You Are The Reason

You Are The Reason
Bab 102. Sisa rasa


__ADS_3

Kiara bangun pagi-pagi sekali, di luar cuaca masih gelap dan sepi. Hanya terdengar debur ombak yang memecah kesunyian pagi.


Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Beranjak bangun dengan berjingkat kaki agar tak membangunkan Winda yang masih tertidur lelap di sampingnya. Ia mengambil sweater tebal dari belakang pintu milik Winda yang semalam diberikan padanya, lalu memakainya dan melangkah ke luar kamar.


Hawa dingin langsung menghadang, menyerang hingga terasa menusuk ke tulang. Kiara menjulurkan ujung sweater yang dikenakannya hingga terlihat menjuntai dan menutup bagian tangannya dengan sempurna.


Angin yang berembus menerpa kulit wajahnya, membuat rambut panjang sebahunya yang tergerai menjadi sedikit berantakan. Kiara mengambil ikat rambut dari saku baju tidurnya lalu mengikat rambutnya sembarangan.


Dari tempatnya berdiri saat itu, ia dapat melihat pemandangan indah di bawahnya. Cahaya terang seperti sebuah bulatan kecil yang bergoyang-goyang terkena riak gelombang air, tampak dari kapal-kapal kecil para nelayan yang bergerak perlahan mendekati bibir pantai. Sepertinya sudah kembali dari mencari ikan di laut.


Akan sangat menyenangkan sekali tentunya, bisa membeli secara langsung dari mereka hasil tangkapan ikan yang pastinya masih sangat segar itu. Membayangkan bakar ikan di pinggir pantai sembari menikmati keindahan alam sekitarnya, membuat air liurnya terbit seketika. Kiara meraba perutnya yang mendadak berisik dan tersenyum kecil, masih terlalu pagi untuk memikirkan hal itu. Secangkir coklat panas mungkin bisa menghangatkan tubuhnya saat itu.


Kiara berbalik hendak kembali ke dalam kamar, namun pandangannya membentur sesuatu di bawah sana di mana terlihat sosok tegap seorang lelaki berdiri menghadap ke arah pantai dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.


Kiara memiringkan wajahnya, menyipitkan mata memperhatikan dengan saksama. Lelaki itu memakai kaos putih lengan panjang dengan celana pendek setinggi lutut. Air pantai yang menyapu kakinya yang telanjang seolah tak dihiraukannya. Barulah saat lelaki itu menoleh dan tersenyum ke arahnya, Kiara dapat mengenali wajahnya.


“Bang El?” bisiknya pelan sembari mengerutkan dahi, lelaki itu sepertinya sudah melihatnya berdiri di balkon kamar sejak tadi.


“Turun dan kemarilah!” El berbalik dan melambaikan tangan padanya, memintanya untuk turun bersamanya menikmati fajar pagi hari yang mulai tampak di ujung sana. Kiara mengangguk lalu berlari kecil menuruni anak tangga.


“Apa yang Abang lakukan di sini, bukankah sekarang masih terlalu pagi untuk bermain di pinggir pantai?” tanya Kiara setelah berada di samping El, mereka kini berdiri saling berhadapan.


El tersenyum, menoleh sesaat ke arah ombak yang beriak lalu kembali menatap Kiara lagi. “Aku suka berlama-lama di sini. Melihat ombak yang saling berkejaran, mendengar desau angin yang menerpa pepohonan, menimbulkan suara tersendiri di telingaku. Seperti suara alunan musik, mendayu, damai dan bikin hati jadi tenang.”

__ADS_1


“Tidak salah kalau Abang memilih tempat peristirahatan di sini. Suasananya nyaman dan bikin betah, sesuai banget dengan fungsinya. Siapa pun yang datang dan melihat tempat ini, Aku rasa akan mengatakan hal yang sama seperti yang Abang katakan barusan.”


“Apa itu termasuk Kamu juga?” tanya El tiba-tiba. “Kamu bisa tinggal di sini kapan pun, selama yang Kamu mau. Pintu rumahku selalu terbuka lebar untukmu. Kita jalan-jalan ke sana,” ajak El menyusuri tepi pantai.


“Terima kasih, menyenangkan rasanya bisa diterima dengan tangan terbuka seperti sekarang ini.” Kiara tersenyum menanggapi, mereka berjalan bersisian.


Sesekali kaki Kiara terbenam di dalam pasir yang tersapu air, hingga ia harus berhenti sejenak dan El dengan senang hati mengulurkan tangannya untuk membantu dan tidak berniat untuk melepaskannya. El lalu mengajaknya menepi karena air pantai semakin naik, bahkan kini sudah mencapai mata kaki.


“Aku senang melihat papamu akhirnya bisa menerima kami di sini, sepertinya Rio juga sangat senang bertemu dengan opanya.” Kiara menarik tangannya dari dalam genggaman tangan El, tapi laki-laki itu malah membawanya ke dadanya.


“Ya. Luar biasa rasanya melihat papa bisa tertawa lepas seperti itu saat bersama Rio, hal yang jarang sekali terjadi.” El tersenyum seraya menatap Kiara lama. "Terima kasih sudah melahirkan putraku, Aku minta maaf karena tidak ada di sampingmu saat itu terjadi. Aku berharap ada kesempatan kedua untukku, Aku ingin memperbaiki hubungan kita dulu.”


