You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 105. Mancing Mania


__ADS_3

Kiara melambaikan tangannya untuk yang ke sekian kalinya pada Bian dan Winda sebelum ia masuk ke dalam mobil, bergabung bersama Rio dan Ed yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Ia memilih duduk di bangku belakang, membiarkan Rio duduk di sebelah Ed.


“Opa, Oma, Iyo pulang dulu ya. Nanti liburan sekolah, Iyo mau main ke sini lagi!” Rio berteriak seraya melambaikan tangannya dari balik kaca jendela mobil yang terbuka.


Bian mengangguk kuat dan balas melambaikan tangannya, sementara Winda hanya tersenyum sambil sesekali mengusap sudut matanya yang berair. Masih belum rela melepaskan kepergian mereka semua, waktu sehari semalam tidak akan pernah cukup baginya untuk berbagi kebersamaan dengan mereka.


Winda sudah terlanjur sayang dengan mantan menantunya itu, apalagi Kiara sudah memberikan mereka seorang cucu laki-laki yang selama ini sangat mereka nanti-nantikan bersama.


Meski sudah mendapat penjelasan dari El kalau hubungannya dengan Kiara kini hanya sebatas pertemanan biasa saja, dan dalam waktu dekat Kiara dan Ed akan meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan. Tetap saja hal itu membuatnya sedikit kecewa, ia masih berharap Kiara mau memikirkan kembali hubungannya dulu dengan El terlebih lagi ada anak di antara keduanya.


El yang berdiri di dekat mobil, tepat di samping Rio tersenyum seraya mengusap sayang rambut kepala putranya itu. “Rajin belajarnya ya, sayang. Kurangi mainnya dulu, fokus belajar buat semesteran kali ini. Biar dapat hasil yang memuaskan!”


“Siap, Pa. Iyo bakal rajin belajar, biar bisa jadi juara.”


“Sini peluk Papa dulu,” pinta El, lalu meraih tubuh Rio dan memeluknya erat. Mengecup keningnya kemudian, sebelum melepaskan pelukannya.


Kiara tersenyum memperhatikan interaksi antara papa dan anak itu. Ia menganggukkan kepala saat El menatap ke arahnya. Sempat cemas saat lelaki itu berusaha mencari tahu tentang siapa ayah kandung putranya, dan bagaimana reaksi Rio saat mengetahui kebenaran tentang papa kandungnya selama ini. Namun berkat bantuan Ed, semua kekhawatirannya itu berangsur menghilang dan berganti dengan rasa suka cita.


Rio menerima El sebagai papa kandungnya dan langsung dekat dengan lelaki itu tanpa melupakan kehadiran Ed yang selama ini dianggap sebagai papanya sendiri.


“Bro, kita balik dulu.” Ed menjabat tangan El, “Kalau ada kabar tentang perkembangan kesehatan om Bian, kabari kami secepatnya.”


“Aku pasti akan menghubungi kalian,” sahut El. “Hati-hati di jalan!” El melangkah mundur membiarkan mobil Ed melaju meninggalkan tempat itu. Tangannya masih terus melambai dan berhenti saat mobil Ed sudah menghilang di tikungan jalan.


El berbalik menuju kedua orang tuanya yang masih berada di teras rumah. Ia mengajak keduanya masuk dan mulai menceritakan keinginannya untuk membawa Bian berobat ke luar negeri. Bian langsung menyetujuinya, dan terlihat begitu bersemangat. Kehadiran cucunya Rio, membuat Bian ingin segera pulih dan bisa berjalan normal kembali.


Tanpa menunda waktu lagi, El mulai mempersiapkan keberangkatan mereka bertiga. Segala urusan perusahaan untuk sementara sudah ia serahkan pada asistennya yang dipercaya, dan El akan tetap memantau dari jauh. Lagi pula ada Ed dan Kiara yang juga akan membantunya mengawasi jalannya perusahaan, seperti yang sudah mereka lakukan beberapa bulan terakhir ini.


Di sisi lain, pada saat bersamaan perjalanan pulang kembali terasa lebih menyenangkan karena Rio tak berhenti berceloteh tentang kegiatannya saat jalan-jalan bersama opa dan papanya ketika menginap semalam di sana.


Tapi saat melihat sekelompok lelaki duduk di tepi jalan sambil menjulurkan alat pancing mereka, membuat raut wajah Rio berubah seketika. Matanya terlihat begitu awas, sampai-sampai kepalanya tak berhenti menoleh. Ed melihat itu dan tersenyum samar, ia mulai melambatkan laju kendaraannya dan menoleh pada Kiara. Memberi isyarat dengan dagunya untuk berhenti di dekat tempat itu.

__ADS_1


“Hem, sepertinya seru juga kalau kita bisa ikutan mancing di tempat ini.” Ed mengetuk-ngetuk setir mobilnya, menunggu reaksi bocah lelaki di sebelahnya.


Rio menoleh cepat, dan langsung melebarkan matanya. “Ide bagus, Papa!”


Ed tergelak melihatnya, ia kembali menoleh pada Kiara dan meminta pendapatnya. “Kita harus tanya Mama dulu, boleh gak kita turun dan ikutan mancing di sini. Soalnya kalau kelamaan, kita bisa kemalaman sampai di rumah.”


“Boleh ya, Ma. Satu jam aja, gak lama. Please?” rayu Rio sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya di depan dada.


Kiara melirik jam mungil di tangannya yang menunjuk pada angka 2, Kiara mengangguk setuju. “Beneran satu jam, ya. Gak pakai tambahan apalagi perpanjangan waktu, oke?”


