[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Zona 13


__ADS_3

Terbaring di lapangan penuh rerumputan, aku bisa merasakan tetesan hujan membasahi seluruh tubuhku. Kalau aku tidak salah aku sudah seperti ini selama setengah jam? Atau mungkin lebih?


"Akhhh--"


Aku tak bisa memastikannya kepalaku terasa sakit, setiap kali aku mencoba mengingat apa yang terjadi rasanya kepalaku terasa di sengat.


Aku lupa bagaimana aku bisa berakhir di sini, aku ingat aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Tanpa sadar aku sudah ada di tempat ini lalu-.


“Aaaaahhh!!!”


Ha.. ha... ekhhh


Sebaiknya aku tidak melakukan tindakan yang gegabah dulu, lebih baik aku tidak melakukan apapun terlebih dahulu.


Hujan tadi sudah mulai reda, inderaku bekerja dengan baik tapi aku tidak bisa bergerak. Dari suara di sekitar sepertinya selain tanaman tidak ada makhluk hidup lain. Kalau saja aku bisa menggerakkan badanku aku bisa melihat sekitar.


Ekhhh, rasanya aku tidak sanggup lagi.


Kepalaku rasanya semakin berat, kelopak mataku rasanya sudah tidak sanggup terbuka.


Gawat! kalau aku sampai tertidur di sini bisa berakhir buruk.


Tapi tak perduli dengan usahaku aku akhirnya kalah, perlahan aku mulai menutup mataku dan terlarut dalam tidur.


...


--Aneh, rasanya sangat nyaman. Seharunya aku ada di situasi yang buruk tapi.. perasaan ini, aku tidak ingin lepas darinya. Kapan terakhir kali aku merasa seperti ini?


Aku tidak ingin membuka mataku.


Bagaimana keadaan tubuhku saat ini ya? Tapi aku tidak ingin bangun.


Kira-kira berapa lama aku bisa seperti ini? Kalau bisa aku ingin selamanya begini..


Tapi itu tidak mungkin ya, kalau aku tidak melakukan apa-apa aku hanya akan bertahan seminggu. Itu kalau tidak ada hewan buas yang merenggut nyawaku, jika tidak mungkin alam yang akan melakukannya.


...


Lagi pula apa untungnya kalau aku masih hidup, selama ini hanya kekecewaan saja. Kenapa pula aku ingin terus berada di dunia ini?


Apa yang akan terjadi kalau aku tiba-tiba mati di tempat ini ya?


Aku tiba-tiba menghilang lalu apa?


Apa yang akan terjadi?


Aku rasa tidak akan ada yang peduli, mungkin ibu kos akan sadar karena aku tidak membayar tepat waktu.


Haa- aku tidak punya siapa-siapa ya?


Mungkin orang akan menemukan tubuhku dan baru menyadari kalau aku hilang beberapa tahun dari sekarang, saat tubuhku ditemukan membusuk.


"Heh.. hehe..," aku tertawa kecil. Aku salah bukan membusuk tapi menjadi tulang belulang.


"Makhluk yang lelah~ kau sudah berjuang dengan keras... istirahatlah~"


Itu siapa--


...


Persetan, siapapun itu tidak masalah... mungkin memang sudah saatnya.


Tapi ini ganjal, apa ini memang yang ku mau?


Semua yang kulakukan untuk hidup selama ini, apa itu semua hanya untuk ini? Apa semua masalahku akan selesai semudah itu? Kalau begitu kenapa aku tidak melakukannya dari dahulu saja, ada banyak kesempatan tapi kenapa aku tidak melakukannya?

__ADS_1


Aneh! Ini sangat Aneh, Ini bukan aku! Ini bukan apa yang ku inginkan!


"Doorr!!!"


Aku terbangun karena mendengar suara keras. Kembang api--


Tidak, tidak mungkin ada orang yang bermain kembang api di tempat seperti ini, kalau begitu ini pasti.


