You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 96. Lega


__ADS_3

1 jam sebelum pengumuman dari Oma Mala.


Ed berjalan mendekati Kiara, ia menghadang langkahnya dan membawa wanita itu ke salah satu meja yang ada di sudut ruangan.


“Tunggu di sini!” pintanya pada Kiara, ia lalu berjalan ke salah satu meja dan mengambil minuman di dalam gelas dan menyerahkannya pada Kiara. Tanpa banyak bertanya Kiara langsung meneguknya.


“Terima kasih,” ucapnya kemudian.


“Merasa lebih baik?” tanya Ed.


Kiara menggelengkan kepalanya, lalu mengembuskan napas. Jemari tangannya bergerak memutar gelas di tangannya. “Tidak terlalu. Tadinya Aku kira Aku akan menikmati hal ini, melihatnya datang dan terkejut melihatku ada di sini. Ternyata tidak.”


“Kenapa?”


“Tiba-tiba saja Aku teringat pada almarhum paman, ia pasti tidak suka melihatku melakukan hal itu. Biar bagaimana pun juga dia sudah menolong nyawa paman terlepas dari perbuatannya yang telah memisahkan Aku dan anaknya.”


“Aku berusaha mengambil hikmah dari kejadian ini. Jika saja tuan Bian tidak segera turun tangan membantu biaya operasi paman, mungkin hari itu Aku sudah kehilangan pamanku.”


“Begitu?”


Kiara tersenyum tipis, “Satu hal lagi ...” Kiara menghentikan ucapannya, untuk sesaat lamanya ia menatap wajah lelaki di hadapannya itu. “Andai tidak ada campur tangan tuan Bian pada hubunganku dan El, mungkin Aku tidak akan pernah bertemu dengan lelaki sebaik Kamu yang begitu penuh perhatian dan sayang pada keluargaku. Yang selalu ada saat suka dan duka, yang selalu siap sedia menjaga kami semua. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.”


Ed mengacak sayang rambut Kiara, tersenyum lebar balas menatap wajah Kiara. “Aku pikir akan mendengarmu menumpahkan emosi setelah bertemu dengan tuan Bian. Ternyata perkiraanku salah. Tapi Aku senang mendengarnya, Aku jadi tahu perasaanmu yang sesungguhnya.”


“Sekarang Kamu harus segera menemui omamu, jangan biarkan mereka menunggumu. Aku akan menjaga Rio sementara kalian di sini,” ucap Ed, lalu mengulurkan tangannya pada Kiara yang menyambutnya dengan senyum lebar.

__ADS_1


Dari atas panggung utama yang telah disiapkan sedemikian rupa oleh pihak hotel, Kiara bisa melihat keseluruhan tamu acara yang datang. Rona terkejut tampak jelas di wajah-wajah mereka saat oma Mala mengumumkan tentang pengunduran dirinya dari perusahaan Sanjaya Grup dan telah menunjuk Kiara Larasati cucunya sebagai penggantinya.


Mereka tak serta-merta menerima keputusan oma Mala begitu saja. Kasak-kusuk mulai terdengar jelas, tak sedikit yang meragukan kemampuan Kiara. Mereka menilai oma terlalu gegabah, sekalipun cucu langsung dari sang pemilik tapi tak seharusnya oma Mala menyerahkan kepemimpinan perusahaan pada anak baru yang jelas-jelas belum ada pengalaman sama sekali dalam hal menjalankan perusahaan.


Bahkan ada yang langsung mengajukan keberatannya pada oma Mala, namun keputusan oma Mala sudah bulat. Ia sudah memperhitungkan segalanya.


“Mohon kerja samanya, Saya memang baru dan belum berpengalaman dalam menjalankan perusahaan. Tapi Saya akan belajar terus dan berusaha keras dalam mengemban amanah yang sudah diberikan kepada Saya.” Kiara tersenyum, menangkupkan tangan di dada sembari menundukkan kepalanya.


Tidak lama terdengar tepuk tangan menyambut ucapannya. Oma Mala mengusap lengannya dan Kiara langsung berbalik dan memeluknya. “Terima kasih Oma,” bisiknya penuh haru.


Oma Mala mengangguk, terus mengusap bahu cucunya itu. “Oma lega, Oma sudah tunaikan janji Oma pada mamamu. Dan Oma yakin, Kamu mampu melakukannya.”


“Kia janji sama Oma, akan memberikan yang terbaik.” Kiara melepaskan pelukannya, meraih jemari omanya lalu mencium punggung tangannya.


“Sekarang, mari kita lanjutkan pestanya.” Oma Mala menepuk tangan Kiara yang berada di atas pangkuannya, “Kamu bisa menyapa tamu yang hadir, sebagian dari mereka nanti akan sering bertemu denganmu di rapat rutin perusahaan.”


“Hei cousin, selamat ya!” Okta merentangkan kedua tangannya lebar, menyambut Kiara dalam pelukannya. “Sekarang Aku bebas dan tidak perlu lagi mendengar ocehan oma yang memintaku mengurus perusahaan.”


Kiara tertawa kecil mendengarnya, “Oh, tidak bisa! Abang juga punya tanggung jawab besar setelah hari ini,” sahut Kiara yang dibalas dengan helaan napas dalam Okta.


