
Kiara membetulkan letak gaunnya, lalu berputar ke kiri dan ke kanan menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia tampak cantik dan menawan dalam balutan gaun rancangan desainer ternama. Gaun terusan warna biru tua yang panjangnya hingga mencapai batas lutut, sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih mulus. Mengetat di bagian pinggang, menonjolkan lekuk tubuh Kiara yang padat berisi.
Sudah beberapa menit yang lalu, orang-orang suruhan oma Mala yang mendandani Kiara sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Tak terkecuali perawat Shinta, yang selama ini membantu merawat oma Mala pamit pulang terlebih dahulu dan akan menyusul ke tempat acara setelahnya.
Kiara melirik sekilas pada kotak hitam yang ada di atas meja riasnya, lalu beralih pada sepasang sepatu cantik yang ada di bawah meja. Kiara tersenyum, teringat semalam Ed mengiriminya paket sepatu baru yang sangat pas dipasangkan dengan gaun pilihannya.
Jarinya kemudian terangkat meraba potongan rambutnya yang baru, ia merasa usul Kinan ada benarnya juga. Meski sedikit merasa kehilangan karena harus memotong rambutnya yang panjang dan lebat, tapi seperti kata Kinan wajahnya kini terlihat jauh lebih segar dan fresh.
Kiara kemudian duduk di depan meja rias, membuka kotak hitam dan menatapnya lama. Sementara oma Mala sedari tadi terus memperhatikan apa yang dilakukannya. Saat Kiara membuka kotak hitam dan mengambil kalung di dalamnya, rasa haru tiba-tiba saja menyelimuti hati oma Mala. Setiap melihat kalung itu, oma akan selalu teringat pada mendiang putrinya.
Kiara lalu memakai sepatunya yang serasi dengan gaun yang dikenakannya, rambut sebahunya dibiarkan tetap terurai. Tak lupa dikenakannya kalung peninggalan mamanya. Senyum lebar menghias wajahnya, Kiara berbalik menghadap oma yang sedari tadi duduk bersandar di atas ranjang terus menemaninya.
“Bagaimana penampilan Kia, Oma? Apa Kia terlihat ...” kata-kata Kiara menggantung di udara, ia tertegun sesaat lamanya. Oma Mala terlihat mengusap wajahnya yang kembali basah dengan air mata.
“Omaa ...” Kiara bergegas mendekat, duduk di tepi ranjang lalu memeluk oma Mala.
“Maafkan Oma,” suara oma terdengar parau, perlahan oma Mala merenggangkan pelukan Kiara. “Cucu Oma terlihat menawan,” ucapnya lagi. Kedua tangannya menangkup wajah Kiara, lalu perlahan turun ke arah kalung yang dikenakan cucunya itu.
“Oma senang melihatmu memakainya,” ucap oma Mala menyentuh perlahan kalung di dada Kiara.
Kiara mengangguk, lalu meraih tangan oma Mala. “Kia akan selalu memakainya, hari ini dan seterusnya. Karena kalung ini yang akan selalu mengingatkan Kia akan mama yang sudah tiada.”
Oma Mala mengangguk, menarik napas dalam lalu melepaskan genggaman tangan Kiara dari tangannya. “Sekarang bantu Oma untuk bersiap-siap,” ucapnya kemudian seraya menegakkan punggungnya.
“Siap Oma!” sahut Kiara yang disambut tawa kecil oma Mala.
Kiara mulai membantu mengganti pakaian omanya, dan menuruti semua perintahnya untuk mendandani beliau. Mengoleskan bedak di wajahnya dan memberi pemerah bibir tipis-tipis sesuai keinginannya.
“Wow! Ada dua bidadari di dalam rumah kita, dek.”
__ADS_1
Terdengar suara halus dari ambang pintu, Kiara menolehkan wajahnya, dan tersenyum lebar mendapati Rio dan Kinan sedang berdiri menatap dengan sorot mata kagum padanya.
“Mbak Kia cantik banget, Oma Mala juga.” Kinan berjalan masuk ke dalam kamar dengan menggandeng tangan Rio.
Kiara merentangkan tangannya, “Mamaa!” Rio melepaskan pegangan tangan Kinan, dan berlari memeluk Kiara. “Mama cantik banget!” puji Rio melihat penampilan Kiara.
“Jagoan Mama juga ganteng banget,” balas Kiara menatap Rio lama, ada rasa yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Melihat putranya tumbuh besar dan sehat sampai hari ini, membuat hatinya diliputi rasa haru.
Tak henti-hentinya ia bersyukur di dalam hati karena dikelilingi oleh orang-orang yang begitu sayang padanya juga putranya.
