
Kiara duduk menunggu di meja sudut dengan ponsel di tangan, jauh dari keramaian orang-orang yang hendak makan siang di kantin kantornya hari itu. Baginya ini adalah tempat teraman untuk bicara tanpa ada yang peduli padanya, karena masing-masing orang sibuk dengan makanan yang ada di hadapan mereka.
Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, berulang kali Kiara menatap layar ponselnya. Sudah sepuluh menit berlalu, namun suara yang ditunggunya tidak jua terdengar menyapa.
“Arghh!” Kiara mengesah gusar, bersandar dengan sikap malas di kursinya seraya memainkan sendok di dalam gelas minumnya. “Apa ia begitu sibuk bekerja di sana sampai lupa dengan janjinya?”
Dreet!
Ponselnya bergetar, sekilas melirik nama yang tertera di sana. Dengan gerakan cepat, Kiara menyambar ponselnya dan langsung mendekatkan ke telinganya.
“Halo!”
Terdengar suara tertawa dari seberang telepon. “Hai cousin! Senang rasanya bisa mendengar suaramu lagi.”
Kiara mengerang, “Aku butuh bantuanmu!” balasnya tanpa basa-basi.
Tawa di seberang sana terdengar makin keras, “Jangan katakan kalau oma memintamu untuk mengurus perusahaan milik keluarga kita, itu yang selalu dilakukannya padaku.” Aku lega, akhirnya bukan hanya Aku saja yang selalu dibuat pusing dengan permintaan oma yang satu itu.”
“Aku harus bagaimana, ini terlalu cepat untukku. Aku punya pekerjaan dan Aku nyaman berada di antara mereka semua.” Kiara mengedarkan pandangannya, menatap wajah-wajah yang selama ini selalu ditemuinya selama dua tahun belakangan.
“Minggu depan Aku pulang, kita akan membahasnya setelah Aku sampai dan bertemu kalian berdua di rumahmu.”
“Sabtu depan hari ulang tahun Rio, dan oma ingin merayakan pesta secara besar-besaran dengan mengundang banyak relasi bisnisnya sekaligus mengumumkan penerus perusahaan miliknya.” Kiara menahan napas sebelum melanjutkan bicaranya, “Aku tidak ingin mengecewakan harapan oma, beliau berharap banyak sekali pada kita. Tapi Aku juga belum siap menerima tanggung jawab sebesar itu. Lagi pula Aku tidak punya pengalaman memimpin sebuah perusahaan, Aku hanya seorang karyawan biasa. Help me, Abangku sayang. Aku benar-benar butuh bantuanmu sekarang.”
“Tenangkan dirimu, Ra. Masih ada banyak waktu, Aku yakin Kamu pasti bisa memenuhi harapan oma.”
“Jangan biarkan Aku seorang yang memikul beban ini, Kamu juga cucu oma.”
__ADS_1
“Seumur hidupku, Aku hanya ingin mengabdikan diri dengan merawat pasienku.”
Okta menyudahi teleponnya dan dengan tegas mengatakan keinginannya. Ia mau membantu Kiara, tapi tidak untuk menjalankan bisnis keluarga.
Pembicaraan keduanya pun berakhir, karena Okta mendapatkan panggilan darurat dan harus segera menangani pasien yang baru datang ke lokasi pengungsian tempatnya bertugas saat ini.
Kiara termenung sesaat, teringat percakapannya semalam dengan salah satu pengacara oma yang sengaja diundang datang ke rumahnya untuk diperkenalkan pada Kiara. Kiara akan diberikan pendampingan selama dirinya bersedia menjalankan perusahaan, sampai dirinya mampu melakukannya sendiri.
Sebagai pewaris dari harta kekayaan keluarga Sanjaya, Kiara diperkenankan untuk melihat dan mengetahui perusahaan mana saja yang menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan milik keluarganya.
Saat matanya membaca nama Abian Grup sebagai salah satu mitra kerja perusahaan Sanjaya Grup, Kiara menyampaikan rasa ingin tahunya. Dan penjelasan yang diterimanya membuatnya tak bisa menyembunyikan perasaan lega hatinya karena mengetahui bahwa saham terbesar perusahaan Abian Grup dimiliki oleh Sanjaya Grup atas nama Nirmala.
Satu sisi hatinya ingin sekali membalas perbuatan Bian padanya dengan menerima langsung tawaran omanya untuk menjalankan perusahaan keluarganya, karena teringat sikap Bian di masa lalu yang selalu memandang rendah padanya selama ini.
