
Winda telah selesai membantu memasangkan dasi Bian, kini suaminya itu sedang berdiri membelakanginya di depan cermin. Untuk beberapa saat lamanya ia menarik napas dalam. “Apa Papa yakin mau datang menghadiri undangan pesta dari nyonya Nirmala?”
Bian mengangkat wajahnya, menatap lurus pada cermin di hadapannya. Ia bisa mendengar keresahan dari nada suara istrinya itu. “Aku harus bisa mengambil hati wanita itu lagi, dan membuatnya percaya padaku. Karena hanya dia satu-satunya orang yang bisa membantu kita saat ini.”
“Bagaimana kalau usahamu gagal seperti yang sudah-sudah, apa kita juga harus kehilangan lagi? Wanita itu bukanlah orang yang mudah untuk didekati,” sanggah Winda, ia tidak yakin suaminya itu mampu melakukannya. Dan seperti yang terjadi sebelumnya, mereka harus mengakui keunggulan lawan bisnis mereka dan pada akhirnya kembali harus kehilangan kontrak kerja bernilai fantastis.
“Wanita itu sedang sakit parah, dan ia perlu orang yang tepat untuk menjalankan perusahaannya. Satu-satunya orang yang diharapkan bisa menjadi penerus perusahaan adalah cucu laki-lakinya. Sayangnya, anak itu tidak memiliki keinginan untuk meneruskan usaha omanya. Ia lebih memilih mengabdikan dirinya menjadi seorang dokter di daerah bencana. Dan itu kesempatan emas bagiku,” ucap Bian yakin.
“Moga saja kali ini usahamu berjalan lancar,” sahut Winda lalu meraih tasnya, “Aku siap menemanimu bertemu dengannya.”
Bian tersenyum mendengarnya, tidak banyak waktu tersisa dan mereka harus segera tiba di tempat acara kalau tidak ingin kehilangan waktu bertemu dengan nyonya Nirmala. “Apa wanita itu mengatakan padamu pesta apa yang sedang dirayakannya?” tanya Winda setelah mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju tempat acara.
Bian hanya menggelengkan kepalanya, “Ia hanya mengatakan ingin berbagi kebahagiaan bersama semua orang, itu saja.”
“Perasaanku tidak enak, Aku seperti mendengar ada sesuatu tersembunyi dari ucapannya itu.”
“Mama terlalu banyak berpikir, sekarang kita jalan dan nikmati saja pestanya. Sisanya biar Aku yang mengurusnya!” ujar Bian mantap.
“Apa Papa sudah menghubungi El, harusnya ia kembali hari ini. Anakmu itu sepertinya lebih nyaman berada di apartemennya seorang diri ketimbang tinggal bersama kita.”
Bian menghela napas, ia lalu mengambil ponselnya dan mulai menghubungi El.
•••••
__ADS_1
El menyentakkan pergelangan tangan bajunya, melirik arloji di tangannya. Sudah sepuluh menit berlalu setelah ia menerima telepon dari papanya yang sedang dalam perjalanan menuju tempat acara salah satu rekan bisnis perusahaan keluarganya. Ia tidak berniat menanyakan di mana acara itu berlangsung, karena setiap berbicara dengan papanya selalu saja berakhir dengan pertengkaran.
El tersenyum menatap Rio yang tengah berlarian bersama teman-temannya, jas yang dipakainya sudah dilepas, demikian pula dengan kemeja putihnya yang sudah tersampir di atas sandaran kursi dekat dengan tumpukan kado ulang tahunnya. Bocah lelaki itu kini hanya memakai kaos putih lengan pendek yang sudah basah di bagian punggungnya.
“Papaa.” Rio berlari mendekati El yang tengah menikmati minumannya sambil membawa bola di tangannya. “Iyo mau main di taman belakang sama teman, boleh?”
El terkekeh melihatnya, dahi Rio basah keringat dan anak itu sepertinya terlalu bersemangat dan tak mengenal lelah. “Boleh, tapi sepertinya Papa gak bisa temani Iyo lama-lama.”
“Oke, Pa.” Rio langsung berlari menuju taman belakang hotel bersama dua orang temannya, El pun bergegas hendak masuk menemui Kiara di dalam. Langkahnya terhenti ketika melihat dua orang lelaki berjalan ke arahnya.