Kiara mencium pucuk kepala Rio dengan rasa sayang yang dimilikinya, ia pun mengangkat ibu jarinya memuji penampilan Kinan yang sederhana tapi tetap terlihat anggun meski memakai celana panjang kain dan kemeja panjang longgar berbahan satin.
“Omaaa!” seru Rio beralih memeluk oma Mala, yang terkekeh mendapat hadiah kecupan basah dari Rio.
“Iyo suka gitu, gak usah nempel lama napa kalau kasih cium pipi oma!” protes Kinan melihat pipi oma Mala yang basah, ia lalu mengambil tisu dan mengusap pipi oma Mala.
“Gapapa, Kin. Asal jangan sering-sering saja, bisa luntur bedak Oma nanti.” Oma Mala menjawil pipi Rio, gemas melihatnya yang terus tertawa karena berhasil membuat seisi rumah mendapat kecupan basah darinya.
“Apa ibu juga sudah siap?” sela Kiara.
“Sudah, Mbak. Ibu menunggu kita semua di bawah, kebetulan ada mas Ed juga baru saja datang tadi, sekarang lagi ngobrol sama ibu.”
“Baiklah, kita berangkat sekarang.”
Kiara lalu memanggil pak Joko dan Joni yang sudah siap menunggu di bawah untuk membantu oma Mala turun.
Ed tersenyum menatap Kiara yang turun belakangan, tangannya serta-merta terulur menggandeng wanitanya saat tiba di lantai bawah.
“You look so beautiful,” ucap Ed menatap lama Kiara.
__ADS_1
Kiara tersenyum malu-malu, “Terima kasih sudah menepati janjimu untuk datang hari ini, karena Aku tahu Mas pasti sibuk sekali.”
“Apa pun akan kulakukan untuk bisa hadir hari ini, Aku tidak akan membuat kecewa kalian. Pekerjaan bukan segalanya, sehari bersama kalian itu jauh lebih berharga dibandingkan dengan yang lainnya.”
“Aku percaya,” jawab Kiara.
Tidak berapa lama El menghubungi Kiara lewat pesan singkat, mengabarkan kalau ia akan datang terlambat karena pesawat yang ditumpanginya mengalami delay. Kiara memberikan ponselnya pada Ed yang kemudian membalas pesan El.
Tidak masalah kamu datang terlambat, kami akan tetap menunggu kedatanganmu. Jangan kecewakan harapan Rio yang ingin melihat papanya ikut hadir saat acara ulang tahunnya.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Wina datang dengan mobilnya. Setelah memastikan semua orang sudah berada di dalam mobil, mereka pun segera menuju tempat acara.
Tamu-tamu mulai berdatangan, sebagian besar adalah teman-teman sekolah Rio dan orang tua mereka. Keceriaan mewarnai siang hari itu, sepanjang acara berlangsung Rio terlihat begitu senang.
Ulang tahunnya kali berlangsung meriah, bahkan terkesan mewah. Tidak hadirnya El saat acara berlangsung, rupanya tidak terlalu membawa pengaruh yang berarti untuk Rio karena ada papa Ed-nya yang setia mendampinginya.
Hingga menjelang sore hari, El baru bisa hadir di tempat acara dan para tamu undangan yang datang sore itu diarahkan untuk menuju ruangan sebelah kanan di mana para relasi bisnis Sanjaya Grup berkumpul di sana.
El langsung datang menemui Rio yang masih asyik bermain bersama teman-temannya, sejenak melepaskan kerinduannya pada putranya itu dan sesekali menikmati kue dan makanan yang telah disediakan pihak panitia. Sambil ditemani Kinan dan ibu Lastri yang lebih memilih untuk menjaga Rio sementara Kiara dan yang lainnya berada di ruangan sebelah.
Sementara di ruangan sebelah, tampak Kiara dan Ed sedang duduk bersama oma Mala dan beberapa tamu undangan lain dalam satu meja. Mata Kiara menyapu para undangan yang baru datang dengan perasaan cemas.
“Setidaknya orang itu belum hadir saat ini. Atau mungkin ia tidak akan datang kali ini,” ucap Kiara dalam hati.
Ed yang berada di sampingnya merasakan kecemasan Kiara, tangannya meraih jemari Kiara dan menggenggamnya erat. “Tenang, tarik napas panjang. Jangan tegang, tetap rileks sayang.”
“Sepertinya Aku butuh udara segar saat ini,” ujar Kiara lalu bangkit dari kursinya, ia berbisik meminta izin pada omanya untuk pergi keluar sebentar saja.
Kiara baru saja berjalan beberapa langkah ketika dilihatnya pintu utama terbuka lebar dan Bian bersama sang istri melangkah masuk ke dalam tempat acara. Sejenak langkahnya membeku, untuk beberapa saat lamanya ia hanya mampu terdiam di tempatnya berdiri saat itu.
__ADS_1
••••••••