You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 88. Kebenaran yang terungkap


__ADS_3

Rio turun ke lantai bawah menemui Kiara yang sedang menyiapkan minuman hangat di nampan untuk diberikan pada ibu dan oma yang sedang berada di kamar atas. Ia menarik kursi dan menjatuhkan bokongnya di atasnya, lalu mengambil toples berisi keripik tempe dan mulai menyantapnya.


“Kok sudah turun? Mama barusan mau ke atas, Iyo gak temani oma lagi di kamar?” tanya Kiara sambil mengaduk minuman di dalam gelas.


Rio hanya menggeleng, mulutnya masih penuh mengunyah makanan.


“Iyo disuruh turun sama nenek, katanya mau bicara penting berdua saja sama oma.”


Kiara mengerutkan kening, “Aneh, bukannya mereka berdua baru saja bertemu. Kok tiba-tiba ada hal penting yang mau dibicarakan?” gumamnya merasa heran, seraya meletakkan sendok di atas piring kecil lalu mengambil salah satu toples keripik dan menaruhnya di atas nampan yang sama.


“Tapi nenek udah kenal lama sama oma. Dan putrinya oma itu sahabat nenek dulu,” ujar Rio membuat kerutan di kening Kiara makin dalam, penasaran mendengar cerita Rio barusan.


“Oh ya, nenek bilang gitu?”


“He eh!”


Kiara mencoba mencerna apa yang baru didengarnya barusan, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan ibu darinya.


“Iyo coba lihat mbak Kinan di kamarnya, sayang. Tadi bilang mau lihat oma di atas, biar bareng sama Mama gitu.”


“Bentar Iyo panggilin,” sahut Rio bergegas menuruti perintah mamanya, lalu tak lama kemudian ia kembali. “Mbak Kinannya dah moyoy, Ma. Capek kali, tidurnya aja sampai ngorok.”


Kiara terkekeh mendengarnya, “Ya udah, Mama ke atas dulu ya.”


“Oke Ma.”


Kiara melangkahkan kakinya perlahan menapaki anak tangga rumahnya, tiba di depan pintu kamarnya yang tertutup sejenak Kiara menghentikan langkahnya dan menaruh nampan ke atas meja bulat yang ada di sampingnya.


Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, namun mendadak terhenti saat telinganya mendengar tangisan lirih nyonya Mala dari dalam kamar.


Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada nyonya Mala, Kiara membuka pintu lebar. Di atas ranjang, dilihatnya nyonya Mala sedang menangis sambil memeluk ibu Lastri.


Melihat kedatangan Kiara, nyonya Mala melepaskan pelukannya lalu menatap Kiara dengan berurai air mata. “Cucuku sayang,” ucapnya dengan suara bergetar.

__ADS_1


Ibu Lastri turun dari ranjang, mengusap pipinya yang basah lalu berjalan mendekat ke arah Kiara. “Anakku,” ucap ibu Lastri sembari memeluk Kiara.


“Ibu, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Mengapa Ibu dan Oma menangis seperti ini?” tanya Kiara khawatir.


Ia sudah berjanji pada Okta untuk menjaga nyonya Mala dan membuat wanita itu merasa nyaman dan betah tinggal di rumahnya. Tapi sekarang, nyonya Mala terlihat sedih dan tak berhenti menangis.


“Duduklah di samping omamu, Nak. Peluk dan tenangkan beliau, karena hanya Kamu yang mampu melakukannya.” Ibu Lastri menghela bahu Kiara, berjalan mendekati nyonya Mala.


“Oma Kia?” Kiara menunjuk dirinya sendiri, mengarahkan telunjuk di dada. “Maksud Ibu?” tanya Kiara menatap bergantian pada ibu Lastri juga nyonya Mala.


Ibu Lastri hanya mengangguk, sementara nyonya Mala terus menundukkan kepala dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Meski masih belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu, Kiara menuruti saran ibu Lastri. Ia duduk di tepi ranjang, meraih tangan nyonya Mala dan menggenggamnya erat.


“Oma,” panggil Kiara lembut, “Maafkan Kia karena sudah membuat Oma sedih.”


Nyonya Mala mengangkat wajahnya, menatap Kiara dengan berurai air mata. Ia menggeleng kuat, lalu meraih Kiara dan memeluknya erat.


“Oma bersalah pada kalian, Oma sudah jahat selama ini padamu juga kedua orang tuamu. Membuatmu harus kehilangan kasih sayang mereka semua.”


Kiara tersentak mendengar pengakuan nyonya Mala, wajahnya memucat seketika. Kedua tangannya luruh dan jatuh di kedua sisi tubuhnya yang menegang tiba-tiba. Nyonya Mala dapat merasakan perubahan itu, perlahan pelukan nyonya Mala mengendur.


“Tenangkan dirimu, Nak.” Ibu Lastri mengusap lembut bahu Kiara, dan tersenyum mengangguk pada nyonya Mala yang sudah berhenti menangis. “Lebih baik kalian bicara berdua, Ibu akan melihat cucu Ibu di bawah.”