“Biar kami yang akan menjaganya, Tuan.” Joko dan Joni muncul di dekat El, “Kami juga akan segera membereskan barang-barang milik Tuan muda Rio.”
Dan tanpa banyak bicara lagi, kedua orang itu langsung saja mengangkat kado dan barang lainnya milik Rio dan membawanya ke dalam mobil. El mengernyitkan dahi, memandang heran. Ia tidak mengenal mereka, tapi rasa penasarannya terjawab setelah Kinan datang mendekat.
“Baiklah, kalau begitu. Aku masuk dulu.” Tanpa menunggu jawaban Kinan, El berjalan cepat masuk ke dalam. Namun langkahnya kembali terhenti ketika melihat Kiara keluar dari dalam gedung dan pemandangan berikutnya membuatnya harus menahan napas.
El berdiri di balik pilar besar, menatap ketiga orang yang kini saling berhadapan. Ia tak menyangka kalau tempat acara yang akan dihadiri kedua orang tuanya itu adalah hotel yang sama dengan tempat acara ulang tahun Rio berlangsung.
Bian yang baru turun dari mobilnya menggandeng tangan Winda, tampak terkejut saat memasuki tempat acara dan melihat Kiara yang berdiri di dekat pintu utama. Lelaki itu mengerutkan keningnya, rona terkejut tampak jelas terlihat di raut wajahnya saat melihat Kiara berada di tempat yang sama dengan mereka. Tapi itu hanya sebentar saja, karena lelaki itu mampu dengan cepat menguasai dirinya kembali.
“Nona Kiara,” sapanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis dengan mata menatap tajam pada Kiara. “Sungguh tidak terduga, kejutan yang luar biasa bisa berjumpa kembali dengan Nona di sini setelah sekian lama.”
Melihat senyum lelaki di depannya itu, Kiara terpancing ingin membalasnya. Alis matanya terangkat, dengan gaya penuh rasa percaya diri yang tinggi ia berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya tanpa merendahkan tubuhnya sedikit pun.
__ADS_1
“Tuan Bian dan Nyonya. Kami sangat senang Tuan dan Nyonya sudah mau memenuhi undangan kami dan bersedia menyempatkan waktunya untuk datang ke acara pesta kami yang sangat sederhana ini.”
Winda mengerjapkan matanya, menatap tangan yang terulur di depannya itu. Ia lalu melepaskan pegangan tangannya di lengan suaminya dan meraih tangan Kiara lalu menjabatnya erat. “Lama tidak bertemu, bagaimana kabar dirimu sekarang?”
Winda menatap lama Kiara, mantan menantunya itu kini terlihat jauh berbeda. Cantik dan penampilannya membuat pangling mata yang melihatnya.
“Seperti yang Nyonya lihat saat ini, Saya baik-baik saja. Saya harap begitu pula dengan kabar Nyonya dan Tuan saat ini,” sahut Kiara memasang senyum terbaiknya.
Bian mengetatkan rahangnya, tangannya menarik lengan istrinya menahannya untuk tetap berdiri di sampingnya. “Apa yang Kamu lakukan di tempat ini?” tanya Bian menatap Kiara tajam, ia masih tidak percaya bisa berjumpa dengan Kiara di dalam sebuah pesta yang terbilang mewah itu.
“Saya ...”
Sebelum Kiara menyelesaikan ucapannya, oma Mala datang mendekat bersama dua pengawal setianya. Kiara langsung menyisihkan tubuhnya dan berdiri di samping omanya.
“Ternyata kalian sudah saling mengenal rupanya. Oma jadi tidak perlu bersusah payah mengenalkan mereka berdua padamu,” ucap oma Mala seraya mengusap lengan Kiara.
“Iya, Oma. Saya sudah mengenal Tuan dan Nyonya Bian lama, bukankah semalam Kia sudah banyak bercerita pada Oma?” balas Kiara membuat wajah-wajah di hadapannya itu memucat seketika.
“Aku harus mengucapkan banyak terima kasih pada kalian berdua. Kiara sudah banyak bercerita tentang kalian berdua, bagaimana kalian membantu membiayai pengobatan pamannya dulu. Sayang umurnya tak panjang.”
Bian hampir tersedak ludahnya sendiri, ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulut oma Mala. Ia memandang Kiara, lalu beralih menatap oma Mala.
“Siapa Kamu sebenarnya. Apa hubunganmu dengan nyonya Nirmala?”
__ADS_1
••••••••