You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 100. Kebersamaan


__ADS_3

Rasa syukur El melebihi kata-kata karena kehadiran Rio berhasil membuat suasana rumahnya menjadi lebih hangat. Papanya terlihat lebih sehat dan bersemangat, gairah hidup kembali terpancar dari sikapnya meski berada di atas kursi roda.


Lewat matanya ia berucap terima kasih pada Kiara, karena pada akhirnya mau memenuhi keinginan kedua orang tuanya yang sangat ingin bertemu dengan cucunya itu.


Semua berawal saat keduanya tengah makan siang bersama, setelah selesai melakukan pertemuan dengan klien. Lewat percakapan singkat El dengan Bian melalui vc, Kiara melihat dengan jelas bagaimana seorang Bian yang biasanya bersikap arogan, terlihat begitu rapuh saat berbicara dengan putranya itu.


Bagaimana Bian terus mendesak dan menanyakan pada El, apa Kiara mau datang bersama Rio menemuinya. “Papa ingin sekali melihat dan memeluk cucu Papa. Kesalahan Papa pada kalian memang tidak mudah untuk dimaafkan. Tapi tidak bisakah kalian memenuhi keinginan terakhir Papa, kali ini saja. Izinkan Papa melihat dan memeluknya,” pinta Bian mengulang ucapannya.


Hati Kiara luluh, ia tahu dari cerita El kalau kedua orang tuanya sangat menginginkan cucu dari pernikahan putranya itu. Namun keinginan mereka tak pernah terwujud, karena untuk kali kedua El berpisah lagi dengan pasangannya.


Mengetahui kenyataan kalau El memiliki anak dari pernikahannya dengan Kiara, Bian yang awalnya pasrah dengan sakit yang dideritanya dan sudah kehilangan gairah hidup, kembali bersemangat dan mau menjalani perawatan demi untuk bertemu dengan cucunya.


Saat ponsel itu beralih ke tangannya, Kiara bisa melihat rona terkejut tampak jelas di wajah Bian. Kiara lalu tersenyum kecil dan berkata, “Inshaa Allah, jika tidak ada halangan yang berarti kami akan datang menemui Tuan di sana.”


Dan di sinilah mereka semua sekarang berada. Berkumpul dalam satu meja yang sama saling berbagi cerita, layaknya sebuah keluarga sebenarnya. El duduk bersebelahan dengan Kiara, sementara Rio duduk di tengah diapit Bian dan Winda. Celoteh Rio yang tak berhenti bercerita tentang kesehariannya, kerap membuat semua yang ada di sana tertawa mendengarnya.


Bian tak henti-hentinya mengumbar senyum, dan seolah enggan berjauhan ia terus berada di samping Rio. Winda pun tak mau kalah, sedari tadi terus memberikan perhatiannya dengan memenuhi segala keinginan cucunya itu.


Meja makan yang biasanya hening karena tak ada yang bersuara saat menyantap makanan, kini berubah riuh dengan celoteh riang Rio yang berulang kali mengacungkan ibu jari terus memuji masakan omanya.


“Masakan Oma the best!” ucap Rio pada Winda, lalu kembali melanjutkan suapannya.


“Terima kasih, sayang. Oma sangat senang mendengarnya,” bisik Winda di telinga Rio. “Oma juga punya sesuatu buat Iyo. Tunggu ya.”

__ADS_1


Winda bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kulkas besar yang ada di belakang meja makan. “Oma dengar dari papa, Iyo suka sekali makan es krim. Jadi Oma siapin banyak dan bermacam rasa khusus buat menyambut kedatangan cucu Oma hari ini.”


Winda mengeluarkan kotak es krim dari dalam kulkas dan menaruhnya di hadapan Rio, yang langsung melebarkan matanya dan menjilat bibirnya. “Waah, ada es krim. Ini semua buat Iyo?”


Winda menganggukkan kepala mengiyakan. Rio memutar badannya dan langsung memeluk pinggang omanya. “Terima kasih, Oma.”


“Sama-sama, sayang. Sekarang habiskan makannya dulu, setelah itu baru makan es krimnya.”


“Siap, Oma!”


Kiara tersenyum melihat interaksi antara putranya bersama oma dan opanya. Tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya mereka akan berkumpul bersama seperti yang terjadi saat ini.


Teringat ucapan ibu Lastri padanya saat menggendong bayi Rio yang terlelap dalam gendongannya dulu. “Semua pasti akan luluh hatinya melihat betapa menggemaskannya putramu ini. Semoga saja kehadirannya di dunia ini menjadi penyejuk hati dan penyambung tali silaturahmi di antara keluarga yang sudah lama tak bersua.”