Ibu Lastri keluar dari kamar Kiara, dan menutup pintu perlahan. Ia menghela napas dalam ketika melihat nampan berisi makanan dan minuman yang sudah dingin karena terlalu lama dibiarkan.


Setelah berbicara langsung dan mendengar semua cerita nyonya Mala tentang putrinya yang sudah meninggal dunia, dan mengetahui kalau wanita itu adalah ibu dari Mutiara Sanjaya sahabatnya, ibu Lastri sempat menangis sedih.


Ia mengetahui dengan baik kehidupan rumah tangga sahabatnya itu, wanita yang biasa hidup senang dan serba ada tiba-tiba harus menjalani hidup yang sangat sederhana jauh dari kemewahan yang selama ini didapatnya.


Demi cintanya pada lelaki yang telah menjadi suaminya saat itu, ia rela berpisah dari keluarganya dan hidup susah, melepaskan status sosial yang selama ini disandangnya sebagai salah satu putri seorang pengusaha kaya. Sayangnya usianya tak lama, Ara meninggal dunia sesaat setelah melahirkan putrinya.


“Kiara sayang, semoga Kamu mendapatkan kebahagiaanmu kali ini. Bisa berkumpul bersama dengan keluarga ibumu, ibu yang selama ini tidak pernah Kamu temui. Bahkan makamnya pun tidak pernah kamu ketahui.”


Ibu Lastri mengusap sudut matanya yang berair, sejenak menghela napas sebelum melangkah menuruni anak tangga untuk menemui Rio yang sedang berbaring di sofa ruang keluarga sedang menonton televisi.

__ADS_1


“Nenek? Bagaimana dengan oma Mala, apa ia baik-baik saja?” Rio bergegas bangun dan berdiri menyambut neneknya yang datang, yang langsung berjongkok memeluknya erat.


“Nenek kenapa menangis lagi?” Rio mengusap pipi neneknya yang basah air mata.


“Nenek sayang sekali sama Iyo. Nenek selalu berdoa untuk kebahagiaan Iyo dan mama.” Ibu Lastri mengusap wajah Rio, mengecup sayang kedua pipinya dan kembali memeluknya seolah takut untuk berpisah.


“Iyo juga sayyaaang sekali sama Nenek,” sahut Rio dan balas memeluk erat leher neneknya.


“Sekarang Iyo tidur, biar kali ini Nenek yang temani.”


“Iyo mau tidur bareng Nenek malam ini, boleh ya Nek?” pinta Rio membuat ibu Lastri harus kembali menahan rasa harunya.


“Boleh, sekarang kita tidur ya.”


Sementara di dalam kamarnya, Kiara dengan tegang menunggu nyonya Mala selesai bercerita. Semua tanpa satu pun ada yang terlewatkan.


Kiara merasa, ia tidak sedang berhadapan dengan seorang wanita tua penderita Alzheimer, tapi seorang Ibu yang menceritakan kesedihan dan rasa penyesalannya karena telah kehilangan putri yang dikasihinya.


“Maafkan Oma, Oma sudah kehilangan putri Oma. Dan sekarang, Oma tidak mau lagi kehilangan kalian juga.” Oma Mala menggenggam tangan Kiara, dan membawanya ke dadanya.


“Oma tahu kesalahan Oma tidak mudah untuk dimaafkan, karena Oma yang berkeras membuat mamamu pergi dari rumah karena lebih memilih menikah dengan ayahmu ketimbang tinggal bersama dengan Oma.”


Kiara melihat kesungguhan di mata nyonya Mala, tepatnya oma Mala. Karena wanita itu adalah ibu dari mamanya.


“Kia tidak pernah sekalipun menyalahkan Oma atau yang lainnya, semasa hidupnya paman tidak pernah mengajarkan Kia untuk membalas perbuatan buruk seseorang dengan hal yang sama pula. Kia tidak punya dendam sedikit pun dengan apa yang telah terjadi pada hidup Kia. Justru sekarang Kia bersyukur karena sudah dipertemukan dengan Oma. Kia sekarang bisa mengenal keluarga almarhum mama.”


“Sebentar, Kia punya sesuatu buat Oma.”


Kiara lalu membuka lemari pakaiannya, dan mengambil sebuah kotak hitam dari dalam laci lalu menunjukkannya pada oma Mala. “Hanya ini satu-satunya barang peninggalan mama yang masih Kia simpan sampai saat ini.”


Dengan jari tangan bergetar, oma Mala membuka penutup kotak hitam di tangannya. Dan air matanya tak terbendung lagi ketika melihat isi di dalamnya. Sebuah kalung dengan liontin bergambar putrinya sedang tersenyum bahagia sambil memeluk suaminya. “Ya Tuhan, maafkan Mama Ara. Maafkan Mama.”


Hanya kata-kata itu yang kembali terucap dari mulut oma Mala, Kiara hanya bisa memeluknya dan ikut larut dalam tangis bersama omanya.

__ADS_1


••••••••


__ADS_2