Senjata api!


Aku membuka mataku, tubuhku belum bisa digerakkan. Dengan seluruh tenaga aku memaksakan kepalaku menoleh ke kanan. Arah suara itu datang, sepertinya aku benar. Di sana terdapat orang-orang yang mengenakan seragam yang terlihat seperti seragam militer.


“Mereka menembak kemana, mereka menghadap ke arahku"


Apapun target mereka tapi tembakan mereka mengarah pada sesuatu yang ada di sisi kiriku. Aku mencoba menoleh.


Makhluk apa itu!


Makhluk macam apa itu, itu adalah makhluk aneh yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Makhluk itu mengambang dan terlihat menjijikkan. Object itu berada tidak jauh dari tubuhku, badannya tampak seperti ubur-ubur dan sedikit transparan. Salah satu tentakel itu mengandung cairan merah, nampaknya cairan itu bergerak menuju ke bagian tengah makhluk mengambang ini.


Aku memerhatikan tubuh makhluk itu dengan lebih saksama. Ada objek kotak yang mengambang di bagain tengah tubuhnya, nampaknya cairan itu bergerak menuju ke objek kotak itu.


Di tentakel yang tembus pandang aku melihat tubuh rakun yang sudah mati, tubuh rakun itu kering seperti seluruh cairannya terisap.


"Mahkluk ini, berbahaya!"


Aku tidak bisa bergerak! Sial tentakel itu mulai mendekat, dalam sekejap tanganku dililit oleh tentakel itu, orang-orang dengan senjata api itu terus menembaki makhluk itu. Sayangnya tembakan bertubi-tubi yang di arahkan padanya tidak berpengaruh.


"Tusk!"


Dari tentakel itu aku merasakan sesuatu yang tajam menusuk tanganku menembus jaket yang kupakai.


Aku merasa kalau darahku disedot oleh makhluk itu, cairan berwarna merah mulai terlihat di tentakel yang melilit tanganku.


"~Easey~ semuanya akan segera membaik"


Begitu rupanya, aku hanya perlu--


"Door!!!"


Terdengar suara tembakan yang lebih keras, tembakan itu mengenai tepat bagian tengah tubuh makhluk itu.


Ughhhh, kepalaku rasanya seperti berputar, sepertinya aku paham.


Makhluk inilah yang membuatku tidak memedulikan hidupku, tidak itu kurang tepat. Lebih tepatnya membuatku menyerah.


Darahku berhenti mengalir ke tentakel makhluk itu, ia seperti khawatir. Aku memfokuskan pandanganku ke tubuh makhluk itu agar bisa melihat lebih jelas.


Kotak itu berdenyut! apakah itu organ ubur-ubur ini?


Tembakan jitu tadi mungkin hampir mengenai kotak aneh itu, makhluk itu takut jika tembakan itu mengenai organ intinya. Tentakel yang melilit tanganku perlahan bergerak dan melepaskan lilitannya.


Tembakan dengan suara keras itu terdengar lagi dan kali ini mengenai organ itu. Makhluk aneh itu kesakitan dan mencoba kabur.


Apa apaan makhluk ini.


Setelah berusaha menghisap darahku dan mempermainkan pikiranku dia ingin langsung kabur?


Makhluk sialan ini mulai mengambang lebih tinggi mencoba untuk kabur, aku menarik tentakel makhluk aneh itu. Makhluk itu ternyata ringan dan kekuatannya hanya seperti anak balita, bahkan dengan kondisiku saat ini aku bisa menahan makhluk itu.


Makhluk itu tidak bisa bertambah tinggi, dia tidak bisa melepaskan tanganku. Makhluk itu tidak bisa bergerak, suara tembakan keras itu terdengar lagi. Tembakan itu berhasil menghancurkan organ makhluk itu, makhluk itu tumbang dan secara perlahan badannya berubah menjadi debu berwarna kebiruan.


Perlahan debu itu tertiup hembusan angin dan menghilang.


