You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 106. Menginap bersama keluarga papa Ed


__ADS_3

Tanpa terasa waktu empat minggu berlalu cepat bagi Kiara, kesibukannya semakin bertambah. Tidak hanya mengurus perusahaan keluarganya Sanjaya Grup, atau membantu memantau perusahaan Abian grup atas permintaan El. Tapi ia juga sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya dengan Ed.


Kiara mau acara dilangsungkan secara sederhana saja, tapi Ed bersikukuh ingin merayakannya dan mengundang banyak orang. "Aku ingin memberimu sebuah pesta pernikahan yang tidak pernah Kamu dapatkan dulu. Dan Aku ingin pesta pernikahan kita menjadi sebuah momen paling bersejarah dalam hidup kita dan menjadi kenangan terindah yang akan menjadi cerita bahagia untuk anak dan cucu kita kelak."


Untuk ke sekian kalinya Ed membuat Kiara semakin cinta atas sikap dan perhatian laki-laki itu padanya. Untuk pertama kalinya juga, Kiara bertemu langsung dengan kedua orang tua Ed juga adik lelakinya yang usianya lebih tua tiga tahun dari Kinan. Sengaja datang jauh-jauh dari luar negeri, demi untuk memenuhi undangan dari oma Mala yang bertindak sebagai wali dari Kiara, juga untuk menghadiri akad nikah putra pertama mereka.


Sempat meragukan keseriusan hubungan Ed dengan Kiara, mengira putranya itu hanya ingin membantu wanita itu saja karena sudah terlanjur sayang dengan si kecil Rio, tapi semua dugaannya itu terbantahkan saat Ed datang secara khusus meminta restu pada mereka untuk menikah dengan Kiara.


Di sini, di rumah Kiara yang dipenuhi dengan keluarga besar oma Mala, mama Ed bisa melihat putranya itu sangat bahagia bersama Kiara. Putranya itu menunjukkan sikap yang sangat kentara sekali, memperlakukan wanita itu dengan penuh cinta. Dan Kiara pun menunjukkan sikap yang sama, sangat senang saat bersama putranya. Terbesit doa di dalam hati untuk kebahagiaan keduanya.


Rumah Kiara cukup luas dan memiliki banyak kamar sehingga memungkinkan mereka untuk bisa menginap di sana. Kiara menawarkan untuk menginap di rumahnya, tapi kedua orang tua Ed dengan halus menolak, dan memilih untuk menginap di hotel saja.


Jangan ditanya bagaimana hebohnya Rio ketika mendapati rumahnya ramai dengan banyak tamu. Terlebih lagi ada opa dan oma dari papa Edgar yang biasanya hanya bisa disapa lewat vc, tapi kini bisa bertatap muka langsung. Sempat bingung memanggil dengan sebutan apa, karena mama Ed adalah perempuan bule yang menikah dengan papa Ed yang asli Indo.


“Oma Merry!” panggil Rio, berbelok arah tak jadi naik ke lantai atas di mana ada mama dan papa Ed sedang mengobrol bersama opa Andi dan Rey adik lelakinya.


“No! Panggil Oma saja,” ucap oma Merry, lalu mengusap sayang rambut Rio saat bocah lelaki itu mendekatinya di sofa ruang keluarga. Duduk di sampingnya, setelah makan malam baru usai. “Tidak usah menyebut nama Oma di belakangnya. Oke Boy.”


“Oke, Oma.” Rio mengangguk setuju, ia merapatkan tubuhnya dan mulai merayu omanya untuk mau menginap di rumahnya.


“Oma sama opa, nanti malam nginap di rumah Iyo ya. Rame-rame bareng sama yang lain. Iyo kan masih kangen sama Oma.”


“Lain kali ya, sayang. Besok pagi-pagi sekali, Oma harus temani opa berangkat ke Malang menemui keluarga opa di sana. Nanti setelah pulang dari sana, Oma janji akan menginap di rumah Iyo.”


“Berapa lama Oma di Malang, Minggu depan kan acara nikahnya papa sama mama.”


“Tiga hari, sayang. Rabu siang Oma sudah kembali ke sini lagi.”


“Yaah, masih lama dong ketemu Oma lagi. Ini aja baru hari Sabtu,” rajuk Rio meregangkan pelukannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya.


“Manyun sih?” Oma Merry menjawil hidung Rio, tapi bocah lelaki itu bergeming duduk sembari menundukkan wajahnya. Senyum tersungging di wajah oma, ia tahu Rio sedang merajuk padanya. “Ehm, bagaimana kalau malam ini Rio saja yang menginap di hotel bersama kami. Rio bisa ikut papa Ed besok pagi, sekalian mengantar Oma ke bandara. Gimana, mau tidak?” usul oma Merry.

__ADS_1


“Memangnya boleh Iyo ikut menginap bareng Oma di hotel?” Rio balik bertanya.


“Boleh dong.”


“Yess!” Rio mengepalkan tangannya dengan wajah cerah. “Kalau begitu Iyo izin dulu sama Mama, sekarang. Moga saja dibolehin!”


