You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 97. Janji hati


__ADS_3

Dari sekian banyak hal yang terjadi padanya selama beberapa tahun belakangan ini, Bian selalu siap dan tidak pernah mundur sedikit pun saat harus berhadapan dengan lawan-lawannya yang terus berusaha menjatuhkan dirinya karena persaingan bisnis di antara mereka. Ia selalu bisa mengatasinya dan mampu mempertahankan usahanya.


Namun akibat ulah rekannya yang selama ini dipercaya memegang jabatan penting di salah satu perusahaan miliknya, tega menipunya dengan menggelapkan dana perusahaan dalam jumlah yang sangat besar hingga berimbas pada keuangan perusahaan.


Sementara banyak kontrak kerja sudah disepakati dengan mitra dari perusahaan lain, dan proyek pengerjaan juga sedang berjalan. Tak ayal saat sekarang ini Bian memerlukan bantuan dana segar dan ia berharap itu bisa didapatnya dari Sanjaya Grup.


Namun siapa sangka sang pemilik perusahaan Sanjaya Grup yang diharapkan dapat membantu telah mengalihkan kepemilikan usaha pada cucu perempuannya yang tak lain adalah Kiara Larasati mantan menantunya.


Melihat kenyataan yang terjadi di depan matanya, Bian tidak dapat lagi menahan sesak di dadanya hingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Lintasan peristiwa delapan tahun lalu berputar dalam kepalanya, dan di akhir tidur panjangnya Bian melihat wanita yang dulu direndahkan olehnya itu berdiri di depannya. Tersenyum dan mengulurkan tangan ke arahnya.


Ujung jemari tangan Bian bergerak-gerak seolah ingin menyambut uluran tangan Kiara, bibirnya berkedut berusaha meneriakkan namanya. Namun usahanya sia-sia, Kiara membalikkan tubuhnya. Bayangan wanita itu pun menjauh lalu menghilang, dan hanya menyisakan kepulan asap putih di belakangnya.


Bian terkesiap, ia masih ingin bicara padanya. Masih banyak hal yang ingin ia sampaikan padanya, Bian terduduk lesu, sementara bibirnya terus memanggil nama Kiara. Hingga akhirnya sebuah cahaya terang datang menyilaukan matanya, Bian tersentak dan tersadar dari pingsannya.


“Kia-ra!” ucapnya lemah sesaat setelah membuka mata. El yang duduk di sisi ranjang tersentak mendengar suara lirih papanya, ia mengangkat wajahnya dan langsung berdiri.


“Papa? Ma, papa Ma. Papa sudah sadar!” seru El memanggil mamanya.


“Kiara ...” Bian mengulang ucapannya lagi, ia mengerjapkan matanya sambil terus mengucap nama Kiara.


“Papa! Papa sudah sadar, dokter ... Panggil dokter cepat!” Winda yang berbaring di sofa langsung terbangun mendengar suara El, ia melangkah cepat mendekati bibir ranjang hingga tanpa sengaja kakinya terantuk kaki meja yang dilewatinya.

__ADS_1


“Ya Allah, Mama gapapa?” tanya El langsung memapah Mamanya yang terlihat meringis menahan nyeri.


“Mama gapapa. Sudah, Kamu cepat panggil dokter!” perintah Winda. Rasa sakit tak dirasakannya lagi, ia bergegas mendekati Bian dan terus mengucap syukur melihat suaminya itu sudah sadar kembali.


“Kiara, maaf ...”


Tangis Winda pecah saat melihat sudut mata Bian menitikkan air mata dan bibir pucat itu berucap lirih kembali menyebutkan nama Kiara.


“Papa tenang, ya. Mama akan bicara dengan Kiara dan membawanya ke hadapan Papa,” ucap Winda sembari mengusap air mata Bian dengan ujung jarinya.


El bergegas memencet tombol di atas kepala Bian, tidak lama kemudian dokter dan perawat datang.


Terlihat kesibukan di dalam sana, dokter yang datang bersama dua orang perawat mulai memeriksa keadaan Bian. El berdiri di sudut ruangan memeluk bahu Winda, berusaha menenangkan mamanya itu yang terus saja menangis.


Kiara ingin sekali mendekat, tapi ia ragu lelaki yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu akan menolak kehadirannya dan malah mengusirnya pergi dari sana. Sekarang ia hanya bisa menunggu dokter selesai memeriksa dan kemudian menanyakan keadaan Bian.