Beberapa kali Bian berusaha menangkap bola, tak jarang ia harus terjatuh dari kursi rodanya dan meringis menahan nyeri. Kiara berteriak khawatir dan bergegas hendak turun untuk melihat keadaan Bian, namun lelaki itu melarangnya dengan memberi kode pada Kiara untuk tetap diam di tempatnya.


Kiara tersenyum samar, meski dalam keadaan sakit sekalipun aura seorang Bian yang angkuh masih saja tak hilang dari dirinya. Ia tetaplah seorang pria yang perintahnya sukar untuk ditolak.


Ia berusaha bangkit kembali karena tidak ingin melihat kekhawatiran di wajah cucunya. Ia tahu benar cucunya itu berusaha mengajaknya bermain bersama, tanpa melihat keadaan dirinya yang berada di atas kursi roda. Menganggapnya sama sehat seperti dia dan papanya, sehingga Bian bersemangat dan tidak merasa diabaikan.


Tapi melihatnya sering terjatuh karena terlalu bersemangat menangkap bola, membuat El khawatir juga. Terlebih lagi Rio yang merasa bersalah karena merasa dirinya yang membuat sang opa sering terjatuh, apalagi mendengar teriakan Kiara yang menegurnya untuk menendang pelan saja bolanya.


“Maafin Iyo, Opa. Iyo sudah berusaha pelan tendang bolanya, tapi anginnya terlalu kencang jadinya meleset.” Rio berjongkok di dekat Bian, raut bersalah terlihat jelas di wajahnya.

__ADS_1


Bian tertawa membesarkan hati cucunya, ia tak mungkin mengakui kalau kakinya terasa nyeri. Namun tanpa disadarinya, justru hal itu membuat Bian perlahan mulai bisa menggerakkan kakinya sendiri tanpa perlu dibantu orang lain di dekatnya. Ia tidak hanya bisa menggeser kakinya, Bian bahkan mulai bisa menopang tubuhnya meski dengan kaki ditekuk dan belum bisa tegak sepenuhnya.


“Opa gapapa,” ucap Bian yang dibantu El kembali naik ke kursi rodanya. “Kalau cuma diam saja tanpa berusaha menangkap bolanya, bukan kiper namanya. Mending Opa duduk saja di sana menonton kalian bermain,” ucap Bian menenangkan Rio.


“Bagaimana kalau kita buat istana pasir saja, Opa. Lagi pula Opa bisa duduk selonjoran di pasir pantai bareng Iyo,” usul Rio melihat Opanya mulai terlihat lelah, tapi masih bersikeras menemani Rio bermain.


“Usul Iyo boleh juga, kita sekarang ganti permainan. Opa bisa lebih santai dan gak harus keluarin tenaga ekstra buat tangkap bola. Gimana, Pa. Setuju kan sama usul Iyo?” tanya El kemudian.


“Baiklah, Opa ikut saja.”


Permainan pun berganti, ketiga lelaki beda generasi itu mulai membangun istananya masing-masing. Tak jarang air pantai menghancurkan bangunan yang sudah jadi, Rio bahkan berteriak lantang sambil menjatuhkan tubuhnya saat mencoba menghadang air pantai yang menghantam istana buatannya. Membuat Bian dan El tertawa melihat tingkahnya.


Dari jauh Kiara melihat Rio duduk sejajar dengan Bian. Lelaki itu memeluk bahunya dan membisikkan sesuatu pada putranya itu. Tak lama kemudian terlihat Rio menganggukkan kepala dan balas memeluk opanya. El terkekeh seraya mengacak rambut kepala Rio yang basah.


“Walau hanya semalam Mama berharap sekali kalian mau menginap di sini,” ucap Winda mengalihkan perhatian Kiara dari pemandangan di depannya. Wanita itu datang dengan membawa nampan besar di tangan dibantu asisten rumah tangganya. Ia letakkan beberapa camilan dan roti dalam wadah tertutup dan menaruhnya di meja bulat yang berada di depan Kiara.


Sebelum Kiara sempat menjawabnya, Winda sudah berteriak menyuruh para lelaki yang ada di bawah sana itu untuk segera naik dan menikmati makanan yang sudah disediakan olehnya. Tanpa menunggu lama, Rio berlari naik sementara El membantu papanya naik ke kursi roda dan menyusul naik ke dermaga.


“Mama, Iyo mau bobok bareng sama opa di sini. Boleh ya, Ma. Kita malam ini nginap di rumah papa ya, Ma?”


“Iyo mau lihat kapal nelayan cari ikan, Iyo mau jalan-jalan bareng papa juga opa sambil lihat pasar malam. Iyo juga mau ...” dan banyak keinginan Rio lainnya yang tak mampu Kiara tolak saat itu, ia hanya bisa mengangguk pasrah mengikuti kemauan putranya yang tentu saja langsung disambut suka cita oleh semua orang yang ada di sana.


••••••••

__ADS_1


__ADS_2