Oma Merry tersenyum mengangguk, tanpa banyak bicara lagi Rio melesat pergi. Berlari kecil menaiki anak tangga menuju lantai dua untuk menemui mamanya. Tidak lama kemudian, nenek Lastri muncul dengan membawa minuman di nampan, lalu duduk bersama dengan oma Merry. Keduanya asyik berbincang hingga tak terasa suaminya turun bersama putranya mengajaknya untuk kembali ke hotel.


Sementara Rio sudah siap dengan tas ranselnya, menggandeng tangan papanya. Wajah polosnya tampak ceria karena sudah mendapat izin sang mama untuk menginap bersama dengan oma Merry.


“Rio jangan begadang ya, sayang. Gak boleh ganggu istirahatnya oma opa juga. Biar besok pagi bangunnya gak kesiangan, kan mau ikut papa ke bandara.” Kiara berpesan pada putranya.


“Iya, Ma.” Rio mengecup pipi Kiara sebelum berpamitan, lalu berlari menggandeng omanya menuju mobil. Opa Andi hanya tertawa melihat tingkahnya.


“Hei, itu kan mamanya Abang. Siapa suruh gandeng tangan segala, gak boleh ya!” Rey menepuk pelan tangan Rio, sengaja menggoda calon keponakannya itu sambil memasang wajah jutek.


“Abang Rey, ih!” Rio ngambek pada om Rey yang minta dipanggil abang saja, beralasan panggilan om itu terlalu tua buatnya. Ia menghentikan langkahnya sambil melipat kedua tangan di dada sebagai bentuk protesnya.


“Rey!” tegur oma Merry, memukul gemas punggung tangan putra keduanya itu. Tapi Rey melakukan hal yang sama, ikut-ikutan bergaya seperti Rio.


“Titip Rio ya, Mas.” Kiara melambaikan tangannya. “Hati-hati di jalan.”


Ed menghela bahu papanya yang masih berdiri dengan tangan di pinggang memperhatikan tingkah kedua laki-laki muda di depannya itu. “Sebentar Ed, biar Papa urus dua bocah ini!”


Opa Andi langsung bereaksi, melangkah lebih dahulu mendekati oma Merry. “Ya sudah, terusin saja ngambeknya. Biar Papa saja yang gandeng Mama kalian!” ujar opa Andi langsung merangkum bahu istrinya itu dan mengajaknya kembali berjalan menuju mobil yang sedari tadi sudah terparkir di depan halaman rumah Kiara.


“Ish! Papa gak asyik!”


“Dih, Opa kok gitu?”


Rio dan Rey langsung balik badan, mengejar oma Merry yang hanya mengulum senyum melihat tingkah mereka semua. “Sudah ya, Rey cukup. Mau pulang gak, nih!” ujar oma Merry berpura-pura galak.

__ADS_1


“Oma, Abang tuh yang iseng.” Adu Rio pada omanya.


“Dih, bocah pengaduan!”


Saat sudah berada di dalam mobil, Rio meleletkan lidahnya lalu tergelak geli ketika Rey menggelitik pinggangnya. “Gemas banget, pengen uyel-uyel ini bocah!”


“Kelamaan gak punya adik ya begitu jadinya, gak ada yang diajak main!” ucap oma Merry menanggapi ucapan Rey.


“Ya sudah, nanti Papa buatin adik buat Rey!” sahut opa Andi santai yang sukses membuat Ed dan Rey terbahak, sementara oma Merry hanya melengos sembari memutar bola matanya mendengar ucapan suaminya itu.


“Ingat umur, Papa!”


“Justru karena Papa ingat umur, makanya mau cepat-cepat buatin adik untuk Rey. Mumpung masih kuat!”


“Hahaha!”


“Papa, ih. Ada bocah juga, becandanya gak lihat sikon.” Tegur oma Merry.


“Memangnya abang Rey mau punya adik lagi ya, Oma. Yess, bisa main bareng sama Iyo dong.”


“Hahaha.”


Tak berhenti sampai di situ saja, Rey masih saja senang menggoda Rio. Keduanya bermain dan bercanda sampai larut malam, hingga Rio jatuh tertidur karena kelelahan. Rey mengusap kening Rio yang berkeringat, tersenyum menatap wajah polos yang menggemaskan itu.


“Ngorok ini bocah!” ucapnya sambil tertawa.


“Kecapaian itu, Rey. Kamu iseng banget gangguin Rio terus.” Ed keluar dari kamar mandi dengan tubuh jauh lebih segar.


“Ini bocah gemesin banget, untung saja gak cengeng biar digodain terus. Malah balas ngegodain kita juga. Pantesan Abang sayang banget sama Rio,” ucap Rey, mengambil tempat duduk di samping Ed bersandar pada dinding ranjang di belakangnya.


“Sejak lahir Abang sudah jatuh cinta sama Rio, bayi mungil yang lahir tanpa ayah yang mendampingi. Hati Abang tersentuh dan gak bisa berpaling jauh. Rio sudah menempati posisi penting di hati Abang, sama seperti mamanya. Menempati hampir seluruh ruang di hati Abang!”

__ADS_1


“Bucin amat Lo, Bang!” Rey terkekeh, menyentuhkan bahunya ke pundak Ed. Senang melihat kakak lelaki satu-satunya itu bahagia dengan wanita pilihannya, dan senang melihat kedua orang tuanya yang mau menerima Kiara apa adanya tanpa melihat status sosial di antara mereka sebelumnya.


••••••••


__ADS_2