
“Sah!”
“Barakallah.”
Hari itu hari pernikahan Kiara dan Edgar, hari bahagia untuk seluruh keluarga besar Sanjaya juga Saputra. Ucapan selamat datang dari berbagai pihak yang ikut menyaksikan akad nikah Kiara dan Ed, yang diadakan di kediaman Kiara dan berlangsung lancar dan khidmat.
Mata oma Mala berkaca-kaca menyaksikan Kiara cucunya yang akhirnya menikah dengan pria yang dicintainya, dan mendapat restu seluruh keluarga yang ada. Teringat bagaimana dulu almarhum putrinya Ara yang menikah dengan pria yang dicintainya tapi tanpa restu darinya.
Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, oma Mala memberikan restunya dan mendukung penuh hubungan Kiara dan Ed, karena ia tahu Ed lelaki yang baik yang selama ini selalu menjaga dan melindungi Kiara. Mencintai cucu dan cicitnya itu dengan tulus.
“Ara, lihat putrimu di sana Nak. Ia sedang tersenyum bahagia bersama laki-laki pilihannya. Meski Kamu tidak hadir di sini, tapi Mama tahu Kamu sedang tersenyum bahagia melihat putrimu menikah. Mama tak pernah berhenti berdoa untukmu Ara, semoga Kamu tenang dan bahagia bersama suamimu di sana.” Oma Mala menyeka sudut matanya yang berair, menatap haru pada Kiara yang sedang tersenyum membalas salam juga jabat tangan tamu yang memberi ucapan selamat padanya.
Ed mengusap wajahnya penuh rasa syukur, ketegangan yang tadi menyelimuti hati berangsur menghilang. Dipandanginya wajah cantik Kiara yang duduk di sampingnya, yang kini telah sah menjadi istrinya. “I love you,” ucap bibirnya tanpa suara, saat Kiara menoleh padanya.
Kiara tersenyum, lelaki yang telah sah menjadi suaminya hari ini memandangnya dengan sorot mata penuh cinta. Hampir-hampir Kiara tak percaya betapa bahagianya ia saat ini. Kebahagiaan karena tahu kalau dirinya dicintai dengan amat sangat oleh seorang pria. Ed tak mau membuang-buang waktunya lagi dan langsung mempersiapkan pernikahan mereka berdua setelah keduanya saling menyatakan cintanya.
“Aku berjanji akan memberikanmu pernikahan yang indah, yang terbaik. Pernikahan yang Kamu impikan yang tidak Kamu dapatkan sebelumnya,” janji Ed pada Kiara waktu itu.
“Love you too,” balas Kiara pun tanpa suara.
“Mama, Papa!” Rio berhambur memeluk erat keduanya. Kiara tersenyum lebar, menangkup kedua pipinya dan menciumi seluruh wajah putranya itu. Ed mengacak sayang rambut Rio, dan mengajaknya untuk tos di udara.
Rio sangat bersemangat saat menantikan hari pernikahan kedua orang tuanya itu. Karena telah mengenal Ed sejak lahir bahkan mengakui lelaki itu sebagai papanya, ia menerima dengan senang hati kabar pernikahan keduanya. Sekarang papa Ed akan terus bersamanya dan tinggal satu atap dengannya. Seolah itu adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejak lama dan memang sudah seharusnya. Karena bagi Rio, Ed adalah papanya.
“Pa, Iyo boleh gak ikut nginap di hotel bareng Papa sama Mama. Iyo janji gak akan nakal dan bakal tidur cepat,” pinta Rio pada kedua orang tuanya itu, sambil bergelayut manja di leher Ed.
Ed berdeham mendengar permintaan Rio, sementara Kiara hanya mengulum senyum mendengarnya. “Gimana, ya?"
Ed melirik pada Kiara, namun istrinya itu pura-pura tak mendengar ucapannya. “Ehm, Mama mau tengok oma dulu di sana ya. Silah kan kalian berdua bicarakan, nanti kalau sudah ada kesepakatan, kabari Mama secepatnya.”
__ADS_1
Kiara mengedipkan matanya pada Ed, tersenyum menggoda lelaki itu lalu berjalan menjauh mendekati meja oma Mala dan nenek Lastri yang duduk bergabung dalam satu meja bersama dengan Wina.
“Eh!” Ed mengusap tengkuknya, dan Rio masih menunggu jawabannya.
“Iyo nginap bareng Papa saja ya. Sama oma opa juga. Coba lihat, mereka berdua dari tadi nungguin Iyo di meja sana, kangen katanya.” Elvan datang sebagai penyelamat, dan Ed berterima kasih karenanya.
“Papa! Iyo mau, Pa.”
Ed mengembuskan napas lega. “Thank’s Bro!”
Rio langsung melepas pelukannya di leher Ed, dan tanpa bicara lagi ia langsung berlari ke meja Winda dan Bian yang menyambut kedatangannya dengan merentangkan kedua tangan lebar.
“Selamat ya, Bro.” El menjabat erat tangan Ed yang membalasnya dengan pelukan. “Titip putraku, sayangi dia seperti Kamu menyayangi mamanya.”