Kiara tertegun sesaat, namun itu tidak lama. Ia tersadar dan segera melepaskan tangannya. Langit tak lagi gelap seperti tadi, kini sudah berwarna biru terang dan Kiara bisa melihat keseriusan di wajah El.


Kiara menangkup tangan El dan balas menatapnya, “Kita bisa tetap berhubungan dan terus jalin silaturahmi dengan kedua orang tuamu karena ada Rio di antara kita, bukan berarti kita harus terikat dan bersatu lagi. Aku mencintai mas Edgar, dan Aku semakin yakin dengan perasaanku padanya saat ini.”


Ucapan Kiara seolah menegaskan hubungannya dengan Ed, tak ada kesempatan kedua untuknya. Kiara sudah melepaskan cintanya pada El, dan memberikan hatinya kini pada Ed. Fakta kalau Kiara tidak menginginkan hatinya lagi, seharusnya bukanlah hal yang mengejutkan untuknya. Tapi masih saja hatinya sesak oleh kenyataan yang harus diterimanya.


“Bolehkah Aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya? Anggap saja sebagai ucapan selamat atas hubungan kalian berdua. Aku doakan semoga hubungan kalian langgeng selamanya, menua bersama hingga maut memisahkan.”


“Terima kasih.” Kiara merentangkan kedua tangannya, dan El memeluknya erat. “Aku senang dan ikut berbahagia untukmu.” El mengusap rambut Kiara sembari memejamkan matanya yang mulai tergenang air mata dan mengecupnya untuk terakhir kalinya, sementara Kiara mengusap dan menepuk punggung El.


Tak jauh dari tempat mereka berada saat itu, Ed tengah berada di dalam mobilnya memandang kedua insan yang tengah berpelukan dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja tiba di tempat itu dan berniat memberikan kejutan pada Kiara dan Rio, malah berbalik dan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia urung turun dan memilih bertahan di dalam mobil. Melihat dengan jelas adegan di depan matanya sembari mencengkeram kuat setir mobilnya. Kemesraan yang dipertontonkan oleh dua orang yang tengah berpelukan di pinggir pantai melukai hatinya. Ia melihat bagaimana El memeluk erat Kiara dan mengusap rambut kepalanya dengan mesra, sementara Kiara membalas dengan menepuk-nepuk punggung El.


Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaannya saat ini. Sedih, kecewa, dan terluka pastinya. Hal yang ditakutkannya akhirnya terjadi. El berhasil meyakinkan Kiara untuk kembali padanya. Teringat percakapannya semalam di telepon, saat El bicara tentang kesempatan kedua dan memohon padanya untuk tidak menjadi penghalang keinginannya kembali pada Kiara.


“Aku tidak tahu bagaimana hubungan kalian saat ini, dan itu semua memang bukan urusanku. Aku memang bodoh, percaya begitu saja pada papa dan tidak pernah mau mendengarkan ucapan Kiara meski ia punya bukti tentang hubungan kami dulu. Dan Aku menyakiti hatinya terlalu dalam, meninggalkan luka yang mungkin tidak akan mudah untuk disembuhkan.”


“Tapi saat kesadaran itu datang dan Aku bisa mengingat semuanya, Aku tahu kalau Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Aku menginginkan kesempatan kedua. Aku tahu ini pasti tidak mudah baginya, tapi Aku akan mencobanya.”


“Ada Rio di antara kami, dan papa sudah berubah dan bisa menerima Kiara lagi. Aku ingin rujuk dengannya dan membuat keluarga kami utuh kembali.”


Ed mencintai Kiara, sangat mencintai wanita itu dengan segenap rasa yang ia punya. Ia jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya, bahkan saat wanita itu masih menjadi istri sahabatnya. Ia terus mendampingi Kiara, melihatnya menangis dan terluka. Ia melihat wanita itu terpuruk dan akhirnya bisa bangkit kembali, dan ia selalu ada di sisinya. Ia menjadi saksi perjuangan Kiara saat wanita itu hamil hingga melahirkan bayi Rio.


Ed mencintai Kiara, dan ia tahu Kiara masih terus mencintai El. Dan Ed terus berusaha dan bersabar menunggu Kiara membuka hati untuknya, karena wanita itu layak ditunggu dan diperjuangkan. Perasaannya akhirnya bersambut setelah sekian lama bersabar dan menunggu.


Tapi mencintai bagi Ed berarti menginginkan yang terbaik untuk wanitanya dan melihatnya bahagia. Mencintai berarti memberi bukan menerima. Ed tersenyum pahit, ia tidak ingin menjadi penghalang kesempatan Kiara dan El untuk rujuk kembali.


Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah. Anugrah cinta yang pernah kupunya. Kau buat kupercaya ketulusan cinta. Seakan kisah sempurna ‘kan tiba.


Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat. Seakan semua tak mungkin menghilang. Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan. Tak tersisa lagi waktu bersama.


Mengapa masih ada, sisa rasa di dada. Di saat kau pergi begitu saja. Mampukah kubertahan tanpa hadirmu, sayang. Tuhan, sampaikan rindu untuknya.


Oh masih tersimpan setiap kenangan, semua cinta yang kau beri. Kau tak ‘kan terganti.

__ADS_1


••••••••


__ADS_2