You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 104. Pulang


__ADS_3

El hanya tersenyum dan tidak berkomentar apa pun ketika Ed datang menemuinya di halaman samping rumah setelah sebelumnya menjenguk Bian di kamarnya. Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh, memberi tempat pada Ed agar duduk di sampingnya.


Suasana terasa canggung, dan Ed harus mencari cara untuk mencairkan suasana. Tapi bagaimana caranya, mengingat cerita Kiara tadi yang jelas mengungkapkan soal perasaannya di antara dua lelaki yang kini saling duduk dalam suasana tegang itu.


Hening beberapa saat, hanya suara debur ombak yang terdengar sesekali di selingi dengan bunyi batang daun kelapa yang bergerak meliuk terkena terpaan angin kencang.


“Siang ini kami pulang, Aku sudah bicara dengan om Bian dan tante Winda tadi.” Ed akhirnya membuka suara terlebih dahulu. “Aku tahu papamu masih berat berpisah dengan Rio, dan mau cucunya bisa lebih lama tinggal bersama mereka. Tapi Kiara berhasil meyakinkan mereka, berjanji akan membawa Rio berlibur bersama mereka saat libur sekolah tiba.


“Aku titip putraku padamu,” ujar El pelan. “Aku akan membawa papa berobat ke luar negeri, ke tempat yang sama saat papa menjalani perawatan dulu.”


“Apa om Bian tahu rencanamu itu?” tanya Ed.


“Papa belum tahu, Aku berencana memberitahunya malam ini. Aku ambil cuti dulu dan sudah menyerahkan urusan perusahaan pada asistenku untuk sementara waktu. Aku ingin papa segera pulih dan bisa berjalan normal kembali seperti dulu.”


“Aku perhatikan beliau sudah bisa menggerakkan kakinya sedikit demi sedikit. Bicaranya juga sudah mulai lancar,” ungkap Ed kemudian.


“Aku harus mengakui hal ini. Kehadiran Rio di tempat ini, menjadi energi terbesar bagi papa untuk proses penyembuhan penyakitnya. Tapi Rio tidak mungkin terus berada di samping papa, ada hal-hal yang perlu dijelaskan pada papa kalau cucunya itu juga punya kegiatan lain di luar sana. Bukan melulu harus bersama dirinya. Makanya Aku berinisiatif membawa papa kembali berobat ke luar negeri, berharap saat kembali nanti beliau sudah bisa berjalan normal kembali bahkan mungkin bisa menjadi lawan Rio berlatih sepak bola.”


“Jujur Aku penasaran bagaimana reaksi om Bian saat pertama kali tahu kalau Rio cucunya.” Ed mengungkapkan rasa penasarannya.


“Pertama kali saat kutunjukkan foto Rio, mama hanya tertawa kecil dan menggeleng tak percaya dan papa sempat gusar. Mereka berdua bilang padaku, ada angin apa kok bongkar-bongkar foto masa kecil.” El terkekeh mengingat reaksi awal kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Tapi saat Aku sandingkan foto kami berdua, mereka terkejut dan setengah tak percaya. Aku bilang anak kecil di dalam foto itu bukan Elvan putra mereka, tapi Rio Feriandra cucu mereka yang berusia delapan tahun. Papa gak bisa menahan tangisnya, mama malah marah dan memukulku karena sudah menyembunyikan cucunya selama ini. Dan mereka langsung memintaku membawa Rio saat itu juga!”


“Aku bisa bayangkan bagaimana hebohnya tante Winda, dan repotnya Kamu karena harus menenangkan kedua orang tuamu.”


“Kejutan luar biasa, jujur Aku awalnya takut buat bicara dan kasih tahu mereka soal Rio. Aku takut mereka gak percaya dan menuduh Kiara macam-macam lagi. Tapi ide foto itu muncul begitu saja, dan mereka langsung percaya kalau itu cucu mereka karena kemiripan wajah kami saat kecil.”


Ed mengangguk kuat. “Aku tahu, Aku bisa melihatnya dengan jelas sepanjang pertemuan kami tadi. Om Bian tidak mau melepaskan pelukannya di tubuh Rio. Beruntung anak itu paham dan tidak berontak minta dilepaskan meski berulang kali bilang engap kalau terus-terusan dipeluk opanya seperti itu.”


Suasana mencair begitu saja dan dua lelaki yang dulu bersahabat karib itu mulai terlihat bicara lebih santai. El bahkan memukul lengan Ed saat disinggung soal hubungannya dengan Raisha, mantan istri keduanya. Dan Ed balas merangkul leher El dengan lengannya saat lelaki itu menyindir soal perasaan terpendamnya sejak lama pada Kiara yang tidak berani diungkapkannya.


“Mencintai dalam diam itu nyesek, Bro. Dekat tapi tak bisa disentuh, hanya bisa memuji dalam hati. Mengagumi pun hanya dalam mimpi. Perasaan itu bukan untuk disimpan tapi harus diungkapkan!”