Tapi sisi lain hatinya melarangnya untuk melakukan hal itu, karena ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk memimpin sebuah perusahaan. Apalagi hanya untuk menunjukkan pada Bian kalau ia adalah pewaris dari keluarga Sanjaya Grup, bukan lagi wanita miskin yang bisa ia rendahkan dan hina seperti dulu.
Mengingat itu, Kiara butuh teman bicara untuk tempatnya mengadu dan menyampaikan isi hatinya saat ini. Sementara prianya saat ini tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya di luar kota dan akan kembali saat hari di mana Rio merayakan ulang tahunnya.
“Winaaa!” seru Kiara menyapa sahabatnya yang langsung menjauhkan ponselnya karena suara Kiara memekakkan telinganya. “Miss you bestie!”
“Ish, gak usah pakai tereak juga kali. Telinga gue masih normal, say!” Wina mendelik, pura-pura marah sambil mengusap-usap telinganya. Panggilan telepon berubah, wajah Wina muncul memenuhi layar ponsel Kiara.
Kiara terkekeh, sahabatnya itu terlihat cantik dengan busana kebaya modern yang dikenakannya. Seminggu lamanya tak bertatap muka membuat Kiara tidak dapat membendung rasa kangennya lagi. Matanya mulai menghangat, meski bibirnya terus tersenyum tapi sudut matanya sudah tergenang air mata.
“You look so beautiful,” ucap Kiara dengan suara bergetar, memuji penampilan Wina.
“Thank you. Aku juga kangen banget sama Kamu, Ra. Jangan mewek ih, ntar Aku ikutan sedih. Yang ada make up Aku luntur deh,” balas Wina sambil menepuk kedua pipinya.
__ADS_1
Kiara tersenyum menganggukkan kepala, ia meminta Wina untuk mengarahkan ponselnya pada pasangan pengantin. “Win, pengen lihat sepupumu.”
“Oke, bentar ya.” Wina lalu mengarahkan ponselnya ke arah pasangan pengantin yang berada di pelaminan sedang berfoto bersama tamu undangan. “Udah? Cantik kan sepupu Gue,” ucap Wina sambil terus mengarahkan ponselnya pada pengantin di depannya.
Satu persatu tamu yang hadir bergantian berfoto bersama pasangan pengantin. Saat sesi foto sedang berlangsung, dari arah pintu masuk muncul sepasang tamu undangan yang dikawal dua orang lelaki bertubuh tegap memakai setelan jas warna hitam.
Saat pasangan itu memasuki ruangan, orang tua lelaki dari pengantin wanita langsung berdiri dan bergegas turun menyambut kedatangan mereka. Dengan penuh hormat menjabat erat tangan tamunya seraya merendahkan tubuhnya.
“Ra, ini yang datang tamu kehormatan. Bos dari papanya pengantin perempuan, om Gue.”
Mata Kiara melebar ketika menatap lelaki yang tengah berjalan di samping ayah pengantin, yang kini menempati meja khusus yang sepertinya memang sengaja disediakan untuk menyambut kedatangannya.
Kiara sampai harus mengucek matanya, mencoba memperhatikan dengan saksama. Tapi memang benar dia orangnya, lelaki yang selama ini tak ingin ditemuinya lagi. Melihatnya lagi, hanya akan mengingatkan Kiara kembali pada kenangan pahit masa lalunya saat harus kehilangan pamannya dan perpisahannya dengan mantan suaminya.
Tidak berapa lama, keduanya diminta naik ke panggung untuk berfoto bersama pasangan pengantin. Kiara melihat bagaimana lelaki itu masih terlihat bugar meski di usianya yang tidak lagi muda, berjalan tegap menggandeng sang istri yang hanya tersenyum sesekali saat tamu dari pihak keluarga pengantin wanita menyapanya.
“Win, Kamu kenal siapa lelaki yang berdiri di samping pengantin perempuan barusan?” tanya Kiara ketika gambar di ponsel Wina berpindah ke bagian makanan.
“Yang mana?” Wina berbalik, menjauhkan ponselnya lupa kalau sedang vc dengan Kiara.
“Itu, yang barusan Kamu bilang tamu kehormatan?”
“Oh, itu. Kenal sih enggak. Tapi yang kudengar dari Reny, beliau kasih bonus gede sama om Riki buat acara pernikahannya. Kan suami Reny keponakan si bos,” jelas Wina.
“Asal Lo tau ya, Win. Dia itu bos besar kita di kantor. Pemilik perusahaan tempat kita kerja selama ini. Bian Abiputra, papanya Elvan Abiputra!”
“What!”
__ADS_1
Saat itu Kiara meyakini sesuatu kalau ia akan memenuhi tawaran omanya.
••••••••