
Hufh! Kiara butuh udara segar dan memilih untuk keluar dari ruangan pesta sejenak, namun pemandangan yang ditemuinya mampu membuatnya terdiam dan membeku di tempatnya berdiri saat itu.
Di hadapan Kiara kini, berdiri seorang laki-laki yang kehadirannya di pesta itu sempat membuatnya menunggu dengan hati dibalut rasa cemas.
Yup, rasa cemas akan sanggupkah Kiara berhadapan kembali dengan seorang Bian Abiputra yang sudah membuat hancur rumah tangga dirinya dan El. Rasa cemas akan mampukah ia menahan diri setelah semua kisah sedih yang harus dilaluinya selama delapan tahun ini. Dan pada kenyataannya, kenangan pahit masa lalu itu masih belum sepenuhnya terhapus dari ingatannya.
Seorang Bian yang pernah menjadi papa mertua baginya. Yang sejak awal pernikahannya dengan El putranya, tak pernah sekalipun menginginkan keberadaannya di antara keluarga besar mereka.
Seorang Bian yang selalu mengingatkan Kiara tentang perbedaan status sosial di antara mereka, yang selalu berusaha dengan berbagai cara memisahkan pernikahan Kiara dan putranya.
Seorang Bian yang memberinya bantuan bersyarat saat nyawa pamannya dalam bahaya, hingga pada akhirnya membuat Kiara menyerah dan harus rela melepaskan cintanya dan berpisah dengan suaminya. Mengingat semua itu membuat luka lama di hati Kiara yang telah pulih kembali menganga.
“Setelah hari ini, Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi!” Kalimat penutup dari Bian saat pertemuan terakhir mereka di rumah sakit, masih terngiang jelas dalam ingatan Kiara.
Hari di mana Kiara harus menepati janjinya untuk menandatangani surat gugatan cerai dari El yang ternyata adalah ulah Bian semata untuk menghancurkan pernikahan Kiara, memanfaatkan situasi kesehatan El yang kala itu mengalami amnesia dan tidak dapat mengingat Kiara sedikit pun.
“Apa yang Kamu lakukan di tempat ini?” Bian menatapnya tajam, masih dengan gaya angkuh yang dimilikinya, tetap saja memandang Kiara sebelah mata. Seolah-olah lelaki itu merasa terkejut, karena mendapati Kiara berada bersama di dalam kelompok orang-orang yang merayakan pesta yang sedemikian mewah itu.
Butuh waktu beberapa saat bagi Kiara untuk menentramkan debur jantungnya yang berdebar kencang saat menatap sosok lelaki di hadapannya itu. Namun tatapan teduh wanita di samping Bian, orang yang dulu juga pernah menjadi ibu mertua bagi Kiara mampu membuatnya tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Sebelum Kiara sempat menjawab pertanyaan Bian, oma Mala datang mengejutkan semua orang yang ada di sana. Tatapan mata penuh kasih pada Kiara jelas sekali terlihat saat ia mengusap lengan cucu perempuannya itu.
__ADS_1
Oma Mala mengajak Winda untuk duduk bersamanya dalam satu meja, sementara Bian meminta waktu untuk berbicara pada Kiara.
“Akan lebih baik Kiara, jika ia bisa bertemu dengan banyak pengusaha seperti suamimu itu.” Oma Mala menatap dari kejauhan dua orang berbeda generasi yang kini berdiri saling berhadapan.
“Sepertinya Nyonya sangat mengenal wanita itu dengan baik. Nyonya juga terlihat begitu sayang padanya,” ucap Winda terlontar begitu saja.
Oma Mala menolehkan wajah dan langsung mengernyitkan keningnya. “Tentu saja Aku mengenal dengan baik cucuku sendiri. Dan harus Kau ingat baik-baik, nama wanita itu Kiara Larasati Sanjaya!”
Deg! Wajah Winda pucat seketika mengetahui kalau mantan menantunya ternyata cucu pemilik Sanjaya Grup. Ia menatap ke arah suaminya dengan khawatir, melihat dengan jelas bagaimana sikap lelaki itu yang begitu memandang rendah Kiara saat bicara padanya.
