You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 107. Keyakinan Kiara


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi, tampak kesibukan di dapur rumah Kiara. Tidak seperti hari biasanya, kali ini yang berada di sana dua orang wanita muda yang sedang sibuk mengolah bahan masakan sambil terus memperhatikan dengan saksama layar ponsel yang menyiarkan tutorial cara cepat mengolah puding coklat dengan tambahan campuran tapai ketan di dalamnya.


Meski sudah tidak bekerja di perusahaan yang sama lagi, tapi hubungan persahabatan keduanya terus berlanjut. Wina sahabat terbaik Kiara dan sudah seperti saudara saja baginya. Wina yang paling tahu bagaimana keseharian dirinya, dari hal yang paling kecil hingga masalah pribadinya.


“Ra, jangan dimakan terus dong tapainya. Ntar kurang campurannya, jadi gak pas takarannya.” Wina protes melihat Kiara malah asyik menikmati makanannya.


“Abisnya enak, Win.” Kiara meringis sambil menjilat bibir. “Kamu nanggung bawanya, Win.”


“Tau gitu Aku beli banyak tadi. Kamu sih gak bilang mau bikin puding segala, ngundang ke mari katanya buat makan siang bareng. Kirain datang tinggal makan doang, gak taunya malah ngajak masak bareng.”


Kiara tergelak mendengar protes Wina, ia memeluk sahabatnya itu dan berbisik di telinganya. “Aku kangen banget sama Kamu, Win. Lama gak makan bareng kayak dulu lagi.”


“Sama. Aku juga kangen, Kamu sih kenapa juga pakai resign segala. Jadi gak bisa bareng lagi kan kita.”


“Ya udah, sekarang kita manfaatin waktu kebersamaan kita. Santai berdua, ngerumpi apa saja kayak dulu.”


“Oke bestie!”


“Ada apa ini? Kalian berdua sedang apa, kenapa malah peluk-pelukan seperti itu?” Nenek Lastri berdiri di ambang pintu dapur, heran melihat di atas meja masih banyak bahan masakan sementara kedua wanita di depannya itu malah sedang berpelukan.


“Ibu, kita lagi kangen-kangenan. Sudah lama gak kumpul bareng berdua kayak gini,” jelas Wina, dan diangguki Kiara yang masih tetap memeluk bahu sahabatnya itu.


“Maksud Ibu, kalian berdua sekarang lagi masak apa? Itu bahan kue sama sayuran kenapa pada numpuk di meja kayak gitu?” nenek Lastri langsung melipat ujung lengan daster yang dikenakannya, bersiap membereskan meja.


“Eits, please ya Bu. Kali ini saja biarkan kita yang bekerja, oke?” cegah Kiara.

__ADS_1


“Ibu bantu biar cepat selesai, pada berantakan kayak begini. Bagaimana kalau tamunya datang dapur masih berantakan?” sahut nenek Lastri lagi.


“Tenang, Ibu. Kita bakal beresin semuanya,” sahut Wina.


Keduanya bergegas menyiapkan masakan di meja yang sebagian besar Kiara beli dari rumah makan langganannya, dan menolak keras kedatangan nenek Lastri yang ingin ikut membantu mereka berdua.


“Ibu istirahat saja di depan, biar kami berdua yang mengerjakan. Hitung-hitung sambil melatih keahlian memasak Kiara, Bu.” Kiara mendorong pelan punggung nenek Lastri, menghelanya untuk meninggalkan dapur menuju ruang tengah di mana ada Rio dan Kinan yang sedang bermain game bersama.


“Memangnya Kia mau nambah menu masakan apa lagi, memang yang tadi dibeli masih kurang?” tanya nenek Lastri sembari mengernyitkan dahi.


Wina mengulum senyum, dan Kiara mengusap tengkuknya. “Sudah cukup kok, Bu. Kia lagi coba buat puding bareng Wina, sama nambah masak nasi doang,” sahut Kiara cepat.


“Ya sudah. Nanti kalau perlu bantuan Ibu, jangan sungkan. Panggil saja, ya.”


“Iya, Bu.”


Hanya tinggal menyiapkan buah dan tambahan daun lalapan teman ikan bakar saja. Tidak butuh waktu lama, semua pekerjaan beres.


Sambil menunggu tamu yang akan datang ke rumahnya siang nanti selepas zuhur, Kiara bersantai sejenak mengajak Wina naik ke kamarnya di lantai dua.


“Apa yang membuatmu akhirnya mau menerima cinta Ed dan memutuskan menikah dengannya?” tanya Wina ketika keduanya telah duduk di bangku panjang sembari menikmati minuman dan camilan yang dibawa Kiara dari dapur rumahnya.


“Apa ya? Yang jelas Aku cinta dia, dia juga cinta Aku. Dan yang terpenting, dia sayang anakku!” tegas Kiara.