Orang-orang yang menembaki makhluk tadi perlahan mendekat, aku menoleh ke arah mereka. Entah apa yang terjadi pemimpin mereka mengangkat tangannya sebagai tanda berhenti, dan hal yang tak kuduga terjadi. Mereka mengarahkan senjatanya padaku.

__ADS_1


Apa apaan mereka, bukankah mereka ingin menolongku?.


Pemimpin mereka maju secara perlahan mendekatiku, dia berhenti di sebelahku. Dia menunduk dan mengambil sesuatu di pinggangnya, itu adalah sebuah pisau.


Dia meletakkan pisaunya di leherku, dia bertanya padaku.


“Apa kau bisa bicara?” tanya orang itu padaku.


“Ya” jawabku.


Aku hanya bisa bersuara lemah, mungkin karena aku sudah tak punya tenaga. Aku berusaha bicara tapi suaraku hanya bisa keluar sedikit, meskipun begitu setidaknya orang itu dapat mendengarnya.


“Siapa namamu?” tanya orang itu.


“Lucy....”


“Lucy apa?”


“Aku tidak yakin, setahuku namaku Lucy. Tapi ada orang yang memanggilku Lucy Lucinda.”


Dari ekspresi orang itu terlihat ia tidak puas dengan jawabanku. Dia kembali bertanya.


“Apa kau murid dari, Pacific Dream Institute?” orang itu mungkin melihat seragam yang ada dibalik jaket yang kukenakan. Belum sempat aku menjawab orang itu melontarkan pertanyaan lagi.


“Kau tinggal di asrama?”


“Ya,” aku terus menjawab pertanyaannya, orang ini terus menanyakan soal identitasku. Ia kembali bertanya ,“Di kamar nomor berapa?”, aku terpaksa harus menjawab pertanyaan atau aku tidak akan bisa selamat, “043” jawabku.


Orang itu bertanya sampai ke detail dari sekolahku.


“Kapan Institusi itu resmi di dirikan?” tanya orang itu.


“Tahun 1994.”


“Tanggal pastinya?” orang itu bertanya tentang tanggal di resmikannya institut pendidikan itu, tapi aku tak tahu secara detail sejarah sekolah itu.


“Aku tidak tahu.”


Setelah itu dia menanyakan pertanyaan lainnya. Pertanyaan tidak penting dan aku tidak tahu apa tujuannya, dia bahkan menanyakan warna mataku dan lainnya.


Dia terus bertanya, sampai aku menyelanya.


“Mayor Sam Johannes?” ucapku.


Orang itu berhenti bicara.


“Apa yang membuat seorang mayor datang ke tempat seperti ini, dan tempat apa sebenarnya ini?” tanyaku.


Dia tidak menjawab pertanyaanku, tapi dia malah membalasnya dengan pertanyaan.


“Apa kau benar-benar tidak tahu?” orang itu memastikan.


“Ya,” jawabku.


Orang itu akhirnya menjauhkan pisaunya dari leherku, di wajahnya tampak ekspresi seperti seseorang yang baru saja berhasil melakukan hal berbahaya.


Dia memberikan sinyal aman pada orang-orang di belakangnya, Mereka menurunkan senjatanya. Mayor itu memanggil salah satu anak buahnya, “Letnan Olivia!”.


Seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dariku mendekat kesini, di dada seragamnya terdapat nama Olivia Jensen.


“Letnan tolong urus orang ini, aku sudah memeriksanya tapi karena sesama wanita lebih baik kau periksa lebih menyeluruh,” perintah orang itu kepada si Letnan muda.


Setelah itu aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan, bahkan lebih tepatnya aku tidak mendengar apa pun lagi. Mataku perlahan mulai tertutup lagi. Ini kedua kalinya aku tertidur seperti ini hari ini.


Atau mungkin ketiga kalinya?, Siapa yang peduli dengan itu.

__ADS_1


__ADS_2