
Dia yang mampu menguasai orang lain memang kuat. Tapi dia yang mampu menguasai dirinya sendiri, itu lah yang lebih dahsyat (Lao tzu).
Bian duduk menunggu di depan kaca jendela kamarnya yang persis menghadap ke arah pantai, tangannya bertaut gelisah membayangkan pertemuannya kembali dengan Kiara. Hari ini El berjanji padanya akan membawa Kiara dan putranya datang ke rumah mereka.
“Tuhan, mengapa Aku jadi gelisah seperti ini?” Bian bertanya dalam hati. Tangannya berkeringat, apalagi saat teringat pertemuan terakhirnya dengan Kiara. Wanita itu datang menjenguknya dua hari setelah ia terbangun dan membuka mata. Saat di mana ia hanya bisa mendengar tanpa mampu bicara.
“Apa Tuan akan membenci diriku lagi setelah apa yang terjadi kemarin?” tanya Kiara seraya memalingkan wajahnya, menghapus sudut matanya yang berair, menutupinya dari pandangan mata Bian. Suaranya terdengar parau namun tetap terkendali. Keadaan lelaki itu membuatnya iba, dan mengingatkannya pada almarhum pamannya.
Mereka saling menatap, namun tidak ada kata-kata yang terucap keluar dari bibir Bian untuk menjawab pertanyaan Kiara. Kepalanya berusaha menggeleng dan bibirnya terus berkedut, namun hanya desisan napasnya yang terdengar nyaring. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Hanya sorot matanya saja yang berbicara. Mata yang tampak kelam oleh perasaan tersiksa dan rasa penyesalan yang dalam saat ia menatap wajah Kiara.
“Sepertinya kedatangan Saya tidak dalam waktu yang tepat, Tuan harus banyak istirahat supaya bisa pulih dengan cepat dan sehat kembali.” Kiara merendahkan sedikit tubuhnya lalu berbalik hendak meninggalkan ruang rawat inap Bian.
“Ssshh ... Mmm!” Bian berusaha menggerakkan tubuhnya dan bicara pada Kiara, namun lagi-lagi hanya suara desisan yang terdengar keluar dari mulutnya.
Kiara menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya. Ia tertegun melihat bibir Bian basah air ludah karena terus berusaha bicara padanya.
“Tuan!” Kiara berjalan mendekat, mengikuti nalurinya ia mengambil tisu dan mengusap pelan bibir Bian. “Apa Tuan ingin mengatakan sesuatu pada Saya?” Kiara mendekatkan telinganya ke wajah Bian.
“Mmm ... mmaa ... maa aaf!” akhirnya Bian mampu mengucapkan kata-kata itu, napasnya turun naik dengan cepat.
Kiara tertegun di tempatnya, ia terdiam untuk beberapa saat lamanya. Hingga El yang muncul tiba-tiba di dekatnya dan menyentuh bahunya menyadarkannya. Tanpa berkata apa-apa lagi Kiara keluar dari dalam sana, meninggalkan Bian yang terus menatapnya hingga menghilang di balik pintu.
Setelah hampir dua minggu dirawat di rumah sakit, dan selama itu pula keadaan Bian berangsur-angsur membaik meski belum sepenuhnya pulih. Setelah merasa cukup kuat dan perlahan-lahan bisa menggerakkan tubuhnya sendiri, Bian meminta pulang dan dirawat di rumah saja.
Winda terus berada di dekat suaminya, sementara El langsung mengambil alih semua pekerjaan papanya dengan dibantu Ed yang bersimpati dengan keadaan Bian. Hubungan persahabatan keduanya yang didasari dengan ketulusan tidak akan luntur oleh apa pun juga, keduanya kini bekerja sama kembali saling bahu-membahu seperti dulu lagi.
__ADS_1
Kiara pun sudah resign dari Abian Grup dan memilih fokus bekerja di perusahaan keluarganya. Meski demikian, hubungan kedua perusahaan itu tetap berjalan dengan baik. Berkat usaha keras El dan juga campur tangan Kiara dalam meyakinkan omanya, akhirnya Abian Grup bisa mengatasi masalah keuangan perusahaannya. Dan proyek kerja kembali berjalan seperti semula. Mitra usaha yang tadinya menarik diri dan enggan bekerja sama, kini mengajukan diri lagi dan ingin bergabung kembali.
Bian sudah mendengar hal itu dari Winda dan El, semua yang sudah dilakukan Kiara untuk membantu perusahaannya. Wanita yang dulu sama sekali tidak pernah dianggapnya, yang selalu dihina dan direndahkan olehnya dengan kata-kata pedas dan menyakitkan hati, kini malah jadi penyelamat baginya.
Bian menyesal dan ingin sekali meminta maaf pada Kiara. Bian sadar, penyesalannya kini setelah kejadian di masa lalu tidak akan berguna lagi karena tidak akan mengubah apa-apa yang sudah terjadi.
