
Kiara menutup sambungan telepon dari Wina, setelah sebelumnya kembali mengingatkan sahabatnya itu untuk datang bersama dengannya ke pesta ulang tahun Rio siang hari nanti.
Acara yang sedianya ingin dirayakan secara sederhana saja oleh Kiara dengan maksud hanya mengundang teman-teman sekelas Rio saja, mendadak berubah setelah oma Mala menyampaikan keinginannya tadi malam.
Kiara tidak dapat menolak keinginan omanya itu, terlebih lagi saat melihat betapa antusiasnya Rio ketika mereka diajak untuk melihat ke hotel tempat acara yang telah disulap sedemikian rupa untuk merayakan ulang tahunnya.
“Oma tidak perlu memanjakan Rio seperti ini,” ungkap Kiara saat itu, yang hanya dijawab dengan senyuman oleh oma Mala.
“Oma tidak memanjakan Rio. Sekali dalam hidup Oma, Oma benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya saat berkumpul bersama dengan kalian. Diterima dengan tangan terbuka, sikap kalian semua membuat Oma benar-benar merasa menjadi bagian dari keluarga ini. Izinkan Oma melakukannya, sebagai bentuk rasa sayang Oma pada kalian semua.”
“Omaaa!” Rio berlari ke arah oma Mala dan langsung memeluknya, serta mencium kedua belah pipinya. “Terima kasih buat hadiahnya, Oma. Iyo senang sekali.”
Oma terkekeh balas memeluk Rio, “Oma senang kalau Iyo juga senang.”
Kejutan tak berhenti hanya di situ saja, Oma membawa Kiara ke bagian lain. Hanya terpisah sekat dinding namun tetap terhubung dengan lantai tempat acara Rio berlangsung nanti.
“Di ruangan ini, Oma akan mengumumkan pada semua orang. Pewaris Sanjaya Grup yang akan menggantikan kedudukan Oma dan yang akan memimpin perusahaan Sanjaya selanjutnya.”
Suara-suara renyah dari arah ruang makan menghentikan lamunan Kiara. Bergegas Kiara mengambil kotak hadiah yang sudah disiapkannya untuk Rio, lalu turun ke lantai bawah di mana semua orang sedang berkumpul menikmati sarapan pagi.
Melihat Kiara datang, Rio meluncur turun dari kursinya dan langsung memeluknya.
“Selamat pagi, Mamaku sayang!” ucap Rio memberi kecupan basah di pipi Kiara.
“Pagi juga, sayang. Mama punya hadiah buat Iyo,” ucap Kiara lalu memberikan kotak hadiah di tangannya pada putranya.
“Wah! Terima kasih ya, Ma.” Rio kembali menghadiahi kecupan di pipi Kiara. “Iyo buka sekarang ya, Ma.”
Dengan tidak sabar Rio membukanya, dan langsung berteriak girang saat melihat hadiah dari mamanya. Ia mengangkat tinggi-tinggi jam tangan hadiah Kiara. “Love you, Ma.”
Kiara tersenyum haru, melihat Rio langsung memakai jam hadiah darinya.
__ADS_1
“Mbak juga punya hadiah buat Iyo,” ujar Kinan yang langsung bangkit dari kursinya.
“Mana, mana Mbak!” seru Rio tak sabar.
“Bentar Mbak ambil dulu di kamar.”
Oma Mala dan ibu Lastri hanya tersenyum memperhatikan dari tadi, lalu tak lama kemudian Kinan kembali dengan hadiah di tangannya.
“Ini buat Iyo, moga Iyo suka dengan hadiah dari Mbak.” Kinan mengulurkan bungkusan di tangannya dan memberikannya pada Rio.
“Apa ini, Mbak?” tanya Rio membolak-balik bungkusan di tangannya. “Kayak pigura?”
“Buka saja,” sahut Kinan tersenyum menjawab rasa penasaran Rio.
“Baiklah, Iyo buka ya.”
Perlahan Rio menyobek sampul depan hadiahnya, dan matanya langsung melebar menatap gambar lukisan dirinya yang sedang memegang bola ada dalam pigura.