“Dih Mama, kayak tanding bola aja!”


“Antisipasi, sayang. Bisa aja nanti ada suara-suara rayuan minta waktu tambahan karena belum dapat hasil pancingan,” ujar Kiara mengingatkan. “Paham kan, maksud Mama?”


“Iya, deh. Iyo, paham.”


Ed mengulum senyum mendengar percakapan kedua mama dan anak itu, “Oke, deal. Are you ready for fishing today, Rio Feriandra?” tanya Ed membuka sabuk pengaman dan bersiap turun dari mobilnya.


“Oke, let’s do it!” balas Ed tak kalah bersemangat.


Kiara tertawa melihatnya, ia memilih tetap berada di dalam mobil karena cuaca siang hari itu cukup panas. Dilihatnya Ed mengeluarkan alat pancing dari dalam bagasi mobilnya dan menyerahkannya pada Rio.


Keduanya berjalan mendekati salah satu pemancing dan berbincang sejenak. Tak lama kemudian lelaki itu memberikan Ed kaleng berukuran kecil pada Ed yang Kiara tebak adalah umpan untuk memancing ikan.


Ed memilih tempat yang lebih teduh di dekat pohon besar, duduk berjongkok di sana sambil memasang umpan pada joran miliknya. Panas hari itu sepertinya tak masalah buat Rio, ia terlihat heboh sendiri. Ujung jarinya menunjuk-nunjuk pada air yang beriak di bawah sana, dan langsung berteriak girang ketika joran salah satu pemancing terangkat tinggi dan ikan berukuran besar terkait di ujung kailnya. Rio berlari mendekat, tampak ikan besar itu menggelepar di dekat kakinya.


“Wih, mantap Om. Ikannya besar sekali!” Rio berjongkok dan menyentuh ikan itu, namun ia terlonjak kaget dan jatuh terduduk ketika ikan yang disentuhnya bergerak meliuk dan hampir mengenai lengannya.


“Papa, ikannya matuk!” teriaknya kaget, membuat pemancing di depannya tertawa.


“Adek mancing juga. Siapa namanya, sama siapa ke sini?” tanya lelaki itu sembari mengangkat ikan di bawahnya dan memasukkannya ke dalam ember berisi air.

__ADS_1


“Nama Aku Rio, Om. Biasa dipanggil Iyo, mampir bentar sama papa pengen ikutan mancing di sini,” jawab Rio sambil mengarahkan telunjuknya pada Ed yang sedang duduk berjongkok dengan joran di tangan. “Iyo ke sana dulu ya, Om. Bantuin papa mancing, kali aja dapat ikan gede kayak punya Om juga.”


Lelaki itu terkekeh mendengar jawaban Rio, “Silah kan. Good luck ya, Boy!”


Rio duduk di samping papa Ed, sedikit berisik karena beberapa menit menunggu joran di tangan papanya tak juga bergerak. “Sstt, kalau Iyo bicara terus yang ada ikannya pada lari!” ucap Ed setengah berbisik.


Rio mencebik, “Tuh, om yang di sana aja mancing sambil bicara sama temannya. Dapat ikan gede lagi, Iyo kan barusan lihat tadi.”


Ed tersenyum mesem seraya mengusap tengkuknya, memang butuh kesabaran untuk melakukan hal seperti yang dilakukannya saat ini. Sementara waktu mereka terbatas.


“Papa, lihat. Joran Papa gerak-gerak!” suara Rio mengejutkan Ed, sentakan kuat di tangannya membuat tubuhnya tertarik selangkah ke depan. “Tarik Pa, tarik kuat!”


Ed memutar tali jorannya, dengan sekuat tenaga menariknya ke atas bersamaan dengan teriakan lantang Rio yang melihat papanya berhasil mendapatkan ikan besar. Lebih besar dari ikan yang di dapat si om sebelumnya. “Yeaay, berhasil!”


Ed mengusap peluh di wajahnya, tersenyum puas melihat hasil pancingannya. Ia mengangkat ujung kailnya dan memperlihatkannya pada Kiara yang melongok keluar jendela mobil sambil mengacungkan jempolnya, lalu menunjukkan arloji di tangannya.


Waktunya habis, saatnya kembali pulang. Sempat bingung karena tidak mungkin membawa ikan itu dalam perjalanan pulang. Rio lalu berinisiatif memberikannya pada si om pemancing yang menerimanya dengan takjub.


“Buat Om saja, kami gak mungkin bawa ikan ini pulang karena rumah kami masih jauh. Takutnya mati di jalan,” ucap Rio kemudian.


“Terima kasih,” sahut si om sembari melambaikan tangan pada Ed yang membalas dengan mengangkat ibu jari ke atas.


“Iyo pamit ya, Om. Oh iya, nama Om siapa? Kali aja nanti ketemu di jalan, kan bisa saling sapa.”


“Pandu Wijaya, panggil saja Pandu. Salam buat papa kamu ya,” ucap Pandu kemudian.


“Iya, Om. Iyo pamit dulu, bye Om Pandu.” Rio berlari meninggalkan Pandu yang menatapnya sambil tersenyum lebar. Keceriaan bocah lelaki itu menularkan energi positif bagi orang di dekatnya.


“Kita pulang ya, sekarang. Iyo ngantuk gak, kalau mau baring biar Papa atur tempatnya,” tanya Ed setelah mereka sudah di dalam mobil siap melanjutkan perjalanan kembali.


“Hoaam!” Ed tertawa, dan Kiara tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Yang ditanya sudah berbaring nyaman di kursinya dengan mata yang perlahan mulai terpejam.

__ADS_1


••••••••


__ADS_2