You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 101. Galau


__ADS_3

Waktu serasa merangkak, Kiara berusaha agar tidak melirik jam di tangannya setiap lima menit sekali. Suasana balkon kamar atas rumah El yang tepat menghadap pantai itu menjadi tempatnya beristirahat malam itu. Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana, menikmati cahaya bulan dan keindahan langit malam sembari menunggu putranya kembali pulang dari jalan-jalan.


Kiara menghela napas dalam, ia tidak tahu apa keputusannya menuruti permintaan Rio untuk menginap di rumah El adalah sebuah pilihan yang tepat. Ia bisa melihat keceriaan terpancar di wajah putranya itu, luapan rasa gembira khas anak-anak yang keinginannya terpenuhi.


Limpahan kasih sayang dari orang-orang yang baru saja ditemuinya, membuat Rio ingin mengenal mereka lebih dekat. Kiara tidak tega menolaknya, apalagi saat tatapan mata penuh harap itu tersirat dari binar bola mata putranya.


Sebenarnya Kiara masih merasa canggung saat harus berhadapan langsung dengan Bian. Meski sikap laki-laki itu padanya telah berubah, tapi kenangan masa lalu dengan mereka tak mudah terhapus begitu saja.


Tak ada lagi tatapan mengintimidasi, atau ucapan keras keluar dari mulutnya. Sinar matanya kini berubah teduh, tutur katanya menjadi sangat lembut dan sikapnya pun seperti layaknya seorang ayah yang sedang berhadapan dengan putri kesayangannya yang baru saja pulang dari perjalanan jauh.


Sapuan angin malam yang dingin menerpa kulit lengannya yang terbuka. Kiara merapatkan kain lebar yang difungsikannya sebagai selimut itu untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Matanya mulai terasa berat dan kuap kerap lolos dari mulutnya, namun Kiara berusaha keras untuk menahan kantuknya.


El dan Rio, juga Bian, masih berada di luar rumah mengunjungi pasar malam yang ada di dekat rumah mereka. Kiara mencoba bertahan menunggu mereka datang, meski harus terkantuk-kantuk dengan mata yang mulai berair.


“Kiara,” suara lembut Winda mengalihkan perhatian Kiara. Wanita itu berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. “Sebaiknya Kamu beristirahat di dalam kamar. Angin malam di sini cukup kencang. Jika terlalu lama berada di luar, yang ada Kamu bisa masuk angin.”


Kiara tersenyum menanggapinya, sikap lembut Winda padanya membuat Kiara merasa lebih nyaman berada di dekatnya. Ia sudah mengubah panggilannya pada wanita itu, yang memintanya memanggil mama padanya. “Sebentar lagi, Ma. Kia mau menunggu Rio pulang, anak itu biasa tidur ditemani terlebih dahulu sampai ia terlelap.”


Tangan lembut Winda menyentuh bahunya, membetulkan letak kain yang menutupi sebagian lehernya.


“Kamu pasti sudah mengantuk sekali, masuklah dan beristirahat di kamar. Biar malam ini Rio tidur bersama opanya,” ucap Winda lembut namun sulit untuk dibantah. Saat kuap lolos dari mulutnya, Kiara lambat menutupnya dan itu membuat Winda tertawa melihatnya.

__ADS_1


“Kalau begitu Kia masuk dulu ya, Ma.” Kiara tersipu malu, menganggukkan kepala lalu melangkah masuk ke dalam kamar.


Winda menatap punggung Kiara yang berjalan di depannya itu, ia menarik napas dalam. Jika dulu ia tidak bisa berbuat banyak menghadapi keputusan Bian tentang perpisahan di antara putranya dan Kiara, kali ini ia berharap sekali dapat melihat mereka bersatu kembali. Apalagi ada Rio yang hadir di antara mereka berdua.


•••••


Ed menatap ponselnya yang tergeletak di atas ranjang kamarnya, embusan napasnya terdengar kasar. Ia tiba satu jam yang lalu dari pekerjaannya di luar kota, dan baru selesai membersihkan diri dan kini tengah menikmati kopi panas buatan sendiri.


