You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 89. Keinginan Oma Mala


__ADS_3

Kiara mengesah gusar, ia terduduk lemas di kursinya dengan bahu lunglai. lagi-lagi hari ini ia pulang terlambat. Pekerjaan di kantor seolah tidak ada habisnya, apalagi di akhir bulan seperti sekarang ini. Ia harus ekstra sabar menghadapi tekanan pekerjaan, terlebih lagi saat kantor pusat tiba-tiba saja meminta laporan bulanan kinerja perusahaan dalam tiga bulan terakhir.


“Benar-benar Minggu yang melelahkan.” Kiara menggelengkan kepala, “Mengapa pusat tiba-tiba meminta laporan bulanan yang biasanya dikerjakan saat menjelang akhir tahun?”


“Bukan masalah sebenarnya jika kantor pusat memintanya sekarang. Toh, tidak lama lagi waktunya akan tiba juga. Hanya satu bulan lebih cepat dari waktu biasanya, itu saja.” Isfan memeriksa ulang laporan yang diserahkan Kiara padanya, dan membuat coretan di setiap lembar yang diperiksanya.


“Tetap saja itu masalah bagiku, Pak!” sanggah Kiara dengan suara rendah, melirik laporannya yang tak kunjung ditandatangani Isfan.


“Bukan hanya kantor kita saja yang diminta laporannya segera, tapi keseluruhan kantor cabang perusahaan. Pusat sedang melakukan audit besar-besaran, terutama soal perekrutan karyawan. Seluruh data karyawan dari office boy sampai pimpinan cabang kembali dikirim ulang. Entah apa maunya bos besar, tapi dari berita yang kudengar dari sumber terpercaya, hal ini berkaitan dengan kinerja pak Elvan saat menjadi pimpinan di kantor ini.”


Isfan menutup lembar laporan di tangannya dan menyerahkannya kembali pada Kiara.


“Memang ada masalah apa dengan pak Elvan, selama ia memimpin di kantor kita semua pekerjaan berjalan lancar?”


“Revisi ulang laporanmu, Aku tunggu sampai jam 8 malam ini.” Isfan melirik arloji di tangannya, memberi kode dengan mengangkat kedua tangannya alih-alih menjawab pertanyaan Kiara.


“Salah lagi, Pak?”


Isfan hanya mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi di belakangnya. “Harusnya Kamu lebih teliti lagi, coba Kamu ingat-ingat. Dalam tiga bulan terakhir saat pak Elvan menjadi pimpinan di kantor ini, beberapa kali divisi keuangan harus mengeluarkan budget untuk melengkapi ruangan direktur yang ditempatinya. Dan semua data barang yang dibeli berasal dari divisi yang dipimpin Kamu, Ra.”


“Ya Tuhan! Kali ini Aku benar-benar butuh sandaran, Aku benar-benar lelah.”


Kalau sudah seperti ini Kiara jadi teringat pada Wina, sahabatnya itu selalu jadi orang terdepan saat ia butuh bantuan. Sayang, Wina tidak ada di sini sekarang. Sahabatnya itu sedang cuti, pergi keluar kota bersama kedua orang tuanya untuk menghadiri pesta pernikahan saudara sepupunya.


“Tarik napas, Ra.” Isfan tersenyum menatapnya. “Aku tidak ingin melihatmu pingsan di ruang kerjaku.”

__ADS_1


Kiara menarik napas dan mengangkat wajahnya, balas menatap Isfan. “Sepertinya hari ini Aku harus lembur lagi.”


“Aku tunggu sampai jam delapan malam ini. Jangan khawatir, karena Kamu tidak sendiri. Ada beberapa karyawan dari divisi keuangan yang akan membantumu di sini. Mereka juga harus menyelesaikan laporannya malam ini.”


Selesai berkata seperti itu, Isfan memanggil karyawan yang dimaksud untuk datang menemuinya. Setelah melakukan pengarahan pada mereka semua, lelaki itu berbalik dan bergegas kembali ke kursinya. “Jika ada yang ingin ditanyakan lagi, kalian semua bisa menghubungiku di sini.”


Kiara berbalik menuju pintu, keluar dari ruangan Isfan dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Sampai bola matanya perih karena terus menatap layar monitor di depannya, berulang kali memeriksa namun tak jua menemukan kesalahan yang dicari.


“Pelan-pelan saja, Ra. Jika terlalu lelah lebih baik istirahat dulu, lagi pula sudah hampir magrib. Masih ada waktu dua jam sebelum deadline dari pak Is,” ucap Isti rekannya dari divisi keuangan. “Aku bantu mencari ulang data barang yang kurang. Siapa tahu ada di sini,” imbuhnya lagi.


“Terima kasih, Mbak.” Kiara tersenyum, sedikit lega karena ada kawan yang menemaninya saat ini.


