You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 103. Yang kembali bersemi


__ADS_3

Sejak kecil Kiara belajar bahwa hidup adalah tantangan. Ia bahkan belum sepenuhnya bisa membuka mata ketika ditinggal pergi oleh mamanya. Setahun berselang ayahnya kembali berpulang saat Kiara kecil baru bisa berjalan lancar. Hidupnya kemudian bergantung pada sang paman, adik ayah satu-satunya yang tulus penuh kasih sayang merawat dan membesarkannya meski hidup serba kekurangan.


Hingga ia beranjak remaja, Kiara muda tidak pernah duduk berpangku tangan. Apa saja asalkan halal dan tidak bertentangan dengan hati nuraninya, akan ia lakukan demi membantu ekonomi keluarganya.


Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarganya, untuk orang-orang yang tulus menyayanginya. Baginya keluarga adalah yang terpenting daripada segalanya.


Ia berkorban tapi pada akhirnya ia tidak menyesali apa pun yang sudah terjadi pada hidupnya. Ia pernah memberikan hatinya pada seorang lelaki yang ia yakini akan mampu membuat hidupnya bahagia. Namun takdir berkata lain, ia harus melepaskan cintanya demi seseorang yang paling berjasa dalam hidupnya.


Kiara meyakini sesuatu, dibalik setiap musibah yang dialaminya pasti terselip sebuah hikmah. Sakitnya mendiang paman mempertemukan dirinya dengan orang-orang baik dan tulus. Perpisahannya dengan El mempertemukannya dengan Ed, pria terbaik dalam hidupnya. Mengingat nama Ed, Kiara baru menyadari kalau dari semalam ia belum membuka kembali ponselnya.


“Aku harus segera bersiap-siap untuk kembali pulang,” ucap Kiara melepas pelukan El di tubuhnya. Tidak ada lagi getar-getar atau gelenyar rasa di dalam hatinya saat berada di dalam pelukan lelaki yang dulu pernah mengisi hari-harinya itu. Semua biasa-biasa saja, yang tertinggal hanya rasa kasih terhadap saudara.


“Aku akan mengantar kalian pulang kembali,” sahut El, “Bersiaplah, Aku perlu waktu sejenak untuk menenangkan diri setelah menerima penolakanmu barusan.”


Kiara hanya tersenyum kecil mendengarnya, ia tak mau larut dan berpanjang lidah menanggapi. “Aku duluan,” ucapnya kemudian. El mengangguk dan berjalan kembali menyusuri tepi pantai seorang diri.


Kiara berjalan memutar melewati beberapa anak tangga yang ada di ujung jalan menuju rumah El. Ia mengibaskan ujung celana piamanya yang kotor terkena pasir pantai, tersenyum kecil menyadari dirinya yang tak menggunakan alas kaki. Terburu-buru turun membuatnya melupakan hal yang satu itu.


Tak terasa ia sudah sampai di tangga teratas, menoleh sesaat ke arah El yang berjalan semakin menjauh. Lamat-lamat ia mendengar derum suara mobil tidak jauh dari tempatnya berdiri saat itu. Kiara mencari asal suara, memindai sekitarnya. Jarak rumah El dengan tetangganya cukup jauh, dan mobil El terparkir persis di depan rumahnya. Itu artinya ada mobil lain di tempat itu, tapi Kiara tidak melihatnya.


Hari mulai terang, suasana sekitarnya mulai jelas terlihat. Dari balik pohon besar yang berjajar tidak jauh darinya, Kiara melihat sebuah mobil hitam terparkir di sana. Ia memicingkan mata dan tersenyum lebar ketika mengenal pemilik mobil yang ada di dalamnya.


“Mas Ed!” serunya girang dan berlari mendekat, lalu tak lama kemudian terdengar teriakannya. “Aaarghh!”


Ed yang berniat untuk kembali pulang setelah mengira El berhasil membujuk Kiara untuk kembali rujuk dengannya, terperanjat mendengar suara teriakan seorang wanita di dekatnya dan spontan menghentikan laju mobilnya.


“Ya Tuhan, Kiara?” Ed bengong, wanita yang semalaman mengganggu pikirannya itu kini berdiri tegak di depan mobilnya dengan kedua tangan menutup rapat wajahnya.


Kiara membuka matanya, mengintip dari sela jari tangannya lalu turun menatap kakinya yang masih berpijak di atas tanah. Sadar kalau ia baik-baik saja, Kiara bergegas mendekat dan mengetuk kaca jendela mobil Ed dengan keras sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


“Cepetan buka!” perintahnya galak, dadanya masih berdegup kencang karena mengira akan tertabrak mobil Ed.


Lelaki itu menurut dan menurunkan kaca mobilnya. “Sekarang keluar dari dalam mobil cepat!” perintah Kiara lagi, namun lelaki itu bergeming dan hanya diam tanpa bicara apalagi menolehkan wajah padanya.


“Ish!” Kiara gemas dan dengan gerakan cepat langsung mencabut kunci kontak mobil Ed, lalu melenggang pergi sambil memutar-mutar kunci di tangannya.


Ed tersadar dan langsung turun dari mobilnya. “Yank, balikin kuncinya. Aku mau pulang sekarang!”


“Enggak!” jawab Kiara tegas, tiba-tiba saja sebal mendengar ucapannya barusan. “Pulang katanya? Ngapain coba datang jauh-jauh kalau tiba-tiba langsung mau pulang!” rutuknya dalam hati.


Ed berlari mengejar dan menangkap pergelangan tangan Kiara, tapi wanita itu menepis tangannya kuat. Namun Ed tak kehabisan akal, tenaganya lebih besar. Sekali putar, tubuh Kiara sudah berada dalam pelukannya.


