
Ternyata belum siap Aku kehilangan dirimu
Belum sanggup untuk jauh darimu
Yang masih s’lalu ada dalam hatiku
Tuhan tolong mampukan aku ‘tuk lupakan dirinya
Semua cerita tentangnya yang membuatku
‘Slalu teringat akan cinta yang dulu hidupkanku
Lamat-lamat penggalan lagu yang diputar El di dalam mobil, memasuki ruang pendengaran Kiara. Matanya mengerjap dan perlahan terbuka. Setiap lirik lagu yang terdengar olehnya saat itu, seolah mewakili perasaan Kiara yang langsung berubah sendu karena terkenang pada almarhum pamannya.
“Sudah bangun rupanya,” suara El mengalihkan perhatian Kiara. Lelaki itu tersenyum kecil, menoleh sekilas pada Kiara. Tangannya yang bebas bergerak hendak mematikan audio dari tape yang menyala di depannya.
“Jangan dimatikan!” cegah Kiara, yang membuat El menahan gerakan tangannya. “Aku suka dengar lagunya. Liriknya mengingatkan Aku pada seseorang,” imbuh Kiara lagi lirih.
El menaikkan satu alisnya, bertanya-tanya dalam hati. Kiara menarik bahunya yang bersandar pada kaca mobil di sampingnya, lalu menegakkan punggungnya. Ia memalingkan wajahnya ke samping, tak ingin bertemu pandang dengan El yang menatapnya dengan sorot mata bertanya yang begitu kentara.
“Lagu itu mengingatkanku pada almarhum paman,” jelas Kiara, memberikan alasan tanpa menolehkan wajahnya pada El.
“Oh!” jawab El pendek, suasana menjadi canggung tiba-tiba.
El memutar lagu itu karena ia memang suka dengan sebagian liriknya yang menurutnya pas untuk dirinya saat itu. Ia yang sampai detik ini ternyata masih belum mampu melupakan kisah cintanya dengan Kiara. Meski raga mereka dekat, tapi terasa sulit untuk menyentuhnya.
“Apa masih jauh rumahnya?” tanya Kiara memecah keheningan di antara mereka.
Sepanjang jalan yang mereka lewati tadi, hanya pemandangan lahan kosong yang dipenuhi tanaman ilalang tinggi terlihat di sana-sini. Baru mendekati daerah pesisir pantai, ada banyak rumah dan bangunan berupa pondok sederhana di pinggir jalan yang terlihat menjual beberapa hasil tanaman perkebunan dan ikan segar hasil tangkapan.
Kiara menoleh ke bangku belakang, dilihatnya Rio masih tertidur nyaman. Sejak berangkat pagi tadi, putranya itu mengeluh masih mengantuk karena harus bangun pagi-pagi sekali. Kiara berinisiatif memindahkan bantal yang ada di mobilnya untuk alas tidur Rio di mobil El. “Tumben banget Iyo tidur terus sepanjang jalan, biasanya bangun sambil ngajak ngobrol kalau lagi jalan bareng kayak gini.”
“Ngantuk banget kayaknya, tidurnya pules gitu!”
__ADS_1
“Iyo, Iyo bangun sayang. Hei, kita mau sampai rumah opa loh!” ucap Kiara mencoba membangunkan Rio, namun bocah lelaki itu bergeming tetap tidur tanpa merasa terganggu dengan lagu yang diputar dan percakapan kedua orang tuanya
“Sebentar lagi kita sampai, apa Kamu mau istirahat dulu? Kebetulan ada pondok di pinggir jalan sana, kita bisa mampir sejenak.” El bertanya pada Kiara yang dijawabnya dengan menggelengkan kepala.
“Lanjut aja deh, tanggung mampir kalau dah dekat juga.”
El memutar tubuhnya menghadap Kiara, bahunya sedikit merendah dan hampir menyentuh bahu Kiara. Hingga menyisakan jarak yang begitu dekat dengan wanita yang duduk di sampingnya itu, yang kini tengah mengarahkan pandangannya keluar kaca jendela.