Kiara lalu melepaskan pelukan Okta dan beralih memeluk tantenya, lalu beralih mencium punggung tangan omnya yang sedari tadi berdiri di dekatnya. “Selamat ya, Nak. Kami semua akan selalu berada di belakangmu, dan mendukung setiap usahamu dalam menjalankan perusahaan keluarga kita. Om juga akan membantumu menjadi pemimpin yang dihormati dan disayangi karyawannya juga di segani lawan bisnisnya. Seperti oma!”


“Terima kasih buat dukungan Om juga Tante. Kia benar-benar bersyukur akhirnya bisa dipertemukan kembali dengan kalian semua,” ucap Kiara tak dapat menahan rasa harunya, sudut matanya mulai berair.


“Sudah, jangan menangis lagi. Hapus air matamu, lebih baik sekarang kita nikmati pestanya. Tante akan membawa omamu kembali ke mejanya dan Kamu bisa menyapa tamu yang ada.”

__ADS_1


“Iya, Tante. Terima kasih.” Kiara kembali berdiri menghadap tamu undangan di hadapannya, lalu menarik napas sejenak.


Dari balik dinding kaca lebar yang menghadap langsung ke arah taman belakang hotel, Kiara dapat melihat kegembiraan terpancar keluar dari wajah putranya yang sedang bermain dan tertawa lebar bersama teman-temannya. Dunia anak yang penuh tawa ceria, Kiara berharap senyum dan tawa itu akan terus ada menghiasi wajah putranya. Ia tak ingin kisah sedih masa kecilnya terjadi pada putranya, sebisa mungkin ia akan memberikan semua hal yang terbaik untuk anaknya.


Andai waktu bisa diputar kembali, Kiara berharap bisa melihat mendiang paman juga kedua orang tuanya dapat hadir dan ikut menyaksikan kebahagiaan yang tengah dirasakannya saat ini. “Paman, ayah, mama. Lihat cucu kalian di sana, ia tumbuh jadi anak lelaki yang sehat dan kuat.”


Kiara mengerjapkan matanya, setitik air mata jatuh membasahi pipinya. Ia mengusapnya perlahan dengan ujung jarinya. Matanya kini menyapu tamu yang ada, dan berhenti pada satu meja di mana Bian dan istrinya Winda tengah duduk di sana. Kiara tersenyum pada keduanya dan menundukkan sedikit tubuhnya. Dilihatnya lelaki itu berusaha berdiri dari tempat duduknya.


Kiara tertegun sesaat, Bian membuka mulut seolah ingin mengucapkan sesuatu padanya. Bola matanya membesar saat melihat laki-laki itu meringis sambil memegangi dadanya, lalu tak lama kemudian terjatuh ke lantai. Terdengar teriakan panik seseorang di dekat Bian, lalu berlanjut dengan teriakan lainnya.


Tanpa pikir panjang Kiara berlari cepat menuruni dua anak tangga sekaligus, ia mengurai kerumunan orang-orang yang berkumpul di dekat Bian. “Permisi!”


“Tuan! Tuan harus bertahan.” Kiara berlutut di dekat Bian, di sana sudah ada Elvan dan Okta yang langsung memeriksa keadaan Bian, sementara Elvan membantu mengendurkan ikat pinggang juga dasi yang melingkar di leher Bian.


“Kita harus secepatnya membawa tuan Bian ke rumah sakit, Aku akan menghubungi ambulans!” Okta langsung mengambil ponselnya dan menelepon rumah sakit.


Kiara menggenggam erat tangan Bian, lelaki itu menatapnya sesaat. Napasnya tersengal-sengal dan bibirnya terus bergerak-gerak, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan. “Tuan, jangan banyak bicara. Tuan harus tetap tenang. Kami akan membawa Tuan ke rumah sakit sekarang!”


“Ki-A ...” Akhirnya kata itu terucap dari bibir pucat Bian sebelum akhirnya ia pingsan. Tidak berapa lama ambulans datang, dan petugas medis langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Kiara ikut mengantar bersama El di dalam mobil ambulans.


Bian langsung mendapatkan perawatan, ia menempati ruangan khusus yang sengaja diminta Kiara pada Okta agar lelaki itu merasa tenang dan nyaman berada di sana. Sepanjang malam ia terus berada di rumah sakit dan menolak untuk pergi dari sana meski El dan yang lainnya memintanya untuk pulang dan beristirahat. Ia ingin tetap berada di sana dan melihat Bian kembali sadarkan diri.


Kiara berdiri di depan kaca jendela rawat inap Bian, ia merasa dejavu melihat Bian berada di atas ranjang rumah sakit dengan banyak alat medis menempel di tubuhnya. Lelaki itu mengingatkannya pada mendiang pamannya.


Tengah malam saat Bian mendapatkan kesadarannya kembali, nama Kiara yang pertama kali disebutnya. Air mata mengalir dari kedua belah pipi Kiara, air mata yang tidak terlihat oleh mata Bian karena Kiara telah membalikkan tubuhnya membelakangi kaca jendela. Kiara tidak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya, bahwa ia akan merasa begitu lega melihat Bian selamat dan membuka matanya.

__ADS_1


••••••••


__ADS_2