Tiba-tiba ia teringat ucapan oma Mala ketika berbicara dengan Bian tadi. “Nyonya, boleh Saya bertanya tentang cucu Anda?”
Mata tua oma Mala langsung berbinar setiap mendengar pertanyaan tentang cucunya. “Apa pun yang ingin Kau tanyakan tentang cucuku, Aku omanya akan siap menjawabnya.”
“Katakan saja, jangan bertele-tele. Aku tidak suka orang yang lamban dan suka mengulur-ngulur waktu. Mau bicara saja lama,” sahut oma Mala mulai tidak sabar.
Winda tersenyum kecut, ia bukan lamban tapi lebih berhati-hati karena jika ia salah bicara maka habislah kesempatan suaminya untuk bisa mendekati pemilik Sanjaya Grup itu.
“Maaf sebelumnya, Saya hanya ingin memastikan tentang satu hal. Apa Kiara tidak pernah bercerita hal lainnya selain soal suami Saya yang menolong biaya pengobatan almarhum pamannya?”
Oma Mala menatap Winda tajam, “Cucuku bukan orang yang suka membicarakan keburukan orang lain. Seperti memakan bangkai saudaranya sendiri,” sahut oma Mala tegas.
__ADS_1
Dari balik pilar besar yang ada di sana, El melihat semua yang terjadi di depan matanya. Senyum terbit di wajahnya saat melihat bagaimana Kiara mampu dengan tenang menghadapi sikap Bian yang terlihat arogan.
El ingin sekali bergabung di sana, tapi ia urungkan niatnya saat matanya menangkap tatapan tajam Ed yang mengawasi Kiara dan papanya dari salah satu meja yang ada di sudut ruangan pesta.
“Siapa Kamu sebenarnya, apa yang sudah Kamu lakukan sampai bisa sedekat itu dengannya. Bagaimana Kamu bisa mengenal nyonya Nirmala, apa hubunganmu dengannya?”
Lelaki itu masih sama seperti saat terakhir Kiara bertemu dengannya, tidak terlihat sedikit pun senyum menghias di bibirnya. Wajahnya selalu datar, tak ada emosi apa pun terlihat di sana. Bahkan saat ia melontarkan banyak pertanyaan pada Kiara.
“Apa hal itu begitu penting buat Tuan saat ini? Saya masih Kiara yang dulu Tuan kenal, wanita biasa yang pernah punya mimpi bisa hidup bahagia bersama suaminya. Sayang itu memang hanya mimpi belaka, wanita itu sadar ia tidak bisa melawan tembok besar yang menghadang di depannya.”
“Aku hanya ingin yang terbaik untuk putraku.”
“Terbaik untuk Tuan bukan berarti terbaik untuk putra Tuan, apa yang sudah Tuan lakukan pada pernikahan kami memang patut diacungi jempol. Memanfaatkan amnesia putra Tuan sendiri dan memberikan pilihan sulit untuk Saya, demi memisahkan kami berdua. Sekarang apa yang Tuan inginkan sudah terlaksana, jadi biarkan kita tetap berada di jalur kita masing-masing. Saya tidak ingin berhubungan dengan Tuan lagi.”
“Dan mengenai kedekatan Saya dengan oma Mala, sungguh tidak ada kaitannya dengan Tuan. Jadi Saya tidak perlu menjelaskan apa pun pada Tuan.”
“Aku tidak pernah melihat nyonya Mala bisa sedekat itu dengan orang asing.” Bian menatap tajam Kiara.
Kiara tersenyum tipis, ia hanya mengedikkan bahunya. “Terserah bagaimana penilaian Tuan terhadap Saya. Maaf, Saya harus kembali ke dalam untuk menerima tamu-tamu lainnya. Satu hal yang harus Saya tegaskan pada Tuan, Saya bukan orang asing buat oma Mala!"
“Siapa Kamu sebenarnya, mengapa Aku merasa ada sesuatu yang Kamu sembunyikan.” Bian menatap punggung Kiara yang berjalan menjauh, kembali masuk ke dalam ruang tempat pesta berlangsung. Bian menarik napas dalam, ia membetulkan letak dasinya lalu melangkah masuk ke dalam, melangkah ke meja di mana Winda istrinya menunggu dengan perasaan cemas.
__ADS_1
••••••••