
Di setiap kehidupan yang terjadi di muka bumi ini, ada yang namanya pasang surut kehidupan. Ada saat di mana seseorang berada di atas, sukses, punya kehidupan yang menyenangkan hingga terkadang lupa bahkan antipati pada masalah yang dihadapi orang sekitarnya. Sebagian malah ada yang beranggapan uang dan harta adalah segalanya. Dengan uang, segalanya dapat diatur sesuai keinginan.
Namun ada kalanya seseorang itu berada di bawah, berada pada titik terendah dalam hidupnya. Terpuruk, menyedihkan.
Jika boleh memilih, setiap orang pasti akan memilih kesuksesan dan menolak kegagalan. Tapi bagaimanapun juga, alur kehidupan memang tidak dapat ditebak. Semua bisa saja terjadi bahkan di luar perkiraan kita, dan takdir seseorang tidak ada yang tahu selanjutnya.
Bisa saja karena sesuatu hal, seseorang akhirnya mampu bangkit dari keterpurukan. Bahkan melampaui batas penilaian orang lain terhadap dirinya. Tapi, tidak semua orang bisa bangkit dan menjadi pemenang.
Kiara telah mengalaminya, dan pada akhirnya ia mampu bertahan dan berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Memang bukan perkara yang mudah untuk dijalani, karena banyak yang telah ia korbankan selama itu terjadi.
Kehilangan paman tercinta yang telah merawat dirinya sejak kecil hingga dewasa, juga berakhirnya hubungan rumah tangganya dengan El lelaki yang dicintainya karena campur tangan papa mertua yang memang sejak awal pernikahannya tidak pernah merestui hubungan mereka berdua.
Beruntung masih ada orang yang peduli dan sayang padanya, yang selalu mendukung dirinya. Yang selalu setia menemaninya sampai akhir.
Orang-orang yang kini telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, dan Kiara tidak akan pernah mengecewakan harapan mereka semua padanya. Perlahan tapi pasti, Kiara mampu menata hidupnya kembali. Mengingat hal itu membuat Kiara tak henti berucap syukur pada-Nya.
Pertemuannya dengan oma Mala tanpa sengaja di mal, menjadi babak baru kehidupannya kini. Beberapa hari sebelum pesta ulang tahun Rio, Okta datang dan menjemput Kiara dan keluarganya untuk berangkat ke rumah oma Mala.
Mereka saling berkenalan, berpelukan, menumpahkan semua rasa rindu yang terpendam setelah sekian lama tidak pernah bertemu. Suasana haru menyelimuti hari itu. Hari di mana Kiara akhirnya bisa bertemu dan mengenal keluarga dari pihak mamanya. Kiara juga bisa berziarah ke makam mamanya, memeluk dan mencium fotonya yang banyak terdapat di dalam album keluarga Sanjaya.
Kiara menangis terisak saat mendapati gambar kedua orang tuanya dalam pigura besar terpasang di dinding kamar mamanya. Kamar yang tetap dibiarkan seperti sebelumnya, bersih dan terawat meski telah ditinggal lama pemiliknya.
Kata maaf terucap dari masing-masing anggota keluarga. Oma Mala tidak dapat menahan dirinya, memeluk Kiara dan kembali mengulang permohonan maafnya pada cucunya itu. Salah satu penyesalan oma pada putrinya Ara, kesalahan terbesar yang telah dilakukannya saat itu adalah karena oma telah dibutakan oleh rasa bencinya.
__ADS_1
Ia menumpahkan kesalahan sepenuhnya pada menantunya Erhan, sebagai penyebab kematian putrinya dan memutuskan hubungan begitu saja dengan mereka hingga mengabaikan darah daging Ara, bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia dan harus kehilangan kasih sayang ibunya.
Oma Mala ingin menebus semua kesalahannya pada Kiara cucunya, putri dari Ara anaknya yang telah tiada. Ia ingin mewariskan hartanya juga perusahaan yang dimilikinya pada Kiara, sebagai pengganti Ara tanpa mengabaikan keberadaan Okta cucunya yang lain.
Oma Mala telah membuat wasiat, ia sengaja mengumpulkan semua keluarga yang ada. Ia juga telah meminta pengacara keluarga untuk datang hari itu. Dan di hadapan semua orang ia membuat pernyataan akan mewariskan beberapa rumah sakit yang dimiliki keluarga Sanjaya kepada Okta dan perusahaan Sanjaya Grup kepada Kiara.
Sementara perusahaan lain milik oma Mala tetap dijalankan oleh menantunya, sampai saatnya nanti akan diteruskan kembali oleh Kiara.
