan mukena ini saat ulang tahun Novita, Novita pun memeluk mukena itu sambil meneteskan air mata, tiba-tiba Isma datang....
“Nov ayok, udah waktunya shalat,” ucap Isma.
“Eh iya Is,” ucap Novita.
Novita dan Isma berjalan menuju musholla, setelah shalat Dzuhur pun Novita duduk sendiri di bawah pohon, karena Isma sedang menerima setor hafalan para santri. Tiba-tiba Reyhan duduk di sebelah Novita....
“Ngelamun terus? Gak baik loh apa lagi di bawah pohon,” ucap Reyhan.
“Gak ada yang ngelamun,” ucap Novita.
“Lah terus kenapa?” Tanya Reyhan.
“Cuma gak ada teman ngobrol aja, jadi ya aku diam aja lah, ya kali aku ngomong-ngomong sendiri kaya orang gila,” ucap Novita.
“Eh iya juga ya,” ucap Reyhan.
“Kek nya kamu deh yang kurang fokus,” ucap Novita tertawa.
“Nah tuh bisa ketawa, kan kalo ketawa gitu cantik,” ucap Reyhan.
“Apa an sih kamu,” ucap Novita tersenyum.
Tidak sengaja Fikri dan Azka lewat, dan melihat Novita tertawa bersama Reyhan....
“Mangka nya kalo masih sayang jangan di lepas sekarang nyesel kan?” Ucap Azka menyindir Fikri.
“Apa an sih kamu,” ucap Fikri pergi.
__ADS_1
“Dih, tanda-tanda cemburu gitu tuh, mangka nya kalo sayang sama dia ya nikah nya sama dia bukan sama mantan,” ucap Azka.
Fikri menemui Rifda yang sedang duduk di rumah kiyai Umar, entah Fikri masih memikirkan Novita yang sedang tertawa dengan Reyhan....
“Fik, kamu kenapa?” Tanah Rifda namun Fikri tidak menjawab.
“Fik,” ucap Rifda menepuk kedua tangan nya telat di wajah Fikri yang membuat Fikri kaget.
“Eh iya apa Nov,” ucap Fikri.
“Hah? Nov?” Ucap Rifda kaget.
“Hah? Maksud aku Rif,” ucap Fikri kaget.
“Kamu lagi mikirin Novita?” Tanya Rifda.
“Enggak kok,” ucap Fikri.
“Aduh Fik, kenapa sih pakek keceplosan segala, kan bikin masalah aja,” ucap batin Fikri.
“Fik? Ih kamu mah bengong terus? Kamu beneran lagi mikirin Novita?” Tanya Rifda.
“Enggak aku lagi banyak pikirin aja,” ucap Fikri.
“Yakin?” Ucap Rifda.
“Iya,” ucap Fikri.
Malam pun tiba, Azka Melihat Fikri yang sedang duduk di depan jendela yang sedang melamun....
“Fik, kenapa kamu?” Tanya Azka.
“Tadi aku salah panggil, aku manggil Rifda malah manggil nama Novita,” ucap Fikri.
“Nah kan ke bukti kamu itu masih sayang sama Novita, udah lah balikan aja, tinggalin si Rifda, kamu jelasin,” ucap Azka.
“Gak semudah itu,” ucap Fikri.
“Kamu tuh ya kalo di kasih tau ngeyel Mulu,” ucap Azka kesal.
Fikri terdiam, disisi lain, Novita melihat kearah langit-langit tempat tidurnya sambil memeluk boneka. Novita masih mengingat saat kebersamaan ia dengan Fikri, sungguh menurut Novita melupakan Fikri benar-benar sudah....
“Nov tidur besok kan ada rapat antara ustadz dan ustadzah,” ucap Isma.
“Hah? Emang iya? Kok aku gak tau?” Ucap Novita.
“Ya udah sih sekarang kan dah atau, udah tidur,” ucap Isma.
“Iya,” ucap Novita.
Pagi pun tiba, Novita dan Isma menuju ruang rapat, di dalam ruangan itu terdapat, Azka, Fikri, Rifda, dan Reyhan....
“Assalamualaikum semua nya,” ucap Fikri.
“Wassalamu’alaikum,” ucap all.
“Kita dapat undangan dari ponpes Al-Hayat, jadi kita semua para santri harus pergi kesana, untuk menghadiri acara kultum,” ucap Fikri.
“Tapi yang ikut kesana, hanya santri baru, jadi santri yang sudah kelas 2 dan kelas 3 tidak ikut,” ucap Fikri.
“Kapan berangkat nya?” Tanya Isma.
“Hari ini setelah shalat Dzuhur,” ucap Fikri.
“Ok,” ucap all.
“Ok sekian dari saya, saya akhiri assalamualaikum,” ucap Fikri.
“Waalaikumsalam,” ucap all.
Semua pun bubar, Fikri memberitahu kepada semua santri, semua santri pun menyiapkan barang-barang yang di perlukan, karena mereka akan menginap 2 malam 1 hari, begitu juga dengan Isma dan Novita...
Setelah shalat Dzuhur pun semua santri berangkat ke ponpes Al-Hayat, perjalanan nya cukup jauh jadi para santri tertidur. Kurang lebih 3 jam mereka pun sampai di ponpes Al-Hayat, sebelum ke ponpes Al-Hayat semua santri ke penginapan yang sudah di sediakan, jarak antara ponpes Al-Hayat dengan penginapan mereka tidak terlalu jauh....
“Ok hari ini kita istirahat, besok kita hadir di acara ponpes Al-Hayat,” ucap Fikri.
Novita dan Isma melihat sebelah kiri penginapan mereka adalah sebuah pantai yang sangat indah...
“Ustadz apa kah kita boleh pergi ke pantai itu?” Tanya salah satu santri.
“Boleh tapi ingat jangan terlalu dekat dengan ombak nya bahaya,” ucap Fikri.
“Baik ustadz,” ucap all.
“Ayok Nov,” ucap Isma.
“Ke mana?” Tanya Novita.
“Kesana lah ngelihat pemandangan daripada ngelihat orang pacaran,” ucap Isma.
“Iya juga ya, ayok,” ucap Novita.
Isma dan Novita pergi ke area pantai, Isma dan Novita naik di batu karang sambil menikmati ombak....
__ADS_1