Telunjuk kiri El terangkat melewati bahu Kiara, mengarah pada pemandangan kapal-kapal kecil para nelayan yang sedang berlayar mencari ikan.
“Kamu lihat pantai di ujung sana!” ucap El kemudian. “Rumahku berada di tepi pantai, tidak jauh dari para nelayan itu menambatkan perahu-perahu mereka.”
“Oh ya?” Kiara sontak memalingkan wajahnya, mendengar kata pantai ia langsung bersemangat. Beruntung El sudah terlebih dahulu menarik tangan dan wajahnya menjauh, hingga ia tidak melihat perubahan di raut wajah lelaki itu.
“Aku sengaja membawa papa untuk beristirahat di tempat ini. Aku pikir suasana tenang dan dekat dengan alam, jauh dari kebisingan kota besar, bisa membuat proses pemulihan kesehatan papa menjadi lebih cepat.”
Kiara tersenyum menganggukkan kepala, “Paling tidak sekarang tuan Bian tidak perlu lagi memikirkan masalah perusahaan, karena sudah ada Abang yang menangani.”
Hari menjelang siang ketika mobil yang mereka tumpangi sampai di tempat tujuan. Tiga jam waktu yang ditempuh mengarungi perjalanan tanpa jeda, hingga tiba lebih cepat dari pada perkiraan semula.
Embusan angin langsung menyerbu wajah Kiara, sesaat setelah ia menurunkan kaca jendela mobil di sampingnya. Rambut sebahunya yang ikal bergelombang dibiarkan terurai dan menjadi sedikit berantakan, Kiara menyelipkan di balik telinganya. Sejenak ia memejamkan matanya, meresapi keindahan alam di sekitarnya.
El membuka sabuk pengaman dan tersenyum melihat ke bangku belakang, Rio sudah terbangun dan duduk sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Kuap lebar lolos dari mulutnya, membuat El tertawa melihatnya.
“Apa kita sudah sampai di tempat opa?” tanya Rio dengan suara serak, dan kembali menguap.
“Sudah, sayang. Kita turun, yuk.” El menjawab cepat. Ia bergegas keluar dan berjalan memutar lalu membukakan pintu untuk Rio. “Sini Papa gendong di punggung,” ucap El balik badan seraya menepuk pundaknya.
“Ashiaaap Papa!” seru Rio tertawa senang dan langsung menempelkan tubuhnya di punggung lebar El. Keduanya berjalan terlebih dahulu menuju pagar rumah yang terbuka dan berhenti sejenak hanya untuk menunggu Kiara yang berjalan menyusul di belakang.
Kiara tertawa melihat interaksi antara Rio dan papanya. Hamparan pasir putih yang indah menyambut kedatangan mereka saat Kiara untuk pertama kalinya menapakkan kakinya di sana.
Kiara mengambil bekal kotak makanan yang dibawanya dari rumah, lalu berjalan mengekori langkah kaki El. Panas matahari menerpa kulit wajahnya yang terbuka, Kiara menengadahkan wajahnya dan tertegun seketika saat melihat di balkon atas rumah sepasang mata tengah menatap ke arahnya dari atas kursi roda yang didudukinya.
__ADS_1
“Kia, ayo cepetan masuk! Wajahmu bisa terbakar kalau terus berdiri di bawah situ,” seru El yang melihat Kiara masih berdiri diam di tempatnya.
“Iya!” sahut Kiara, ia pun bergegas berjalan menyusul. Rio sudah turun dari punggung papanya, dan kini tengah berjingkrak-jingkrak kesenangan melihat pantai di depannya.
“Hwaaa, Iyo mau berenang. Iyo mau main bola juga sambil lari-lari di pantai!” serunya lantang.
“Sore nanti kita mainnya, kalau sekarang bisa gosong kalau main panas-panasan.” El membalas ucapan Rio. “Sekarang kita masuk ke rumah dan temui opa juga oma. Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Iyo.”