Keputusan sudah bulat, dan semua anggota keluarga menerimanya karena penerus keluarga Sanjaya hanya ada dua orang yaitu Kiara dan Okta yang masing-masing adalah anak tunggal dalam keluarganya.
Meski sempat menolak di awal karena tidak merasa memiliki kemampuan untuk memimpin sebuah perusahaan besar seperti Sanjaya Grup, namun pada akhirnya Kiara mau dan bersedia menerima tanggung jawab itu.
Bukan tanpa alasan oma Mala menyerahkan kepemimpinan perusahaan padanya, karena ia yakin Kiara mampu melakukannya.
•••••
“Papa, bagaimana pembicaraan kalian berdua tadi. Apa Kiara mau mendengarkan ucapan Papa dan membantu perusahaan kita?” Winda memegang lengan Bian, wajah suaminya itu tampak memerah dan tegang.
Bian menatap Winda, terlihat kerutan di keningnya. “Urusan kita sekarang dengan nyonya Nirmala, tidak ada hubungannya dengan wanita itu.”
“Tapi wanita itu yang ...” suara Winda tergantung di udara, di atas panggung utama terlihat Kiara tengah mendorong kursi roda omanya di dampingi Okta, dan kedua orang tuanya.
Dan yang terjadi selanjutnya membuat kerutan di dahi Bian bertambah dalam. Dadanya tiba-tiba sesak, suara tarikan napasnya terdengar begitu keras namun tidak ada yang melihatnya karena fokus para undangan sedang tertuju pada ke empat orang yang sedang berada di depan mereka.
__ADS_1
“Untuk selanjutnya, perusahaan akan dipimpin oleh cucu perempuan Saya. Sebagai pewaris dari Sanjaya Grup, Kiara Larasati.” Ucapan dari oma Mala menutup sesi pengumuman dari tuan rumah sebagai penyelenggara acara.
Sebuah pengumuman yang membuat semua tamu undangan terkejut dan keheranan, tak menyangka nyonya Mala akan melimpahkan kepemimpinan perusahaan pada cucu perempuannya yang selama ini luput dari pemberitaan.
Suasana tegang menyelimuti hati Bian, ia memegangi dadanya yang terasa semakin sesak. Sama sekali ia tidak pernah menyangka akan mendengar berita seperti ini. Benar-benar di luar perkiraannya.
Wanita yang berdiri anggun di atas panggung utama itu adalah pewaris perusahaan Sanjaya Grup. Wanita yang dulu selalu direndahkan olehnya bahkan tidak pernah diakuinya sebagai menantu.
Kilasan masa lalu melintas dalam ingatannya, bagaimana ia memperlakukan Kiara dulu. Ada rasa penyesalan singgah di hatinya, tapi apa wanita itu mau mendengar dan mempercayai ucapannya lagi setelah semua yang dilakukannya di masa lalu. Luka yang ditorehkannya terlalu dalam dan mungkin tak bisa dimaafkan. Apalagi mengingat ucapan wanita itu yang mengatakan dengan tegas tidak ingin berurusan lagi dengannya.
Tapi ia akan tetap berusaha, dan satu-satunya jalan adalah dengan berbicara kembali dengan wanita itu dan bila perlu ia akan meminta maaf padanya. Demi untuk mempertahankan perusahaan yang sudah lama dirintisnya dan kini sedang tertimpa masalah karena ulah salah satu rekan bisnisnya yang berbuat curang dengan menggelapkan dana perusahaan sehingga ia mengalami kerugian yang cukup besar.
“Aarghk!” Bian meringis menahan nyeri di bagian dadanya, ia berusaha berdiri seperti para tamu lainnya yang bertepuk tangan menyambut pemimpin baru perusahaan Sanjaya Grup. Tangannya mencengkeram kuat pinggir meja, matanya kini tertuju pada Kiara yang tengah tersenyum dan menangkupkan kedua tangan di dada.
Pandangan keduanya bertemu, Bian sudah berdiri dan terus menatap Kiara. Sempat dilihatnya wanita itu menundukkan kepala padanya sebelum akhirnya ia jatuh tersungkur di lantai.
“Papa!”
“Cepat bawa segera ke rumah sakit!”
Terdengar teriakan panik orang-orang di sekitarnya, Bian merasakan napasnya tersengal-sengal. Ia ingin mengucapkan sesuatu namun tidak ada yang keluar dari mulutnya, hingga dirasakannya sebuah tangan halus menggenggam erat tangannya sebelum akhirnya ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
••••••••
__ADS_1