Kiara menggeser alat tulisnya yang ada di dalam kotak bulat bermotif bola, tersusun sejajar bersama pot mungil berisi bunga untuk memudahkan rekannya itu dalam mencari data yang hilang. Hingga matanya menangkap lembaran kecil nota terselip di antara tumpukan file yang ada di meja kerjanya.


Isti mendekati Kiara, lalu membaca nota yang diberikan Kiara padanya. “Syukurlah, sepertinya memang benar nota ini yang kita cari. Nota pembelian alat-alat kantor yang diminta pak El waktu itu.”


Tak lama kemudian azan magrib berkumandang, Kiara menghentikan pekerjaannya untuk melaksanakan kewajibannya. Jam tujuh malam laporannya selesai dikerjakan, bersama Isti ia kembali menghadap Isfan dan menyerahkan laporan hasil kerjanya.


Hanya lima menit waktu yang dibutuhkan Isfan untuk mengecek ulang laporan Kiara, tanpa banyak bicara lagi ia langsung menandatanganinya. Lelaki itu tersenyum puas, “Terima kasih untuk kerja keras kalian semua, dan maaf sudah membuat kalian semua harus pulang terlambat.”


Semua lega mendengarnya, Isti segera berpamitan bersama yang lain. Sementara Kiara masih berada di ruangan Isfan.


“Aargh! Akhirnya Aku bebas.” Kiara berteriak meluapkan emosinya.


Isfan tertawa mendengarnya, “Pulanglah, sepertinya Kamu butuh istirahat total.”

__ADS_1


“Apa itu kode untuk Saya mendapatkan izin libur kerja selama dua hari ke depan?”


“Apa Kamu lupa kalau besok memang tanggal merah, Kamu bisa libur kerja hingga dua hari ke depan tanpa harus meminta izin.”


“Benarkah? Aku bahkan sampai lupa kalau esok hari libur nasional. Terima kasih sudah mengingatkan,” ucap Kiara membayangkan kasur empuk di dalam kamarnya, bergelung dengan selimut tebal.


Kiara berkendara pulang menuju rumahnya, ia sebenarnya tidak ingin membuat orang di rumahnya khawatir karena belakangan ini ia selalu pulang kemalaman. Terutama pada oma Mala yang sekarang punya kebiasaan baru, hanya akan tidur bila sudah mendengar suara Kiara bernyanyi untuknya.


“Cucuku sayang, Kau bekerja terlalu keras. Oma berharap Kamu berhenti bekerja di perusahaan itu, karena selalu saja membuat cucuku kehilangan banyak waktu bersama keluarganya.” Wanita yang disayanginya itu duduk bersandar pada bantal besar di belakang punggungnya, kedua tangannya terentang lebar menyambut kedatangan Kiara.


Kiara tersenyum mendengarnya, setelah menemani Rio tidur ia segera masuk ke kamarnya yang ditempati oma Mala. “Maafkan Kia karena membuat Oma menunggu lama.”


“Oma berharap Kamu mau mempertimbangkan kembali ucapan Oma. Hanya kalian berdua cucu Oma, yang bisa melanjutkan semua usaha yang sudah dirintis keluarga kita sejak lama. Oma tidak minta Kamu meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama Oma. Oma cukup tahu diri untuk meminta hal itu padamu. Tapi Oma berharap Kamu mau memenuhi permintaan Oma yang satu itu, Oma ingin mewariskan semua harta Oma pada kalian cucu Oma, Kamu dan Okta.”


Ini kali ketiga oma Mala membicarakan perihal ini pada Kiara, memintanya bergabung dan mengurus perusahaan milik keluarganya. Hanya Kiara dan Okta cucu oma Mala, sementara Okta lebih banyak disibukkan dengan pekerjaan dokternya.


“Oma hanya ingin, di sisa hidup Oma ada kalian yang akan melanjutkan usaha keluarga kita. Dan Oma ingin melihat Kamu menikah dengan lelaki pilihanmu, lelaki yang Kamu cintai.”


“Oma.” Kiara memeluk oma Mala, beberapa hari belakangan wanita itu selalu bersikap manja padanya. Hingga tidak jarang Kiara harus memberi pengertian lebih pada Rio karena tidak ingin putranya itu merasa diabaikan setelah kehadiran oma Mala di rumah mereka.


“Oma, beri waktu Kia untuk memikirkan semuanya, karena hal ini terlalu cepat buat Kia.”


Sepanjang malam Kiara terus menemani omanya, tangan wanita itu tak lepas menggenggam tangannya. Wajahnya terlihat begitu damai, hati Kiara menghangat. “Aku sayang Oma, terima kasih sudah hadir dalam hidup Kia.”


••••••••

__ADS_1


__ADS_2