Rio langsung berhambur memeluk Kinan, “Muach, terima kasih ya, Mbak. Nanti Iyo pajang di kamar,” ucap Rio memberi kecupan basah pada Kinan.
“Ish, pasti gitu. Iyo jorok ih!” protes Kinan sembari mengusap pipinya yang basah dengan tisu.
“Itu tanda sayang Iyo buat semua orang!” balas Rio tersenyum jahil, bersiap memberi kecupan lagi.
“Gak! Udah cukup, geli tau!” ucap Kinan menutupi wajahnya, membuat Rio tergelak dibuatnya.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat tingkah Rio, ucapan doa tulus terucap dari semua orang untuk kebahagiaan putra semata wayang Kiara itu.
Kiara lalu mengambil lukisan hadiah dari Kinan dan memperhatikannya dengan saksama. Timbul kekaguman di hatinya menyadari bakat terpendam adiknya itu.
“Bagus, Dek. Lukisannya kelihatan hidup, warnanya juga pas banget. Gambar di lukisan ini terlihat seperti foto asli. Kalau Kamu bisa kembangkan bakatmu, ini bisa jadi penghasilan tambahan buatmu. Percaya sama Mbak,” puji Kiara.
__ADS_1
“Cuma hobby saja, Mbak. Lagi pula Kinan juga masih belajar, Mbak Kia terlalu memuji.”
“Kinan memang suka melukis sejak kecil, banyak hasil karyanya yang tersimpan rapi di dalam kamarnya. Pernah Ibu coba menunjukkannya pada guru sekolahnya saat masih di SMP, dan mereka bilang Kinan berbakat.” Ibu Lastri menimpali.
“Kalau Kinan mau, Kinan bisa lanjut kuliah di jurusan seni. Biar Oma yang biayain semuanya,” ucap oma Mala yang langsung disambut suka cita dari Kinan.
“Terima kasih Oma, Kinan senang sekali mendengarnya,” sahut Kinan dengan mata berbinar.
Tidak hanya Rio atau Kinan yang mendapat hadiah dari oma Mala, kejutan berlanjut dan kali ini untuk Kiara. Oma juga telah menyiapkan hadiah khusus untuknya.
Setelah selesai sarapan pagi, semua orang tengah bersiap-siap di kamarnya untuk acara siang nanti. Tiba-tiba oma Mala datang memanggil Kiara yang tengah menyiapkan segala keperluan Rio untuk pesta ulang tahunnya.
“Ya Oma.”
“Kemarilah, ada yang ingin Oma tunjukkan padamu,” pinta oma Mala pada Kiara untuk berjalan mengikutinya masuk ke dalam kamar yang ditempatinya.
Kiara menurutinya, mengikuti oma dan terkejut melihat di dalam kamar sudah menunggu beberapa orang berseragam dengan membawa beberapa kotak perlengkapan yang Kiara tahu adalah alat untuk merias diri.
“Sekarang buka lemari pakaian itu, dan pilihlah gaun mana yang paling cocok Kamu kenakan di pesta Rio nanti.”
Kiara membelalakkan mata, mendekap dada dengan mulut setengah terbuka menatap deretan gaun indah yang berjajar rapi tergantung di dalam lemari pakaiannya. Semua rancangan desainer ternama yang dipilihkan oma Mala untuknya.
“Oma, apa ini tidak terlalu berlebihan?” Kiara berbalik, menatap oma Mala dengan sorot mata bertanya yang kentara.
Oma Mala menggeleng, memberi kode pada perawat di belakangnya untuk mendorong kursi rodanya mendekat pada Kiara. “Kamu pantas mendapatkannya,” ucap oma, meraih tangan Kiara.
“Tapi Oma, Kiara tidak terbiasa dengan semua ini. Kia ...”
“Oma ingin Kamu memakainya nanti. Oma ingin memperkenalkan cucu Oma pada semua tamu undangan, terutama relasi bisnis keluarga kita. Karena kelak Kamu yang akan melanjutkan semua usaha keluarga kita,” tegas oma Mala.
••••••••
__ADS_1