“Kalau itu sih, Aku juga tahu Ra. Yang spesifik, apa yang buat Kamu terkesan sampai mau memenuhi lamarannya. Karena Aku tahu dia sudah cinta Kamu lama, tapi Kamu masih belum bisa lupa sama mantan. Benar gak nih, omongan Aku?”

__ADS_1


Kiara meraih gelas berisi coklat panas kesukaannya, meminumnya perlahan sebanyak dua kali tegukan kecil lalu menaruhnya kembali ke atas meja. Bibirnya tersenyum, pandangannya beralih menatap wajah sahabatnya yang duduk menyamping dengan kedua kaki menyilang menunggu jawabannya.


“Aku mengenal mas Edgar cukup lama, ia salah satu lelaki terbaik yang pernah Aku kenal sepanjang hidupku. Tidak ada hal yang harus kusembunyikan darinya, ia tahu segalanya tentang Aku. Semuanya, dulu dan saat sekarang ini. Kisah masa laluku, kegagalan pernikahanku, dan bagaimana hubunganku dulu dengan keluarga bang El. Ia yang selalu ada di sampingku, membela dan menjagaku.”


“Dan perlu waktu bertahun-tahun lamanya buat meyakinkan hatimu untuk menerima dia dalam hidupmu,” sambar Wina. “Meski Kamu tahu bagaimana perjuangannya selama ini untuk meraih hatimu.”


“Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Seperti kata mas Ed, baginya Aku layak ditunggu dan diperjuangkan.” Kiara tertawa setiap mengingat ucapan Ed padanya, sekarang kata-kata itu terdengar begitu manis di telinganya. Seperti pujian yang melambungkan hatinya, membuatnya merasa istimewa.


“Aku pikir Ed bukan orang yang romantis, ia terlihat serius dan jarang sekali tersenyum.”


“Ia selalu tersenyum saat bersama kami. Sikapnya hangat, menyenangkan. Ia suka sekali dengan anak kecil, mungkin itu juga yang membuatnya dekat dengan Rio. Dan dia sangat senang menjadi papa buat Rio.”


“Kalau saja Aku tidak mengenalmu dengan baik, mungkin Aku juga akan berpikir hal yang sama seperti kebanyakan orang. Kali ini Kamu benar-benar jatuh cinta padanya, Ra.” Wina mencomot kentang goreng di atas piring dan memakannya.


“Semua butuh proses, Win. Awalnya juga Aku gak pernah berpikir akan menikah dengan mas Ed. Aku janda satu anak, pernikahan pertamaku gagal. Dia! Dia bujangan, anak keluarga terpandang. Orang sukses di luar negeri sana. Pasti gak mudah buat orang tuanya menerima kenyataan kalau anak lelakinya berhubungan dengan perempuan seperti Aku. Anak yatim piatu, miskin, pintar juga enggak, cantik apalagi. Sudah gitu seorang janda cerai pula.”


“Aku sempat berpikir Kamu akan kembali pada El, apalagi setelah melihat kedekatan Rio dengan papa kandungnya itu.” Wina menatap lama Kiara.


“Aku malah gak kepikiran sampai ke situ lagi. Capek Win, berhubungan sama laki-laki yang keluarganya gak suka sama kita. Gak tenang hidup, kayak diuber-uber. Selalu saja cari cara buat misahin kita,” sahut Kiara terdengar seiring helaan napasnya yang berat.


“Itu kan dulu, Ra. Sekarang Kamu sudah memiliki semuanya, harta, jabatan, keluarga yang lama tidak pernah Kamu temui. Lalu kenapa Kamu gak coba perjuangkan cinta Kamu dulu, Aku tahu Kamu pasti belum sepenuhnya bisa lupain mantan. Apalagi ada anak di antara kalian.”


“Dulu mungkin Aku mengira seperti itu. Tapi seiring waktu, Aku perlahan bisa melupakan dan mulai menata hati lagi. Dan sekarang Aku yakin dengan pilihanku, Aku tidak perlu lagi khawatir tentang penilaian orang lain padaku. Aku juga tidak perlu khawatir lagi tentang apa yang dipikirkan orang tua Ed padaku. Mereka menerima kami dengan sangat baik, tulus tanpa kepura-puraan. Dan Aku sangat menghargai itu semua, dan Aku tidak akan mengecewakan orang-orang yang sudah menaruh harapannya padaku.”


Dan ketika Edgar muncul di depan pintu rumahnya, Kiara melihat tatapan penuh cinta kepadanya di mata pria itu ketika berjalan ke arahnya. Dan itu lebih dari cukup buat Kiara untuk meyakinkan hatinya saat menggenggam tangan dan melangkahkan kaki bersama.

__ADS_1


••••••••


__ADS_2