“Oke, Pa.
Kiara berjalan perlahan memasuki teras rumah El. Pemandangan di hadapannya itu membuat hatinya tiba-tiba menghangat, semua mengingatkan Kiara pada rumah impiannya dulu. Ia tidak dapat menahannya hingga tercetus lewat ucapannya.
“Rumahmu cantik dan asri. Pasti nyaman berada di sini setiap saat bisa melihat deburan ombak dan keindahan pantai lainnya,” ucapnya tulus. Di bagian depan rumah juga terdapat taman kecil lengkap dengan ayunan yang terbuat dari kayu, dan di sisi kanan rumah terdapat kolam buatan yang dipenuhi banyak ikan koi.
El tersenyum menolehkan wajahnya, menatap wajah cantik di sampingnya itu. Pantai adalah tempat yang paling disukai Kiara, dulu wanita itu suka berlama-lama berada di sana. Berdiri di tepi pantai merasakan deburan ombak menerpa kakinya. “Dua tahun yang lalu Aku membeli rumah ini, dan langsung memugarnya.”
“Syukurlah, akhirnya kalian datang juga!” suara lembut dari ambang pintu yang terbuka mengalihkan perhatian mereka semua. Winda mendorong kursi roda Bian menuju teras depan, tersenyum dengan mata dipenuhi kabut melihat ke arah bocah lelaki tampan yang berdiri di samping El mengaitkan jemari tangannya. “Apa dia Rio, cucu kami?”
Kiara termangu sesaat lalu segera tersadar ketika melihat bahu Bian bergetar hebat, lelaki itu menangis sambil menutupi wajah dengan satu tangannya sambil terus berucap kata maaf dari bibirnya. El menatap ke arahnya dan Kiara lalu menganggukkan kepala, memberi isyarat padanya untuk bicara pada Rio yang masih berdiri diam menatap wajah kedua orang tua di hadapannya itu.
“Iyo, sayang. Itu oma dan opanya Iyo,” ucap El menghela bahu Rio perlahan untuk mendekat pada Bian dan Winda. Rio ragu sejenak, tangannya mencengkeram kuat ujung kemeja papanya lalu tatapannya beralih menatap Kiara.
“Salim sama oma opa dulu, sayang.” Kiara berjalan mendekat dan mengusap lembut bahu putranya.
Rio melangkah dan berdiri tepat di depan opanya, ia meraih tangan Winda yang terulur padanya dan mencium punggung tangannya. Rio lalu menyentuh satu tangan Bian yang memegang kuat lengan kursi rodanya dan tangan satunya meraih tangan yang menutupi wajahnya. “Opa, kenapa Opa menangis?”
Bian mengangkat wajahnya, menatap wajah polos di depannya. “Kata Papa, Opa juga suka sekali main bola sama seperti Iyo. Apa hari ini Opa mau main bola bareng Iyo di pantai?” tanya Rio lagi, tangan kecilnya terulur mengusap air mata di pipi Bian.
Kiara menahan napas, menunggu reaksi Bian selanjutnya. Sementara Winda terus mengusap punggung suaminya itu sambil sesekali berbisik di telinga Bian untuk menenangkannya.
Bian tertawa kecil, matanya kembali basah air mata. Ia langsung merangkum tubuh Rio masuk ke dalam pelukannya. “Iya, Opa mau. Opa mau main bola bareng Iyo.”
“Tenang saja, Opa. Iyo janji gak akan buat Opa lelah karena harus menggeser gawang seperti papa,” ucapnya sambil menunjuk ke arah El yang langsung tertawa mendengar ucapannya.
__ADS_1
Bian tertawa lebar, untuk pertama kalinya ia bisa tertawa lepas tanpa beban di hadapan semua orang. “Terima kasih karena sudah hadir dalam hidup kami,” ucapnya lagi kembali memeluk Rio dengan erat.
••••••••