“Lepasin gak!” Kiara mendelik sebal.


“Balikin dulu kuncinya, baru Aku lepasin.” Ed menatap lekat wajah wanita itu dari dekat, wajah yang begitu dirindukannya yang pagi ini sudah membuat hatinya tak karuan.


“Baru juga datang mau langsung pulang aja. Ngapain coba datang jauh-jauh, mending gak usah aja sekalian!” semburnya marah. “Kalau memang niat jemput, kenapa gak bilang dari semalam. Malah sembunyi-sembunyi, hampir nabrak segala. Kalau Aku kenapa-kenapa gimana?”


Kiara berontak ingin melepaskan diri, tapi pelukan kuat tangan Ed di badannya membuatnya sulit bergerak. “Mas lepasin, Aku gak bisa napas. Engap!”


Ed buru-buru meregangkan tubuhnya tapi tetap tidak melepaskan pelukannya, membuat Kiara tersenyum melihatnya. Ia menangkup wajah Ed, dan mengusap dagunya yang ditumbuhi rambut halus. Mata itu terlihat kuyu, seperti kurang tidur. “Ada apa dengan dirimu, Mas?”


Ed duduk di atas pagar beton yang memanjang sepanjang tepi pantai, kakinya dibiarkan menjuntai sementara tangannya sibuk mengambil kerikil kecil di dekatnya. Ed lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah pantai yang terlihat tenang, hingga menimbulkan suara kecipak air.


Kiara duduk di sampingnya memegang botol plastik air kemasan yang diambil Ed dari dalam mobilnya. Sebenarnya Kiara berniat kembali ke rumah El untuk membuat coklat hangat dan kopi panas kesukaan Ed, tapi lelaki itu melarangnya dan memintanya untuk tetap duduk di sampingnya.


“Katanya haus, kok gak diminum?” tanya Ed yang melihat Kiara hanya memutar-mutar botol plastik di tangannya.


Kiara meringis, “Haus sih, tapi maunya minum yang anget-anget. Bukan yang ini!” Kiara mengacungkan botol di tangannya.

__ADS_1


Ed tersenyum paham, ia tahu kiara suka mual jika minum air dingin. “Tahan bentar. Kalau Kamu balik ke rumah itu sekarang, Aku yakin Kamu bakal lama balik ke sini lagi!”


“Ya kan ke sana bareng sama Mas, sekalian ketemu sama orang tua bang El. Ketemu Iyo juga.”


Ed meraih botol minum di tangan Kiara, membukanya lalu meneguknya dengan cepat. Ia diam sejenak lalu menghela napas dalam, “Semalam El telpon dan cerita soal niatnya pengen balikan lagi sama Kamu.”


“Terus, Mas jawab apa?” tanya Kiara tak mengira akan mendengar cerita itu dari mulut Ed.


Ed meneguk minumannya lagi hingga tandas tak bersisa. “Dia bilang ini waktu yang tepat untuk memintamu rujuk kembali dengannya. Rio terlihat senang bersama oma opanya, lagi pula papanya sudah bisa menerima Kamu kembali dan mamanya ingin kalian bisa bersatu lagi.”


“Dan pagi ini Aku melihat kalian berpelukan mesra.” Ed meremas botol plastik di tangannya dan melemparnya ke sembarang arah.


“Hei, jangan buang sembarangan! Begini ini yang bikin pantai kita jadi kotor, patut mendapat hukuman.”


“Yank, Aku sedang tidak ingin bercanda. Aku serius, Aku cinta banget sama Kamu. Tapi Aku juga gak mau jadi lelaki egois dan jadi penghalang untuk kebahagiaan Kamu. Jika memang Kamu mau kembali rujuk sama El, Aku siap pergi jauh dari kehidupan Kamu. Aku ...”


Dan sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya, Kiara langsung menutup mulutnya dengan tangannya. “Apa yang Mas lihat tadi, tidak seperti apa yang Mas pikirkan saat ini. Aku membalas pelukannya bukan berarti Aku menerima tawarannya untuk rujuk kembali.”


“Jadi ... terus yang tadi apaan dong?” Ed berubah linglung, dan Kiara terkekeh geli melihatnya.


“Aku tegaskan padanya hubungan di antara kami hanya sebatas saudara saja, meski ada Iyo di antara kami tidak berarti kami harus bersatu lagi. Dan Aku juga bilang sama bang El, kalau hatiku sudah ada yang memiliki.”


Untuk sesaat lamanya Ed terdiam, berusaha mencerna kata-kata Kiara. Tak lama kemudian senyumnya merekah. "Yess!” Ed mengepalkan tangan ke udara. Ia lalu beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya pada Kiara. “Ayo kita jemput Iyo sekarang. Ahh! Aku sudah tidak sabar pengen cepat-cepat halalin Kamu, yank!”


Kiara tertawa menyambut uluran tangan Ed, “Bagaimana kalau opa dan omanya menahan Rio untuk tinggal lebih lama bersama mereka nanti.”


“Semua keputusan ada di tangan kalian berdua. Jika Kamu mengizinkan dan Rio mau tinggal lebih lama bersama mereka, tidak ada salahnya mengiyakan keinginan mereka. Biar bagaimanapun juga, El tetap orang tua kandungnya, Aku percaya ia akan menjaga putranya dengan baik.”


Mendengar jawaban Ed membuat hati Kiara menjadi lebih tenang, bersama mereka berdua berjalan menuju rumah El untuk menemui Bian dan Winda di sana.

__ADS_1


••••••••


__ADS_2