Suara langkah kaki memasuki kamarnya membuyarkan lamunan Bian, ia memutar kursi rodanya menghadap pada Winda yang datang dengan membawa nampan berisi potongan buah segar dan segelas air di tangannya. “Ma, apa mereka benar-benar akan datang menemui kita hari ini?”
Winda tersenyum mendengarnya, ia bisa merasakan suaminya itu gugup karena akan bertemu untuk pertama kalinya dengan Rio cucu mereka. Hatinya tiba-tiba menghangat, ia senang karena sebentar lagi akan ada suara kecil yang berteriak memanggilnya dengan sebutan oma.
“Mama ditanya kok malah senyum-senyum?”
Winda duduk di tepi ranjang, memegang tangan Bian seraya menarik napas dalam. “Seperti mimpi saja rasanya, Mama tidak pernah menyangka kalau El memiliki seorang putra dari pernikahannya dulu dengan Kiara.”
Winda ikut menangis mendengar pengakuan Bian, ia balas memeluk suaminya itu. Winda juga merasakan penyesalan yang sama, karena sejak awal pernikahan putranya tidak sekalipun ia sebagai mama mertua mengajak Kiara bertemu atau hanya sekedar menyapanya lewat sambungan telepon dan bicara layaknya seorang ibu terhadap anak menantunya.
“Semua sudah terjadi, sekarang bagaimana cara kita memperbaiki diri dan mengubah sikap kita agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Demi kebahagiaan anak dan cucu kita,” jawab Winda sambil mengusap punggung Bian. Lelaki itu mengangguk dan melepaskan pelukannya.
“Sekarang Papa makan buahnya, Papa harus terlihat segar dan sehat saat mereka tiba nanti.” Winda mengambil piring buah dan mulai menyuapi Bian. “El sedang dalam perjalanan menjemput Kiara dan cucu kita,” imbuhnya lagi.
“Biar Papa makan sendiri,” sahut Bian semangat, dan mengambil alih garpu dari tangan Winda.
“Mama masak apa buat makan kita nanti siang?” tanya Bian di sela suapannya.
“Mama masak kesukaan El, ada dadar telur juga khusus buat Kiara. Mama juga siapin banyak es krim buat cucu kita,” sahut Winda dengan mata berbinar.
__ADS_1
Sementara itu di waktu yang sama di tempat berbeda, Kiara tengah berada bersama Rio di dalam kamarnya. Bocah lelaki itu masih berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya.
“Mama, sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Rio sesaat setelah Kiara selesai merapikan kerah baju yang dikenakannya dan kini tengah merapikan tempat tidurnya. Sudah sejak pagi tadi Kiara meminta putranya itu untuk bersiap-siap, sementara dirinya menyiapkan bekal makanan yang akan dibawanya nanti.
Kiara menghentikan gerakan tangannya mengatur letak bantal dan guling di ranjang, ia menghela napas dalam lalu berdiri tegak dan memutar tubuhnya menghadap Rio. Bocah lelaki itu menatap ke arahnya menunggu jawaban. Tidak biasanya sang mama hanya mengajaknya ke luar rumah tanpa memberitahukan tujuan mereka terlebih dahulu.
Kiara berjongkok di hadapan putranya, menangkup wajahnya sembari mengusap kedua belah pipinya sayang. “Iyo dengar Mama ya, sayang. Hari ini papa El akan menjemput kita untuk menengok opa di rumahnya.”
“Opa yang kemarin dirawat di rumah sakit pas pesta ulang tahun Iyo itu bukan, Ma?” ucap Rio mengingat orang yang dimaksudkan Kiara.
Kiara mengangguk, “ Iya, sayang. Opa Bian, orang tua papa El. Opanya Iyo,” jawab Kiara, ia sudah menjelaskan pada Rio siapa Bian sebenarnya tanpa menceritakan sebab perpisahannya dengan papanya.
Tidak lama kemudian terdengar suara derum mobil memasuki halaman rumah Kiara. Terlihat El keluar dari dalam mobilnya dan langsung berjalan memasuki rumah Kiara yang pintunya sengaja dibuka untuk menunggu kedatangannya. Setelah berpamitan dengan neneknya, keduanya segera keluar dan menemui El di teras rumah.
“Sudah siap?” tanya El pada Kiara, lalu berjongkok menatap Rio.
“Iyo mau kan ketemu sama opa dan oma? Mereka berdua sekarang lagi nunggu di rumah,” ucap El sambil memegang bahu Rio.
Rio mengangguk cepat, “ Iya, Pa. Iyo mau ketemu opa sama oma.” El memeluk putranya dengan haru, ia lalu berdiri dan menggandeng tangan Rio. Di sebelahnya Kiara berjalan sambil menenteng kotak makanan.
“Terima kasih, kalian sudah mau memenuhi permintaanku.” El tersenyum pada Kiara yang balas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Kiara mengacungkan kotak makanan di tangannya, “Aku bawain masakan buat mereka,” ucapnya kemudian. Bersama ketiganya memasuki mobil dan mulai perjalanan menuju kediaman Bian.
••••••••
__ADS_1