Keduanya tertawa bersama, hilang sudah ketegangan yang sempat tercipta di awal pertemuan karena ungkapan hati El tidak mendapat balasan seperti yang diinginkan.


“Jaga mereka baik-baik. Perlakukan mereka berdua dengan sebaik-baiknya.”


Ed tersenyum maklum, ia paham bagaimana suasana hati El saat ini. “Aku pasti akan melakukannya untukmu. Bagiku Rio bukan hanya sekedar anak, tapi dia sudah menjadi bagian hidupku sejak Aku pertama kali melihatnya lahir ke dunia ini.”


“Aku ikut merawatnya, melihat tumbuh kembangnya. Aku bahkan menghabiskan banyak malam setiap harinya hanya untuk bisa bersama dengannya. Rio suka tertidur di badanku, dan dia akan menangis keras bila Kiara mencoba memindahkannya.” Wajah Ed menengadah, tersenyum menatap langit pagi yang mulai terlihat berawan.


“Andai Aku tahu Kiara tengah mengandung putraku, mungkin perceraian di antara kami tidak akan pernah terjadi.” El menolehkan wajahnya, menatap lurus pada Ed yang duduk dengan posisi tangan terentang lurus ke belakang menyangga tubuhnya. Ed hanya tersenyum kecil mendengarnya dan tak berniat untuk menjawabnya.

__ADS_1


“Tapi Aku sadar, semua sudah berlalu. Kita tidak bisa mengubah yang sudah terjadi di masa lalu, biar lah menjadi pelajaran hidup buat kami ke depannya. Khususnya Aku, agar menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi,” ucap El bijak.


Hingga waktu makan siang tiba, mereka semua berkumpul bersama. Tiba saat berpamitan pulang, Rio mencium punggung tangan opa dan omanya, dan memeluk mereka berdua erat. “Opa cepat sembuh. Kalau Iyo libur sekolah dan kembali ke rumah ini lagi, Iyo mau lihat Opa bisa jalan lagi kayak dulu. Dan kita main bola bareng lagi kayak kemarin.”


Bian mengangguk kuat dan mengusap sayang rambut kepala Rio, memeluknya lagi sebelum bocah lelaki itu berjalan keluar dan berkumpul dengan Kiara dan Ed di teras rumah.


Winda memeluk Kiara dan mengusap punggungnya, untuk sesaat lamanya Kiara memejamkan mata meresapi momen itu. Momen di mana Kiara merasakan pelukan dan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya. Rasa haru menyeruak dalam dada, dan tanpa disadarinya matanya mulai menghangat. Sentuhan halus di bahunya kembali menyadarkan Kiara, ia menoleh dan tersenyum pada El yang menganggukkan kepala padanya.


“Terima kasih sudah menerima kami dengan sangat baik di sini. Maaf tidak bisa berlama-lama, dan maaf juga jika selama berada di rumah ini ada sikap kami yang kurang berkenan. Kia mohon untuk dimaafkan,” ucap Kiara menangkupkan tangan di dada.


“Kami yang seharusnya minta maaf padamu, atas semua sikap kami selama ini.” Winda meraih tangan Kiara dan kembali memeluknya lagi. “Andai waktu bisa diputar kembali, kami ingin Kamu tetap jadi bagian dari keluarga ini lagi.”


“Ki-ara,” suara pelan Bian mengalihkan perhatian Kiara, ia memandang laki-laki paruh baya yang tengah duduk di kursi roda itu yang menatapnya dengan sorot mata penuh rasa penyesalan. “Papa min-ta ma-af,” ucapnya dengan suara terbata-bata. Tidak ada lagi Bian yang arogan, yang selalu berkata keras padanya. Yang ada hanya lelaki lemah yang duduk bersandar di kursi rodanya.


Dan Kiara langsung bersimpuh di depan kaki Bian, hilang sudah rasa sakit hati yang selama ini terasa mengganjal di hati. Yang tersisa hanya rasa iba, teringat kembali pada mendiang pamannya. “Kia sudah melupakan semuanya. Sekarang Kia hanya ingin lihat Papa cepat pulih dan sehat lagi seperti dulu.”


Bian menangis sembari mengusap rambut Kiara, mengangguk mengiyakan ucapan wanita itu. “Papa mau sembuh, Papa mau lihat cucu Papa tumbuh besar, kuat, dan jadi laki-laki dewasa yang bertanggung jawab.”


Kiara mengangguk, “Papa akan melihat Rio tumbuh besar dan jadi kebanggaan keluarganya.” Janji Kiara dalam hati. Sebelum melangkah masuk ke dalam mobil masih sempat dilihatnya Bian menghapus air matanya dan tersenyum padanya.


•••••••••

__ADS_1


__ADS_2