You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 87. Pertemuan


__ADS_3

Kinan dan ibu Lastri tiba menjelang malam, saat orang di rumah baru saja selesai makan malam. Ibu lalu meminta maaf pada Kiara karena sudah melewatkan waktu untuk bertemu dan menyambut kedatangan nyonya Mala di rumah.


Ibu Lastri menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Kiara yang sedang menikmati coklat hangatnya. Sementara Kinan langsung berpamitan menuju kamarnya, setelah terlebih dahulu menaruh tas plastik besar berisi makanan ke atas meja.


“Ibu, Kinan, makan dulu yuk. Yang lain sudah semua tadi, Mbak masak sambal goreng ati sama bihun loh dek,” ucap Kiara menyebut masakan yang dibuatnya.


“Sisain buat bekal besok aja, Mbak. Masih kenyang, tadi sudah makan bareng Ibu di luar. Gak enak nolak ditraktir sama tuan rumah,” sahut Kinan. “Kinan pamit ke kamar dulu, mau mandi. Gak enak badan pada lengket semua,” imbuhnya lagi.


“Hem!” Kiara mengangguk sembari menyesap minumannya. “Selesai nanti jangan langsung tidur ya, Dek. Tengok oma Mala dulu di kamar atas,” ujar Kiara mengingatkan.


“Iya, Mbak.”


“Emang ditraktir makan apa sih, Bu? Tumben Kinan gak nolak,” tanya Kiara pada ibu Lastri setelah Kinan berlalu dari hadapan mereka.


Ibu yang ditanya tengah sibuk mengeluarkan makanan dari dalam tas besar yang ada di hadapannya.


“Bakso!” jawab ibu singkat.


“Oalah, pantesan aja gak bisa nolak. Lah wong makanan favorit dia,” ujar Kiara merobek salah satu plastik yang berisi keripik bayam.


Ibu terkekeh mendengarnya, “Kia tolong Ibu ambilkan toples di belakangmu itu, Nak.” Ibu Lastri menyuruh Kiara mengambil toples di rak lemari gantung yang ada di belakangnya.


Kiara menurut, bergegas bangkit dan mengambil beberapa toples ke hadapan ibu.

__ADS_1


“Keripik semua, Bu. Apa ada yang lain? Kalau ini mah kesukaannya Iyo. Kriuk kriuk!” ucap Kiara menirukan celoteh Rio bila sedang makan camilan yang satu itu.


Ibu hanya tersenyum mengangguk, sejenak menatap ke lantai atas di mana tamu mereka berada saat ini.


“Bagaimana keadaan nyonya Mala sekarang, apa cedera di pinggangnya sudah membaik?” tanya ibu pada Kiara.


“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, nyonya Mala kelihatan senang dan sepertinya beliau betah tinggal di rumah kita ini. Sekarang lagi ditemani sama Iyo di kamar, suster yang jaga Kia suruh pulang istirahat. Besok pagi balik ke sini lagi,” jelas Kiara.


“Syukurlah kalau begitu, sebentar Ibu naik ke atas sekalian kenalan.”


“Iya, Bu. Beliau pasti senang ada teman ngobrol kalau Kia kerja nanti.”


Setelah membereskan meja makan, ibu bergegas naik ke lantai atas menuju kamar Kiara yang kini ditempati nyonya Mala. Rio yang melihat kedatangan neneknya langsung turun dari ranjang dan berlari memeluknya. Melihat hal itu, nyonya Mala tersenyum lebar.


“Sstt, gak pakai teriak ya. Sudah malam, kasihan ayam tetangga jadi pada bangun dengar teriakan Iyo.”


Rio langsung manyun mendengar ucapan neneknya, yang berusaha menahan senyum karena berhasil menggoda cucunya.


“Dih, Nenek. Mana ada orang piara ayam di perumahan kita,” sahutnya dengan bibir mengerucut.


Dengan gemas di cubitnya pipi Rio, “Ada, tuh salah satunya yang setiap jam lima pagi suka bunyi di kamar Iyo.”


Rio terkikik geli seraya menutup mulutnya, “Itu kan bunyi alarm di kamar Iyo, Nek.”

__ADS_1


Nyonya Mala yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara ibu Lastri dan Rio tersenyum. Ia merasa senang diberi kesempatan untuk mengenal keluarga Kiara, wanita yang sudah menolongnya saat terjatuh di toilet mall.


Awalnya ia merasa sedikit waswas, karena dirinya bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang lain, terlebih lagi dengan orang yang baru dikenalnya. Emosinya yang turun naik berpengaruh pada caranya menghadapi lawan bicaranya.


Ibu Lastri melangkah maju mendekati sisi tempat tidur di mana nyonya Mala duduk setengah berbaring. Dari jarak dekat ia bisa melihat sorot mata penuh selidik yang diperlihatkan nyonya Mala padanya.


“Apa Aku mengenalmu?” nyonya Mala memajukan tubuhnya melihat dari dekat. Wajah di hadapannya itu seolah tidak asing, dan ia seperti pernah melihatnya di satu tempat di masa lampau.


Ibu Lastri tertegun, seolah mengingat sesuatu. Seketika wajahnya menegang saat kilasan masa lalu melintas dalam ingatannya.


“Nyo-nya Nir-mala, benarkah yang sekarang berhadapan dengan Saya sekarang adalah Nyonya Mala? Ibu dari sahabat Saya Mutiara Sanjaya?”


“Kamu siapa, bagaimana Kamu bisa mengenal putri Saya?” wajah yang tadinya dihiasi dengan senyum berubah menjadi raut penuh emosi yang bisa meledak kapan saja.


Suaranya penuh penekanan, membuat Rio yang berada dekat sekali dengan keduanya bingung dengan apa yang sedang terjadi pada oma dan neneknya itu.


“Ya Tuhan, terima kasih. Akhirnya hari yang kami tunggu-tunggu sejak lama itu pun tiba juga,” bisik ibu dalam hati.


“Oma kenapa berteriak seperti itu, nenek juga kenapa malah tersenyum seperti itu.” Tanya Rio tak mengerti.


“Iyo dengar Nenek bicara, di bawah tadi Nenek bawa oleh-oleh buat Iyo. Iyo bisa ambil sekarang, tapi biarkan Nenek dan oma Mala bicara berdua saja. Iyo paham kan maksud Nenek?” ujar ibu Lastri meminta waktu untuk bicara berdua saja dengan nyonya Mala. Ia harus menuntaskan masalah lama, karena semuanya berkaitan dengan nasib Kiara dan putranya saat ini.


••••••••

__ADS_1


__ADS_2