“Itu pasti!” jawab Ed lugas. “Bagaimana kabar om Bian sekarang?” tanya Ed kemudian.
Dan perbincangan keduanya pun mengalir lancar, El yang datang bersama dengan kedua orang tuanya tulus mendoakan kebahagiaan untuk sang mantan. Sepanjang pagi hingga menjelang pukul sebelas siang, Rio terus bersama dengan Bian dan Winda yang melayani cucunya itu dengan penuh rasa sayang.
Kiara dan Ed mendatangi meja Winda dan Bian, wanita itu langsung memeluk erat Kiara dan mengucapkan banyak doa untuk kebahagiaan ibu dari cucunya itu. Bian mengusap rambut kepala Kiara yang datang padanya dan mencium punggung tangannya, lalu menepuk bahu Ed dan berpesan pada lelaki itu untuk terus membahagiakan wanita yang telah dianggap putrinya itu.
Tepat pukul sebelas siang, acara resepsi pernikahan Kiara dilangsungkan. Semua gembira dan bersuka cita, karena hari itu hari pernikahan Kiara sang pewaris perusahaan Sanjaya Grup.
Malam harinya di kamar hotel setelah acara usai, keduanya berbaring bersama. Ed memeluk Kiara dengan lembut, sambil membelai rambutnya yang tergerai di atas bantal. Rasanya Ed masih tak percaya, bahwa impiannya untuk menikah dengan Kiara akhirnya menjadi kenyataan.
Ujung jemarinya kini bergerak perlahan, menyusuri setiap inci wajah wanita yang dicintainya itu. Lalu berhenti sejenak pada pipi mulusnya dan menyelipkan helai rambut yang menjuntai di sana ke belakang telinganya.
“Pestanya indah, dekorasinya juga cantik sekali. Terima kasih,” ucap Kiara menyusupkan wajahnya ke dada bidang Ed, merangkul pinggangnya dan memeluknya erat.
“Bagiku Kamu yang tercantik,” gumam Ed sambil lalu, seraya mengecupi wajah pengantinnya itu dengan penuh perasaan.
__ADS_1
“Mas,” bisik Kiara seraya memejamkan matanya.
“Hemm!”
“Kapan Mas tahu kalau Mas mencintaiku?” tanya Kiara ingin tahu.
Ed tersenyum kecil, ia menghentikan gerakannya dan fokus menatap wajah Kiara. “Waktu Aku melihatmu menangis di pinggir jalan setelah keluar dari rumah El, dan Aku tidak bisa menghiburmu. Tapi saat itu Aku tahu diri kalau Kamu bukan milikku, karena yang Kamu inginkan saat itu dia, bukan Aku. Sampai kemudian situasi berubah dan Aku pikir Aku bisa membuatmu menjadi milikku. Meski butuh waktu lama untuk mewujudkan semua, tapi Aku akan tetap menunggu sampai Kamu membuka hati dan menerima cintaku.”
“Aku ingin kita bahagia bersama," balas Kiara pelan.
“Kamu tahu apa yang bisa membuatku bahagia saat ini?” Ed menarik pinggang Kiara dan merapatkan tubuh wanita itu ke dadanya dan kembali menciumnya, kali ini lebih intens dan lama bahkan deru napasnya terdengar memburu.
Kiara memejamkan matanya, tubuhnya mendadak kaku. “A-aku sudah lama sekali tak melakukannya,” ucap Kiara dengan suara bergetar.
Ed tersadar dan perlahan napasnya mulai kembali normal. Ed mencintai Kiara, sangat mencintainya. Ia memeluk Kiara lembut dan mengecupnya perlahan untuk menghilangkan rasa takut istrinya itu. Dan Kiara masih saja gemetar.
“Kiara sayang,” bisiknya lembut. “Jangan takut, Aku rela meski malam ini hanya bisa memelukmu saja. Aku bersumpah tidak akan pernah menyakitimu. Malam ini tidak akan terjadi apa-apa sampai kau sendiri yang menginginkannya.”
"Maafkan Aku, Mas."
Ed memeluk Kiara, sambil menahan hasratnya. Ia tahu mesti bersabar menghadapi wanitanya karena Kiara pantas untuk mendapatkannya. “Andai Aku harus menunggu delapan tahun lagi untukmu, Aku akan melakukannya. Karena Kamu layak ditunggu.”
"Terima kasih, Mas. Kamu memang lelaki terbaik yang Aku kenal, Terima kasih karena selalu bersabar menungguku."
Setahun kemudian Kiara melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama Hanin Syahira. Ketika berada di rumahnya, Rio tak mau beranjak sedikit pun dan terus berada di samping adik kecilnya, yang mendapat begitu banyak curahan cinta dan kasih sayang dari seluruh keluarga.
••••• Tamat •••••
Alhamdulillah, akhirnya Aku bisa menyelesaikan tulisanku sampai tamat. Terima kasih buat reader semua yang selalu setia dan dukung Aku selama ini. Love you all 🤗🤗
__ADS_1