Ia berniat untuk menghubungi Kiara dan menanyakan kabarnya. Sudah seminggu tidak bertemu muka, rasa kangen mulai merajai hati. Namun teleponnya sulit untuk dihubungi, hingga panggilan kelima hanya suara operator seluler yang didengarnya.


Ed duduk sambil memijit pelipisnya, hatinya mendadak galau. Terngiang ucapan Kiara semalam saat menghubunginya di telepon. Wanita itu meminta izin padanya untuk pergi mengunjungi Bian di rumah peristirahatannya bersama Rio dan El, dan mengatakan akan berangkat ke sana pagi-pagi sekali.


“Pulang hari, kan? Gak berniat menginap di sana kan?” tanya Ed. “Aku juga soalnya besok pulang, mungkin sampai di rumah malam jam delapan. Jadi bisa langsung ke rumah kalau kalian sudah datang,” imbuhnya lagi.


“Memang di mana sih tempatnya, kayak perjalanan ke luar kota saja sampai tiga jam?”


“Aku gak tahu tepatnya di mana, tapi menurut keterangan El rumahnya itu dekat dengan pantai.”


“Ehm, kayaknya Aku tahu lokasinya kalau memang benar rumah itu yang dimaksud.”


Tapi hari sudah semakin malam, jarum jam di dinding hampir menunjuk angka sepuluh. El sudah menanyakan pada orang rumah Kiara, namun wanitanya itu belum kembali dari perjalanannya.

__ADS_1


“Apa sebaiknya Aku telpon El saja,” pikir Ed kemudian, dan langsung menyambar ponselnya mencari nomor El dan langsung menghubunginya.


“Angkat El!” desis Ed mengeratkan pegangannya, namun lagi-lagi tidak ada jawaban.


Ed menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, dengan tangan masih menggenggam ponselnya.


Dreet ... ponselnya bergetar, Ed cepat-cepat melihat nama yang tertera di sana. Syukurlah El langsung menghubunginya dan mengabarkan kalau Kiara dan Rio memang menginap di rumahnya.


El mengubah panggilan teleponnya, dan kini Ed bisa melihat Rio yang tertidur lelap bersama Bian yang memeluk tubuhnya. “Kami baru saja pulang jalan-jalan, dan Rio ketiduran di mobil. Sepertinya dia kecapaian, kebetulan ada pasar malam di sekitar tempat ini, dan Rio mencoba hampir semua wahana permainan yang ada di sana.” El terkekeh senang.


Ed manggut-manggut, “Kiara di mana, apa ia bersama kalian atau ...”


“Kiara sudah tertidur sejak tadi, bahkan sebelum kami pulang. Sekarang ia bersama mama di kamar atas,” jelas El memotong ucapan Ed.


Pantas saja ponselnya tidak aktif, Ed sedikit lega. “Mungkin besok kami pulang, papa sepertinya sangat senang bertemu dengan cucunya. Ia bahkan bisa menggerakkan kakinya sendiri tanpa harus mendapat bantuan orang lain,” cerita El dengan mata berbinar.


“Syukurlah, Aku ikut senang mendengarnya,” sahut Ed.


Dan perbincangan malam via telepon itu pun berakhir. El lanjut istirahat, tidurnya malam itu nyenyak sekali. Tapi tidak dengan Ed, ia terus terjaga sepanjang malam. Baru menjelang dini hari ia bisa memejamkan matanya, itu pun bisa ia lakukan setelah dirinya terus memutar video kebersamaannya dengan Kiara dan Rio.


Suara alarm yang disetel ulang olehnya hari itu, membuat El terbangun cepat dengan kepala sedikit pening. Kurang tidur cukup membuat matanya berkunang-kunang, tapi ia sudah mengambil keputusan semalam untuk menjemput Kiara dan Rio di rumah El tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


Beralasan menjenguk Bian rasanya cukup masuk akal dan bisa diterima, meski pada dasarnya ia tak rela melihat kedekatan Kiara lagi dengan mantan suami dan keluarganya meski dengan alasan ada Rio sekali pun.


••••••••


__ADS_2