Saat dokter telah selesai memeriksa Bian, Kiara bergegas mendatanginya dan menanyakan keadaannya. Dokter itu memintanya untuk mengikutinya dan bicara di ruang kerjanya saja, setelah sebelumnya Okta sang pemilik rumah sakit tempatnya bekerja memberitahu kalau Kiara adalah adik sepupunya. Melalui penjelasan dokter tentang penyakit Bian, Kiara bisa dengan mudah menyimpulkan penyebab sakit yang dialami Bian saat itu.


Malam makin larut, Kiara memilih untuk menghubungi Ed di rumahnya. Belum lima menit berlalu, lelaki itu sudah datang dan berdiri di hadapannya. Tidak ada kata terucap dari bibirnya, ia hanya tersenyum dan merentangkan kedua tangannya lebar.


Kiara berhambur masuk dalam dekapan hangat Ed yang menenangkan, ia menyurukkan wajahnya di dada lelaki yang telah berhasil meluluhkan hatinya itu. “Maaf, selalu merepotkan dan membuat Mas menungguku lama.”

__ADS_1


“Aku sengaja menunggumu dan beristirahat di ruangan Okta, dia memintaku untuk tetap berada di sini sambil memantau keadaanmu karena Kamu terus bersikeras menunggu tuan Bian sampai sadarkan diri. Andai saja tuan Bian terbangun dan sadarkan diri esok hari, apa Kamu akan tetap berada di rumah sakit ini? Kamu bahkan melewatkan makan malammu.”


“Aku bahkan gak merasa lapar sama sekali. Aku merasa bersalah padanya. Karena Aku, tuan Bian pingsan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit ini.” Kiara mengesah lirih, lalu menengadahkan wajahnya. “Andai tuan Bian terbangun dan sadar esok hari, apa Mas akan tetap menungguku di sini?” Kiara mengulang ucapan Ed padanya.


“Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi pada tuan Bian hari ini, cepat atau lambat dia juga akan mengetahui hal ini.” Ed tersenyum sembari mengusap sayang rambut panjang Kiara.


“Dan jangan tanyakan padaku soal yang satu itu lagi. Jangankan satu hari, delapan tahun juga Aku bersedia menunggu Kamu di sini. Aku pastikan hal itu telah terjadi pada hubungan kita.” Ed merenggangkan pelukannya, menatap wajah Kiara lama. “Andai Kamu butuh waktu lebih lama lagi untuk meyakinkan hatimu, Aku juga akan tetap menunggumu.”


Kiara tertawa kecil, balas menatap wajah Ed. Perlahan tangannya terulur mengusap wajah tampan itu, merapikan helai rambut yang menjuntai di keningnya. “Aku pastikan hal itu tak akan terjadi lagi.”


Ed melebarkan matanya, merapatkan tubuh Kiara padanya. Tangannya merengkuh posesif pinggang ramping Kiara. Ed mendekatkan wajahnya, hingga embusan napasnya terasa hangat menyentuh wajah Kiara. “Yakinkan Aku dengan perbuatan, bukan hanya kata manis yang memabukkan hati.”


Kiara tergelak dan menjauhkan wajahnya, ia melepaskan pelukan Ed di pinggangnya lalu beralih menggandeng tangan lelaki itu. “Kita pulang,” ucapnya kemudian.


Dari balik pilar besar rumah sakit, El menatap kemesraan yang terjadi antara Kiara dan Ed dengan hati perih. El sadar, ternyata hatinya belum bisa sepenuhnya melupakan cintanya pada Kiara. Ia juga sadar, telah kehilangan wanita itu lama karena sudah membuat kecewa Kiara setelah apa yang terjadi dengan pernikahan mereka.


El menyandarkan tubuhnya pada pilar di belakangnya. Teringat janjinya pada Ed dulu, meski tak terucap lewat kata dan Ed pun tak pernah mendengarnya langsung. Tapi janji tetaplah janji, meski hanya terucap dalam hati.


Bahwa ia akan memberikan miliknya yang paling berharga, yang terbaik dalam hidupnya, untuk membalas semua kebaikan sahabatnya itu selama ini. Meski ia harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk kembali bisa hidup bersama wanita itu lagi, setidaknya ia masih diberi kesempatan untuk mengenal dan dekat dengan Rio putranya dan Kiara.


••••••••

__ADS_1


__ADS_2